Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Rabu, 22 Mei Pukul 06.47 WIB
Percabangan Jalur, Kilometer Tiga
Figur itu berbalik.
Perlahan sekali. Terlalu perlahan untuk seseorang yang baru saja berdiri diam di tengah jalur. Gerakannya tidak punya keraguan sama sekali, seolah sudah tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya dan tidak perlu buru-buru untuk melakukannya.
Rehan yang paling depan tidak bergerak sama sekali.
Karena wajah yang kini menghadap mereka adalah wajah yang sudah mereka lihat di papan pengumuman pos pendaftaran kemarin. Wajah pemuda dua puluh dua tahun yang dilaporkan hilang empat hari lalu. Tapi sekarang sudah bukan wajah yang sama lagi.
Fajar Anggara.
Tapi bukan Fajar yang ada di foto itu.
Kulitnya di beberapa bagian sudah berubah menjadi abu-abu kekuningan yang tidak wajar, warna yang tidak masuk dalam kategori kulit manusia mana pun yang pernah Rehan lihat seumur hidupnya. Di lehernya, di punggung kedua tangannya, guratan-guratan gelap sudah tidak tersembunyi lagi. Sudah menembus ke permukaan, mengangkat kulit dari bawah, membentuk pola yang terlalu teratur untuk disebut penyakit biasa.
Dan matanya.
Irisnya hampir seluruhnya tertutup sesuatu yang bergerak-gerak. Hitam yang mengalir seperti tinta yang tidak mau berhenti mengalir.
Salsabilla di belakang Rehan menarik napas kecil yang nyaris tidak keluar dari mulutnya. Dadanya terasa sesak, seperti ada yang menekan dari dalam.
Runa tidak mengatakan apa-apa. Tapi tangannya sudah menggenggam lengan Salsabilla sejak tadi, erat, seolah takut kalau dilepas maka semuanya akan hancur.
Zidan berdiri di antara Rehan dan Runa, menatap wajah yang ada dua puluh meter di depan mereka. Sesuatu di dalam kepalanya sesuatu yang sejak tadi pagi sudah ada tapi tidak bisa dia namai tiba-tiba berhenti berputar. Tiba-tiba menjadi jernih. Seperti radio yang akhirnya menemukan frekuensi yang benar di tengah interferensi yang sudah lama mengganggu.
Dan Yazid di paling belakang, yang dari tadi matanya bolak-balik antara figur di depan dan ranting di tanah, menggenggam ranting itu lebih erat sampai buku jarinya memutih.
Dari belakang mereka, di percabangan yang baru saja mereka lewati, suara langkah yang mengikuti sejak kilometer empat berhenti.
Tidak pergi.
Berhenti.
Sudah di sana.
Fajar tidak langsung bergerak.
Dia berdiri di antara dua pohon besar yang membentuk semacam gerbang alami di jalur, kepalanya miring sedikit ke kanan. Matanya yang warnanya salah itu menatap ke arah mereka berlima. Tapi bukan menatap seperti manusia menatap manusia. Lebih seperti sesuatu yang sedang menghitung, mengukur jarak, kondisi, dan variabel-variabel yang tidak bisa dilihat mata biasa.
Sepuluh detik.
Lima belas detik.
Kenapa dia nggak gerak? pikir Salsabilla dalam hati. Tapi tenggorokannya seperti terkunci, tidak ada suara yang bisa keluar.
Dua puluh detik.
Dan kemudian sesuatu di dalam jaringan saraf Fajar sesuatu yang sudah belajar dari insiden Pak Rudi bahwa pendekatan langsung ke target paling kuat hanya akan menimbulkan resistensi memproses semua variabel yang ada dan memutuskan.
Bukan Rehan yang paling depan.
Bukan Yazid yang memegang ranting.
Fajar bergerak ke kiri satu langkah, dua langkah lalu melesat.
Bukan lari. Bergerak. Dengan cara yang tidak punya nama tepat dalam bahasa manusia. Tidak ada gesekan dengan medan, tidak ada tanda-tanda kelemahan dari tubuh yang sudah empat hari tanpa makan dan tidur cukup. Dia melewati Rehan sebelum Rehan sempat membalikkan badan sepenuhnya, menerobos celah sempit antara Runa dan Salsabilla yang langsung terpencar ke dua sisi
Langsung ke Zidan.
Zidan mundur satu langkah. Dua langkah. Punggungnya menyentuh batang pohon besar di sisi jalur.
Tidak ada ke mana-mana lagi.
Tangan Fajar terangkat bukan seperti orang yang mau memukul, tapi seperti sesuatu yang mau meraih, menggenggam, menahan.
“ZIDAN” suara Rehan keluar, tapi tubuhnya masih dalam proses membalik.
Runa sudah bergerak, tapi jaraknya terlalu jauh.
Salsabilla membeku di tempat.
Dan Yazid
Yazid sudah ada di sana.
Tidak ada yang melihat kapan dia bergerak. Tidak ada yang mendengar dia mengatakan apa-apa. Tiba-tiba saja dia sudah berada di antara Fajar dan Zidan, satu langkah, dua langkah, dengan ranting yang sudah terangkat tinggi di tangannya.
Dia tidak menoleh ke Zidan di belakangnya.
Dia tidak mengumumkan apa-apa.
Dia hanya mengayunkan.
Suara kayu yang menghantam kepala Fajar tidak seperti di film.
Lebih datar. Lebih berat. Lebih nyata dari yang seharusnya terdengar di antara pohon-pohon di pagi hari yang seharusnya tenang.
Fajar jatuh.
