Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Spektrum di Antara Benang Hitam
Sudah satu bulan sejak Sarendra pertama kali melilitkan benang merah itu di pergelangan tanganku—atau lebih tepatnya, sudah satu bulan sejak aku membiarkan pemuda bungkuk itu masuk ke dalam labirin hidupku yang berantakan.
Selama tujuh belas tahun, duniaku hanya terdiri dari dua warna: hitam dan putih. Putih adalah kepura-puraan yang aku tampilkan di sekolah, dan hitam adalah kenyataan yang aku hadapi di rumah; bau kain lembap, deru mesin jahit ibu yang tak pernah berhenti, dan janji-janji gelap yang dijahit ke dalam setiap helai tas pesanan. Tapi sekarang, saat aku menatap pantulan diriku di cermin toilet sekolah pagi ini, aku melihat warna lain. Ada semburat merah muda di pipiku yang biasanya pucat, dan ada binar kecokelatan di mataku yang biasanya redup. Sarendra adalah penyebabnya. Anak Akuntansi yang kaku itu telah membawa krayon warna-warni ke dalam kanvasku yang suram.
Aku merapikan kerah seragamku dan memastikan manset lenganku menutupi benang merah pemberiannya. Benang itu masih ada di sana, melingkar di kulitku seperti sebuah janji bisu. Setiap kali jantungku berdegup kencang karena cemas, benang itu akan menghangat, seolah-olah Rendra sedang menggenggam tanganku dari jauh.
"Vema! Bengong lagi ya?"
Sebuah tepukan ringan di bahu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan mendapati Nadin berdiri di sampingku sambil memegang sisir. Nadin, teman sekelasku di TKJ yang dulu hanya sekadar rekan praktikum, kini telah menjadi tempatku berbagi rahasia yang paling berat sekalipun.
"Nggak, Din. Cuma... mikirin tugas pemrograman tadi," dustaku pelan.
Nadin tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding toilet yang sepi. "Halah, alasan. Bilang aja lagi mikirin si 'Pangeran Jurnal' kamu itu. Udah sebulan lho kalian nempel terus kayak kabel dan konektor."
Aku merasakan wajahku memanas. "Nggak nempel terus, Din. Kita kan beda gedung."
"Tapi frekuensinya udah matching, Vem," goda Nadin sambil mulai menyisir rambut pendeknya. "Ayo ke kelas. Pak Bambang bentar lagi masuk buat bahas persiapan rapotan."
Kami berjalan menyusuri koridor Gedung TKJ menuju kelas kami di lantai dua. Di sepanjang jalan, Nadin bercerita tentang banyak hal. Dia bercerita tentang mimpinya ingin punya startup sendiri, tentang kekesalannya pada server sekolah yang sering down, dan tentang bagaimana Bagas sering tiba-tiba muncul di depan kelasnya hanya untuk membawakan cilok.
Aku mendengarkan dengan seksama. Dulu, cerita-cerita seperti ini terasa sangat jauh dariku. Aku merasa tidak pantas memiliki percakapan "normal" seperti gadis-gadis remaja lainnya. Namun, bersama Nadin dan lingkaran pertemanan kami yang aneh, aku mulai merasa menjadi manusia kembali. Aku mulai berani tertukar cerita. Aku bercerita pada Nadin tentang kesukaanku menggambar gaun pengantin—sesuatu yang selama ini aku sembunyikan karena aku merasa tanganku hanya diciptakan untuk menjahit tas kematian.
"Kamu tahu, Vem?" ucap Nadin tiba-tiba, suaranya merendah saat kami melewati area tangga yang remang-remang. "Aku seneng banget lihat kamu sekarang. Kamu lebih... berwarna. Kamu nggak lagi jalan kayak orang yang mau dikubur hidup-hidup."
Aku tersenyum tipis. "Itu karena kalian, Din. Dan karena Rendra."
Namun, saat aku mengucapkan nama itu, bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Di ujung tangga, aku merasakan ada sesuatu. Sebuah kehadiran yang dingin dan menusuk. Aku melirik ke arah bayangan tiang di dinding. Di sana, bayangan itu tidak diam. Ia tampak sedikit lebih panjang dari seharusnya, dan di bagian kepalanya, ia seolah memiliki mata yang sedang menatapku dengan benci.
Aku segera menggenggam pergelangan tanganku. Benang merah itu mendadak terasa sangat panas, hampir membakar kulitku.
Dia masih mengawasiku.
