Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Opa Lardo
Dalam perjalanan pulang dari stadion ke sekolah, Mauren terus menangisi kekalahannya yang tidak perlu terjadi itu barusan.
“Aku sudah menahan tenaga tendanganku agar tidak terlalu keras mengenai lawan,” ujar Mauren sambil menangis. “Tapi masih dianggap keras oleh wasit dan para juri.”
Beberapa murid wanita coba menenangkan sambil mengelus-elus dan menghibur Mauren.
“Kau pemenangnya, Mauren,” Sensei Nakamura ikut memberikan hiburan. “Semua melihat kamu sudah memimpin perolehan skor dan sepertinya akan memenangkan pertandingan dengan mudah.”
“Tapi kekalahan itu tidak adil,” jawab Mauren sambil terus terisak. “Saya tidak melakukan kecurangan apa pun.”
“Seorang juara tidak harus selalu menang,” kata Sensei Nakamura. “Dalam latihan mendatang saya akan lebih fokus melatih kamu pada latihan penguasaan diri dalam karate. Secara teknik kamu sudah hebat, tapi penguasaan diri yang masih harus ditingkatkan.”
“Mauren, tahun depan ada turnamen ini lagi,” kata Rommy ikut nimbrung. “Kamu belajar dari kejadian ini. Pasti kamu jadi juara.”
“Terima kasih, Rom,” kata Mauren pelan. “Tadi Opa Lardo nonton? Aku belajar banyak tendangan dari dia, pasti dia suka.”
“Tidak, tadi dia tidak nampak di kerumunan penonton seperti minggu lalu,” jawab Rommy.
“Aduh kenapa ya?” Tangis Mauren mulai berhenti. “Besok anterin aku ke tempat tinggal Opa Lardo, Rom.”
“Baik,” kata Rommy yang dalam hatinya bersorak dia diajak menemani Mauren. Agak ge-er juga dia, kenapa mesti dia, kenapa tidak yang lain? Kan banyak temannya yang cewek.
Senin sore, Rommy menemani Mauren ke Panti Wreda Surya Kencana tempat Lardo tinggal yang hanya beberapa ratus meter dari SMA Tunas Bangsa.
“Selamat sore, kami mau bertemu Opa Lardo,” kata Mauren kepada resepsionis.
“Oh, Opa Lardo yang karateka itu, ya?” jawab resepsionis. “Dia meninggal minggu lalu dan sudah diambil oleh keluarganya untuk dimakamkan.”
Mauren seketika merasakan plafon di atasnya roboh menimpa dia dan tak bisa berkata-kata, bahkan untuk sekadar bergerak pun dia tak bisa.
“Adik yang bernama Mauren bukan?” tanya resepsionis.
“Be..benar itu saya,” jawab Mauren yang menerima dua pukulan berat dalam tiga hari ini. Pertama kekalahan diskualifikasi dalam final turnamen karate yang diikutinya dan kedua kabar meninggalnya Opa Lardo.
Rommy hanya bisa terdiam ketika resepsionis mengabarkan Opa Lardo meninggal.
“Ini surat dari Opa Lardo,” kata resepsionis menyerahkan sepucuk surat dalam amplop kepada Mauren.
Mauren segera menerima dan duduk di meja tamu Panti Wreda itu. Amplop putih itu tertulis:
“Kepada cucuku Mauren.”
Dengan air mata berlinang dan tangan gemetar Mauren membuka surat itu.
“Dear cucuku Mauren.
Saat kamu membaca surat ini, mungkin Opa sudah tidak ada. Opa beberapa hari ini sudah merasakan waktu Opa sudah segera tiba.”
Mauren tak kuasa menahan air matanya kali ini dan air matanya jatuh menetes ke kertas surat itu.
“Bagaimana hasil finalnya? Pasti kamu sudah jadi juara sekarang. Pakai mawashi geri atau tobi mae geri? Atau chudan tsuki?”
Mauren kali ini tidak mampu menahan tangisnya datang dengan lebih keras.
“Mauren kalah diskualifikasi, Kek. Karena tendangan mawashi-geri Mauren didiskualifikasi, dianggap terlalu keras dan membahayakan lawan,” gumam Mauren pelan.
“Waktu semi final, Opa sempat bertemu dengan mamamu, dan dia menatap Opa dengan penuh kebencian. Opa tahu karena Opa mamamu akhirnya cedera dan harus mundur dari pelatnas dan dunia karate yang dicintainya ini.”
