Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Fitnah foto
Pagi itu, suasana di meja makan terasa lebih sepi dari biasanya. Kursi di kepala meja yang biasanya diduduki oleh kepala rumah kini kosong melompong. Maya beberapa kali melirik ke arah lorong, menanti sosok pria yang semalam memeluknya dengan begitu hangat, namun yang ia temukan hanya Yudha yang asyik mengunyah nasi gorengnya.
“Kamu mencari Abangku?” tanya Yudha langsung, seolah bisa membaca gerakan mata Maya.
Maya tersentak sedikit, lalu mengangguk pelan.
“Sepertinya Abang kelelahan, jadi pagi ini dia tidak bisa mengantarmu ke sekolah. Jadi, Pak Teddy yang akan mengantarmu,” jelas Yudha santai.
Maya hanya mengangguk patuh. Ia merasa tidak berhak menuntut kehadiran Arkan, apalagi setelah pria itu memberikan segalanya untuknya.
“Tenang saja, Pak Teddy itu sopir legend di keluarga kami. Pas kebetulan kamu baru datang kemarin, anaknya baru brojol jadi dia harus mudik sejenak untuk melihat cucu pertamanya. Tapi pagi ini dia sudah kembali bertugas,” Yudha mencoba mencairkan suasana.
“Bang Yudha, stok susu Leon sudah aku letakkan di tempat penyimpanan. Tolong beritahu Kak Arkan nanti, ya.”
“Sip! Oh ya, perawat bayi juga sudah dipesan hari ini. Sekarang, tugas kamu harus fokus pada dua hal. Pertama, berisi nutrisi yang baik untuk keponakanku yang cuakep. Kedua, kamu harus fokus sekolah demi masa depan kamu sendiri,” Yudha menambahkan.
Maya terkejut mendengar kalimat Yudha. “Kenapa harus menyewa seorang perawat? Bukankah ada aku?”
“Tenang, tenang. Jangan sekhawatir itu,” Yudha melambaikan tangannya di udara. “Leon pasti baik-baik saja. Kami sudah biasa memanggil perawat professional yang amanah untuk membantu urusan mendadak.”
“Tapi, kenapa tidak aku saja yang mengurusnya penuh?” tanya Maya untuk yang kesekian kalinya, nada sedikit kecewa. Ia merasa ikatan batinnya dengan Leon adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa berguna.
Yudha menggeleng kuat-kuat dengan sendok yang masih menempel di mulutnya. “No, no, no. Selama kamu masih di sini, kewajibanmu saat ini hanya satu, bersenang-senang!” kedua tangan Yudha mengembang seperti sayap di udara, gaya bicaranya mendadak puitis namun penuh penekanan.
“Nikmatilah masa mudamu yang sempat hilang, Maya. Karena kesempatan emas itu tidak datang untuk yang ketiga kalinya. Huaahhaha!”
Maya menatap Yudha dengan datar. Mendengar tawa Yudha yang sedikit berlebihan, ia memutuskan untuk menyudahi sarapannya. “Bang, aku pamit.”
Maya segera berdiri dan menyambar tas sekolahnya, lebih memilih bergegas menuju mobil yang di mana Pak Teddy sedang menunggunya daripada harus mendengarkan ocehan berlebihan Yudha lebih dalam lagi.
“Dasar anak zaman now, diajak bicara serius malah kabur,” gerutu Yudha sambil melahap sisa nasinya hingga tandas.
******
Pak Teddy menghentikan mobil di depan gerbang SMA. Namun, begitu Maya turun, ia merasakan aura yang berbeda. Beberapa murid perempuan sedang berkerumun melihat ke arah mading sambil berbisik-bisik dan melirik ke arahnya dengan tatapan sinis.
Di papan mading, kerumunan murid sedang asyik menertawakan deretan foto yang ditempel secara acak. Ada foto Maya yang dirangkul oleh seorang pria yang kepalanya sengaja dipotong, serta beberapa foto ganjil lainnya yang sudah dimanipulasi sedemikian rupa agar terlihat tidak senonoh.
“Lihat, ternyata anak baru itu benar-benar seorang simpanan,” bisik salah satu siswi dengan nada menghina.
Siska yang baru saja tiba dengan langkah centilnya segera membelah kerumunan. “Hei, hei, hei! Pagi-pagi apa yang terjadi di sini. Apakah kalian sedang berjualan?” tanya Siska sambil menyelip masuk.
Semua murid terdiam, namun mata mereka tetap tertuju pada Maya yang berdiri sendirian. Wajah Maya tampak datar, tidak mengerti, atau mungkin tidak peduli dengan kekacauan itu.
Di lorong seberang, Dina dan gengnya tertawa puas. “Mampus,” gerak bibir Dina tanpa suara ke arah Maya.
Siska meraih foto-foto itu dan merobeknya dari mading. Matanya membelalak. Ia mengenali postur tubuh, jam tangan, dan kemeja yang dipakai pria dalam foto itu.
“Siapa, siapa yang berani menempel foto Maya bersama Dokter Arkan?!” tanya Siska dengan suara meninggi.
“Dokter Arkan?” gumam para murid serentak.
Nama itu bukan nama asing. Arkan Pradipa adalah dokter spesialis ternama yang keluarga besar sebagian murid di sini menjadi pasien tetapnya.
“Siapa yang mencoba memfitnahnya?!” desak Siska lagi. Ia menoleh ke arah Maya, lalu ke arah murid-murid. “Kalian mau tahu siapa Maya sebenarnya? Maya itu… dia…hem,” Siska mendadak gagap, ia bingung mencari istilah yang tepat tanpa membongkar rahasia Maya dan Dokter Arkan.
“Maya itu adalah anak asuh Dokter Arkan.”
Suara tegas itu muncul dari arah belakang. Vanya berjalan mendekat dengan wibawa yang tak tertandingi. Ia berdiri tepat di samping Maya yang tetap tenang seolah badai di sekelilingnya hanyalah angin lalu.
Maya membalas tatapan lembut Vanya dengan senyuman kecil.
“Tidak perlu saya jelaskan lebih banyak lagi siapa Maya. Yang jelas, Maya ini adalah anak yatim piatu yang harus kalian sayangi, bukan difitnah,” ucap Vanya lantang. Ia menatap Maya sambil mengangkat alisnya sedikit, memberi kode agar Maya mengikuti skenarionya.
Maya mengangguk pelan. Kenyataannya memang begitu, ia yatim piatu. Status itu jauh lebih aman daripada status aslinya.
“Karena semuanya sudah paham, silakan masuk ke kelas masing-masing. Setengah jam lagi pelajaran dimulai!” perintah Vanya.
Semua murid langsung bubar dengan perasaan kecewa karena drama pagi itu berakhir antiklimaks. Dari kejauhan, Vanya melihat wajah Dina yang merah padam karena kesal. Rencana mereka gagal total. Vanya langsung memberikan kode lirikan pada Siska, sebuah perintah bisu untuk segera bertindak.
Kini, lorong mading kini terasa jauh lebih tenang, hanya menyisakan derap langkah Vanya dan Maya yang berjalan beriringan. Vanya merangkul bahu kecil Maya dengan protektif, seolah ingin menunjukkan pada siapa pun yang mengintip dari balik pintu kelas bahwa gadis ini berada di bawah perlindungannya.
“Maya, jika kamu ditindas lagi oleh geng Dina, kamu harus melawan. Jangan hanya diam,” ucap Vanya tegas, matanya menatap lurus ke depan.
Maya tidak menjawab, ia hanya menyimak dengan tenang.
“Maya, apa Arkan sudah tahu perbuatan Dina dan teman-temannya padamu?” tanya Vanya lagi sambil melirik wajah teduh di sampingnya.
Maya menggeleng perlahan, membuat Vanya menghela napas panjang. Ia tahu betul bagaimana sifat Arkan jika pria itu tahu, sekolah ini bisa berubah menjadi medan perang dalam sekejap.
Vanya kemudian sedikit membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga Maya. “Jika ada yang bertanya tentang hubunganmu dengan Arkan, katakan saja kalian sebatas wali dan anak didik. Jangan pernah sekalipun menyebut kata ‘ibu susu’ atau tentang Leon, mengerti?” bisiknya sangat pelan, penuh kehati-hatian.
“Aku mengerti, Bu Vanya. Jadi, ibu tenang saja,” jawab Maya datar.
Mendengar jawaban itu, Vanya justru merasa gemas. Ia menghentakkan kakinya ke lantai marmer lalu mencubit pipi Maya yang mulai terlihat berisi.
“Dasar anak nakal! Kamu bilang aku harus tenang saja melihat mereka merundungmu? Tidak bisa, Maya! Tidak bisa!” seru Vanya dengan nada gemas yang dibuat-buat.
Lagi dan lagi, Maya hanya diam, tampak manis seperti boneka porselen. Vanya mengelus kedua lengan Maya dengan sayang. “Tapi sekarang kamu tenang saja. Sesuai janjiku pada Arkan, aku akan menjagamu. Sekarang, masuklah ke kelas. Lebih baik cuci mata, ada pangeran tampan di dalam sana,” gurau Vanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Vanya pun berbalik, melangkah dengan gaya sosialita yang elegan. Tubuh idealnya melenggak-lenggok, membuat rambut cokelat terangnya yang dikucir kuda berayun indah seiring langkahnya menuju tangga lantai tiga.
Maya berdiri mematung sejenak, menatap kepergian wanita itu. Namun, ia tidak menyadari bahwa di ujung lorong yang lain, sepasang mata sedang memperhatikannya.
Sosok pria bertubuh tinggi dengan badan atletis berdiri bersandar di pilar. Meski rambutnya terlihat sedikit berantakan, gaya khas pria yang tidak terlalu peduli dengan sisir. Namun, pakaian seragamnya terlihat rapi dan pas di badannya yang tegap. Tas ransel hitam tersampir santai di bahu kirinya.
...❌ Bersambung ❌...
Akaaaaaaaaaak Sariiiiiiiiiii, aku eamosis sama dua perempuan ituuuuuuhhhhhh.....