Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Tamparan Realita Pertama
Sudah tiga minggu Rangga menetap di rumah Sinta, dan suasana "pahlawan menyelamatkan bintang" itu kini mulai berubah menjadi beban yang nyata bagi Sinta. Pagi itu, Sinta terbangun bukan karena alarm ponselnya, melainkan karena suara dentuman musik techno yang sangat keras dari lantai dua—bekas gudang yang sekarang disulap menjadi studio darurat Rangga.
Sinta memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia harus berangkat ke kantor, tapi semalam ia hanya tidur empat jam karena Rangga pulang subuh bersama teman-temannya dan lanjut berpesta di atas.
Begitu Sinta turun ke dapur, ia menemukan pemandangan yang membuatnya ingin berteriak. Wastafelnya penuh dengan piring kotor, kotak pizza yang berminyak tergeletak begitu saja di meja makan, dan ada noda minuman berwarna merah di sofa kainnya yang berwarna krem.
"Mas... Mas Rangga!" teriak Sinta sambil menaiki tangga.
Rangga keluar dari studio dengan wajah mengantuk, hanya mengenakan celana pendek. "Apa sih, Sin? Berisik banget. Aku baru saja mau tidur."
"Mas, lihat di bawah! Teman-teman Mas semalam ngapain saja? Sofa aku kotor, Mas! Itu sofa mahal, aku belinya pakai uang lembur berbulan-bulan!" suara Sinta mulai meninggi, egonya sebagai pemilik rumah mulai terusik.
Rangga mendengus, bersandar di pintu studio dengan gaya meremehkan. "Cuma noda sedikit saja kok heboh. Nanti tinggal dipanggil tukang cuci sofa juga beres. Jangan pelit-pelit jadi orang, Sin. Teman-temanku itu orang-orang berpengaruh di dunia malam. Kalau mereka senang, aku cepat dapat kerjaan tetap."
"Tapi siapa yang bayar tukang cucinya, Mas? Aku baru saja bayar tagihan listrik yang melonjak dua kali lipat gara-gara studio ini nyala siang malam!"
Rangga berjalan mendekati Sinta, raut wajahnya berubah seketika menjadi melankolis—senjata andalannya. Ia memegang kedua bahu Sinta, menatap matanya dalam-dalam. "Sin... maafin aku. Aku tahu aku merepotkan. Kamu benar, aku memang nggak berguna. Mungkin benar kata Senja, aku ini cuma parasit. Ya sudah, kalau kamu sudah keberatan, aku pergi sekarang juga. Aku tidur di bawah jembatan saja nggak apa-apa."
Inilah titik di mana "kekerasan kepala" Sinta diuji. Mendengar nama Senja disebut, harga diri Sinta langsung melonjak. Ia tidak mau dianggap sama dengan Senja. Ia tidak mau membuktikan bahwa prediksi teman-temannya benar.
"Nggak, Mas... bukan gitu," Sinta langsung melunak, suaranya kembali mengecil. "Aku cuma kaget saja lihat rumah berantakan. Maaf ya, aku tadi lagi stres urusan kantor. Mas jangan pergi, aku masih percaya sama Mas."
Rangga tersenyum tipis, sebuah senyuman kemenangan yang tidak disadari Sinta. "Makasih ya, Sin. Kamu memang beda. Kamu punya hati seluas samudra. Nggak kayak wanita arsitek itu yang cuma tahu hitung-hitungan."
...----------------...
Di kantor, Sinta benar-benar "kena mental". Ia tidak sengaja mendengar Mbak Sari dan beberapa staf lain sedang tertawa di ruang istirahat.
"Eh, kalian tahu nggak? Si Sinta kabarnya lagi cari pinjaman ke koperasi kantor," bisik salah satu staf.
"Serius? Bukannya dia baru saja dapet bonus proyek?" sahut yang lain.
"Bonusnya kan habis buat beliin 'perlengkapan' buat mas DJ kesayangannya. Kemarin aku lihat dia di parkiran supermarket, cuma beli mie instan satu dus sama telur. Padahal dulu Sinta itu paling hobi makan di kafe hits," Mbak Sari menimpali dengan nada prihatin tapi ada sedikit sindiran.
