Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Ketegangan antara dua bersaudara itu seolah-olah menjadi kabut tebal yang menyelimuti ruang utama. Xavier berdiri tegak, merapikan setelan jasnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap mendekap Luna yang kini mendengkur halus dalam gendongannya.
"Aku akan berangkat ke kantor sekarang. Hari ini ada meeting penting dengan uncle Luke yang tidak bisa kutunda," ucap Xavier datar. Lalu menoleh ke arah asisten setianya. "Gerry, apa kau sudah mempersiapkan semua dokumen dan pengamanan?"
Gerry segera berdiri tegap seraya membetulkan letak kacamatanya. "Sudah, Tuan. Mobil sudah siap di depan dan tim pengawal sudah dalam posisi."
Xander yang masih duduk di sofa, menyesap sisa kopinya sebelum angkat bicara.
"Hati-hati pada Luke, Vier. Jangan tertipu dengan senyum ramahnya. Dia itu ular berbisa yang menunggu waktu tepat untuk mematukmu dari belakang."
Langkah Xavier terhenti tepat di ambang pintu ruang makan. Ia terdiam sejenak, namun tetap enggan menoleh ke arah kakaknya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang dingin.
"Lalu bagaimana denganmu yang selama ini diam saja saat mama dan papa mengusirku? Bahkan kalian membiarkan aku diasingkan di mansion tengah hutan yang nyaris sunyi ini?" sahut Xavier dengan nada bicara yang menusuk.
Xander bangkit dari duduknya. "Semua itu aku lakukan bukan tanpa alasan, Vier! Suatu saat nanti kau akan mengerti mengapa aku membiarkanmu di sini. Itu demi keselamatanmu!"
"Keselamatanku atau kenyamananmu sebagai putra mahkota?" sahut Xavier tajam. "Aku tidak peduli apa alasanmu. Mulai sekarang, urus saja urusanmu sendiri. Jangan bersikap seolah kau adalah kakak yang peduli."
Tanpa menunggu balasan, Xavier melangkah pergi dengan langkah lebar, disusul oleh Gerry yang sempat membungkuk hormat kepada Xander sebagai tanda pamit.
Namun, karena terburu-buru mengejar langkah panjang bosnya, bencana kecil pun terjadi.
Brugh!
"Astaga!" pekik sebuah suara.
Gerry yang tidak memperhatikan jalan menabrak Rose, asisten Xander yang baru saja hendak masuk membawakan tablet. Sialnya, Rose sedang memegang gelas kopi panas yang kini tumpah tepat ke kemeja putihnya yang mahal dan sebagian mengenai punggung tangannya.
"Aduh, aduh! Panas!" Rose mengibaskan tangannya dengan wajah memerah menahan sakit dan emosi.
"Maafkan saya, Nona! Saya benar-benar tidak sengaja!" ucap Gerry panik. Refleks, ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan hendak meraih tangan Rose untuk mengelap tumpahan kopi tersebut.
"Maaf, maaf! Di mana kau taruh matamu, hah?! Kalau jalan lihat-lihat dong, dasar ceroboh!" bukannya menerima bantuan, Rose malah memaki Gerry.
Gerry yang tadinya panik, tiba-tiba mematung. Saat ia mendongak dan menatap wajah Rose dari jarak dekat, jantungnya seolah berhenti berdetak. Rose memang terlihat marah, tapi di mata Gerry, kemarahan itu justru membuatnya terlihat sangat mempesona. Rambutnya yang rapi, matanya yang tajam, dan bibirnya yang merah membuat Gerry terpesona seketika.
Bibir Gerry menganga lebar. Matanya tidak berkedip, dan sedikit air liur hampir saja menetes dari sudut mulutnya yang melongo.
Apa dia bidadari yang baru saja jatuh dari surga dan mendarat tepat di dadaku? batin Gerry dengan ekspresi wajah yang sangat konyol.
Rose yang melihat tatapan mesum dan bodoh itu merasa jijik sekaligus tersinggung. Tanpa aba-aba, ia mengangkat kakinya dan...
Dugh!
"Argh!" Gerry memekik kesakitan hingga jatuh terduduk sambil memegangi aset berharganya yang baru saja menjadi sasaran empuk tendangan maut Rose.
"Lihat ke mana matamu, hah! Dasar pria me-sum, tidak tahu sopan santun!" seru Rose sembari melotot tajam, lalu bergegas pergi meninggalkan Gerry yang masih berguling-guling di lantai sambil menahan tangis.
Xander yang menyaksikan adegan itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi lelah. Ia menatap kepergian Rose dan Gerry yang menyedihkan itu bergantian.
"Banyak orang aneh di rumah ini. Kenapa asistenku dan asisten adikku sama-sama tidak waras?" gumam Xander pelan sebelum akhirnya melangkah keluar menyusul rencana rahasianya.
*
*
Gerry berjalan dengan posisi kaki mengangkang. Wajahnya meringis menahan sakit sambil sesekali memegangi area selang-kangannya.
"Ada apa denganmu? Kau berjalan seperti penguin cacat," tanya Xavier tanpa ekspresi, matanya tetap menatap tajam ke depan.
Gerry menghela napas dramatis, wajahnya tampak ingin menangis. "Kena hantam singa betina, Tuan. Aset masa depan saya nyaris pensiun dini akibat tendangan maut asisten tuan Xander."
Xavier hanya menaikkan satu alisnya, tetap tenang seolah informasi itu tidak lebih penting dari laporan cuaca.
"Lalu?"
"Lalu? Tuan, ini urusan kelangsungan garis keturunan keluarga besar saya! Kalau tadi lebih keras sedikit, saya mungkin sudah berubah jadi kasim di mansion anda," keluh Gerry sembari sedikit membungkuk kesakitan.
"Bagus. Setidaknya jika kau mandul, kau akan lebih fokus bekerja daripada sibuk melongo melihat wanita. Jangan biarkan air liurmu mengotori lantaiku lagi."
"Tuan benar-benar tidak punya hati nurani!" gumam Gerry meratapi nasibnya.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu
Masih gak menyangka Vier bisa semanis itu 🤭 Lun kamu bener bener ya berani kiss pipi Sapir , Luna hanya Sapir yang boleh kamu cium yang lain jangan🤭😂
Vier kondisikan perasaanmu 🤣 pelan pelan ajari Luna ya , guru terbaik❤️