Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Menunggu Kabar
“Tante, nanti siang Tante jemput Luna, ya?” pinta Luna manja saat hendak berangkat sekolah.
“Iya, nanti Tante yang jemput,” jawab Vara sambil mengelus pucuk kepala Luna dengan lembut.
Luna tersenyum lebar. Setelah berpamitan pada Vara dan Arga, ia masuk ke mobil dan lansung diantar oleh sopir.
“Aku berangkat dulu,” ucap Arga singkat.
Ia lalu menoleh pada Vara. “Nanti jemput Luna. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, segera pulang dan hubungi aku.”
“Iya,” jawab Vara mengangguk.
“Kamu hati-hati. Jangan lupa makan siang!” pesan Vara saat Arga sudah berada didalam mobil.
Setelah Arga juga berangkat, Vara masuk ke dalam rumah. Kini ia tidak lagi merasa sepi saat Arga bekerja. Kehadiran Luna dan mertuanya membuat rumah terasa lebih ramai.
“Mereka sudah berangkat?” tanya Melani saat Vara memasuki ruang tengah.
“Sudah, Ma. Tadi Luna berpesan supaya nanti dijemput sepulang sekolah,” jawab Vara.
Melani tersenyum."Anak itu manja sekali dengan mu."
“Vara, Mama lihat ditaman belakang penuh dengan tanaman. Apa kamu yang menanam semuanya?” tanyanya penasaran.
“Iya, Ma. Sejak tidak bekerja lagi, Vara menghabiskan waktu di taman supaya tetap ada kegiatan,” jawab Vara lembut. “Mama mau ikut ke taman? Kebetulan Vara ingin menanam tanaman baru.”
“Tentu saja mau. Mama juga suka berkebun. Di luar negeri, halamannya rumah juga penuh tanaman hias. Nanti kalau Arga punya waktu, kita bisa liburan ke sana bersama,” ujar Melani dengan antusias.
Mereka pun menuju taman belakang. Udara pagi masih terasa segar.
Melani dan Vara mengenakan sarung tangan sebelum mulai berkebun. Vara menyiapkan media tanam dan memasukkannya ke dalam pot-pot baru, sementara Melani dengan telaten menyiangi daun-daun yang sudah menguning.
“Vara,” panggil Melani pelan di sela-sela kesibukan mereka.
“Iya, Ma?”
“Terima kasih… karena kamu mau menerima Arga dan menyayangi Luna.”
Vara terdiam sejenak.
“Kamu tahu, dulu Arga itu sangat sulit diajak bicara,” lanjut Melani. “Hidupnya hanya untuk bekerja. Dia jarang tersenyum, yang membuat bicara hanya lah luna, dan hampir tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Tapi sejak kamu hadir… dia berubah. Dia jadi lebih hangat. Tidak sekaku dulu.”
Vara menunduk, tangannya masih memadatkan tanah dalam pot.
“Seharusnya Vara yang berterima kasih, Ma,” ucapnya tulus. “Mama mau menerima Vara apa adanya. Mama tahu sendiri bagaimana latar belakang Vara… hanya seorang gadis yatim piatu.”
Melani menghentikan kegiatannya dan menatap Vara lembut.
“Tapi sekarang,” lanjut Vara dengan mata sedikit berkaca-kaca, “Vara bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang. Itu sesuatu yang dulu tidak pernah Vara bayangkan.”
Melani tersenyum hangat lalu meraih tangan Vara.
“Kamu bukan orang luar di keluarga ini,” ucapnya lembut. “Kamu anak Mama juga.”
Angin berembus pelan, menggoyangkan daun-daun tanaman di sekitar mereka. Suasana taman terasa damai, penuh kehangatan.
Sebenarnya ada hal yang ingin Vara tanyakan dengan mertuanya, tentang Arga yang tidak mengizinkan nya keluar, dan tentang sayatan pada tangan Arga. Tapi Vara bingung harus bagaimana mengatakan nya. Jadi Vara memilih untuk tidak bertanya, ia yakin Arga melakukan itu pasti untuk kebaikan nya.