Sinta yang berdiri di balik pintu masuk merasa wajahnya panas. Ia ingin masuk dan memaki mereka, tapi ia sadar apa yang mereka katakan adalah fakta. Tabungannya memang terkuras. Rangga bukan hanya butuh tempat tinggal, tapi juga butuh rokok, butuh pulsa, butuh uang transportasi, dan butuh "biaya pergaulan".
Sinta masuk ke ruangan dengan gaya angkuh, mencoba menutupi rasa malunya. "Mbak Sari, tolong jangan urusi dompet saya. Saya tahu apa yang saya lakukan. Membantu orang yang sedang jatuh itu memang butuh pengorbanan, dan saya ikhlas."
Sari hanya menatap Sinta dengan tatapan kasihan. "Ikhlas itu bagus, Sin. Tapi bedakan antara ikhlas dengan dimanfaatkan. Kamu tahu nggak? Kemarin Senja dapat proyek renovasi hotel bintang lima di Solo. Dia makin sukses, makin cantik. Sementara kamu? Kamu makin layu demi ngurusin mantan suaminya yang nggak tahu diri itu."
"Senja itu sukses karena dia egois! Dia nggak punya empati!" teriak Sinta sebelum lari menuju meja kerjanya.
Malam harinya, tamparan realita yang lebih keras datang. Sinta pulang kantor lebih awal karena merasa tidak enak badan. Begitu ia masuk ke rumah, ia mendengar suara tawa wanita dari lantai atas.
Jantung Sinta berdebar kencang. Ia naik ke lantai dua dengan langkah pelan. Pintu studio terbuka sedikit. Di dalam sana, Rangga sedang duduk sangat dekat dengan seorang wanita muda yang berpakaian sangat minim—wanita yang sama yang dulu dilihat Senja di video klub malam.
"Mas, kapan kamu cerai beneran sama si arsitek itu?" tanya wanita itu sambil mengelus leher Rangga.
"Bulan depan sidangnya kelar, Sayang. Sabar ya. Sekarang aku lagi 'investasi' dulu di sini. Cewek ini (Sinta) gampang banget dibohongi. Dia pikir aku mau berubah demi dia. Padahal aku cuma butuh tempat buat latihan dan makan gratis sampai namaku naik lagi," jawab Rangga sambil tertawa sinis.
Sinta merasa dunianya runtuh. Seluruh pembelaannya selama ini, seluruh pengorbanannya, harga dirinya yang ia pertaruhkan di depan Senja dan teman-teman kantornya, hancur berkeping-keping.
Tapi, di sinilah letak "kebegoan" Sinta yang membuat orang ingin berteriak. Bukannya masuk dan menendang mereka keluar, Sinta justru mundur perlahan. Ia turun ke bawah, duduk di dapur, dan menangis tanpa suara.
Egonya berkata: "Kalau aku usir dia sekarang, semua orang akan tahu aku kalah. Mbak Sari akan menertawakanku. Senja akan melihatku sebagai wanita bodoh yang kena batunya. Aku nggak boleh kalah! Aku harus bikin dia beneran berubah supaya aku bisa tunjukkan ke mereka kalau aku berhasil!"
Sinta menghapus air matanya. Ia mengambil napas panjang. Ia justru mulai memasak makan malam seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saat Rangga turun setelah wanita itu pergi secara diam-diam lewat pintu samping, Sinta menyambutnya dengan senyum manis—senyum yang penuh dengan kepahitan.
"Mas, sudah selesai latihannya? Ini aku masakin ayam goreng kesukaan Mas," ucap Sinta dengan suara bergetar.
Rangga menatap Sinta, mencari tanda-tanda kecurigaan, tapi Sinta adalah arsitek dari penyangkalannya sendiri. "Wah, makasih Sin. Kamu memang istri idaman, eh maksudku teman terbaik."
Sinta tersenyum, tapi hatinya menjerit. Ia baru saja menelan ludahnya sendiri, dan rasanya jauh lebih pahit daripada yang ia bayangkan. Ia telah menjadi "Warteg" kedua, tapi dengan porsi yang lebih menyedihkan karena ia tahu ia sedang ditipu tapi memilih untuk tetap setia pada kebohongannya.
ksh pelajaran aja buat rangga
dh stadium akut😭
saking bucinnya ke mas dj dj
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
wwk jdi gembel lg kamu😆
kasian senja😭