NovelToon NovelToon
Milik Sang Ketos Dingin

Milik Sang Ketos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kasychan_A.S

Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.

​Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

​Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.

​Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.

follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3- Ketua OSIS modelan robot rongsok

Aluna terdiam. Bayangan Arlan yang membisikkan namanya dengan suara parau sebelum ia benar-benar sadar tadi sempat melintas di benaknya. Tapi rasa kesalnya masih lebih besar. "Udahlah, males bahas dia. Gue mau bolos jam Bu Lastri, bilangin gue masih sekarat."

Belva dan Sesya cuma bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu kalau Aluna sudah mode 'mogok', nggak ada yang bisa memaksa bahkan singa sekolah macam Bu Lastri sekalipun.

​"Ya udah, kita balik ke kelas dulu. Nanti kalau ada si Robot patroli ke sini lagi, lo pura-pura pingsan beneran aja biar dia panik," bisik Belva sebelum akhirnya mereka berdua keluar meninggalkan UKS.

​Sepeninggal sahabatnya, suasana jadi hening. Aluna memejamkan mata, tapi sialnya, memori di lapangan tadi malah makin jelas. Ia ingat sensasi tangan kokoh yang menyangga punggungnya, juga suara parau Arlan yang manggil namanya suara yang nggak dingin, nggak datar, tapi ada getaran panik yang nyata.

Baru saja Aluna ingin memejamkan mata untuk benar-benar tidur, terdengar suara langkah sepatu yang sangat ia kenal. Iramanya teratur, tegas, dan dingin.

​Deg.

​Pintu UKS terbuka pelan. Aluna buru-buru memejamkan mata, teringat saran Belva tadi: Pura-pura pingsan! Ia mengatur napasnya seolah sedang tertidur lelap, meski jantungnya berdegup dua kali lebih kencang.

​Langkah itu berhenti tepat di samping brankarnya. Aluna bisa merasakan kehadiran seseorang yang berdiri menjulang di sana. Hening. Cukup lama tidak ada suara, sampai akhirnya terdengar helaan napas panjang yang terdengar sangat berat.

​"Gue tahu lo nggak tidur," suara bariton Arlan memecah keheningan. "Napas lo berantakan."

​Sial. Aluna mengutuk kemampuan observasi Arlan yang terlalu tajam. Ia perlahan membuka satu matanya, lalu mendengus kesal sambil bangkit duduk. "Bisa nggak sih lo sehari aja nggak usah sok tahu? Ganggu orang istirahat aja!"

"Gak usah kepedean. Gue ke sini cuma mau mastiin inventaris UKS nggak ada yang lo rusakin," balas Arlan datar. Ia sama sekali tidak bergerak untuk membantu Aluna yang tampak sedikit limbung saat berusaha duduk tegak.

​Aluna mendengus, matanya menyalak galak. "Inventaris? Lo pikir gue rayap?! Gue ini manusia, Arlan! Lo yang bikin gue kayak begini, sekarang malah bahas barang? Bener-bener nggak punya hati ya lo!"

​Arlan melirik jam tangannya dengan gerakan mekanis. "Sepuluh menit lagi jam pelajaran Bu Lastri selesai. Kalau lo nggak balik ke kelas dalam waktu lima menit, gue bakal masukin nama lo ke daftar pelanggar kelas berat dengan keterangan: membolos dengan sengaja."

​"Gue pingsan,Kak Arlan! P-I-N-G-S-A-N! Mana ada orang baru bangun pingsan langsung disuruh lari ke kelas?!" suara Aluna naik satu oktav, wajahnya yang tadi pucat kini merah karena emosi.

​"Lo udah sadar. Lo udah bisa teriak. Itu artinya lo sudah mampu secara fisik," jawab Arlan tanpa emosi. Ia mengeluarkan buku saku kecilnya dan mulai menulis sesuatu di sana tanpa menatap Aluna. "Setiap menit keterlambatan lo setelah ini, bakal dapet hukuman."

​Aluna meraih bantal di belakangnya dan melemparnya sekuat tenaga ke arah Arlan.

Buk!

Bantal itu tepat mengenai dada Arlan, tapi cowok itu bahkan tidak bergeming. Ia hanya menatap bantal yang jatuh ke lantai, lalu kembali menatap Aluna dengan dingin.

​"Buang-buang tenaga. Simpan itu buat jalan ke kelas," ucap Arlan singkat.

​"Gue benci banget sama lo, sumpah! Kenapa sih sekolah ini punya Ketua OSIS modelan robot rongsok kayak lo?!" teriak Aluna frustrasi.