"Vem? Kamu nggak apa-apa?" Nadin menyadari perubahanku. Wajah cerianya langsung berganti menjadi waspada. Ia menoleh ke arah yang aku lihat, tapi ia tidak bisa melihat apa-apa
"Dia ada di sini, Din," bisikku. "Pelanggan itu... atau mungkin residu ibu. Mereka nggak suka lihat aku senang."
Nadin segera merangkul bahuku, menarikku menjauh dari tangga itu. "Jangan kasih mereka ruang, Vem. Inget kata Sarendra, mereka cuma kuat kalau kita kasih perhatian. Ayo, jalan terus."
Di dalam kelas, suasana terasa riuh. Teman-teman sekelas sedang sibuk membahas tentang "Rapotan" yang akan diadakan minggu depan. Itu artinya, semester ganjil akan segera berakhir. Dan setelah itu... libur semester.
Biasanya, libur semester adalah hal yang paling aku benci. Libur berarti aku akan terkunci di dalam rumah selama dua minggu penuh, hanya bersama ibu dan mesin jahitnya. Tanpa sekolah, aku tidak punya alasan untuk keluar. Aku akan tenggelam kembali dalam kegelapan.
Tapi kali ini, ada ketakutan lain yang lebih besar.
"Minggu depan rapotan, terus kita libur dua minggu," ucap Nadin sambil menyandarkan kepalanya di meja praktikum kami. "Duh, bakal kangen banget sama kericuhan di sekolah. Kamu gimana, Vem? Udah ada rencana liburan?"
Aku menggeleng lemah, jemariku memainkan ujung kabel LAN yang belum sempat aku rapikan. "Aku... aku kemungkinan besar cuma di rumah, Din. Bantu Ibu."
"Yah, bosen banget dong," keluh Nadin. Ia kemudian menatapku dengan tatapan menyelidik, sebuah senyum jahil muncul di wajahnya. "Dan itu artinya... kamu nggak bakal ketemu Sarendra selama dua minggu penuh. Gimana perasaanmu? Udah siap kangen-kangenan lewat telepon?"
Aku tertegun. Dua minggu tanpa melihat Sarendra. Dua minggu tanpa susu cokelat di pagi hari. Dua minggu tanpa suara tenangnya yang menjelaskan segala sesuatu lewat logika akuntansi. Dua minggu tanpa pelindungku.
"Aku nggak tahu, Din," jawabku jujur. "Aku... aku takut kalau nggak ada dia di dekatku, bayangan itu bakal makin berani."
Nadin meraih tanganku, meremasnya lembut. "Vem, Sarendra itu bukan cuma pelindung. Dia itu... apa ya? Dia itu alasan kamu buat berani. Meskipun dia nggak ada di depan mata, benang di tanganmu itu kan dari dia. Itu bukti kalau dia selalu ada."
Nadin kemudian menyenggol lenganku lebih keras. "Tapi jujur deh, Vem. Kamu beneran cuma anggep dia pelindung? Atau ada 'aset tak berwujud' lain yang lagi tumbuh di hati kamu?"
Aku terdiam, mencoba mencerna pertanyaan Nadin. Pikiranku melayang pada kejadian di bawah pohon kamboja waktu itu. Saat Rendra berdiri tegak di depanku, menghalangi pandanganku dari bayangan di jendela lantai tiga. Saat dia memegang pundakku dan memintaku menghitung mundur. Rasanya begitu hangat. Begitu nyata.
"Dia... dia sangat baik padaku, Din. Lebih baik dari siapa pun yang pernah aku kenal," ucapku pelan.
"Hanya baik?" Nadin menaikkan alisnya. "Vem, aku sering lihat cara kamu natap dia pas dia lagi jelasin soal 'internal control' atau apa lah itu. Kamu natap dia seolah-olah dia itu satu-satunya oksigen di ruangan ini. Dan dia juga sama. Dia yang biasanya bungkuk dan pemalu, tiba-tiba bisa jadi kayak ksatria berpelindung kaca mata kalau soal kamu."
Aku menunduk, mencoba menyembunyikan senyum yang tidak bisa kutahan. "Mungkin... mungkin aku memang punya perasaan padanya. Tapi apakah pantas, Din? Gadis sepertiku, yang bawaannya sial dan kegelapan, suka sama orang sebersih Rendra?"
"Pantas!" Nadin berseru hingga beberapa teman menoleh. "Cinta itu nggak butuh audit, Vem. Kamu itu manusia, punya hak buat bahagia. Dan kalau kebahagiaan kamu itu ada di anak Akuntansi yang bungkuk itu, ya kejar terus!"
