Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pagi itu, jagat maya dan stasiun televisi meledak oleh konferensi pers darurat yang digelar Tino di sebuah lokasi yang disamarkan.
Di depan puluhan kamera, Tino menampilkan potongan video dengan pencahayaan remang-remang yang menunjukkan sosok mirip Relia yang sedang berteriak histeris dan menarik-narik pakaian Markus.
Sementara Markus tampak mencoba menghindar.
Sarah tampil di depan kamera dengan akting luar biasa.
Ia menangis tersedu-sedu dengan wajahnya yang dibuat sembap, dan ia memegang tangan Tino seolah mencari perlindungan.
"Saya mohon, Relia. Tolong lepaskan suami saya," isak Sarah di depan mikrofon.
"Kami selama ini diam karena kami tahu dia tidak waras. Relia memiliki riwayat gangguan jiwa berat sejak remaja. Dia sering berhalusinasi dan terobsesi pada Markus. Visum yang dia tunjukkan itu? Itu adalah luka yang dia buat sendiri saat kambuh!"
Tino menyambung dengan suara bariton yang meyakinkan.
"Kami punya catatan medis asli dari klinik swasta yang menunjukkan kecenderungan psikopat pada Relia. Apa yang dilakukan Dokter Ariel Arkatama adalah pelanggaran kode etik berat. Dia menikahi pasien yang tidak waras untuk menguasai kesaksiannya demi menjatuhkan reputasi hukum klien kami."
Sementara itu di mansion Arkatama, sebuah gelas kristal di tangan Ariel pecah berkeping-keping saat ia menyaksikan siaran langsung itu.
Amarahnya sudah mencapai puncak. Di sampingnya, Relia duduk mematung, menatap layar televisi dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Dia bilang aku yang mengejarnya?" bisik Relia
"Video itu, malam saat aku memohon padanya untuk berhenti memukulku dan aku menarik kakinya agar dia tidak meninggalkanku di gudang gelap. Kenapa mereka memotongnya seperti itu?"
Ariel segera mematikan televisi. Ia berlutut di depan Relia, memegang kedua bahu istrinya agar fokus padanya.
"Relia, dengarkan aku. Itu teknik gaslighting tingkat tinggi. Mereka menggunakan potongan video tanpa suara untuk menciptakan narasi baru," ucap Ariel.
"Tapi mereka melakukan satu kesalahan fatal,"
Ariel mengeluarkan iPad miliknya dan menghubungkannya ke layar besar di ruang kerja.
"Apa itu, Mas?" tanya Relia pelan.
"Mereka menggunakan video dari CCTV rumah mereka sendiri. Tino pikir dia sudah menghapus file aslinya dan hanya menyisakan potongan yang sudah diedit. Tapi dia lupa, tim IT Arkatama sudah melakukan mirroring ke server awan rumah itu sejak hari pertama aku membawamu pergi."
Ariel menekan tombol play. Di layar muncul video yang sama, namun dengan sudut pandang yang lebih luas dan bersuara.
Dalam video asli itu, terdengar jelas suara Markus yang tertawa kencang sambil mengayunkan ikat pinggang.
"Ayo, tarik kakiku lagi! Mohonlah lebih keras, Relia! Kamu pikir ada yang akan menolongmu?" Relia mulai menangis, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena lega bahwa kebenaran itu masih ada.
"Tino dan Markus baru saja menyerahkan 'leher' mereka sendiri pada kita," seringai Ariel muncul.
"Mereka mengakui keberadaan video itu. Sekarang, aku akan merilis versi lengkapnya secara real-time di semua platform media Arkatama, tepat saat mereka masih bersenang-senang di depan wartawan."
Ariel kemudian menatap Relia dengan tatapan lembut.
"Tapi, dunia butuh melihat bahwa 'si gila' yang mereka sebutkan ini sebenarnya adalah wanita paling waras dan berani yang pernah ada. Relia, apakah kamu siap untuk melakukan Live dari sini? Tunjukkan iPad-mu, tunjukkan novelmu, dan biarkan mereka mendengar suaramu yang asli."
