Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tikus Kecil
Pelajaran Kalkulus dimulai dengan suasana yang sangat kontras. Di barisan depan, Norah dan Revelyn sesekali menoleh ke belakang, memberikan tatapan tajam dan bisikan yang jelas ditujukan untuk menghina. Namun, di pojok paling belakang, suasana terasa sangat asing bagi Greta.
Luca benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Pria itu menyandarkan kepalanya ke dinding, melipat tangan di depan dada, dan memejamkan mata. Dia tampak sangat tenang, seolah meja tua yang berdebu dan penuh goresan itu adalah tempat ternyaman di dunia.
Greta mencoba fokus pada papan tulis, namun tangannya masih gemetar saat memegang pulpen. Ia berusaha menuliskan rumus f'(x) yang ditulis Ms. Sterling, tetapi setetes air mata jatuh tepat di atas kertasnya, membuat tinta pulpennya luntur.
Tiba-tiba, sebuah gerakan dari samping membuatnya tersentak. Luca, yang ia pikir sudah tertidur, mengulurkan tangan. Tanpa membuka mata, pria itu menggeser sebuah benda ke arah meja Greta.
Itu adalah selembar tisu bersih.
"Jangan sampai air matamu mengotori jawaban kalkulusmu. Ms. Sterling sangat benci kertas yang kotor," bisik Luca tanpa mengubah posisinya. Suaranya sangat rendah, hampir seperti gumaman, agar tidak terdengar sampai ke depan.
Greta tertegun. Ia mengambil tisu itu dengan ragu, lalu menyeka pipinya yang basah. "Terima kasih..." bisiknya nyaris tak terdengar.
"Sama-sama," jawab Luca. Kali ini dia membuka satu matanya, menatap Greta dengan kilat jenaka. "Lagipula, kalau kamu terus menangis, aku tidak bisa tidur nyenyak. Suara isakanmu itu lebih berisik daripada teriakan Ms. Sterling."
Greta sedikit merona, merasa malu sekaligus... sedikit terhibur. Untuk pertama kalinya dalam satu jam terakhir, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. Ia melirik tisu di depannya, lalu melirik Luca lagi.
Pria ini aneh. Dia masuk dengan sembarangan, menantang aturan kelas, dan sekarang duduk di bangku "terbuang" bersamanya tanpa rasa jijik sedikit pun.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ms. Sterling tiba-tiba berhenti menulis di papan tulis dan berbalik arah, matanya yang tajam langsung menusuk ke pojok belakang.
"Luca! Greta!" suara Ms. Sterling menggelegar. "Karena kalian sepertinya sedang asyik mengobrol di belakang, silakan salah satu dari kalian maju dan selesaikan soal turunan di depan ini. Sekarang!"
Norah di depan langsung bersorak dalam hati, ia sengaja memutar tubuhnya untuk melihat bagaimana Greta yang hancur itu akan dipermalukan lagi di depan kelas karena tidak fokus.
Mendengar bentakan Ms. Sterling, Luca hampir saja terjatuh dari sandarannya karena kaget. Mata hazelnya yang tadi tampak tenang kini melebar sempurna, sementara Greta tersentak hingga pulpennya terlepas dari jemarinya.
"Mati aku... kalkulus adalah musuh bebuyutanku," bisik Luca dengan suara panik yang tertahan. Ia menoleh ke arah Greta, wajah tampannya kini berubah menjadi ekspresi memohon yang sangat polos, jauh dari kesan pemberontak yang ia tunjukkan tadi.
"Greta, tolong aku," bisik Luca sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Kalau aku maju, aku pasti habis. Majulah, tolong! Aku janji, sepulang sekolah nanti aku akan kubalas! Kumohon..."
Greta tertegun. Ia menatap wajah Luca yang sedang panik pria yang baru saja memberinya tisu itu kini tampak seperti anak kecil yang takut dihukum. Melihat ekspresi lucu itu, entah keberanian dari mana, Greta merasakan sedikit kehangatan. Ia mengangguk kecil, memberikan senyum tipis yang tulus untuk pertama kalinya hari itu.