Percakapan tentang rapotan dan perasaan itu terhenti saat guru masuk, namun kegelisahan di hatiku tidak kunjung padam. Setelah jam sekolah usai, aku berjalan menuju gerbang belakang.
Sarendra sudah menungguku di sana dengan motor Supranya.
Melihatnya berdiri di sana, di bawah langit sore Surabaya yang mulai mendung, hatiku terasa bergetar. Dia sedang sibuk mengelap kaca spion motornya, terlihat sangat serius seolah sedang melakukan audit besar.
"Pagi, eh, Sore, Vem," sapanya saat aku mendekat. Ia selalu salah sebut waktu jika sedang gugup.
"Sore, Dra," jawabku sambil tersenyum.
Kami mulai berkendara menyusuri jalanan kota. Seperti biasa, aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Kali ini, aku menyandarkan kepalaku lebih lama di punggungnya. Aku ingin merekam setiap detak jantungnya yang merambat melalui seragamnya ke telingaku. Aku ingin menyimpan aroma parfum murahnya dan aroma sabun cuci bajunya sebagai cadangan untuk dua minggu liburan nanti.
"Dra," panggilku pelan di tengah deru angin.
"Ya, Vem?"
"Minggu depan kita rapotan. Terus libur."
Rendra terdiam sejenak. Aku bisa merasakan otot punggungnya sedikit menegang. "Iya, aku tahu. Libur dua minggu. Ayahku juga bilang bakal lebih sering narik ojek pas liburan."
"Aku bakal kangen," ucapku, suara itu keluar begitu saja sebelum otakku sempat melarangnya.
Rendra menginjak rem motornya sedikit mendadak karena kaget, membuat tubuhku terdorong ke depannya. Kami berhenti di lampu merah. Ia menoleh sedikit ke arahku, kacamatanya melorot ke ujung hidung.
"Kangen siapa? Nadin?" tanya dia, pura-pura tidak tahu.
"Kangen kamu, lah" bisikku sambil mencubit pinggangnya pelan.
Rendra tersipu hebat, warna merah menjalari telinganya hingga ke leher. Ia segera memutar kembali tubuhnya menghadap ke depan, namun aku bisa melihat senyum lebar di kaca spion motornya.
"Aku juga, Vem. Aku bakal kangen audit 'Jurnal Kebahagiaan' kamu tiap pagi," ucapnya dengan suara yang lebih rendah dan lembut. "Tapi jangan takut.
Liburan nanti, aku bakal pastiin kita tetap komunikasi. Aku bakal kirim kamu satu soal akuntansi setiap hari buat kamu kerjain, biar kamu nggak bosen."
Aku tertawa. "Itu mah bukan liburan, itu mah tugas tambahan!"
"Tapi ada hadiahnya kalau jawabannya benar," tambah Rendra.
"Apa hadiahnya?"
"Aku... aku bakal jemput kamu buat jalan-jalan ke perpustakaan kota. Atau ke mana pun yang kamu mau, asalkan tempatnya terang dan nggak ada bayangan aneh."
Mendengar janji itu, rasa takutku akan libur semester sedikit mereda. Ternyata warna yang dibawa Rendra tidak hanya berhenti di gerbang sekolah. Warna itu ikut bersamaku, merayap masuk ke dalam benang merah di pergelangan tanganku, memberikan harapan bahwa kegelapan di rumahku pun mungkin
suatu saat nanti bisa diterangi.
Namun, saat kami melewati sebuah gang gelap dekat rumahku, aku melihat lagi sosok itu. Sosok Ibu yang sedang berdiri di teras rumah, menatap ke arah kami dengan mata yang tak berkedip. Di tangannya, ia memegang sebuah tas hitam yang sedang ia jahit dengan terburu-buru. Benang yang ia gunakan bukan lagi hitam, melainkan merah pekat—persis seperti warna benang di tanganku.
Hatiku mencelos. Sepertinya Ibu sudah tahu tentang "tanda" yang diberikan Rendra. Dan libur semester nanti, ia mungkin punya rencana untuk "memperbaiki" jahitan yang menurutnya sudah mulai longgar ini.
"Dra... tetaplah di sampingku ya?" bisikku sambil mengeratkan pelukanku.
"Selalu, Vem. Sampai neracanya seimbang," jawab Rendra mantap, tanpa tahu bahwa badai yang sebenarnya sedang menunggu kami di balik gerbang rapotan minggu depan.
ada apa dgn vema
lanjuuut...