Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frustasi
"Sial! Semuanya berantakan!"
Adrian terduduk lemas di atas ranjangnya. Kamarnya yang semula rapi itu kini sudah berantakan entah berantah, barang-barang berserakan, vas bunga pecah, bahkan layar TV di hadapannya sudah retak.
Semuanya benar-benar hancur, diluar dugaan pria itu. Ia tak menyangka foto-foto itu bisa terekspos ke media tanpa sepengetahuan dirinya. Yang lebih mengejutkan, rupanya Arini sudah mengganti nama kepemilikan aset yang sebelumnya sudah ia ubah.
"Arini sudah berjalan lebih jauh tanpa saya duga,"
"S*alan! Harusnya saya sadar sejak sebelumnya!"
Adrian memaki dirinya sendiri. Kini semua sudah terlambat, bahkan untuk meminta maaf saja wanita itu tak akan sudi untuk menerimanya. Ia benar-benar kecolongan.
Pria itu berdiri di ranjangnya, menatap sekilas foto pernikahan dirinya dengan Arini yang masih terpanjang dengan baik di dinding kamarnya. Ia meraih bingkai foto itu dan menatapnya dengan sendu.
Namun perlahan tatapan itu berubah menjadi amarah yang mengebu-ngebu, ia lalu membanting foto itu ke lantai dengan keras hingga benda itu retak dan pecah.
"Pak! Cukup pak, bapak harus tenang!"
Elang tiba-tiba muncul dan masuk ke dalam kamar itu. Ia mendapat panggilan dari Pak Yono bahwa Adrian sudah mengamuk sejak pagi ini setelah Arini yang meninggalkan dirinya pasca berita perselingkuhan itu menyebar cepat ke publik.
Laki-laki itu melihat sekelilingnya. Kondisi kamar itu sangat memprihatinkan. Barang-barang sudah pecah dimana-mana. Adrian terlihat sangat frustasi.
"Bapak, tolong jangan melakukan hal gegabah. Bapak harus tetap tenang!" ucap Elang, mencoba menenangkan pria itu.
"Bagaimana saya bisa tenang, Elang? Arini sudah meminta bercerai, pernikahan saya sudah hancur sekarang!" timpal Adrian, menatap tajam Elang.
"Mau bapak banting barang, marah-marah, semua itu tidak akan membuat keputusan Ibu Arini berubah pak!"
"Kalau bapak mau pernikahan ini tetap seperti dulu, bapak harus berusaha!"
"Dan wajar jika Ibu Arini mengambil keputusan ini, sikap bapak juga sudah keterlaluan.. "
Adrian menatap tajam laki-laki itu. Ia merasa amarahnya semakin memuncak, namun apa yang dikatakan oleh Elang memang benar. Ia tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa dirinya memang sudah berselingkuh dibelakang Arini.
"Saran saya pak, bapak bertemu langsung dengan Ibu Arini. Bicara tatap muka dengan kepala dingin," ucap Elang.
Adrian menghela napas kasar, "Gampang sekali kamu bilang seperti itu. Arini pasti akan menampar saya jika saya muncul dihadapan dia."
"Biarkan dia menampar Anda, Pak," potong Elang cepat, suaranya kini merendah namun tegas.
"Satu tamparan tidak akan sebanding dengan kehancuran nama baik dan aset yang dia ambil alih. Kalau anda diam saja di sini, anda tidak hanya kehilangan istri, tapi Anda kehilangan segalanya."
Adrian terdiam. Kata-kata Elang seperti siraman air es di tengah kepalanya yang mendidih. Ia melihat pecahan kaca bingkai foto pernikahannya yang kini menginjak ujung sepatunya.
Wajah tersenyum Arini di foto itu kini terbelah dua oleh retakan kaca, seperti hubungan mereka yang tak mungkin kembali mulus.
"Arini bukan wanita yang mudah luluh dengan kata-kata manis lagi, Elang. Dia sudah memegang semua kartu as," bisik Adrian serak.
Tangannya yang gemetar terkepal kuat. "Dia sudah merencanakan ini sejak lama. Pemindahan aset itu... dia menunggu sampai saya benar-benar lengah."
"Itu artinya dia masih memperhatikan Anda, Pak. Meski tujuannya untuk menghancurkan," Elang melangkah mendekat, memberikan sebuah amplop cokelat yang sedari tadi ia pegang.
"Ini lokasi keberadaan Ibu sekarang. Dia tidak pulang ke rumah orang tuanya. Dia ada di vila Nyonya Grace,"
Adrian menyambar amplop itu. Matanya menyipit membaca alamat yang tertera. Ada rasa sesak yang menghantam dadanya, rasa bersalah yang mulai bercampur dengan ego yang terluka. Arini, istrinya yang dulu begitu penurut, kini berubah menjadi seseorang yang seperti tak ia kenal.
"Siapkan mobil," perintah Adrian dingin. Amarahnya belum hilang, tapi kini ia punya tujuan.
"Tapi Pak, media masih mengepung gerbang depan. Anda akan jadi sasaran empuk kalau keluar sekarang," Elang memperingatkan.
Adrian menoleh, senyum miring yang sinis muncul di wajahnya.. "Biarkan mereka memotret. Biar mereka lihat bagaimana hancurnya seorang Adrian,"
Ia mengambil jasnya yang tergeletak di lantai, mengibaskan debu dan serpihan kaca yang menempel, lalu memakainya dengan kasar.
"Arini pikir dia sudah menang? Belum,"
"Saya yang memulai pernikahan ini, maka saya yang akan menentukan bagaimana cara mengakhirinya, atau mempertahankannya."
Keduanya beranjak keluar dari sana dan segera menuruni tangga menuju lantai bawah. Begitu Adrian dan Elang keluar dari kediaman, puluhan wartawan rupanya sudah menunggu mereka di depan gerbang seperti yang diucapkan oleh Elang sebelumnya.
Tidak, bukan hanya puluhan. Lebih dari itu, deretan mobil-mobil dari kantor jurnalistik kota terlihat di sekitar kediamannya. Mereka benar-benar mengepung Adrian.
"Banyak sekali wartawan ini, mereka mau meliput berita atau menangkap saya?" gumam Adrian.
"Sudah pak, ayo kita berangkat!" ucap Elang.
Mengindari para wartawan itu, mereka memutuskan untuk pergi melalui pintu belakang. Elang dan Adrian masuk ke dalam mobil, tak berselang lama mobil Porsche 911 bewarna putih itu melaju cepat meninggalkan kediaman tersebut.
Sepanjang jalanan kota mulai padat menjelang siang. Perjalanan menuju kawasan perumahan elit di Dharmawangsa, Jakarta Selatan, terasa sangat panjang meski jaraknya tak sejauh ke luar kota.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, Adrian hanya menatap kosong ke luar jendela, memperhatikan deretan gedung pencakar langit Jakarta yang mulai berganti dengan pepohonan rindang dan pagar-pagar rumah setinggi tiga meter.
Pria itu sedari tadi hanya diam. Mobil melaju semakin cepat, namun nyatanya jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari kecepatan mobil itu.
"Elang," panggil Adrian tiba-tiba, suaranya parau.
"Ya, Pak?"
"Menurutmu... apa Arini masih mencintai saya? Atau semua ini murni karena dendam?"
Elang terdiam sejenak, tangannya masih tetap mengemudi. "Mencintai dan membenci itu bedanya tipis, Pak."
"Kalau Ibu sudah tidak peduli, dia pasti langsung menghilang tanpa menyentuh aset Anda. Tapi dia memilih untuk 'memiskinkan' anda terlebih dahulu. Itu artinya, dia ingin bapak merasakan sakit yang sama seperti yang dia rasakan."
Adrian terkekeh hambar. "Dia berhasil. Saya merasa sekarat sekarang."
Mobil berhenti di depan sebuah private mansion bergaya kolonial modern. Ini adalah kediaman pribadi Nyonya Grace, tempat yang sangat tenang, tidak jauh hiruk-pikuk kota.
Begitu mobil berhenti, Adrian lantas keluar dengan cepat dari mobil dan berjalan cepat memasuki halaman kediaman.
Beberapa petugas keamanan sempat melihat dirinya namun mereka tak berani untuk menghalau pria itu.
Adrian mendorong pintu ganda besar dari kayu mahoni itu. Suasana di dalam sangat sunyi, hanya terdengar gemericik air dari kolam renang di area belakang.
Ia melirik sekitarnya, namun ia tak menemukan Arini disana. Rumah ini tampak besar namun sepi.
"Arini?"
"Arini!"
Adrian menyerukan nama wanita itu namun tak ada sahutan. Ia mengacak rambutnya dengan frustasi, apakah wanita itu sudah pergi sebelum dia datang kemari? Apakah dia sudah terlambat? Banyak pertanyaan yang muncul dan berkecamuk dalam kepalanya.
Ditengah kebingungan, suara langkah mendekat. Bau yang familiar menarik atensi Adrian, ia seperti mengenali suara langkah kaki dan bau parfum itu.
Senyumnya mengembang, Adrian menoleh ke belakang. Namun begitu seseorang muncul di balik pintu, perlahan senyum diwajahnya mulai memudar.
Benar itu Arini, namun ia tak sendiri. Ia bersama seorang pria yang tampak tak asing bagi Adrian. Gio.