NovelToon NovelToon
Digodain Pocong

Digodain Pocong

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irawan Hadi Mm

Kata pepatah 'mulutmu adalah harimaumu' mungkin itu yang terjadi pada sebuah keluarga yang merasa dirinya tinggi maka bisa merendahkan orang lain.
Hal itu terjadi pada Yusuf dan keluarganya. Kesombongan mereka membuat mereka hidup tak tenang karena ada yang sakit hati pada mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irawan Hadi Mm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 16

Bak punya tenaga super, sosok yang menyerupai Samsul melayang beberapa centi dari tempat ia berpijak.

Sosok yang menyerupai Samsul itu, bahkan dengan sengaja membuat Wati terseret di tanah yang gak rata. Hingga beberapa meter jauhnya, dengan akar pohon bambu yang sesekali berhasil melukai tubuh dan kaki Wati.

“Akkkkkk nyak, babeh, tolong Wati!” jerit Wati dengan terisak.

Wati berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Samsul. Namun sayangnya, sosok yang ia pikir Samsul itu gak melepaskannya.

“Tolong nyak! Babeh!” jerit Wati, ia seakan terjebak dalam pilihannya yang salah.

“Aku sudah bilang kan, Wati! Aku pasti akan membawa mu ke alam ku! Hahahahaha, kita berjodoh Wati!”

Wati mendonga, bukan lagi sosok Samsul yang tengah menyeret tubuhnya menjauh dari orang tuanya. Melainkan sosok pocong, yang sebelumnya pernah ia lihat di halaman belakang rumahnya.

“Akkkkhhhhh ke- kenapa kamu?” Wati menjerit ketakutan.

Pria dalam balutan kain kafan itu berseringai, dengan mata menyeramkan, dan wajah yang gosong bak terbakar.

“Dari tadi memang aku yang bersama dengan mu, Wati! Kamu pasti senang kan bisa bertemu dengan ku lagi? Hahahaha!” kekeh si pocong.

“Senang kepala lu! Ma- mana bang Samsul? Lepas! Gua kaga mau ikut sama lu! Dasar lu pocong gila! Lepasin gua!” jerit Wati, berusaha berontak sekuat tenaga, melepaskan tangannya dari cengkraman si pocong.

“Ahahahhahaha jangan buang tenaga, Wati! Bentar lagi kita nyampe! Lu bakal jadi bini nya si pocong ahahahaha!” kekeh si pocong.

“Gak, dasar lu pocong gila! Nikah sono sama bangsa lu! Lepas! Babeh, tolongin Wati, beeeeh!” jerit Wati.

“Terus aja teriak, ampe suara lu abis! Gak bakal ada yang bisa nolongin lu, Wati! Asal lu tau ya! Gua cuma di suruh nikahin lu, kalo lu kaga nikah sama si Samsul ahahaha! Berarti lu jadi milik gua!” si pocong kembali tertawa.

Wati terus di bawa melesat, dalam cengkraman tangan si pocong. Gak peduli tubuh Wati yang berkali kali terhempas pohon bambu.

Sementara di sisi lain.

“Dasar bego! Kenapa lu tinggal anak lu! Kapan tadi udah gua pesen, anak lu bangunin, Sifa!” cerocos Yusuf dengan penuh emosi.

“Aye mana tau Wati udah bangun apa belom, bang! Kapan aye kan pengen sholat subuh berjamaah sama abang! Paling juga Wati udah bangun, bang! Jangan ngomel mulu apa bang!” gerutu Sifa, mengekori langkah sang suami yang sangat jelas wajah paniknya.

Cekreek.

Yusuf membuka pintu kamar Wati.

“Lu liet tuh! Anak lu udah bangun apa masih tidur, Sifa!” sentak Yusuf, nyelonong masuk ke dalam Wati.

“Masih tidur, bang!” beo Sifa, ia melangkah mendahului Yusuf.

‘Dasar bocah ya! Seneng amat si liet gua di omelin babeh lu! Awas lu, Wati! Nyak bakal hukum lu!’ ancam Sifa, dengan tatapan kesal pada sang anak yang masih meringkuk di atas tempat tidur.

Grap.

Sofa berniat mengguncang tubuh Wati, ‘Lah ngapa ini bocah ya!’

Yusuf mengerdikkan dagunya, melihat Sifa malah terpaku di depan Wati.

“Bangunin!” titah Yusuf

Sifa menoleh ke arah Yusuf, “Wati aneh, bang! Dia ngigo ini! Tapi aya ora denger dia ngomong apaan ini!”

Yusuf mengerutkan keningnya penuh tanya, “Aneh gimana maksud lu? Dimana mana orang ngigo mana ada jelas ngomong apa! Aneh lu!”

“Tapi ini beda, bang!” celetuk Sifa.

“Ti, Wati! Neng, bangun, neng! Wati!” seru Sifa, dengan mengguncang lengan Wati yang gak ada pergerakan. Tapi bibir Wati terus bergerak, bak membaca mantra.

Yusuf melangkah mendekat ranjang kasur.

Yusuf menyentuh telapak kaki Wati yang dingin bak es.

“Kenapa, bang?” tanya Sifa.

“Kaki anak lu dingin! Lu usahain dah biar anget ini! Biar gua yang bangunin Wati!” titah Yusuf.

“Et dah, ada bae ya! Ora tau gua mau masak apa!” gerutu Sifa.

“Jangan perut lu bae pikirin! Anak kita ini! Lu mau Wati mati? Di bawa sundel ke alam nya?” sentak Yusuf.

Sifa mendengus kesal, duduk di tepian ranjang dekat kaki Wati, “Et bujuk dah, sadis amat si bang lu kalo ngomong!”

“Gua serius Sifa! Kayanya ada yang kaga beres ini ama si Wati!”

Yusuf menatap Wati penuh selidik, ia memeriksa kedua mata Wati yang terpejam. Denyut nadi Wati gak luput dari perhatian Yusuf. Dilihat kasat mata, wajah Wati jelas menunjukkan rasa takutnya. Meski dalam keadaan mata terpejam.

Sifa menggo sokkan telapak tangannya pada telapak kaki Wati. Wanita paruh baya itu, benar benar berusaha mengembalikan suhu hangat kaki anaknya yang dingin.

“Kaga beres gimana maksud, abang?” celetuk Sifa penuh tanya.

“Apa ini masih ada hubungannya sama kejadian tadi malam gitu, bang?” imbuh Sifa.

Yusuf menulikan indra pendengarannya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Beberapa ayat suci terlontar dari bibir Yusuf, saat bibirnya berada dekat di puncak kepala Wati.

“A'udzu billahi minas syaithannirrajim. Bismillah hirohman nirohim. Allahu laa ilaaha …”

***

Bersambung...

1
astutiq
semangat terus buat author
Uswatun Chasanah
jangan lupa up thor
Jafar Hafso
lanjutkan terus up thor
Farlan
semangat terus kak
Ina
jangan lupa up thor
Ina
lanjutkan thor
Ina
keren banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!