Diana, harus menelan pil pahit, saat ia di keluarkan dari sekolah,akibat kesalahan yang tidak pernah ia buat. hampir setiap hari ia di buly oleh teman-teman sekolahnya, terutama Rehan. lelaki Tampan yang kerap kali membuly Diana, hingga muncul kebencian di dalam hati Diana untuk pria itu.
Akibat ulah Rehan, kehidupan Diana hancur, bahkan ia harus kehilangan ibunya. dan di usir dari rumah kontrakannya, kebencian Dian semakin mendalam sampai ke tulang. hingga ia memutuskan pergi merantau dengan adiknya.
suatu hari Diana dan Rehan ketemu secara tidak sengaja.....
bagaimana kelanjutan kisah mereka.
yuk Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeiNova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diana.....
Rehan mengumpat kesal, karena ternyata Diana tidak masuk sekolah,bahkan tidak ada orang tuanya yang datang ke sekolah. Atas segala kuasa dan uang, rehan meminta pengacara keluarganya.untuk menuntut Diana bahkan meminta pihak sekolah mengeluarkan Diana dari sekolah.
Padahal saat ini Diana dan vera, sedang menangis memikirkan kondisi ibunya yang tiba-tiba drop sejak semalam. Bu Dian mengeluh kesakitan di sebabkan sudah beberapa hari ini tidak minum obat.
" kak, apa yang harus kita lakukan?"tanya vera yang tak berdaya.
" kakak, cuma punya uang tiga ratus ribu. Tidak cukup untuk membeli obat ibu, sedangkan kontrakan pun belum terbayar, kamu jaga ibu dulu Kakak mau menemui ayah."
Vera hanya mengiyakan,gadis itu hanya bisa duduk diam di samping ibunya. Sedangkan Diana pergi menemui ayahnya di perumahan mewah. Cukup jauh perjalanan, butuh waktu dua jam mengunakan sepeda bututnya.
Keringat membasahi tubuh Diana, teriknya matahari di siang ini tidak menyurutkan semangatnya, untuk menemui sang ayah demi uang pengobatan ibunya. Nafasnya terengah-engah, keluar masuk tak beraturan menahan rasa lelah. Hingga pada akhirnya Diana sampai di depan gerbang rumah ayah dan ibu tirinya.
" maaf saya tidak bisa buka gerbang ini untuk mbak." ucap satpam yang menjaga gerbang rumah Yuni ibu tiri Diana.
" pak saya mohon, saya hanya ingin bertemu dengan ayah saya. Jika saya tidak di ijinkan masuk tolong panggilkan" mohon Diana.
" Tuan dan nyonya tidak ada di rumah,mereka ada acara di luar, pergilah!" usirnya yang hanya menjalankan tugas.
Diana menangis, jauh-jauh ia datang tapi tidak berhasil menemui ayahnya. gadis ini menangis di depan gerbang, berharap ada sedikit harapan, dan harapan itu terlihat saat sebuah mobil mewah hendak masuk ke dalam.
Mobil berhenti di depan gerbang, keluarlah Indra untuk menemui anaknya sedangkan istrinya menunggu di dalam mobil.
" Ayah.'" guman Diana dengan perasaan senang.
" Diana kamu itu di bilangin,ngeyel sudah berapa kali ayah bilang jangan pernah datang ke rumah ini. Ayah malu. "ucap ucap Indra dengan raut wajah kesal
" Ayah, ibu sakit.bolehkah Diana meminta uang untuk membeli obat ibu?"
" ibu dan ayah sudah bercerai, ibumu bukan tanggung jawab ayah lagi. Kenapa kamu datang meminta uang? Kamu pikir ayah ini bank?" bentak Indra
" sedikit saja ayah. Kasihani aku dan vera" mohon Diana dengan Isak tangisnya.
" pergilah, ayah tidak perduli, jangan pernah datang ke rumah ini lagi. Kamu hanya membuat ayah malu." Bentak Indra kemudian masuk ke dalam mobil Tampa memperdulikan anaknya.
Diana hanya bisa menangis, harapannya telah hancur. seorang ayah yang seharusnya menjadi tumpuan dalam hidup justru bersikap acuh seperti ini.
dengan perasaan hancur, Diana memutuskan pulang tanpa membawa sepeserpun uang. bahkan wajah lelah anaknya sama sekali tidak menyentuh hati Indra padahal ia tahu bahwa jarak yang ditempuh Diana tidaklah dekat.
"ingat ya mas, jangan sampai kamu memberi uang kepada anak-anakmu karena mereka akan ketergantungan padamu. semua adalah milikku serupa pun yang keluar harus seizin ku."ucap Yuni yang sama sekali tidak berhati
Indra menjawab dengan anggukan, ketampanannya yang membuat Yuni mau menikahi pria itu.