Tidak ada refleks tangan yang menahan jatuh. Tidak ada ekspresi kesakitan. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya ambruk ke tanah dengan cara yang aneh seperti sesuatu yang tiba-tiba kehilangan sinyal, koneksinya ke sesuatu yang lebih besar tiba-tiba terputus, dan yang tersisa hanyalah berat badan tanpa arah.
Yazid berdiri di atas tanah basah itu, ranting masih di tangannya, napasnya keluar dalam embusan cepat yang terlihat di udara dingin. Matanya tidak lepas sedikit pun dari tubuh yang ada di kakinya.
Lalu kejang dimulai.
Tubuh Fajar melengkung.
Bukan kejang yang ada di buku teks medis ritmis, bisa diprediksi, punya pola. Ini berbeda. Terlalu kaku di beberapa sendi, terlalu lemas di yang lain, dengan gerakan yang bergantian antara kontraksi keras dan kelemasan total dalam hitungan detik. Di tanah, jari-jarinya mencakar permukaan tanah basah bukan seperti seseorang yang mencoba berdiri, tapi seperti sesuatu yang sedang kehilangan pegangan pada sesuatu yang jauh lebih penting dari tanah itu sendiri.
Di lehernya, guratan-guratan yang sudah menembus permukaan kulit bergerak. Bukan diam seperti tadi, tapi bergerak aktif, seperti ada yang bergolak di bawahnya.
Runa yang pertama bisa bergerak lagi. Dia jongkok, bukan terlalu dekat ke Fajar, tapi cukup untuk melihat kondisinya. “Jangan ada yang sentuh dia,” katanya pelan tapi jelas. “Jangan ada yang”
Matanya tiba-tiba berhenti.
Karena mata Fajar yang tadi tertutup hitam yang mengalir sekarang berbeda.
Hitamnya masih ada. Tapi di dalamnya, di balik warna yang salah itu, ada sesuatu yang bergerak ke atas. Seperti seseorang yang berenang dari kedalaman sangat jauh menuju permukaan. Seperti seseorang yang sudah lama tenggelam dan baru saja menemukan arah yang benar.
Kejang itu mereda sebentar satu momen di mana tubuh Fajar berhenti melengkung sebelum gelombang berikutnya datang.
Dan di momen itu, dari mulut yang sudah empat hari tidak mengeluarkan suara yang bisa dikenali sebagai suara manusia, keluar sesuatu.
Lemah.
Hampir tidak ada.
Seperti sinyal radio yang nyaris tertutup interferensi tapi entah bagaimana masih menemukan cara untuk sampai.
“To... long...”
Satu kata.
Dua suku kata yang berlangsung tidak lebih dari satu detik, tapi rasanya mengisi seluruh ruang di antara pohon-pohon itu. Mengisi telinga semua orang, mengisi dada semua orang, mengubah sesuatu yang tadinya terasa seperti ancaman menjadi sesuatu yang jauh lebih menyiksa.
Seseorang yang masih ada di sana.
Yang masih bisa minta tolong.
Zidan berlutut.
Bukan keputusan yang dipikirkan. Lututnya menyentuh tanah basah sebelum otaknya selesai memproses apa yang mau dilakukannya.
“Zidan” panggil Runa.
“Gue tau.” Tapi kakinya tidak berdiri.
Dia berlutut di tanah, di samping tubuh yang masih sesekali kejang kecil, dan menatap wajah yang sudah berubah itu. Menatap mata yang warnanya salah tapi ada sesuatu di dalamnya yang masih berteriak dengan cara yang Zidan kenali. Cara yang sama seperti yang ada di dalam dirinya sendiri selama ini sesuatu yang tidak mau menyerah meski semua kondisi sudah menyuruh menyerah.
“Gue denger lo,” bisik Zidan. Suaranya tidak gemetar. “Gue denger.”
Di belakangnya, Yazid berdiri dengan ranting masih di tangannya. Matanya tidak lepas dari Fajar. Siap setiap saat. Tapi dia tidak menarik Zidan mundur.
Karena ada sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan yang bilang bahwa momen ini punya caranya sendiri untuk berlangsung, dan menghentikannya sekarang akan merusak sesuatu yang penting.
Rehan berdiri di sisi lain membelakangi Zidan dan Fajar, menghadap jalur di depan, matanya menyapu area sekitar. Melindungi tanpa diminta.
Salsabilla berdiri di antara Rehan dan Runa. Tangannya memegang kamera yang sudah tidak dia angkat lagi. Jarinya ada di grip-nya, tapi lensanya masih tertutup. Ada momen-momen yang lebih penting dari konten. Ini salah satunya.
Runa jongkok di sisi berlawanan dari Zidan, memeriksa kondisi Fajar dengan mata yang mencatat segalanya tanpa menyentuh. Pulse oximeter ada di tangannya, tapi tidak dia pakai bukan karena lupa, tapi karena angka apa pun yang keluar tidak akan bisa menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh itu.
Mereka berlima di sana.
Lima orang yang sehari lalu masih tertawa di atas carrier sambil membicarakan rendang Bu Ratna dan tripod Salsabilla yang terlalu berat.
Di jalur gunung yang seharusnya menjadi perjalanan terakhir sebelum mereka berpencar kuliah.
Suara langkah baru datang dari arah jalur utama.
Bukan langkah pendaki biasa tidak ada suara carrier, tidak ada trekking pole yang menggesek permukaan jalur. Langkah orang yang terlatih bergerak di medan yang tidak dikenal, yang tahu cara menempatkan kaki di titik paling efisien tanpa mengeluarkan suara yang tidak perlu.
Rehan yang pertama mendengar. Langsung setengah berputar, satu tangan terangkat ke belakang isyarat yang langsung dipahami semua orang untuk diam dan tidak bergerak.
Dari balik tikungan, empat orang muncul.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