​"Kebencian lo nggak bakal ngurangin hukuman lo, Aluna. Lima menit. Dimulai dari sekarang," Arlan berbalik badan, berjalan menuju pintu tanpa menoleh sedikit pun.

​Begitu tangan Arlan menyentuh gagang pintu, ia berhenti sejenak tanpa berbalik. "Dan satu lagi. Rapikan rambut lo. Berantakan kayak gitu cuma bakal bikin lo kena teguran guru piket di koridor. Efisiensi waktu, Aluna. Jangan bikin gue harus liat lo dihukum lagi cuma gara-gara masalah sepele."

​Brak!

​Arlan menutup pintu dengan tegas, meninggalkan Aluna yang sedang memaki-maki udara kosong sambil menyisir rambutnya dengan jemari secara kasar dan penuh dendam.

Meski kepalanya masih terasa berdenyut, Aluna terpaksa turun dari brankar. Ia tidak punya pilihan. Berurusan dengan Arlan dalam mode tertib aturan adalah mimpi buruk, dan ia tidak sudi membiarkan robot itu punya alasan tambahan untuk hukumannya. Dengan langkah gontai dan wajah yang masih pucat, ia keluar dari UKS.

​Benar saja, Arlan masih berdiri di koridor, tidak jauh dari pintu UKS. Ia sedang bersandar di pilar sambil membaca buku sakunya, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk menekan tombol stopwatch.

Begitu melihat Aluna keluar, Arlan hanya melirik lewat sudut matanya tanpa mengubah posisi.

​"Empat menit tiga puluh detik. Nyaris telat," ucap Arlan tanpa nada, matanya masih fokus pada buku saku di tangannya.

​"Bisa diem gak?!" semprot Aluna sambil berjalan melewatinya dengan langkah dihentak-hentakkan. "Gak usah dikawal! Gue tahu jalan ke kelas!"

​"Gue nggak ngawal. Gue cuma mau pastiin biar lo ga bolos!" ujar Arlan.

​Aluna mendadak berhenti, ia berbalik dan menatap Arlan dengan nyalang. "Lo bener-bener mau ngelaporin gue setelah lo liat sendiri gue pingsan?! Lo nggak punya rasa kemanusiaan ya?!"

​"Pingsan lo itu musibah, tapi bolos kelas itu pilihan," jawab Arlan tenang, menyesuaikan kacamatanya. "Gue cuma petugas lapangan. Urusan poin dan sanksi, itu wewenang BK. Gue cuma setor data objektif."

Tanpa menunggu balasan lagi, Aluna berbalik dan berjalan cepat nyaris berlari kecil menuju kelasnya. Ia tidak sudi menoleh ke belakang, meskipun ia bisa merasakan tatapan Arlan masih tertuju pada punggungnya sampai ia berbelok di ujung koridor.

Begitu Aluna sampai di depan pintu kelas XI-IPA 2, Bu Lastri sudah berdiri di sana dengan penggaris kayu panjang di tangannya.

​"Aluna! Dari mana saja kamu? Belva sama Sesya bilang kamu ke UKS, tapi ini sudah lewat empat puluh menit!" suara Bu Lastri menggelegar.

​"Saya... saya tadi beneran pingsan, Bu," jawab Aluna berusaha mengatur napas.

​"Pingsan atau sengaja mau bolos pelajaran saya?" Bu Lastri menyipitkan mata. "Tadi Arlan bilang kamu sudah sadar dari sepuluh menit yang lalu."

​Aluna mengepalkan tangan di samping roknya. Dasar tukang adu! "Saya butuh waktu buat jalan ke sini, Bu. Kaki saya masih lemas."

​"Sudah, masuk! Kamu saya kasih tugas tambahan merangkum bab empat sampai bab enam. Dikumpul sebelum bel pulang nanti. Kalau tidak, nilai harian kamu Ibu kosongkan!"

​Aluna masuk ke kelas dengan wajah merah padam. Belva dan Sesya langsung menatapnya dengan pandangan "lo nggak apa-apa kan'". Aluna cuma bisa menggeleng lemah dan duduk di bangkunya, lalu mulai mencoret-coret buku catatannya dengan kasar bukannya merangkum, dia malah nulis nama ARLAN besar-besar terus dicoret-coret pakai tinta hitam sampai kertasnya hampir robek.

Aluna terus menggerutu dalam hati, setiap goresan pulpennya adalah bentuk dendam yang membara. Sialnya, kepalanya masih berdenyut nyeri, membuat barisan kata di buku paket sejarah itu tampak menari-nari mengejeknya.

"Bantuin gue ngerangkum kek, ini tiga bab mana keburu sampe bel pulang!" ucap Aluna.

