Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Rasta tidak tau bagaimana cara Baim melacak dan menemukan laki-laki ini. Rasta hanya mengeluarkan uang saja untuk membayar orang-orang yang berhasil menemukannya. Jaman sekarang tidak ada yang susah, kecuali mencari uang. Asal ada uang, semua masalah akan cepat menemukan solusi.
Dan kini, Rasta duduk di hadapan pria ini. Pria yang berhasil membuat Rasta terbakar cemburu lima tahun yang lalu. Yang tidur memeluk Viola dalam foto itu.
Namanya Yuda. Secara fisik, pria itu memang tak kalah tampan dari Rasta. Dan mungkin usianya lebih muda dari Rasta.
Yuda menatap Rasta dan Baim yang berdiri di samping Rasta. Tatapannya jelas penuh tanya, sebab ia sama sekali tidak mengenal kedua pria yang bisa dibilang telah menculiknya malam ini.
"Kalian ini siapa? Ada perlu apa sama saya?" tanya Yuda, yang kedua tangannya diikat ke belakang kursi. Dia terlihat tenang di tengah situasi yang sedang membingungkannya.
Rasta mengeluarkan ponselnya.
"Kamu masih ingat sama foto ini?" tanya Rasta, ia memperlihatkan foto Yuda dan Viola di depan wajah Yuda.
Kedua mata Yuda melebar penuh. Tentu saja dia masih ingat kejadian lima tahun yang lalu, yang membuat foto itu bisa ada di tangan Rasta.
"Kalian siapa?" bukannya menjelaskan, Yuda kembali bertanya.
"Jawab saja pertanyaan saya, kamu masih ingat sama foto ini atau tidak?" tekan Rasta.
Sekali lagi, Yuda menatap layar ponsel Rasta. Ia menelan ludahnya sendiri, dan perlahan kepalanya mengangguk.
Rasta menurunkan ponselnya, ia letakkan benda pipih itu di atas meja. Matanya menatap Yuda, lekat dan tajam.
"Wanita yang ada di foto itu, yang sedang tidur sambil dipeluk sama kamu, dia adalah istri saya ... Dulu. Bisa kamu jelaskan bagaimana bisa kamu tidur sama mantan istri saya pada saat itu?" tanya Rasta, suaranya tenang namun penuh ancaman.
Sebelumnya, Baim sudah memperingati Rasta agar ia bisa mengontrol emosinya, dan mengintrogasi Yuda dengan cara yang baik-baik. Jika tidak seperti itu, Rasta pasti sudah meledak. Sebelum Yuda sempat menjelaskan, dia akan dibuat pingsan duluan oleh Rasta.
Sebab itulah, Baim setia berada di sisi Rasta. Jika terjadi adegan baku hantam, dia bisa menjadi penengah.
"Itu sudah terjadi lima tahun yang lalu. Kenapa anda baru mencari tahu sekarang?" Yuda membalas. Dia sama sekali tidak takut meski Rasta menghujam dengan tatapan tajam, seperti tatapan singa kelaparan yang menahan diri untuk menerkam mangsanya, padahal si mangsa sudah pasrah tanpa perlawanan tepat di hadapannya.
"Anda bilang apa tadi? Perempuan itu sudah jadi mantan istri? Berati kalian ... Akhirnya bercerai?" kedua alis Yuda terangkat.
Rasta menahan napas, kedua tangannya terkepal di atas meja, dadanya naik turun tidak beraturan.
"Kamu selingkuhannya dia, kan?" Rasta menggeram.
Yuda tertawa. "Selingkuh?" tanyanya, detik berikutnya kepalanya menggeleng. "Nggak ada yang selingkuh apalagi menjadi selingkuhan."
Lengang sejenak. Ruangan itu senyap, tidak ada yang bicara. Rasta menunggu penjelasan dari Yuda, namun Yuda tetap diam.
"Jadi bagaimana bisa malam itu kamu tidur sama istri saya? Bisa jelasin?" Rasta akhirnya bertanya. Ada rasa tidak sabar yang menguasai dirinya. Tidak sabar ingin segera mengetahui yang sebenarnya terjadi.
Yuda menarik sudut bibirnya. Padahal wanita yang sedang mereka bahas sudah menjadi mantan istri, tetapi pria itu masih mengakuinya sebagai istrinya.