Relia menarik nafas panjang sambil mengambil iPad-nya, jemarinya menyentuh layar yang menampilkan ribuan dukungan dari pembaca novelnya.
"Aku siap, Mas. Aku tidak ingin bersembunyi lagi di balik punggungmu. Aku ingin menghancurkan kebohongan mereka dengan tanganku sendiri."
Suasana di ruang kerja Ariel berubah menjadi studio siaran langsung yang sangat profesional.
Relia duduk di kursi kebesaran Ariel, mengenakan pakaian berwarna putih yang melambangkan kemurnian dan kejujuran.
Di sampingnya, layar besar menampilkan perbandingan dua video dimana video potongan milik Markus dan video asli bersuara milik Ariel.
Jutaan pasang mata menonton melalui berbagai platform media sosial.
Angka penonton terus melonjak, mencapai lebih dari lima juta penonton dalam waktu singkat.
"Selamat siang semuanya," suara Relia terdengar jernih, meski ada sedikit getaran keberanian di dalamnya.
"Nama saya Relia Arkatama. Selama dua tahun, saya hidup dalam keheningan yang menyiksa. Dan hari ini, saya tidak akan membiarkan kebohongan membungkam saya lagi."
Relia menunjuk ke layar dimana video tentang Markus.
"Video yang ditunjukkan saudara Markus adalah manipulasi kejam. Mari kita dengar suara aslinya."
Relia menekan tombol play dimana terdengar suara cambukan ikat pinggang dan tawa jahat Markus menggema di siaran langsung itu.
Penonton bisa mendengar Relia memohon ampun, bukan menggoda.
Ia membedah satu per satu kebohongan itu dengan bukti medis dan kronologi yang ada di novelnya.
Tiba-tiba, kegaduhan terdengar di depan gerbang mansion Arkatama.
Tim keamanan melaporkan bahwa sebuah mobil nekat menerobos kerumunan wartawan.
Markus, yang tampaknya kehilangan akal sehat karena posisinya tersudut, keluar dari mobil dengan wajah yang dipaksakan tenang namun matanya menyiratkan kegilaan.
Ia berteriak ke arah kamera wartawan yang masih ada di sana, tahu bahwa Relia sedang melakukan siaran langsung.
"Relia! Hentikan omong kosong ini!" teriak Markus sambil menatap ke arah balkon mansion di mana Relia berada disana
"Semua orang bisa melihat kamu sedang kambuh! Kamu kurang waras, Sayang. Halusinasi ini sudah terlalu jauh!"
Markus berjalan mendekat ke arah gerbang yang dijaga ketat, merentangkan tangannya seolah-olah ia adalah penyelamat.
"Ayo kita pulang, Relia. Aku akan memaafkanmu. Aku akan membawamu ke dokter terbaik untuk menyembuhkan gangguan jiwamu ini. Jangan biarkan keluarga Arkatama memanfaatkan kondisi mentalmu untuk menjatuhkan aku!"
Di dalam ruang kerja, Relia melihat aksi Markus melalui monitor CCTV.
Ia tidak gemetar dan justru tersenyum tipis dimana sebuah senyuman kemenangan.
Relia membawa iPad-nya, lalu berjalan menuju balkon, diikuti oleh kamera siaran langsungnya.
Ia berdiri di sana, menatap rendah ke arah Markus yang berada di bawah.
"Markus," suara Relia menggema melalui pengeras suara mansion, membuat suasana di depan gerbang seketika senyap.
"Kamu bilang aku tidak waras?"
Relia mengangkat iPad-nya yang menampilkan jutaan komentar dukungan.
"Jika mencari kebenaran dan melawan penyiksaan disebut tidak waras, maka aku dengan bangga menerimanya. Tapi lihatlah dirimu yang berdiri di sana, berbohong di bawah sinar matahari, sementara seluruh dunia baru saja mendengar rekaman aslimu menyiksaku."