"Baiklah," bisik Greta pelan.
Greta berdiri, membuat seisi kelas terdiam sesaat. Ia berjalan menuju papan tulis dengan langkah yang masih sedikit kaku. Saat ia tiba di depan, Ms. Sterling menyodorkan sebatang kapur dengan tatapan dingin.
"Karena kamu lebih memilih mengobrol dengan Luca daripada memperhatikan saya, silakan selesaikan ini, Greta," ucap Ms. Sterling sambil menunjuk soal turunan rantai trigonometri yang rumit di papan tulis. "Cari turunan pertama dari f(x) \= sin²(3x² - 5).
Dan jangan buat saya menunggu lama."
Greta menerima kapur itu. Tangannya yang masih terbalut memar kecil mulai gemetar saat menyentuh papan tulis. Ia terdiam, matanya menatap angka-angka itu namun pikirannya tiba-tiba kosong karena puluhan pasang mata kini tertuju pada punggungnya.
Melihat Greta yang mematung, Norah tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia bersandar di kursinya sambil melipat tangan, menatap Greta dengan pandangan merendahkan.
Greta mencengkeram kapur putih di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Di depan papan tulis yang luas itu, ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang. Keheningan kelas yang mencekam segera robek oleh suara Norah yang melengking rendah, penuh dengan nada meremehkan.
"Ayo, Tikus Kecil," panggil Norah, suaranya terdengar seperti seringai yang nyata. "Kenapa diam saja? Apa otakmu membeku karena terlalu lama meringkuk di selokan tadi?"
Gelak tawa meledak seketika. Seisi kelas seolah mendapat asupan bahan bakar baru untuk menghujat.
"Mungkin Tikus Kecil ini lupa cara membaca angka!" sahut salah satu murid dari barisan belakang.
"Lihat tangannya, dia gemetar hebat. Jangan sampai kamu mengompol di depan papan tulis, Tikus Kecil!" Zev menambahkan sambil menendang kaki meja, menciptakan suara dentuman yang membuat Greta terlonjak kaget.
Ms. Sterling hanya berdiri bersedekap, matanya yang dingin menatap Greta tanpa niat sedikit pun untuk membela. "Greta, saya tidak punya waktu seharian. Jika kamu tidak bisa mengerjakan soal sesederhana ini, silakan keluar dari kelas saya sekarang juga."
Greta menunduk, poni rambutnya menutupi matanya yang kembali berkaca-kaca. Julukan "Tikus Kecil" itu terasa seperti label yang membakar kulitnya. Ia merasa sangat kecil, sangat hina, dan sangat tak berdaya.
Namun, di tengah keriuhan itu, ia teringat wajah Luca yang panik tadi. Ia teringat janji Luca. Perlahan, Greta mengangkat wajahnya. Ia menarik napas panjang, mencoba membuang suara-suara sumbang itu ke udara kosong.
Dengan tangan yang perlahan berhenti gemetar, ia menempelkan ujung kapur ke permukaan papan tulis yang hitam. Sret... sret... sret...
Suasana kelas perlahan-lahan mulai senyap saat Greta mulai menuliskan baris demi baris turunan fungsi tersebut dengan sangat cepat. Langkah-langkahnya begitu sistematis dan rapi, jauh lebih rumit daripada cara yang baru saja dijelaskan Ms. Sterling.
f(x) \= sin²(3x² - 5)
f'(x) \= 2 . sin(3x² - 5). cos(3x² - 5) . 6x
f'(x) \= 12x . sin(3x² - 5) . cos(3x² - 5)
Greta berhenti sejenak, lalu menuliskan bentuk penyederhanaannya menggunakan identitas trigonometri:
F'(x) \= 6x . sin(6x² - 10)
Greta meletakkan kapur yang tersisa sedikit itu dengan bunyi klik yang tegas. Ia mematung sejenak, menatap hasil pekerjaannya di papan tulis yang tampak begitu sempurna dan bersih.
