NovelToon NovelToon
Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Biby Jean

"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 16 - Kedatangan yang Menggemparkan

Sedan hitam itu berhenti rapi di salah satu sudut parkiran kampus, terlalu mencolok untuk lingkungan yang dipenuhi motor mahasiswa dan mobil-mobil keluarga yang sudah kusam dimakan usia. Cat hitam mengilapnya memantulkan cahaya matahari pagi, membuat beberapa orang tanpa sadar melirik dua kali.

Setya menyandarkan punggung ke kursi dengan rahangnya yang mengeras. Ada ketidaknyamanan yang hinggap, mengingat tempat ini terlalu terbuka untuknya yang pandai menutup pintu dan batas.

“Maura... Maura... Maura,” gumam Setya sembari matanya mencari sosok itu.

Beberapa mahasiswa berjalan melambat. Ada yang pura-pura mengikat tali sepatu. Ada yang berhenti dan berbisik.

“Eh, mobil siapa tuh?”

“Gila, cantik banget.”

“Itu bukan mobil dosen, kan?”

Setya menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke depan melalui kaca depan. Sampai ia melihat satu sosok berjalan ke arah gedung fakultas dengan langkah tenang, wajahnya menunduk sedikit sambil membaca sesuatu di ponsel.

Kemeja putih sederhana, celana kain gelap, tas selempang bahu yang menunjukkan integritas dari perempuan itu. Setya memang merasa bahwa Maura melewati batas yang telah ditetapkan pria itu, tapi terlepas dari itu Maura berhasil menunjukkan aura pendidik yang tenang dan mumpuni.

“Here you go,” ucap Setya.

Pintu mobil terbuka dan bunyi klik pengunci terdengar jelas, seolah menjadi sinyal bagi sekelilingnya bahwa ada pria penuh kuasa hadir.

Beberapa kepala langsung menoleh.

“Eh, itu?”

“Setya Pradana?”

“Yang CEO itu?”

“Ngapain beliau ke sini?”

Pekikan kecil terdengar dari sisi lain parkiran. Bisik-bisik berubah menjadi suara terbuka. Beberapa orang berhenti total dan beberapa lainnya refleks mengeluarkan ponsel.

Setya mendengarnya, tapi memilih mengabaikan.

Pria itu berjalan lurus ke arah Maura yang masih setia menunduk, tidak sadar bahwa atmosfer di sekelilingnya berubah drastis. Ia baru berhenti ketika suara-suara di sekitar mendadak terlalu sunyi dan sepasang sepatu kulit hitam mengilap berdiri tepat di hadapannya.

Maura mendongak. Wajahnya menegang sepersekian detik.

“Pak... Setya?” ucapnya, jelas tidak menyangka.

Setya harus menunduk untuk menatap tepat di mata Maura, karena perbedaan tinggi mereka yang cukup signifikan.

“Kita harus bicara,” katanya penuh ketegasan.

Maura melirik sekeliling. Kerumunan sudah terbentuk setengah lingkaran, tidak resmi tapi jelas mengamati. Beberapa wajah terlihat antusias, beberapa terkejut, beberapa penasaran berlebihan.

“Di sini?” tanya Maura pelan, menurunkan suaranya.

Setya mengangkat alis tipis, mengamati gestur tubuh Maura yang sedikit mendekat padanya. Suaranya kecil, seperti berbisik takut kalau semua orang mendengar. Padahal kalau ditelaah lagi mereka sudah menjadi pusat perhatian total di tengah jalan.

“Apa ada masalah?”

“Bagi saya, iya. Saya tidak nyaman menjadi tontonan seperti ini, Pak Setya,” jawab Maura jujur.

Beberapa bisikan terdengar lebih keras.

“Bu Maura ngomong begitu ke Pak Setya Pradana?”

“Berani banget.”

Setya mendengar begitu pun Maura. Perempuan itu kembali menunduk sambil menghela nafas lelah. Rasanya memalukan berada di posisi ini dan jelas saja sekalipun Maura adalah dosen, baginya berada di kerumunan banyak orang di mana ia menjadi pusat perhatian adalah hal yang selalu dihindarinya.

Setya melihat itu, mengamati bahwa perempuan mungil di hadapannya ini tengah menahan malu.

“Kamu ingin memilih tempat lain?” ucapnya yang secara tiba-tiba terdengar.

Ada rasa iba- sedikit- saat menyaksikan ada gemetar dari perempuan itu. Setya Pradana adalah pria yang pandai mengamati dan jelas sedikit perubahan dalam gerak Maura sangat terlihat jelas di matanya.

Maura mengangkat wajahnya pelan, matanya bertemu dengan tatapan Setya yang kini tidak setajam sebelumnya, tapi tetap membuatnya gugup.

