NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua puluh empat

"Luka mau itu om.., luka juga mau yang itu" tunjuk luka antusias, tangan luka menunjuk ke semua mainan. Tawa riang luka bersambut dengan tawa lucu langit, pria itu terlihat begitu menikmati moment kebersamaannya dengan luka.

"Ayoo omm..." tarik tangan mungil luka menyeret lengan kekar langit yang menurut.

Alia yang berjalan di belakang mereka hanya mampu menghela nafasnya, ia benar-benar merasa tidak nyaman. Kedekatan yang tercipta antara putranya dan langit sungguh sangat mengganggu hatinya, alia tetap mengikuti langit dan luka, kegembiraan yang menyelimuti mereka, sama sekali tidak menyentuh hati alia yang terlihat gelisah.

Hati alia tidak bisa menerima kedekatan itu, walau logikanya tetap berjalan. Benar ucapan narida, langit berhak tahu tentang luka, langit berhak tahu siapa luka, namun hati alia tetap menyangkalnya.

Desah nafasnya yang kesal berulang kali terdengar, dan berulang kali juga langit mencuri pandang menatap wajah. alia yang selalu tertunduk.

Langit tahu alia sangat tidak nyaman saat ini, namun entah mengapa langit bertekad untuk menyentuh hati wanita itu. Hati langit menginginkan senyum alia yang manis itu tertuju untuk dirinya, dia tidak tahu apakah ini cinta, karena seumur hidupnya langit belum pernah merasakan hal yang saat ini ia rasakan untuk alia.

Dulu saat pertama ia melihat wanita ini, saat ibu tirinya menjual alia padanya, getar itu sudah langit rasakan, namun ia memilih mengabaikannya.

Keperawanan alia membuatnya selalu teringat gadis polos itu, yang menangis tersedu-sedu memohon ampun padanya.

Seandainya saja, seandainya saat itu ia tahu kalau alia masih perawan, langit tidak akan melakukannya. Namun rasa yang ia dapat dari alia malam itu, rasa alia yang candu membuatnya buta dan gelap mata, wanita ini sungguh berbeda dari wanita manapun yang pernah hadir dalam hidupnya.

"Lukaa..." panggil alia, menyadarkan langit dari lamunannya, pria itu tersentak menatap alia.

"Sudah cukup nak, ayo kita pulang" ajak alia meraih tangan luka yang hendak berlari ke rak yang lain.

Luka menolak, bocah itu berusaha melepaskan genggaman tangan alia, namun bocah itu menghentikan gerakannya ketika langit menyentuh bahunya, pria itu duduk mencangkung di depan luka yang cemberut.

"Besok lagi yah ganteng, ini sudah mau maghrib, kita pulang dulu"

Luka menganggukkan kepalanya patuh, dan pemandangan itu cukup membuat alia jengah, ia melengos ketika tak sengaja matanya dan mata langit saling bertatapan.

"Saya antar yah" ucap langit lembut menawarkan.

Alia hendak menggeleng, namun mainan yang sudah langit bayar penuh 2 troli, membuat alia mau tidak mau menganggukkan kepalanya. Langit tersenyum manis, terlihat penuh terima kasih.

Tangan kekarnya mendorong sebuah troli, sementara luka bergelayutan di tangan sebelahnya lagi. Alia ikut membantu mendorong troli yang lain, Luka yang bergelayutan manja di lengan langit, terlihat mengoceh riang.

"Om, oom mau nggak jadi ayah luka?" Celetukan luka membuat langit dan alia terkejut.

Langit sampai berhenti, matanya menoleh ke arah alia seperti ingin menanyakan sesuatu, Alia dengan cepat menarik luka yang berdiri menatap langit dan dirinya bergantian.

"Luka, jangan ngomong sembarangan yah nak" tegur alia menutup mulut putranya, kepala luka menggeleng-geleng keras berusaha melepaskan tangan alia.

"Luka mau punya ayah bundaaa, teman-teman di sekolah selalu bilang luka anak yatim nggak punya ayah" protes luka menatap nyalang ke arah alia.

Terlihat di sudut mata bocah 5 tahun itu ada air mata yang hampir jatuh, alia terenyuh hatinya bagai teriris. Ia tahu putranya itu merindukan sosok seorang ayah dalam hidupnya, alia menarik luka ke dalam pelukannya, tangis bocah itu akhirnya pecah.

Langit yang menatap adegan ibu dan anak itu, hatinya juga merasa terenyuh. Ada yang mendenyut sakit di dalam dadanya, namun permintaan bocah itu barusan membuat benaknya berpikir keras, kemana ayah dari bocah itu.