"Foto itu terjadi karena keterpaksaan. Ketidakberdayaan saya untuk menolak uang yang ditawarkan oleh seseorang yang menyuruh saya berfoto dengan perempuan itu," tutur Yuda.
Dia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan penjelasannya. "Waktu itu saya sedang kesusahan. Saya, sebagai tulang punggung keluarga pengganti bapak, harus membiayai sekolah adik saya dan ibu saya yang kala itu harus dirawat di rumah sakit. Saya terpaksa berhenti kuliah dan memilih untuk bekerja. Tapi, pekerjaan yang saya dapatkan dengan ijazah SMA, gajinya tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup yang perlu dana banyak. Mungkin kalau ibu saya nggak sakit waktu itu dan adik saya enggak harus melunasi SPP sekolah demi bisa ikut ujian, saya nggak akan pernah mau menerima tawaran gila dari Ibu Liana."
"Ibu Liana?" Mendengar nama mamanya disebut, jantung Rasta mencelos, nyaris lepas dari tempatnya. Rasta berusaha menyangkal fakta bahwa mamanya yang sudah melakukannya, meskipun dugaannya sungguh kuat.
"Mama saya menawarkan apa?" desis Rasta. Perasaannya sungguh tidak enak.
"Kerja sama." Yuda menatap Rasta. "Ibu Liana menawarkan saya bayaran yang sangat menggiurkan untuk orang yang hampir putus asa." Yuda berhenti, diam sejenak.
"Awalnya saya menolak waktu tau saya dibayar untuk apa. Tapi karena saya nggak punya peluang lain, nggak ada pilihan lain. Nyawa ibu saya dan kelanjutan pendidikan adik saya yang sedang saya pertaruhkan."
Yang tadinya Yuda berani menatap Rasta, kini pria itu menunduk sambil menggumam, "Saya minta maaf."
Rasta? Dia hanya mendengarkan dengan tatapan kosong.
"Saya nggak pernah bermaksud ingin menghancurkan pernikahan kalian. Setelah saya menyelesaikan tugas saya, dan menerima bayaran, saya berharap rencana itu akan gagal. Saya berharap siapa pun suami wanita itu nggak akan terpengaruh oleh foto yang direkayasa itu."
Dan sayangnya harapan Yuda tidak pernah terjadi. Rasta, bagaikan kobaran api yang kemudian disiram bahan bakar begitu mendapat foto Viola tertidur di pelukan laki-laki lain. Ia tidak terkendalikan lagi.
"Bagaimana rencana yang kalian lakukan untuk menjebak Viola waktu itu?" Suara Rasta memelan, seolah ia sudah kehilangan sebagian besar tenaganya. Dadanya penuh sesak, namun terasa semakin memanas.
"Malam itu, Ibu Liana mengirim makanan buat perempuan itu. Makanan yang sudah dicampur dengan bubuk obat entah apa saya nggak tau. Tebakan ibu Liana, kalau perempuan itu langsung memakan makanan pemberian darinya, lima belas menit kemudian dia akan tertidur pulas seperti orang pingsan. Kami menunggu tak jauh dari rumah kalian. Setelah itu, Ibu Liana turun dari mobil mengecek keadaan perempuan itu dan dia sudah nggak sadarkan diri di lantai dapur."
Sudah pasti Viola akan langsung memakan makanan pemberian dari ibu mertuanya. Kejadian itu terjadi ketika hubungan Viola dan Liana baru saja membaik. Viola merasa sudah diterima sebagai menantu, mendapatkan kiriman makanan dari ibu mertua baginya adalah sesuatu yang sangat berarti.
Mana mungkin Viola mengabaikan kebaikan ibu mertuanya? Mana mungkin ia sempat berpikiran buruk?
Yuda terlihat enggan saat menceritakan kelanjutannya. "Saya dipanggil, disuruh mengangkat perempuan itu ke kamarnya yang ada di lantai atas. Lalu ...."
Yuda berhenti. Ia tidak sanggup menceritakan adegan selanjutnya. Mengingatnya pun rasanya ia tidak sudi. Merasa sangat muak dengan dirinya sendiri.
"Lalu apa? Lanjutkan!" desak Rasta. Napasnya memburu.
"Lalu saya .... " Pria itu memejam, nampak tertekan. "Saya membuka bajunya—"
"KAMU APA?!" Rasta berteriak marah. Darah di kepalanya terasa panas, hingga rasanya akan mendidih detik itu juga.
Bersambung...
Instagram : @jalur_langitbiru13
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu