NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pesta Perayaan yang Rusak

Kesuksesan film membawa konsekuensi yang menguji prioritas mereka.

​Lampu sorot, sorot biru dan ungu menerangi rooftop bar mewah di pusat Jakarta. “Detak Jakarta” baru saja ditayangkan perdana dan mendapat standing ovation dari para kritikus.

Malam itu seharusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi Arlan dan Adelia, namun bagi Adelia, malam itu terasa sesak.

​Arlan berdiri di tengah kerumunan investor dan selebriti, tertawa lebar sambil memegang gelas sampanye. Ia tampak begitu percaya diri dan berwibawa—sutradara sukses yang dipuja semua orang. Namun, Adelia—yang berdiri beberapa meter di belakangnya—merasa seolah Arlan berada di planet lain.

​"Selamat ya, Adel! Filmnya luar biasa!" sapa salah satu produser sambil menepuk bahu Adelia.

​"Terima kasih," jawab Adelia dengan senyum yang dipaksakan.

​Arlan menghampiri Adelia, merangkul pinggangnya dengan posesif di depan orang banyak. "Adel, ini Pak Hartono. Dia ingin berinvestasi di film kita selanjutnya."

​Adelia berjabat tangan dengan pria paruh baya itu. "Senang bertemu Anda, Pak."

​"Istri Anda ini benar-benar aset berharga, Pak Arlan. Tanpa detail kecil yang dia urus, film ini tidak akan sesempurna ini," puji Pak Hartono.

​Istri? Adelia tertegun. Mereka bahkan belum bertunangan.

​"Tentu saja," jawab Arlan bangga. "Dia jantung dari A&A Pictures."

​Kata-kata itu terdengar indah, namun Adelia tahu itu hanya cara Arlan untuk membuat investor terkesan. Sepanjang malam, Arlan hanya berbicara tentang angka, proyeksi keuntungan, dan ide film selanjutnya. Tidak ada satu pun kata tentang hubungan mereka, atau rencana masa depan mereka berdua.

​Saat pesta berakhir dan mereka masuk ke dalam taksi dalam perjalanan pulang, keheningan menyelimuti mereka.

​"Kamu kenapa? Diam saja dari tadi," tanya Arlan sambil bersandar di kursi taksi, memejamkan mata karena lelah.

​"Investor tadi memanggilku istrimu," ujar Adelia pelan.

​Arlan membuka matanya sedikit. "Terus? Kan bagus kalau mereka menganggap kita serius."

​"Arlan, kita bahkan belum membahas kapan kita akan menikah. Kita terlalu sibuk dengan A&A Pictures," suara Adelia mulai bergetar. "Tadi di pesta... kamu bahkan tidak pernah menatapku sebagai pasanganmu. Kamu menatapku sebagai 'aset'."

​Arlan menghela napas panjang, duduk tegak. "Adel, aku capek. Aku baru saja memenangkan malam terpenting dalam karierku, dan kamu mau membahas ini sekarang?"

​"Ini malam terpenting dalam karier kamu, Arlan. Bukan kita," balas Adelia, air mata mulai menggenang. "Di pesta tadi, aku merasa sendirian."

​Taksi berhenti di depan apartemen mereka. Arlan membayar dan mereka masuk ke dalam lift dalam diam. Begitu pintu apartemen tertutup, Arlan berbalik menatap Adelia.

​"Apa lagi yang kamu mau, Adel? Aku sudah memberikan segalanya. Studio ini,

keberhasilan ini, semuanya untuk kita!"

​"Aku tidak butuh studio ini, Arlan! Aku butuh kamu!" teriak Adelia, air matanya jatuh. "Aku butuh sutradara yang tahu kapan harus berhenti bekerja dan menjadi kekasihku. Aku butuh Arlan yang mencintaiku, bukan Arlan yang terobsesi dengan kesempurnaan!"

​Arlan terpaku. Ia melihat kesedihan mendalam di mata Adelia. Pria yang ditakuti semua kru itu merasa hatinya hancur melihat air mata Adelia.

​"Maaf..." gumam Arlan pelan, mendekat untuk memeluk Adelia.

​Adelia mendorong dada Arlan pelan. "Malam ini... aku tidur di kamar tamu."

​Adelia berjalan masuk ke kamar tamu dan mengunci pintu. Arlan berdiri di ruang tengah yang sepi, menatap piala best director yang baru saja ia menangkan di meja. Piala itu terasa dingin dan hampa.