Apakah sudah meninggal atau bagaimana, sungguh langit ingin tahu.Langit mendekat, menghampiri luka yang memberontak dalam pelukan alia.

"Lukaa..." suara berat langit menyadarkan mereka.

Pria itu kembali duduk mencangkung di depan bocah laki-laki yang masih menangis sedih, tangan langit meraih bahu luka yang masih tersedu.

Alia bergeser, memberikan ruang untuk langit berbicara dengan luka, mata alia terlihat berkabut.

"Luka jangan nangis lagi yah, bocah ganteng nggak boleh nangis, tuh lihat, bundanya jadi ikutan sedih" bujuk langit lembut, aura garang dan sombongnya sama sekali tidak terlihat.

Alia menatap tidak percaya, mengapa langit bisa begitu terlihat lembut, mata abu-abu milik pria itu menatap luka lembut penuh kasih.

"Luka sayang bundakan?" Tanya langit lagi, masih dengan suara lembutnya.

Bocah itu mengangguk. Langit tersenyum manis, jemari pria itu terulur menghapus air mata luka.

"Udah nangisnya yah sayang"

Luka mengangguk lagi, tubuh kecilnya menghambur kedalam pelukan langit, yang tersentak kaget. Namun pria itu dengan cepat memeluk luka, terlihat wajahnya melembut, dan itu tidak luput dari tatapan alia yang masih menatap keheranan.

Langit mengangkat luka ke dalam gendongannya, ia mendorong troli menuju mobil, alia mengikuti dari belakang.

Matanya mengamati langit yang berjalan gagah di depannya, alia tidak menyangka ikatan antara luka dan langit bisa begitu dalam, padahal mereka tidak tahu hubungan apa yang mereka miliki.

Ternyata memang benar darah itu lebih kental daripada air, jujur saat ini pandangan alia kepada langit sedikit berubah, pria brengsek ini ternyata memiliki sisi lembut juga.

Langit mengangkat tubuh luka dengan lemah lembut, bocah itu tertidur selama di perjalanan. Alia berjalan cepat menuju pintu yang terkunci, ia membuka pintu lebar, membiarkan langit masuk, tangannya menunjuk arah kamar putranya.

Tanpa bicara langit menuju kamar luka yang terbuka lebar, meletakkan dengan pelan bocah tampan itu ke tempat tidur, agar luka tidak terbangun.

Mata langit menatap sekeliling, mengitari kamar luka yang rapi. Setelah memastikan bocah itu benar-benar tidur dengan tenang, langit melangkah keluar, setelah sebelumnya ia membuka sepatu luka dengan lembut.

Lagi-lagi alia terperangah, sungguh langit sangat berbeda, perlakuan langit ke putranya sungguh membuat alia heran.

Pria itu menarik handle pintu kamar luka perlahan dan sangat lembut, ketika pria itu menoleh, mata mereka saling bertatapan.

Alia tidak melengos, kali ini ia tersenyum, dan itu membuat langit terperangah, sungguh ia tidak menyangka alia akan memberikan senyum manis itu untuknya.

Hati langit menghangat, ada debar indah di dalam sana. Ia ingin melihat senyum itu setiap hari, tanpa langit sadari garis senyum terlihat dari wajah tampannya.

"Duduklah.." perintah alia lembut,

"Aku buatin teh dulu"

Langit menganggukkan kepalanya cepat, hatinya menghangat lagi, suara lembut alia mengobrak abrik hatinya saat ini.

Pria jangkung itu duduk di sofa yang alia tunjuk, Langit masih tersenyum, senyum yang terlihat manis dan sangat tulus. Senyum itu terlalu tulus, sehingga terlihat bahwa selama ini langit menutupinya dengan tingkah yang menyebalkan.

"Silahkan.." alia meletakkan segelas teh hangat di hadapan langit yang mengangguk.

"Kita bicara sekarang saja yah, nggak usah menunggu besok" ujar alia tenang, duduk di hadapan langit.

Langit mengernyitkan keningnya, namun ia tidak mengatakan apapun.

"Lebih cepat kita bicara, aku rasa lebih baik" sambung alia, menatap langit dalam.

Hati langit kembali menghangat, wanita di hadapannya ini memanggil dirinya sendiri dengan 'aku', seakan ingin menghapus garis pembatas antara mereka.

"Bagaimana?" Tanya alia menatap langit meminta kepastian.

Terserah kamu alia, aku ikut saja" jawab langit lembut, senyum alia kembali mengembang, dan kini terlihat sangat indah, dan itu membuat hati langit jumpalitan nggak karuan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!