​"Gak berani gue, Al. Bu Lastri tadi pesen khusus, lo harus kerjain sendiri tanpa bantuan siapa pun."Sesya ikut menimpali dengan wajah prihatin.

Kriiing!

​Suara bel yang paling Aluna tunggu-tunggu akhirnya berbunyi ya bel pulang. Dengan sisa tenaga terakhir, ia mengumpulkan rangkumannya di meja guru dan langsung menyambar tasnya. Ia tidak peduli lagi pada Arlan atau ancamannya. Ia hanya ingin pulang dan bertemu Mamanya.

​Namun, saat ia keluar dari gerbang sekolah, motor Ninja hitam yang sangat ia kenali terparkir di pinggir trotoar. Sang pengendara melepas helmnya, menampakkan wajah tegas yang sore itu terlihat sedikit lebih manusiawi karena terpaan sinar matahari senja. Namun Aluna mengabaikan itu.

Aluna berjalan gontai menuju parkiran motor. Tangannya yang masih gemetar karena kelamaan ngerangkum dua bab sejarah tadi, terasa kaku saat harus merogoh kunci motor di saku tas. Di sana, motor kesayangannya sudah menunggu, tapi sialnya, motor Ninja hitam milik Arlan juga masih terparkir tepat di samping motornya.

​Arlan berdiri di sana, menyandar di motornya sambil melipat tangan di dada. Matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Aluna.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Aluna sampai di rumah dengan sisa tenaga yang benar-benar di titik nol. Ia memarkirkan motornya asal-asalan di garasi, bahkan hampir menjatuhkannya kalau saja tidak tertahan pilar. Begitu pintu rumah terbuka, pertahanan cewek kuat yang ia bangun seharian di sekolah langsung runtuh total.

​"Mamaaaaaa..." rengek Aluna begitu melihat sosok Mamanya sedang duduk di ruang tengah.

​Ia melempar tasnya ke atas sofa dan langsung menjatuhkan diri ke pelukan Mamanya. Aluna menyembunyikan wajahnya di pangkuan sang Mama, benar-benar mode anak bayi yang sedang mengadu.

"Ya ampun, Aluna! Kok baru pulang? Muka kamu pucat banget ini," Mama Aluna kaget, langsung mengelus rambut Aluna yang berantakan bekas helm. "Kamu sakit?"

"Mah... tangan Aluna pegel banget, kepala pusing...tadi Aluna pingsan karena belum sarapan."

Pintu depan rumah Aluna terbuka, menampilkan sosok laki-laki paruh baya dengan kemeja kantor yang sudah sedikit kusut. Papa Aluna pulang tepat saat Aluna sedang asyik mendusel di pangkuan Mamanya.

​"Wah, lagi ngomongin papah ya?" goda Papa sambil menaruh tas kerjanya di atas meja.

"Engga, siapa yang ngomongin papah" ucap Aluna.

"Bukan ngomongin Papa, tapi Aluna lagi manja ini, Pah. Katanya lemas banget habis pingsan di sekolah gara-gara nggak sarapan," sahut Mama sambil mengusap pelipis Aluna yang masih terasa dingin.

​Papa Aluna mendekat, lalu duduk di pinggiran sofa. Beliau menyentuh dahi putrinya dengan punggung tangan. "Pingsan? Tumben banget anak Papa yang jagoan ini bisa tumbang. Makanya, kalau pagi itu jangan cuma mentingin dandan atau telat bangun, perutnya diisi dulu."

​Aluna merengut, semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mamanya. Ia benar-benar enggan membahas kejadian di lapangan, apalagi menyebut nama si Robot yang sudah membuatnya naik darah seharian. Baginya, Arlan adalah polusi pikiran yang harus dibuang jauh-jauh begitu ia sampai di rumah.

​"Iya, iya, Papa nggak usah ikut ceramah juga. Ini aja udah kenyang dengerin ceramah di sekolah," gumam Aluna pelan, suaranya terdengar sangat lelah.

​"Ya sudah, kalau gitu Papa nggak bakal tanya-tanya lagi. Kamu istirahat total," ujar Papa sambil menepuk pelan bahu Aluna.

"Tapi tadi Papa lihat motor kamu markirnya miring banget di garasi. Hampir kena pot bunga Mama. Besok-besok kalau nggak kuat bawa motor, telepon Papa aja, biar Papa jemput."

​"Enggak mau, Aluna masih bisa sendiri kok," balas Aluna gengsi.

