Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Cincin
"Ran?" Adimas merasakan badan Rani yang demam tinggi dan kini jauh lebih tenang. Adimas membalikkan tubuh Rani hingga akhirnya keduanya kini saling berhadapan.
"Semuanya akan baik-baik saja, Ran." Ucap Adimas, Rani mengangguk pelan meski masih terisak.
"Kamu jangan melawan mereka. Biar Elyra yang menangani semuanya, lihat aku sekarang!" Adimas mengangkat dagu Rani, dan di sanalah Adimas tersadar. Rani ternyata menggunakan hijab di balik sweater hitam yang dikenakannya.
Pipi, hidung, bahkan mata Rani yang memerah membuat Adimas tanpa sadar menghapus air mata di pipi Rani. Rani kembali terisak, takdir seolah mempermainkan dirinya kini.
"Mas, kamu bawa cincin?" Tanya Rani, Adimas mengangkat alisnya bingung.
"Belum," jawab Adimas, siapa yang bersiap membawa cincin dalam kondisi seperti itu?
"Tapi aku sudah," jawab Rani. Rani mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya. Itu nampak sudah dibuat dalam bentuk paket dengan alamat tujuannya adalah apartemen Adimas.
"Kamu mau ke mana, Ran?" Tanya Adimas, Rani memakaikan cincin itu di jari manis kanan Adimas.
"Ini bukan emas, bukan perak atau tembaga. Ini dibuat dari kayu, aku mengukurnya saat di warnet. Di sini juga ada sengatan listriknya, jadi bila dalam bahaya Mas bisa pakai ini sekali." Ucap Rani, Adimas merasakan ada hawa perpisahan di sana.
"Hei, jawab aku, kamu mau ke mana, Ran?" Tanya lagi Adimas, Rani kembali terisak. Adimas ingin sekali memeluk Rani lagi. Namun Rani menolaknya dengan halus, dan menggeleng dengan cepat mengatakan dengan tubuhnya bila itu tidak benar.
"Keluarga pasien Ibu Almaira?" Seorang perawat memanggil, Rani langsung datang dan bisa menjenguk Ibunya.
[Gini, nanti aku kasih flashback di eps berikutnya. Kok Rani bisa si ngasih cincin ke Adimas? Padahal dia gak suka banget sama tipe cowok tak berpendirian. Jangan dulu ngegas ya....]
Ibunya sudah siuman, sedangkan Adimas langsung mengambil semua barang milik dirinya di montir yang dia tugaskan. Dengan kecepatan penuh Adimas pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan ke toko perhiasan dengan cepat.
Dengan kecepatan super juga dia memilih sebuah cincin dengan harga selangit, dan mungkin harganya bisa saja sampai memenuhi gaji seluruh karyawannya dalam waktu satu tahun. Jadi bisa bayangkan harga cincin itu seberapa mahal?
Elyra juga puas bermain dengan Ibu tiri Rani, dan mereka dilepaskan begitu saja setelahnya. Tentu mereka bisa saja menuntut dendam pada Rani di masa depan, namun Tuan Ghiffari sudah melangkah beberapa langkah lebih cepat dari yang diperkirakan.
Meski Tamam dan keluarganya masih di Bali bersama dirinya. Namun Tuan Ghiffari sudah menyuruh orang untuk mengamankan seluruh barang Rani dan Ibunya dari rumah itu. Bahkan rumah itu dibuat sekosong mungkin dan langsung memindahkan semua barang itu dipaketkan ke alamat Kakeknya Rani. Kini, yang berada di kota hanya tinggal Rani dan Ibunya saja.
Adimas kembali ke rumah sakit, dan Ibu Rani sudah mendapatkan dukungan yang layak. Rani mengeluarkan sebagian uang yang dia tabung untuk membayar rumah sakit. Meski Elyra sudah menawarkan, namun Rani menolaknya.
Adimas sampai di depan ruangan itu dan langsung masuk, di dalam sana Rani nampak menghela napas. Dan Elyra tertidur di sofa tempat tunggu, Adimas mendekat.
Dia berlutut di hadapan Rani, dia mengeluarkan cincin itu dan memakaikannya di jari manis kanan Rani. Adimas tersenyum saat sadar bila cincin yang dipilihnya pas di jari Rani.
"Aku belum bisa memberi nama, namun ini lebih dari yang terbayangkan, Ran." Ucap Adimas pelan, terkesan seperti bisikan. Elyra sejenak terbangun, namun dia tetap pura-pura tidur.
