Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 - Perang #2, Cihuy
Berita izin perang menyebar lebih cepat dari pasukan mereka.
Dan bagi enam organisasi
Clorfin, Permo, Ervin, Forlen, Vastorci, Borein
itu bukan ancaman.
Itu sebuah kesempatan emas yang tiba-tiba diberikan oleh Tuhan.
Malam yang sama, di enam tempat berbeda, keputusan dibuat.
Tidak pernah bersama.
Tidak pernah satu meja.
Namun arahnya tetap sama.
Clorfin Sang Pengatur Arus
Clorfin tidak menggerakkan pasukan.
Ia menggerakkan utang.
Di wilayah selatan Tirpen, para pedagang kecil tiba-tiba menerima surat lama yang mereka anggap sudah tiada.
utang yang seharusnya sudah lunas.
Capnya sah.
“Perang membuat catatan lama dibuka kembali” kata Clorfin pada bawahannya.
“Dan ketika orang-orang yang terdesak… Mereka akan menjual apa pun.”
Targetnya bukan Florence.
Targetnya adalah jalur suplai setelah perang.
Permo Sang Penyusup
Permo mengirim orang-orangnya menyamar sebagai:
pengungsi
buruh logistik
tabib sukarela
Mereka tidak membawa senjata.
Mereka membawa cerita.
Cerita tentang Florence yang kejam.
Cerita tentang New Gate yang kelelahan.
Cerita tentang Arthur.
“Biarkan kebencian tumbuh tanpa kita menyiramnya” ujar Permo.
“Sebab Perang akan melakukannya dengan sendirinya.”
Forlen Sang Penjual Senjata
Forlen tersenyum saat membaca kabar perang.
Ia membuka gudang lama.
Baja kelas rendah.
Panah cepat patah.
Perisai tipis berlapis cat tebal.
Ia menjual ke keduanya, New Gate dan Florence.
“Perang panjang butuh senjata banyak, bukankah begitu?” katanya ringan.
“Dan tidak ada salahnya jika kualitas nya rendah karena itu mempercepat akhir.”
Borein Sang Pengamat Berdarah
Borein tidak bergerak jauh.
Ia mengirim satu orang saja.
Seorang pria kurus bernama Rask.
“Ikuti si Arthur” perintah Borein singkat.
“Jangan menyerang. Jangan membantu.”
Rask mengangguk.
“Dan jika kesempatan muncul, tuan ?”
Borein tersenyum tipis.
“Catat.”
Vastorci Sang Peracik Kematian
Vastorci melihat perang sebagai laboratorium.
Ia menyebar racun dalam bentuk yang tak terdeteksi:
makanan kaleng murah
salep luka
obat penenang
Bukan mematikan.
Melemahkan.
“Tentara lemah tidak menyadari jika ia sedang menuju kematian hahahahaha” gumam Vastorci.
“Dan... komandan yang kelelahan… Bisa membuat kesalahan yang bisa sangat fatal bagi pasukan.”
Ervin Yang Paling Diam Namun Berbahaya
Ervin tidak melakukan apa pun.
Itu yang paling mengkhawatirkan.
Ia hanya mengirim satu pesan pendek kepada jaringan lamanya:
“Kalian amati. Jangan bertindak sebelum aku perintahkan lebih lanjut.”
Ia menatap peta Tirpen lama.
Jarinya berhenti di Florence.
“Arthur Fireloren” gumamnya.
“Kau akhirnya mulai masuk ke papan permainan, apakah sebagai Pion atau Player...”
Dampaknya di wilayah Florence
Arthur menerima laporan demi laporan.
Tidak ada yang terlihat seperti serangan langsung.
Namun pola muncul.
Harga bahan sangat naik tak wajar
Moral pasukan fluktuatif
Warga mulai gelisah tanpa tahu sebab
Arthur berdiri di ruang peta bersama Marquis Florence.
“Ini bukan perang dua pihak, tuan Marquis” kata Arthur pelan.
“Ini perang dengan penonton yang sangat lapar.”
Marquis Florence mengangguk.
“Dan penonton itu ingin kita saling menghabisi.”
Keputusan Arthur
Arthur menunjuk peta.
“Jika kita bertarung seperti perang biasa kita pasti akan kalah.”
Marquis menatapnya.
“Lalu bagaimana?”
Arthur menjawab tanpa ragu:
“Kita jadikan perang ini terlalu cepat, terlalu bersih, dan tidak lagi menguntungkan bagi mereka.”
Marquis Florence menyipitkan mata.
“Kau ingin mematahkan enam organisasi itu… tanpa menyerang mereka?.”
Arthur mengangguk.
“Kita serang alasan mereka bergerak
Malam itu, di enam tempat berbeda,
enam organisasi merasakan hal yang sama
tanpa tahu penyebabnya.
Ada sesuatu yang berubah.
Perang yang mereka harapkan menjadi rawa yang menenggelamkan…
mulai terlihat seperti jalan sempit.
Dan di tengahnya, berdiri seorang pemuda yang belum genap delapan belas tahun.
Bukan sebagai pion.
Sebagai variabel tak terkendali.
Arthur tidak memanggil seorang jenderal bintang 5 berpengalaman.
Ia memanggil akuntan, penjaga gudang, dan kepala pengangkut.
Di ruang peta kecil, bukan aula perang, ia berdiri dengan kapur di tangan.
“Lihat ini, perang panjang sangat menguntungkan mereka” katanya pelan.
“Maka kita buat perang ini… Menjadi tidak nyaman sejak hari pertama.”
Toxen mengangguk, berdiri di belakangnya.
Pilar Pertama Logistik yang Tidak Terlihat
Arthur menandai jalur suplai New Gate.
“Mereka kuat di jumlah pasukan” katanya.
“Tapi lambat dan sulit untuk mengatur seluruh pasukan itu.”
Ia tidak memerintahkan penyerangan gudang.
Ia memerintahkan:
perubahan rute pengiriman
penahanan kereta dengan alasan administrasi
pembelian stok kecil tapi konsisten di desa penyangga
“Biarkan pasukan mereka tetap makan terlebih dahulu” kata Arthur.
“Tapi selalu sedikit terlambat dan terus terlambat.”
Pilar Kedua Psikologi Pasukan
Arthur menatap Toxen.
“Hey Toxen, berapa lama pasukan bisa bertahan jika mereka menang… tapi tidak pernah merasa menang?”
Toxen mengerti.
Perintah kedua dikirim:
menyebar kabar kemenangan kecil Florence
membiarkan patroli New Gate melihat persiapan, bukan menyerang
memulangkan tawanan dengan luka ringan dan cerita seragam
“Cerita...” kata Arthur,
“Akan lebih berat dari sebuah pedang.”
Pilar Ketiga Mata yang Salah Fokus
Arthur menggeser pion kecil di peta.
“Mereka akan mengira kita bertahan di sini serta di situ” katanya.
“Padahal kita menunggu mereka lelah secara mental.”
Ia menunjuk tiga titik kosong.
“Tidak ada benteng kokoh. Tidak ada pertempuran besar. Hanya penundaan.”
Marquis Florence menatapnya lama.
“Ini bukan perang ksatria terhormat.”
Arthur menjawab tenang:
“Ini perang orang yang ingin pulang dalam keadaan hidup.”
Beralih.
Di Wilayah Keluarga Fireloren
Sementara itu, jauh dari Florence
Moren duduk di ruang kerja lamanya.
Tangannya menggenggam surat laporan yang Toxen kirimkan.
Isabel berdiri di dekat jendela.
“Ia masih anak-anak, sayang” katanya lirih.
“Mengapa ia harus memikul ini semua?”
Moren menghela napas.
“Karena dunia tidak menunggu usia berapapun seseorang untuk dianggap kuat menanggung beban mereka” jawabnya pahit.
“Dan karena ia terlalu mirip denganku.”
Isabel menoleh cepat.
“Itu yang sangat membuatku takut dan khawatir kepadao.”
Hendry
Hendry berdiri di ambang pintu.
Punggungnya lebih membungkuk dari sebelumnya.
Namun matanya tetap tajam.
“Tuan Moren dan Nyonya Isabel” katanya pelan,
“Arthur sekarang tidak bertindak karena ambisinya.”
Moren menoleh.
“Lalu karena apa menurutmu Hendry?”
Hendry tersenyum kecil senyum penuh kenangan.
“Karena ia tidak ingin orang lain menanggung kesalahan yang bukan miliknya.”
Isabel memejamkan mata.
Air mata jatuh tanpa suara.
Kabar Pertama dari Medan Pertempuran
Tiga hari setelah rencana Arthur dijalankan
Pasukan New Gate tidak menyerang.
Mereka menunggu.
Hari keempat
mereka mulai mengeluh.
Hari kelima
perintah tumpang tindih disana.
Seorang perwira New Gate menulis di secarik kertas:
“Kami siap bertempur, tapi musuh tidak datang. Dan sekarang pasukan sedang gelisah.”
Arthur membaca laporan itu tanpa senyum.
“Bagus...” katanya.
“Mereka mulai memikirkan untuk pulang dan bobok manis.”
Malam itu, Arthur berdiri sendirian di balkon Florence.
Angin membawa bau besi dan tanah basah.
Ia memandang ke kejauhan.
“Ayah...dan ibu...” gumamnya pelan,
“aku tidak ingin menjadi pahlawan.”
Ia mengepalkan tangan.
“Aku hanya ingin perang ini cepat selesai… sebelum ia mengubah siapa pun menjadi monster yang mengerikan nantinya.”
Di kejauhan, api perkemahan New Gate masih menyala namun satu per satu mulai redup.
Dan Hendry, jauh di wilayah Fireloren, menatap langit yang sama.
Dengan keyakinan tenang:
Anak itu sedang tidak tersesat.
Ia sedang mencoba menemukan jalannya sendiri.
"Semoga keselamatan selalu bersama anda... Tuan muda."
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