Relia menunjuk ke arah jalanan di belakang Markus.
Sirine polisi mulai terdengar mendekat ke mansion Arkatama.
"Aku sudah pulang, Markus. Aku pulang ke tempat di mana aku dicintai dan dilindungi. Sekarang, giliranmu untuk pergi ke 'rumah' yang pantas untukmu yaitu penjara."
Wajah Markus berubah drastis dari pura-pura peduli menjadi pucat pasi saat melihat mobil polisi mengepung kendaraannya.
Dunia seakan bergerak dalam tayangan lambat saat Markus menyadari bahwa karier, reputasi, dan hidupnya telah hancur di depan jutaan pasang mata, sorot matanya yang licik berubah menjadi kegelapan murni.
Ia tidak lagi peduli pada hukum. Jika ia harus hancur, maka Relia harus ikut hancur bersamanya.
"Tembak dia!" teriak Markus dengan histeris ke arah gedung tua di seberang gerbang mansion.
DOR!
Suara letusan senjata api memecah keheningan perbukitan itu.
Sebuah peluru kaliber tinggi melesat, membelah udara pagi yang dingin.
Relia yang masih berdiri di balkon dengan iPad di tangannya, merasakan sebuah hantaman keras yang panas di dadanya.
Kekuatan peluru itu mendorong tubuh mungilnya ke belakang.
iPad yang ia pegang terlepas, jatuh menghantam lantai balkon dengan layar yang retak, namun masih menyiarkan gambar langit yang biru.
"Relia!" teriak Ariel.
Ariel menerjang maju, namun ia terlambat sepersekian detik.
Tubuh Relia lunglai, darah merah segar mulai merembes cepat di gaun putih yang ia kenakan.
Warna putih yang kini ternoda oleh kekejaman terakhir sang monster.
Relia ambruk di pelukan Ariel yang baru saja menangkapnya.
Napasnya tersengal, matanya yang tadi bersinar penuh kemenangan kini mulai meredup, menatap wajah Ariel yang tampak hancur karena ketakutan.
"M-mas... Ariel..." bisik Relia parau.
Tangannya yang gemetar mencoba menyentuh pipi suaminya, meninggalkan jejak darah di sana.
"Tetap buka matamu, Relia! Jangan tutup!" Ariel berteriak sambil menekan luka di dada istrinya dengan tangan gemetar.
Sebagai dokter, ia tahu posisi peluru itu sangat berbahaya.
"Tim medis! Siapkan ruang operasi sekarang! Satrio, tangkap penembak itu hidup-hidup dan hancurkan Markus!"
Di bawah sana, suasana menjadi kacau balau. Wartawan berhamburan menyelamatkan diri.
Polisi langsung merangsek maju mengepung Markus.
Markus tertawa gila melihat darah yang mengalir dari balkon, sebelum akhirnya sebuah tendangan dari petugas polisi menjatuhkannya ke tanah dan memborgolnya dengan kasar.
Di balkon, Ariel mendekap kepala Relia di dadanya.
"Bertahanlah, Sayang. Kamu sudah menang. Kamu tidak boleh pergi sekarang,"
Di ambang kesadarannya, ia merasa seperti melihat sosok kecil Bintang sedang melambai padanya di ujung lorong cahaya yang terang.
"A-aku sudah bicara, Mas." bisik Relia untuk terakhir kalinya sebelum matanya terpejam sepenuhnya, dan tangannya jatuh terkulai dari pipi Ariel.
"Relia! RELIA!"
Siaran langsung itu masih menyala dimana jutaan penonton di seluruh negeri hanya bisa melihat layar yang bergetar dan mendengar isak tangis histeris seorang CEO Arkatama yang sedang memeluk tubuh istrinya yang tak bergerak.
mudah"an relia selamat