Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 – Setelah Kabut Mengendap
Kabut di lembah perlahan memudar.
Formasi yang selama ini menekan mulai meredup satu per satu, meninggalkan tanah retak, bekas pertarungan, dan tubuh-tubuh yang tak lagi bergerak. Angin berhembus pelan, membawa bau darah dan qi yang belum sepenuhnya menghilang.
Ren Tao masih berlutut.
Darah menetes dari bahunya, napasnya berat, tapi ia tidak roboh. Ia menunggu.
Karena ujian belum benar-benar berakhir sebelum keputusan diumumkan.
Cahaya formasi utama menyala di langit, lalu turun membentuk lingkaran besar. Sosok para tetua muncul satu per satu, berdiri di udara dengan wajah tanpa ekspresi. Tekanan qi mereka jauh melampaui para murid.
“Ujian seleksi selesai,” suara salah satu tetua menggema.
Tidak ada sorak.
Tidak ada tepuk tangan.
Para murid yang tersisa hanya segelintir berdiri terpencar. Luka, kelelahan, dan tatapan waspada terlihat jelas di wajah mereka. Tidak ada yang saling mendekat.
Ren Tao perlahan berdiri.
Ia merasakan beberapa tatapan tertuju padanya. Bukan kagum.
Takut.
Tetua berjubah abu-abu menatap ke bawah, matanya berhenti lebih lama pada Ren Tao. “Laporkan hasil.”
Cermin formasi memantulkan bayangan. Nama-nama muncul, lalu menghilang satu per satu. Jumlah peserta yang tersisa jauh lebih sedikit dari perkiraan awal.
Saat nama Ren Tao muncul, ada jeda.
Singkat.
Tapi terasa.
“Status,” lanjut tetua itu.
Seorang tetua lain menjawab, “Murid luar. Token lengkap. Bertahan hingga akhir.”
Beberapa alis terangkat.
Wei Kang berdiri tidak jauh dari barisan tetua. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras sedikit. Ia tidak membantah.
Belum.
“Keputusan,” kata tetua berjubah abu-abu.
Udara mengencang.
“Ren Tao,” suaranya datar, “mulai hari ini, statusmu dinaikkan.”
Beberapa murid menahan napas.
“Dari murid luar… menjadi murid dalam.”
Bukan murid inti.
Tapi cukup.
Ren Tao menunduk sedikit. “Terima kasih, Tetua.”
Nada suaranya tenang.
Tidak ada kegembiraan berlebihan.
Itu justru membuat beberapa orang tidak nyaman.
Upacara selesai singkat. Tidak ada perayaan. Para murid yang tersisa segera dipisahkan dan dibawa keluar lembah. Tabib sekte datang, tapi Ren Tao menolak perawatan penuh hanya luka yang benar-benar mengancam.
Saat ia berjalan meninggalkan lembah, ia merasakan satu tatapan masih menempel padanya.
Wei Kang.
Mereka bertatapan singkat.
Tidak ada senyum.
Tidak ada ancaman langsung.
Hanya pengakuan diam-diam bahwa permainan belum selesai.
Di kediaman murid dalam, Ren Tao duduk sendirian di ruangan sederhana. Dinding batu. Satu meja. Satu alas tidur.
Statusnya naik.
Masalahnya juga.
Ia membuka balutan bahunya dan menyembuhkan luka perlahan, qi mengalir terkontrol. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru lebih jernih dari sebelumnya.
Mereka akan mengamatiku lebih ketat, pikirnya. Aturan akan lebih rapi. Serangan akan lebih halus.
Ketukan terdengar di pintu.
Ren Tao membuka mata. “Masuk.”
Seorang pelayan sekte menyerahkan sebuah gulungan. “Perintah penempatan. Mulai besok.”
Ren Tao membukanya.
Mata pelajaran dasar murid dalam.
Akses terbatas ke perpustakaan tingkat pertama.
Dan satu baris kecil di bawahnya
Pengawas langsung: Wei Kang.
Ren Tao tertawa kecil.
Pelan.
“Jadi begitu,” gumamnya.
Ia menggulung kembali kertas itu dan berdiri. Dari jendela kecil, ia bisa melihat langit sekte yang tenang, seolah tidak pernah terjadi pertumpahan darah.
Ujian sudah selesai, pikirnya. Sekarang yang dimulai adalah kehidupan sebenarnya.
Ia merapikan pakaiannya, wajahnya kembali tenang.
Kalau sebelumnya ia bertahan hidup
Mulai sekarang,
Ren Tao akan naik.
Bukan dengan kekuatan semata.
Tapi dengan kepala.
semangat terus ya...