​Mama terkekeh melihat sifat keras kepala anaknya yang tidak hilang meski sedang sakit. "Sudah, jangan didebat terus.Mandi air hangat gih, biar badannya enakan. Habis itu langsung makan. Mama udah siapin ayam mentega kesukaan kamu di meja."

Aluna mengangguk kecil. Dengan gerakan lambat, ia bangkit dari pelukan Mamanya. Kakinya masih terasa sedikit gemetar, tapi kehangatan di rumahnya perlahan-lahan mulai mengikis rasa kesal dan pusing yang ia bawa dari sekolah.

Di tempat lain, deru mesin motor Ninja hitam berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis yang asri. Arlan mematikan mesinnya, namun ia tidak langsung turun. Ia terdiam sejenak di atas motor, menatap kosong ke arah gerbang rumahnya sendiri.

​Bayangan Aluna yang memacu motornya dengan tangan gemetar di parkiran tadi masih mengganggu pikirannya. Tindakan ceroboh, batinnya ketus, mencoba menutupi rasa cemas yang tak logis itu dengan logika kaku khasnya.

​Arlan melepas helm, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari, lalu melangkah masuk. Begitu pintu terbuka, aroma teh melati kesukaannya tercium.

​"Baru pulang, Mas?" suara Bunda menyambut dari ruang tengah.

Arlan hanya bergumam pelan. Ia melepas sepatunya, menaruhnya dengan posisi sangat presisi di rak, lalu berjalan mendekati Bundanya. Tanpa kata, Arlan langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang, meletakkan kepalanya di pangkuan sang Bunda.

​Bunda Arlan tersenyum kecil. Ia sudah sangat hafal jika Arlan sudah mode seperti ini, artinya baterai Ketua OSIS yang sempurna itu sudah habis total. Tangan Bunda bergerak lembut, mengelus dahi Arlan yang tampak berkerut.

​"Capek banget ya, Mas? Kayaknya hari ini tugas OSIS-nya berat sekali sampai anak Bunda lemas begini," ucap Bunda pelan, jemarinya memijat lembut pelipis Arlan yang tampak tegang.

​Arlan memejamkan mata, membiarkan keheningan rumah menyerap segala kekakuan yang ia tunjukkan di sekolah. "Bukan tugasnya, Bun. Orangnya."

​"Siapa orang yang bikin anak Bunda yang biasanya tenang jadi kelihatan panik begini?" goda Bunda. Arlan tidak menyahut, namun helaan napas beratnya sudah cukup menjadi jawaban. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan dingin, kini hanya menunjukkan kelelahan yang manusiawi.

​Tepat saat itu, Ayah Arlan melangkah masuk ke ruang tengah sambil melonggarkan dasinya. Beliau menatap pemandangan di sofa itu dengan senyum tipis. "Sudah, Bun, jangan terlalu digoda. Biarkan Arlan istirahat"

​Arlan hanya mendengus pelan tanpa membuka mata, menikmati sisa-sisa kenyamanan di pangkuan Bundanya sebelum ia harus kembali ke kamar.

1
Suo
CIEEE KEINGAT ALUNAA/Grin/
Suo
Fix Aluna sih
Kim Umai
sehabis acara, datang lah pegal² 🤣
Ria Irawati
nanggung lun.. gk usah pulang sampai besok 🤭
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh dingin-dingin ternyata peduli ya 🤭🤏
j_ryuka
lalat aja kepeleset apalagi hatinya kakak😭
j_ryuka
gue Tabok juga mulut Lo
Blueberry Solenne
Wkwkwk gila aja ngepel lg. 4. mau sekolah apa jadi OB di suruh ngepel mulu
Blueberry Solenne
Uhuk uhuk cie cie ada yang lagi sating tuhhh, udah pacaran aja kalian
pojok_kulon
Apa sekolahnya akan fokus, apa mereka nggak takut anaknya jadi nggak semangat untuk sekolah laki
pojok_kulon
wah jangan jangan Arlan tuh
Kim Umai
ada aja gebrakan nya tiap hari 🤣
Blueberry Solenne
asiik, serahkan smuanya sama Arkan ketimbang kecoa doang wkwkwk
Blueberry Solenne: Arlan, typo😭😭😭
total 1 replies
Blueberry Solenne
Ett dah udah kek bocil, eh emang bocil ya🤭
Suo
wahh jadi aluna berharap nya lain nih/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Enggak usah marah. Toh si Arlan bukan pacar kamu /Facepalm/
j_ryuka
akhirnya cieeee cieeeee
j_ryuka
hey awas aja kau lyra
Hafidz Nellvers
edyan bisa sama gitu 😱
Hafidz Nellvers
keren orang tuanya 🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!