---
Jam pulang sekolah Luna hampir tiba. Vara segera bersiap untuk menjemputnya.
“Mama, Papa, Vara berangkat dulu,” ucapnya saat melihat Melani dan Nicholas sedang duduk di ruang keluarga.
“Iya, hati-hati,” jawab Melani dan Nicholas hampir bersamaan.
Vara tersenyum, lalu berangkat bersama sopir yang memang ditugaskan Arga untuk mengantarnya ke mana pun.
Tak lama, mobil yangg Vara naiki tiba di depan sekolah. Vara meminta sopir berhenti tidak jauh dari gerbang agar tidak mengganggu lalu lintas.
Anak-anak mulai berhamburan keluar.
“Tante!” teriak Luna begitu melihat Vara berdiri menunggunya.
Vara tersenyum lebar dan segera menghampiri.
“Ayo, kita pulang,” ucapnya lembut sambil menggandeng tangan Luna.
Mereka masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Luna tak berhenti bercerita.
“Tante tahu tidak, tadi Luna dapat bintang karena bisa jawab soal matematika!” ucapnya bangga.
“Wah, hebat sekali,” puji Vara. “Luna memang pintar.”
“Tapi tadi juga ada teman yang jatuh di lapangan. Luna bantu dia berdiri,” lanjut Luna.
“Luna anak baik,” balas Vara sambil tersenyum hangat. “Tante bangga sekali.”
Luna tertawa kecil, lalu menyandarkan tubuhnya manja ke arah Vara.
Saat mobil melewati deretan jajanan pinggir jalan, gerak mobil melambat karena sedikit macet.
Aroma gorengan dan jajanan manis tercium samar.
Sejak menikah dengan Arga, Vara memang hampir tidak pernah lagi membeli jajanan seperti itu.
“Pak, berhenti sebentar,” ucap Vara tiba-tiba.
Sopir menoleh lewat kaca spion. “Ada apa, Nyonya?”
“Tidak apa-apa. Saya ingin membeli jajanan itu,” jawab Vara sambil menunjuk deretan penjual di pinggir jalan.
“Kenapa, Tante?” tanya Luna bingung.
“Tante mau turun, ingin membeli jajanan itu, Sudah lama tidak makan jajanan seperti itu. Apa Luna mau?”
“Luna mau Tante!” seru Luna antusias.
“Luna tunggu di dalam mobil saja, ya. Biar Tante yang turun.”
Vara membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
"Hati-hati, Nyonya."Pesan sang sopir
Suasana jalan cukup ramai. Ia berdiri di tepi jalan, menunggu kesempatan untuk menyeberang.
Beberapa kendaraan melintas silih berganti.
Vara masih berada dipinggir jalan, saat kaki Vara ingin melangkah maju,
Dari arah berlawanan, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Mesin meraung keras, seolah sengaja menekan pedal gas lebih dalam. Lampu depannya menyilaukan.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Vara sempat menoleh, mata mereka bertemu sekilas dengan pengemudi yang mengenakan topi dan masker. Mobil semakin dekat.
“Tanteeeee!” teriak Luna histeris dari dalam mobil.
---
Julia berjalan mondar-mandir di kamarnya, menatap layar ponselnya berkali-kali.
Sudah cukup lama ia menunggu kabar.
Kenapa belum ada laporan?
Ia menggigit bibirnya menahan gelisah.
“Sabar, Julia… sabar,” gumamnya pada diri sendiri. “Sebentar lagi pasti ada kabar baik.”
Wajahnya berubah dingin.
“Setelah ini… kau hanya perlu menyingkirkan satu pengganggu lagi,” bisiknya pelan, membayangkan Luna. “Setelah itu, tak ada lagi yang menghalangimu untuk memiliki Arga.”
Namun ponselnya tetap sunyi.