Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolong Aku!
Beberapa hari setelah pertemuan Jemima dengan Lily, ruang ajaib itu tidak terbukla lagi. Padahal, Jemima selalu menunggu untuk masuk ke dalam ruangan itu dan bertemu dengan Lily.
Fokusnya pun kembali terpecah. Dia banyak melamun dan sulit untuk memberikan atensinya di restoran tempatnya bekerja.
"Ada apa denganmu, Jemi?" tanya Tom yang siang itu kembali memanggil Jemima untuk kedua kalinya.
Jemima tertunduk. "Aku merindukan ibuku, Tuan."
Tom terhenyak dan terdiam sesaat. "Kau sudah bertemu ibumu? Atau mungkin kau butuh waktu untuk menemui dia?"
Jemima menggeleng lemah. Dia terharu dengan ketulusan hati bosnya itu.
Dia juga bingung bagaimana menjelaskan kepada Tom tentang kondisi ibunya yang nyaris berbentuk seperti kepulan asap.
"Aku tidak bisa bertemu dengannya di dunia ini, Tuan. Terima kasih untuk tawaran Anda," kata Jemima hampir menangis.
Tom kembali terdiam, lalu menepuk pundak Jemima. "Aku turut berdukacita, Jemi."
"Bukan begitu, Tuan. Ibuku belum meninggal, tapi aku bingung bagaimana menjelaskannya. Aku hanya merindukan dia. Ibuku seperti mimpi, aku bisa melihatnya, tetapi aku tidak bisa menggapainya," kata Jemima dengan nada sedih.
Suasana kantor kecil itu kini hening dan sunyi. Tom tidak tahu harus bagaimana dan berkata apa kepada karyawannya yang paling muda tersebut.
Tom beranjak dan duduk di sisi Jemima. "Kau boleh beristirahat hari ini, Jemi. Pulang dan habiskan waktumu untuk merindukan ibumu. Apa kau perlu tambahan hari?"
Kedua mata Jemima berkaca-kaca memandang pria berusia dewasa muda itu. "Anda baik sekali, Tuan. Tapi, satu hari cukup untukku."
"Berjanjilah besok kau akan kembali bekerja dengan semangat lagi dan buktikan kepadaku juga ibumu, kalau kau seorang gadis kuat dan mandiri. Deal?" tanya Tom sembari tersenyum.
Jemima mengangguk. "Deal! Tuan, boleh aku memeluk Anda?"
Tom merentangkan kedua tangannya dan membiarkan Jemima memeluknya.
Bagi Jemima, Tom sudah seperti seorang ayah baginya.
"Terima kasih banyak, Tuan," kata Jemima.
Beberapa saat kemudian, Jemima sudah berada di ruang ganti sambil memegangi kalung dan kertas yang sudah nyaris sobek di tangannya.
"Kenapa kau tidak terbuka, Kalung Bodoh! Aku mau bertemu ibuku!" kata Jemima kesal sambil mengetuk-ngetuk liontin oval kalungnya.
Tiba-tiba saja, Kai masuk dan merebut kalung oval cantik itu.
"Apa kau yakin ibumu terkurung di dalam sini?" tanya Kai. Dia memicingkan matanya untuk meneliti kalung oval itu dan mengetuk-ngetuk dengan keras.
Jemima memberengut dan merebut kembali kalungnya. "Tidak boleh seperti itu! Kalau kau tidak bisa membantu, lebih baik kau diam, Kai!"
"Aku hanya membantu untuk menyadarkanmu kalau kehidupanmu tidak di dalam kalung itu, Jemi!" tukas Kai kesal. "Aku memerhatikanmu dan selama beberapa hari ini, kau kacau!"
Emosi Jemima pun meledak. Dia tidak terima Kai memarahinya seperti itu. "Kenapa kau peduli? Kenapa kau memerhatikanku?"
Entah bagaimana, wajah Kai memerah. Dia tergagap dan seperti kehabisan kata-kata saat hendak menjawab pertanyaan itu. "Y-ya, tentu saja karena aku temanmu, seperti Ashley juga dia khawatir, Jem."
"Aku hanya ingin bertemu ibuku, Kai. Apa itu salah?" tanya Jemima pelan. Dia terduduk di salah satu kursi panjang dan menutupi wajah manisnya dengan kedua tangan.
Kai duduk di sisinya dan merangkulnya. "Tidak ada yang salah dengan itu, Jemi. Tapi, bukan berarti hidupmu berhenti di kalung itu."
"Waktumu terus berjalan dan tidak menunggumu untuk merindukan ibumu. Kembalilah menjadi Jemima yang ceria seperti sebelumnya," kata Kai lembut.
Jemima menoleh memandang temannya itu, tetapi kedua alis matanya berkerut melihat lebam di pelipis Kai.