Keheningan menyelimuti ruangan. Ms. Sterling yang biasanya selalu punya kritikan, kali ini hanya terdiam sambil menatap papan tulis dengan mulut sedikit terbuka.
"Jawaban ini... benar. Dan kamu menggunakan identitas ganda untuk menyederhanakannya."
Di tengah kesunyian yang mencekam itu, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang nyaring dan penuh semangat.
Prok! Prok! Prok!
Suara itu sangat kontras, memecah kecanggungan yang menyelimuti kelas. Greta yang tersentak segera mendongak, matanya mencari asal suara tersebut di barisan depan.
Ia melihat Clara. Gadis itu berdiri sedikit dari kursinya, tangannya bertepuk tangan dengan tulus. Wajah Clara tampak bersinar oleh raut bahagia yang tidak bisa disembunyikan. Matanya yang bulat menatap Greta dengan binar kebanggaan yang luar biasa, seolah dialah yang baru saja memenangkan penghargaan besar.
"Kamu hebat sekali, Greta!" seru Clara dengan suara yang cukup lantang hingga bergema di ruangan itu. Ia mengabaikan lirikan tajam dari Norah yang berada tak jauh darinya. Bagi Clara, kemenangan kecil Greta adalah tamparan terbaik bagi semua orang yang meremehkannya.
Mendengar pujian yang begitu tulus di depan semua orang, wajah Greta yang tadi pucat perlahan memerah. Ia merasa malu, namun ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya. Ia memberikan satu senyuman tipis yang sangat manis ke arah Clara—sebuah senyuman yang ia tujukan hanya untuk satu-satunya teman yang ia miliki—sebelum kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Greta melangkah cepat menuju barisan belakang, melewati lorong meja dengan tangan yang masih ia remas sendiri. Ia tidak berani menatap wajah-wajah murid lain yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—antara benci, iri, dan terkejut.
Saat ia sampai di mejanya, ia melihat Luca yang masih bersandar santai. Pria itu menyambutnya dengan tatapan yang seolah berkata, "Sudah kuduga kamu bisa." Greta duduk perlahan di kursinya, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih berpacu liar. Pelajaran kembali dilanjutkan oleh Ms. Sterling dengan suara yang sedikit lebih pelan.
Saat Greta melangkah kembali ke mejanya, udara di barisan depan terasa semakin dingin dan menyesakkan. Norah tidak lagi tertawa; wajahnya yang cantik kini mengeras, membentuk topeng kemarahan yang tertahan. Ia mencengkeram pulpen mahalnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah-olah ingin mematahkan benda itu seperti ia ingin mematahkan semangat Greta.
Matanya yang tajam dan berapi-api mengikuti setiap gerak-gerik Greta. Baginya, jawaban benar di papan tulis itu bukan sekadar matematika itu adalah pembangkangan. Ia merasa martabatnya baru saja dilempar ke lantai oleh seseorang yang ia panggil "Tikus Kecil". Norah memicingkan matanya, memandang punggung Greta dengan kebencian yang murni, membatin bahwa seekor tikus tidak seharusnya punya otak yang lebih pintar dari sang ratu.
Di sampingnya, Revelyn kehilangan kata-kata. Ia yang tadinya asyik mengikir kuku, kini mematung dengan mulut sedikit terbuka. Ada kilat iri yang terpancar dari wajahnya yang penuh riasan. Ia melirik Norah, menyadari bahwa atmosfer di sekitar mereka telah berubah menjadi medan perang yang sunyi. Revelyn melempar pandangan sinis terakhir ke arah pojok belakang, lalu mendengus kasar sambil membuang muka, mencoba menutupi rasa terancam yang mulai merayap di hatinya.
Bagi mereka, Greta bukan lagi sekadar mangsa yang bisa diinjak-injak dengan mudah. Kini, Greta adalah gangguan yang harus disingkirkan sepenuhnya. Keheningan mereka di barisan depan adalah badai yang sedang bersiap untuk menerjang.
oke lanjut thor.. seru ceita nya