Kembali pada Diana yang beberapa kali berhenti beristirahat. tubuhnya benar-benar lelah apalagi sejak pagi iya belum sarapan. ke mana lagi ia melangkah mencari uang untuk membeli obat ibunya.
menjelang sore barulah Diana tiba di rumah. tapi di sana tidak ada ibu dan adiknya, yang ternyata sudah pergi ke rumah sakit atas bantuan tetangga, diantar oleh seorang tetangga Diana pergi ke rumah sakit yang kebetulan tidak terlalu jauh dari kontrakannya
" Dek, apa ibu baik-baik saja?" tanya Diana dengan wajah lelahnya.
" kak, ada pihak sekolah datang ke rumah, memberitahu ibu bahwa kakak di keluarkan di sekolah." ucap Vera memberitahukan. " ibu kaget dan langsung kena serangan jantung."
" Diana terduduk lemas, sudah pasti ini semua perbuatan Rehan yang meminta pada pihak sekolah untuk mengeluarkannya. Diana hanya bisa menangis, ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan.
namun sayang, penderitaan kakak beradik ini belum usai saat dokter memberitahukan bahwa Bu Dian baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. jerit tangis Diana dan Vera terdengar begitu memilukan. senja yang indah yang seharusnya dinikmati dengan secangkir teh hangat justru disambut dengan duka dan air mata atas kehilangan orang yang dicinta.
" Ibu.." lirih Diana dengan hati pedih.
Dalam hatinya menyalahkan Rehan, yang sudah membuat ibunya menjadi seperti ini.
Atas bantuan para tetangga yang baik.
mereka mengurus jenazah bu Dian.
Malam yang dingin seharusnya tidur dalam balutan selimut yang hangat, justru menjadi menjadi malam yang penuh kesedihan saat Diana dan vera saling menguatkan di samping jenazah bu Dian.
Hingga ke esokan harinya, satu persatu tetangga mulai berdatangan. Mereka masih sibuk berdiskusi bagaimana caranya almarhumah, Bu Dian bisa di makamkan dengan layak. Dengan dana yang ala kadarnya.
Di tengah duka indra datang menemui Diana. Ia mengaka Diana pergi menjauh dari keramaian orang. Pikir Diana ayahnya akan berbelasungkawa, atas meninggalnya Bu Dian, ternyata ia mendapatkan tamparan di wajahnya berulang kali hingga hidungnya mengeluarkan darah.
" Bodoh!, dasar anak bodoh!" hardik indra penuh emosi. Bisa-bisanya kau di keluarkan oleh sekolah karena mencelakai temanmu. Jika sudah begini, sekolah mana yang mau menerima siswa kriminal sepertimu!."
" ayah, semua yang terjadi bukan salah Diana, ibu meninggal dunia, tidaklah ayah kasian pada Diana dan vera.?"
"Persetan dengan ibumu yang sudah mati. Kau sudah mencoreng wajahku,"
" Diana, mulai sekarang kau dan Vera bukan anakku lagi. Kalian hanya membuat masalah dan bikin malu saja." ucap Indra dengan tidak berperasaan.
" Cam kan dalam hati dan otakmu, kau bukan anakku lagi. Kau dan Vera bukan tangung jawabku lagi, dasar anak sial!"
kata-kata terakhir yang di ucapkan ayahnya adalah luka paling dalam di hati Diana. Gadis ini hanya bisa menangis,darah dan air mata bercampur jadi satu. Lelaki itu telah pergi dari sana, Tampa menoleh sedikitpun pada anaknya.
Tampa sepengatahuan Diana,ternyata ada Rehan yang menguping pembicaraan Diana dan ayahnya, bahkan Rehan melihat saat indra menampar Diana berulang kali hingga hidungnya mengeluarkan darah.
Rehan terdiam, benaknya mulai tersentil, ia merasa bersalah ternyata gadis yang selama ini ia bully memikul beban penderitaan yang berat.
" Diana " panggil Rehan yang keluar dari persembunyiannya.
Diana yang masih ada di sana menoleh. Ke arah sumber suara, wajahnya basah oleh air mata darah yang keluar dari hidungnya masih tampak merah.
" Hai, sudah puaskah kau melihat penderitaan ku,Rehan?" tanya Diana di balut tawa air mata. " ibuku meninggal akibat serangan jantung, setelah ia mendapat pemberitahuan dari sekolah.ibu sakit dagangan ku hancur, padahal uangnya untuk membeli obat ibuku, senangkan hatimu? Puaskan hatimu? Sungguh aku sangat membenci mu Rehan, aku membencimu sampai ke tulang, kau adalah penyebab penderitaan ku ini, kau adalah penyebab dari hari-hari ku yang suram." ucap Diana yang menumpahkan isi hatinya,.
" semoga kau bahagia bersama keluargamu yang memiliki segalanya,agar kau tidak merasakan bagaimana sakitnya menjadi aku."
Setelah mengatakan hal tersebut, Diana memutuskan pulang untuk melanjutkan mengurus pemakaman ibunya. Sementara Rehan hanya diam saja samberi memandang punggung gadis itu..
nanti bener bener diwujudkan omongan Pak Brata.