“Kalau boleh, saya lebih nyaman bicara di tempat tertutup,” jawab Maura hati-hati,

Setya mengangguk tipis. “Baik.”

Satu kata itu, sederhana, tapi cukup untuk membuat beberapa orang di sekitar terdiam heran. Tidak ada perdebatan. Setya Pradana, pria yang namanya sering muncul di berita bisnis nasional, mengiyakan permintaan seorang dosen muda di tengah parkiran kampus.

“Mobil saya,” lanjut Setya singkat sambil menoleh ke arah sedan hitamnya.

Maura refleks menegang. “Pak-”

“Saya tidak akan lama. Dan kamu tidak perlu khawatir soal pandangan para mahasiswa ini,” potong Setya. Nada suaranya tegas, tapi tidak menekan.

Kalimat terakhir itu ironis, mengingat justru keberadaannya yang membuat suasana semakin riuh. Beberapa mahasiswa sudah terang-terangan merekam. Ada yang berbisik tanpa lagi berusaha menurunkan suara.

“Itu Bu Maura kan?”

“Serius? CEO itu jemput dosen kita?”

“Ada hubungan apa mereka?”

Maura memejamkan mata sesaat, lalu menghembuskan napas pelan. Ia tahu, menolak sekarang hanya akan memperpanjang tontonan.

“Baik. Tapi sebentar saja, Pak. Saya ada kelas,” katanya akhirnya.

Setya berbalik tanpa berkata apa-apa lagi, berjalan lebih dulu ke arah mobil dan Maura mengikutinya dengan jarak satu langkah di belakang. Pintu mobil dibukakan Setya untuknya dan itu berhasil membuat beberapa suara langsung meledak.

“GILA!”

“Itu beneran Bu Maura!”

Maura masuk dengan wajah kaku. Pintu ditutup. Dunia di luar seolah teredam seketika.

Begitu Setya duduk di kursi pengemudi dan mesin menyala, mereka pergi ke tempat yang tidak jauh. Maura hanya menunduk sambil memelintir jemarinya yang saling bertaut. Maura adalah perempuan berani, idealis, tapi saat itu berurusan dengan keramaian dan pusat perhatian pada dirinya, ia lemah.

Perempuan itu langsung terkuras habis energinya.

Mobil berhenti di tempat yang tidak jauh dari area kampus, Maura masih mengenali tempat ini. Banyak jajanan dan toko yang Maura sendiri juga sering ke sini- entah untuk sekedar makan siang atau membeli peralatan.

Setya mencondongkan tubuh sedikit. “Saya datang karena perlu klarifikasi.”

“Klarifikasi apa?”

Maura langsung menoleh ke arah samping tempat pria itu tengah menatapnya juga dengan jemari Maura mencengkeram tali tas lebih erat.

“Soal semalam.”

Udara di antara mereka menegang.

“Pak,” Maura menurunkan suaranya, “saya pikir kita sepakat itu tidak perlu dibahas lagi.”

“Kita tidak sepakat apa pun. Kamu pergi sebelum saya bicara,” balas Setya tenang.

Maura mengernyit. “Karena teman Bapak sudah datang.”

Maura mengatakan fakta, terlebih lagi perempuan itu enggan untuk berlama-lama dengan pria arogan seperti Setya. Menganggap dirinya selalu tinggi dan harus dihormati, jelas Maura akan selalu menjauhi orang seperti itu, apalagi pria.

Setya menarik napas pelan. “Saya mau memastikan satu hal bahwa apa yang terjadi semalam tidak kamu tafsirkan keliru.”

“Keliru bagaimana?” Maura mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan maksud dari pria dewasa itu.

“Sebagai niat.”

Maura terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil, bukan bermaksud mengejek, tapi lebih seperti menunjukkan kelelahan dan kelegaan.

“Pak Setya,” katanya, “Bapak mabuk. Bapak muntah. Bapak hampir pingsan. Saya menahan Bapak supaya tidak jatuh. Tidak ada yang perlu ditafsirkan.”

“Dan sentuhan itu?”

“Itu bukan dari saya,” begitu cepat jawaban itu meluncur dari bibir Maura.

1
Anita Optik Agung Riana
cerita yg bagus.alur yg jelas dan tidak menye menye
Anita Optik Agung Riana
aduhhh jgan lama lama Thor update nya.makin seru.semoha sukses thor
Karrr
baguss👍👍
Siti Jul
kejam ih
Siti Jul
setya emang sebegitu dinginnya ya. jangan dingin dingin atuh
Siti Jul
ini baguss bett
Siti Jul
sukaaa
Maulida Ana
awwww
Maulida Ana
uhhh udah mulai dag dig dug nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!