Mauren melap mata dan pipinya yang basah dengan tisu, lalu dia melanjutkan membaca.
“Dengan ini Opa minta tolong sampaikan permintaan Opa kepada mamamu. Sejak peristiwa itu, Opa merenung, bahwa Opa memang terlalu arogan dan kasar, karena Opa merasa paling kuat. Tapi Opa sadar akan hal itu dan sudah berubah.”
Mauren lalu minum segelas air yang diberikan oleh resepsionis.
“Mohon sampaikan kepada mama kamu, agar mau membuka pintu maaf untuk Opa. Terima kasih. Dan untuk Mauren teruslah berlatih dan jika sudah hebat, jangan jadi orang sombong seperti Opa waktu muda dulu. Wassalam, Opa Lardo.”
Mauren melihat surat itu dan memasukkannya ke amplop kembali sambil menyeka air matanya dengan tisu lagi. “Mauren berjanji, Opa.”
Lalu mereka berpamitan dan pulang.
Sesampainya di rumah, Mauren menyerahkan surat itu agar dibaca sambil berkata, “Opa Lardo sudah tidak ada, Ma.”
Mama Mauren hanya bisa terbelalak, lalu dengan perlahan dia mengeluarkan surat itu dari dalam amplop dengan penasaran dan membaca isinya. Mama Mauren berhenti membaca, lalu memeluk Mauren dan keduanya lalu tenggelam dalam tangis.
Hari Minggu pagi, Mauren dan mamanya diantar Papa Mauren ke pemakaman Opa Lardo yang diinformasikan oleh pihak Panti Wreda.
“Lardo, beristirahatlah dalam damai. Aku sudah bisa memaafkan kamu. Semoga Mauren kelak yang akan mewujudkan cita-citaku,” kata Mama Mauren sedikit terisak dan memberikan sekuntum mawar merah di pusara Opa Lardo sambil mengelus nisannya.
“Opa, Mauren gagal menjadi juara kali ini, tapi tahun depan Mauren akan berusaha lagi menjadi yang terbaik,” kata Mauren di depan pusara Opa Lardo, lalu memeluk mamanya dan tumpah dalam tangis.
“Lardo, Mauren tampil bagus di final, dan dia berhasil mempraktikkan tendangan-tendangan yang diajarkanmu dengan cantik,” kata Mama Mauren sambil terisak.
“Lihat Opa, Mauren sudah bisa melakukan tendangan tobi mae geri yang diajarkan Opa,” kata Mauren lalu melakukan tendangan melayang ke arah pohon kamboja dekat pusara Opa Lardo. “Tapi tendangan ini tidak Mauren pakai dalam pertandingan, karena berbahaya dan rawan kena diskualifikasi lagi.”
Papa Mauren sedikit tersenyum dengan kepolosan putrinya itu lalu memeluk kepala Mauren dengan penuh kasih sayang.
“Opa Lardo, aku tak pernah mengenalmu. Tapi terima kasih sudah memberi ilmu yang berarti pada Mauren,” ujar Papa Mauren ketika akan meninggalkan pemakaman Opa Lardo. “Aku tidak ahli dalam karate, tapi aku akan mendukung dia semoga menjadi atlet besar di kemudian hari.”
Sementara Mauren belajar mengendalikan kekuatan, di tempat lain ada seseorang yang justru belajar melepaskannya.
Axel yang tengah menjalani skorsing tiga bulan dari sekolah berjalan menuju Sasana Tinju Cobra yang tidak terlalu jauh dari rumah. Di sana Coach Bruno sedang sibuk melatih beberapa petinju memukul samsak.
“Pukul lebih keras!” teriak Coach Bruno. “Dalam tinju, pukulan keras lebih utama!”
Axel kagum menyaksikan cara Coach Bruno melatih dengan gaya keras itu.
“Axel, kau kemari mau lihat latihan atau mau latihan?” dengus Coach Bruno. “Cepat siap-siap!”
Axel lalu bersiap-siap, memakai perban di tangannya dan melakukan pemanasan ringan dan melakukan shadow boxing.
“Axel, pukul samsak enam ronde sekeras mungkin!” perintah Coach Bruno.
Axel segera memukul samsak sekeras mungkin. Di bayangannya samsak itu adalah Rommy dan Tommy, dan ia pukul mereka dengan tenaga sekeras mungkin.
“Lebih keras Axel. Jangan klemar-klemer. Pukul lebih keras!” Coach Bruno bersuara dengan keras untuk memacu Axel memukul lebih keras.