Tak hanya satu, ada dua sampai tiga luka memar di wajah Kai.
"Kai, apa yang terjadi pada wajahmu? Apa ini ulah ayahmu lagi?" tanya Jemima sambil memeriksa wajah Kai dengan seksama.
Kai tersenyum dan mengusap salah satu memar di wajahnya. "Ah, ini. Sudah biasa. Tapi, luka-luka ini sudah sedikit mengering, kok. Tenang saja."
"Tapi, ... Maafkan aku karena aku tidak memerhatikanmu, Kai," kata Jemima dengan perasaan bersalah.
Kai mengusap pucuk kepala Jemima. "Tidak masalah. Berjanjilah kepadaku, kau akan melanjutkan hidupmu tanpa menunggu ruangan itu terbuka lagi."
"Oke, tapi kau juga harus berjanji kepadaku kalau ayahmu jahat, mau harus segera ceritakan kepadaku tanpa peduli apa pun kondisiku," pinta Jemima.
Mereka saling berjanji dan saling mengaitkan jari kelingking satu sama lain.
Sementara Jemima berusaha untuk melanjutkan hidup dengan melupakan Lily Wood, Kai justru terperangkap dalam kehidupan pahit bersama Jeff, ayahnya.
"Kai! Kai! Ke mana lagi ibumu itu?" tanya Jeff suatu malam.
Kai hanya menghela napas dan mengangkat bahunya. "Aku tidak tau, Ayah."
Tiba-tiba saja, tangan Jeff sudah mendarat kencang di belakang kepala Kai dan membuat pemuda itu jatuh tersungkur.
"Jangan berbohong! Ibumu hanya memberi kabar kepadamu!" kata Jeff menuntut.
Kai melemparkan ponselnya. "Ayah bisa periksa sendiri apa ibu sudah memberi kabar hari ini atau belum! Silakan! Untuk apa aku berbohong, Ayah? Tidak ada untungnya aku berbohong atau tidak."
Jawaban Kai membuat dia mendapatkan satu pukulan lagi dari ayahnya. "Jangan kurang ajar!"
Lagi-lagi tubuh kurus Kai tersungkur. Namun, dia tetap diam.
Saat itu, Kai sudah merasa lelah. Dia lelah untuk melawan, dia lelah untuk membalas, bahkan dia lelah untuk berdebat dengan ayahnya.
Kalau menurut Jeff, dirinya anak kurang ajar, ya sudahlah! Mungkin dia memang anak kurang ajar.
Pukulan demi pukulan dilayangkan Jeff ke arahnya.
Rasa sakit, pedih, membuat Kai kehilangan kesadaran malam itu.
Kegelapan mulai memeluknya dan semua rasa sakit itu perlahan menghilang.
Entah berapa lama, Kai membuka kedua matanya. Dia berada di sebuah ruangan berwarna ungu putih dan ... "Jangan ruangan ini lagi!"
Kai berdiri dan wajahnya segera bertemu dengan cermin bulat. Dia melihat pantulan nenek Golda dalam cermin itu sedang melambaikan tangan ke arahnya. "Kenapa Nenek selalu berada di dalam cermin? Apa Nenek tidak mau keluar dari sana? Hhh, sudahlah!"
Dia menyeret kedua kakinya untuk duduk. Namun, betapa terkejutnya dia ketika menyadari ruangan itu sudah berubah menjadi sebuah kafe.
"Benar kata Jemi, ruangan itu semakin bertumbuh. Tapi, untunglah hari ini sepi," kata Kai, lalu dia duduk di kursi biasa Jemima duduk melayani tamu.
Tiba-tiba saja, sebuah bayangan putih muncul begitu saja dan melayang mendekati Kai.
Kai terkejut dan mundur dengan cepat. "A-apa itu!"
"Kau teman Jemima? Di mana dia?" tanya bayangan putih itu dengan suara parau tak jelas.
Perlahan, Kai maju mendekat. Dia memerhatikan wajah di balik bayangan yang menyerupai kepulan asap itu.
Wajah itu cantik dengan bulu mata lentik dan mata bulat sempurna.
Sekilas wajah itu seperti Jemima, lalu Kai tersentak. Dia teringat sesuatu. "K-ka-, ... Maksud saya, Anda Lily Wood?"
Bayangan putih itu mengangguk. "Ya, di mana Jemima?"
"Dia di luar. Oh, maksud saya, dia sedang berada di rumahnya karena kami baru saja selesai bekerja. Lalu, Anda ini apa?" tanya Kai bingung.
Bayangan itu mengeluarkan kedua tangannya dan menggenggam tangan Kai dengan kencang.
Kai merasakan sensasi dingin yang aneh saat mereka bersentuhan.
"Tolong, keluarkan aku dari sini!" kata bayangan itu, hampir menangis.
***