Jarak fisik dan emosional memaksa mereka mengevaluasi kembali apa yang sebenarnya penting.

Jarak dan Ruang

​Pagi itu, apartemen terasa jauh lebih luas dan sunyi. Arlan terbangun sendirian di kamar utama. Aroma kopi 80 derajat tidak tercium. Saat ia keluar, ia menemukan selembar catatan kecil di meja makan: “Aku pergi ke rumah ibu selama beberapa hari. Kita butuh waktu untuk berpikir. – Adel”

​Arlan meremas catatan itu. Rasa frustrasi dan takut bercampur menjadi satu. Ia menatap meja kerja yang penuh dengan berkas proyek baru. Semuanya terasa tidak berarti tanpa kehadiran Adelia.

​Sementara itu, di rumah ibunya, Adelia duduk di teras belakang, menatap taman yang tenang. Ia tidak bahagia karena Arlan jauh, tapi ia tahu ia tidak bisa kembali ke apartemen sebelum ada perubahan nyata.

​"Dia selalu seperti itu, ya?" tanya Ibu Adelia lembut sambil meletakkan secangkir teh di depan anaknya. "Fokus pada satu hal sampai lupa pada hal lain."

​"Dia sutradara yang hebat, Bu. Tapi terkadang, dia lupa kalau hidup ini bukan film yang bisa dia atur sesukanya," sahut Adelia pelan.

​"Lalu, apa yang kamu cari, Adel? Seseorang yang selalu ada, tapi tidak punya mimpi? Atau seseorang yang punya mimpi besar, tapi butuh kamu untuk mengingatkannya untuk bernapas?"

​Adelia terdiam merenungkan kata-kata ibunya. Ia mencintai ambisi Arlan, tapi ia membenci kesepian yang dibawanya.

​Di studio A&A Pictures, Arlan bekerja dengan suasana hati yang buruk. Tim kreatif bekerja dalam ketakutan.

​"Pak Arlan, apakah konsep iklan ini sudah disetujui oleh Mbak Adel?" tanya salah satu editor dengan hati-hati.

​Arlan terdiam sejenak. "Setujui saja dulu. Nanti saya periksa lagi."

​Ia menyadari betapa besarnya peran Adelia. Bukan hanya sebagai editor atau mitra, tapi sebagai penyeimbang emosinya. Tanpa Adelia, ia kembali menjadi "Naga" yang arogan dan menakutkan.

​Malam harinya, Arlan tidak pulang ke apartemen. Ia memacu mobilnya ke rumah ibu Adelia. Ia berdiri di depan pintu, ragu-ragu untuk mengetuk. Ia tidak tahu harus berkata apa.

​Pintu terbuka, dan Ibu Adelia berdiri di sana. "Dia ada di belakang."

​Arlan berjalan ke taman belakang. Adelia sedang duduk sendirian. Saat menyadari kehadiran Arlan, ia berdiri.

​"Kenapa ke sini?" tanya Adelia dingin.

​Arlan mendekat, wajahnya terlihat lelah dan penuh penyesalan. "Aku tidak bisa bekerja tanpa kamu, Adel. Studio itu... terasa mati."

​"Bukan studionya yang mati, Arlan. Tapi hatimu yang mati karena ambisi," balas Adelia menahan air mata.

​"Aku tahu. Aku egois," Arlan menatap mata Adelia dalam-dalam. "Aku takut kalau aku berhenti sebentar, semuanya akan hilang. Aku takut gagal seperti Ayah."

​Adelia terkejut mendengar pengakuan itu. Arlan jarang membahas ketakutannya akan kegagalan.

​"Kamu bukan Ayahmu, Arlan. Kamu punya aku," Adelia melangkah mendekat, menggenggam tangan Arlan yang dingin.

"Kita bisa membangun semuanya bersama-sama. Tapi aku butuh kamu menjadi pasangan, bukan cuma mitra bisnis."

​Arlan mengangguk pelan. Ia menarik Adelia ke dalam pelukan yang erat dan rapuh. "Tolong ajari aku cara menjadi pasangan yang baik, Adel. Aku tidak tahu caranya tanpa kamu."

​Malam itu, di bawah langit malam yang tenang, mereka tahu bahwa perbaikan hubungan tidak akan terjadi dalam semalam. Tapi, setidaknya, mereka tahu mereka ingin memperbaikinya bersama.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!