"Aku tahu aku salah, aku tahu aku tidak layak di hadapanmu sekarang. Aku juga tidak mengenal perasaanku dengan baik, tapi aku ingin berusaha." Tutur Adimas, Rani terdiam mendengarkan setiap kata dari bibir Adimas.
"Ran, apa sekarang?" Tanya Adimas ambigu, Rani mengangguk pelan.
"Dua minggu lagi." Jawab Rani, Adimas menghela napasnya kasar.
"Apa boleh aku ke sana saat kamu libur?" Tanya lagi Adimas, Rani menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku akan ambil kelas cepat, libur selama 5 bulan yang biasanya diterima mahasiswi di sana akan kugunakan untuk naik semester dengan cepat." Tutur lagi Rani, Adimas memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya menunduk.
"Baiklah, bisa kita bertukar kabar?" Tanya lagi Adimas, di sudut matanya tampak setitik kepedihan.
"Mas, aku gak blokir Mas kok sekarang. Insyaallah boleh," jawab Rani, Adimas menghela napas lega.
"Raa...ni.." Suara Ibu Rani terdengar lembut, Rani langsung memalingkan pandangannya dan menatap sang Ibu.
"Iya, Mah?" Jawab Rani, Adimas berdiri dan menatap lembut pada pemandangan teduh di hadapannya.
"Kamu harus berangkat, Mamah malah membuatmu susah." Ucap Ibu Rani, Rani dengan cepat menggeleng.
"Enggak, Mah, beneran enggak." Rani mengusap punggung tangan Ibunya.
Suasana sunyi sejenak, hingga dokter yang bertugas datang memeriksa. Rani bisa bernapas lega saat hasil pemeriksaan dinyatakan jauh lebih baik.
Adimas sendiri dapat melihat ketenangan yang terpancar di wajah Rani, Elyra juga terbangun dan Leon juga tiba di sana membawa buah segar khas menjenguk orang sakit.
"Ayang, kenapa bawa buah?" Tanya Elyra, Leon mengangkat alisnya bingung.
"Kan jenguk yang sakit." Leon mengusap puncak kepala sang istri.
"Sayang, nih jenguk orang sakit itu bukan bawa begituan yang bener." Ucap Elyra lagi, Adimas yang masih berada di sana ikut menatap Elyra.
"Lalu? Masa hanya bawa harapan dan doa? Kaya dia." Leon menunjuk Adimas, Adimas tercekat kaget karena dijadikan tumbal atas percakapan mereka.
"Kok, aku?" Adimas tak terima, tapi memang benar dirinya tak membawa apa pun untuk menjenguk orang sakit.
"Dia bawa cincin buat Rani, ayang ih.. Kalo jenguk orang sakit itu bawa makannya buat yang nunggu, bukan buat yang sakit. Kalo buat yang sakit mah udah ditentukan dari rumah sakit, tahu. Percuma bawa banyak makanan, nyicip dikit aja bisa kena semprot dokter." Kesal Elyra, dia pernah dalam posisi itu. Jadi dia tahu benar rasa tidak enaknya jadi orang sakit.
"Pengen makan apa, sayang, hem?" Leon akhirnya mencubit pipi istrinya gemas.
"Makan kamu, heheh.." Tawa Elyra, Rani hanya tepuk jidat. Mau mesra-mesraan gak lihat tempat sekali mereka berdua.
"Ran? Lapar?" Tawar Adimas akhirnya, Rani menggeleng pelan.
"Cewek sukanya makan roti sobek, bukan ditawarin, Kak." Ucap Elyra, Rani memelototkan matanya pada Elyra. Sedangkan yang dapat pelototan justru cengar-cengir seperti orang tak bersalah.
"Aku bawa makanan, aku tahu kalian pasti belum makan." Leon mengangkat satu tangannya yang lain, berisi makanan berat sampai ringan. Bahkan minuman juga sudah disiapkan olehnya.
"Kamu yang terbaik, yah.." Elyra memeluk perut suaminya, Rani tersenyum melihat bagaimana sahabatnya menemukan tempatnya tinggal dan bahagia.
Mereka akhirnya makan bersama, Ibu Rani yang melihat keakraban dan bagaimana mereka dekat secara alami seolah menyimpan doa kecil di hatinya. Berharap agar suatu hari, Rani tetap bersama orang-orang baik di sekelilingnya. Dan semoga, perginya Rani tak mengubah persahabatan yang mereka jalin saat ini.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang