sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mimpi itu
Di sebuah taman yang dipenuhi bunga, damai. Hingga langkah kaki terdengar mendekat. Terasa terus mendekat hingga telingaku amat berdengung dengan langkah kakinya .
Tab tap tap ,… bunyi langkah semakin jelas terdengar.
“ Hai Tuan Putri. Jangan menangis lagi! Putri raja tak seharusnya cengeng seperti ini. Aku akan terus bersamamu sampai kapanpun jangan merasa sedih karena aku tak pernah ada di sampingmu, akan aku jaga putri raja dari tempatku berada sekarang.” orang itu bersuara sambil mengelus surai rambutnya dengan tersenyum. Tapi tatapannya sendu.
“ raja kenapa tinggalkan tuan putri, aku marah, sedih raja. Bolehkah tuan putri ikut raja?” dengan sedih aku berkata padanya sambil memelas.
“ belum waktunya kamu ikut putri, jangan sedih jaga dirimu baik baik tuan putri, raja pamit ya” jawabnya sambil berjalan menjauhi ku.
“ tidak jangan pergi" aku berteriak sambil mengejarnya yang pergi meninggalkanku
“ tidak saat ini aku harus pergi jaga dirimu baik baik tuan putriku!” dengan tersenyum dia menoleh dan melambaikan tangan padaku
"Jangan pergi" Tapi cahaya putih itu menelannya.
Dengan nafas yang memburu aku terbangun dari mimpiku. Aku terduduk dengan keringat yang bercucuran. Aku bergumam sambil meraih gelas di meja sampingku tidur.
“ huft,… lagi aku kembali bermimpi”
Aku bangkit berdiri dan berjalan ke balkon kamarku, terasa hembusan angin malam yang menusuk. Melihat bintang bintang yang menghias indah di cakrawala.
"Rajaku,..
Kau terasa seperti bintang, terlihat tak ku genggam
Dalam pandang yang jauh terasa ku menemukan dirimu" Batinku.
“ aku harus jadi gadis yang tangguh, ayah selalu bilang bahwa tak semua gadis itu lemah. Aku harus mampu menjadi apa yang dia mau, ayah dulu hidupku telah bergantung padamu kini sudah waktunya aku harus berdiri tanpa penopang sepertimu.” aku berucap untuk menguatkan diriku sendiri sambil menyeka sisa air mataku.
Udara balkon yang dingin sebagai saksi bahwa aku kini semakin rindu akan kehadirannya, dan aku berterimakasih pada bintang yang bersahabat malam ini. Mimpi buruk yang telah menghantuiku 5 tahun belakangan ini terus menerus aku alami. Andai aku bisa tidur dengan tenang tanpa mimpi buruk itu.
“ huh,,, malam semakin larut sebaiknya aku mencoba tidur kembali” sambil berjalan ke arah kamar
Jarum jam terus berdetak dan hari semakin larut suara hewan malam yang bersautan yang menjadikan ketakutan tersendiri. Tetapi, mata tak pernah bisa tertutup. Aku bangkit dari tempat tidurku. Aku membuka laci itu lagi. Kosong, dadaku mengencang.
“ kemana, harusnya ada di sini” aku mencarinya sambil meracau karena apa yang ku cari tidak ku temukan.
Sepertinya malam ini aku tak bisa tertidur sampai pagi, selama menungu pagi aku hanya bisa memandang langit langit kamar dengan ornament bintang- bintang.
Aku adalah penyuka bintang daripada rembulan. Aku takut jadi rembulan sendirian tanpa siapapun. Setiap aku melihat bulan seperti aku melihat diriku sendiri.
Hari pagi yang kutunggu kini tiba, aku bergegas bangkit untuk mandi bersiap siap berangkat ke sekolah. Mata panda yang aku coba sembunyikan pun kini masih terlihat. Dengan santai aku berjalan kebawah untuk makan, aku masih takut atas peristiwa kemarin malam.
“ Hai sayang, sini duduk! ayo makan? Sudah ku siap kan nasi goreng kesukaanmu” perhatian mama kepadaku membuat aku bertanya tanya. Aku masih berada di ujung tangga bergegas menghampirinya . Aku sedikit lega Karena apa yang ku khawatirkan tak terjadi. Aku rindu sifat hangat saat ini, dengan tersenyum enggan aku duduk di depannya makan sambil diam.
Di tengah aku makan mama meletakkan sebuah botol tabung yang kemarin aku cari. Tanganku gemetar memegang sendok mengingat semalam.
“ Ma, dari mana mama mendapatkannya?” dahiku mengernyit tanda kebingungan yang sedang aku alami.
“ Tak perlu kamu tahu mama mendapatkan dari mana yang terpenting sekarang mama mau Tanya . jawab dengan jujur?” tegasnya membuatku menegang.
“ Sejak kapan?” perkataannya di tekankan membuatku kalang kabut, lidahku keluh .
“ 3 bulan lalu, saat aku kembali mimpi itu kembali. Aku membutuhkan ya ma” dengan tenang aku menjawab tak ingin memancing amarahnya.
“ Kenapa? Harusnya bilang sama mama. kita lakukan terapi kembali sayang” mama mulai mengubah mimik wajahnya agar aku tidak takut kepadanya walaupun melihatnya terkesan sedang terpaksa.
“ Maaf ma, kurasa mama tak ada waktu untuk itu” aku menjawabnya sambil berdiri berlalu meninggalkannya.
“ Habiskan makananmu, mama antar ke sekolah sekarang.” mama berkata tanpa bantahan membuatku menoleh padanya.
“ Tak perlu Nala menungguku di depan.” aku menjelaskan bahwa ada yang menungguku di depan rumah.
Aku terus berjalan ke halaman rumah untuk menemui Nala yang menunggu untuk berangkat bersama. Terlihat mobil Nala dengan cirinya yang unik dan bewarna kuning. Tipe penyuka warna kuning, semua barangnya dominan dengan warna kuning. Aku membuka pintu mobilnya dan bergegas duduk di sampingnya.
“ Jalan sekarang La?” dia bertanya sambil menghidupkan kuda besinya.
“ Yahh, jalan sekarang aja keburu siang.” tidak seperti biasanya aku menyahutinya tanpa menatapnya. Sahabatku faham bahwa moodku kali ini tidak bisa di sepelekan.
Line,.. ( bunyi dari hp Nala).
“ Hp lo bunyi tuh.” mataku memandang bendah pipih yang ada di genggamannya.
“ Yah bentar gue lihat dulu.” dengan tangan sebelah dia membuka hp mahalnya.
Tante Reta.
Nala boleh tante nanti bertemu denganmu, nanti tante tunggu kamu sepulang sekolah di kafe biasanya kita bertemu
Nala membaca pesan dari mama sahabatnya yang ada di sampingnya. Seperti ada hal penting yang ingin di bicarakan dengannya. Nala seorang gadis yang tak pandai menyembunyikan sesuatu. Dia yang berada di samping Nala bisa menebak jika sahabatnya sedang menyembunyikan sesuatu.
“ kenapa Na, kok kamu kayak bingung? Apa yang membuatmu kebingungan?” aku bertanya tanpa melihatnya, tatapanku lurus ke jalan tapi pikiranku mulai bertanya tanya.
“ Enggak nanti pulang sekolah bunda minta di temenin belanja.” dia menjawab dengan gusar. Aku tahu ada yang di sembunyikan olehnya dia berbohong, tapi untuk memaksanya mengatakan sangatlah tidak mungkin aku tahu batasan ku.
“ Ohh, yaudah fokus dulu aja ke jalan nanti kita lanjutkan” aku menyuruhnya untuk kembali fokus berkendara.
“ Ya La jalanan mulai ramai, ehh lo gak tidur lagi semalam, mata lo udah kayak panda tuh?” dia melontarkan pertanyaan padaku, tanganya lihat membelok kan benda bulat di genggamannya.
“ Ahhh, biasa maraton drakor semalaman.” aku berbohong padanya tentang semalam.
“ Sampai kapan La, lo sembunyikan dukamu sendiri, percayalah aku akan membantumu.Gue temen lo kan, gue sayang sama lo La.” dia dengan santainya menyahutiku karena kebohonganku.
“ Apa yang ingin lo pertanyakan simpen aja dulu Na, udah siang ini agak cepat dong.” Dengan mengalihkan perhatiannya aku menjawabnya. Aku semakin duduk gusar di sampingnya, arah pembicaraannya mulai membuatku tidak nyaman.
Nala menuruti perkataanku karena bagamana pun nantinya yang ada sampai siang pun tak akan pernah aku jawab dengan jujur. Dia sudah tahu tabiatku dari dulu, selama dia mengenalku aku tak pernah sedikitpun terbuka atas apa yang aku rasakan. Aku hanya mampu berceloteh ria dengan membahas hal hal yang tak jelas.
Sesampainya di sekolah seperti biasa pandangan mereka yang meremehkanku, seperti biasa setiap harinya mereka memandangku seperti itu akibat berita yang beredar bahwa aku kekasih Sang Delta yang di harumkan. Berbagai prestasi yang di ukirnya, walaupun sikap dinginnya terhadap semua orang, tak surut para penggemarnya. Karena dia perduli akan keadilan, bukan sosok yang suka penindasan.
Tanpa kurang rasa percaya diriku, aku berjalan dengan tegap walaupun terkadang aku seakan ingin menghilang. Karena aku adalah orang yang anti dengan keramaian.
“ Kamu baik baik saja?” pertanyaan Nala terdengar sangat kecil di tengah keributan teman temanya di pagi hari ini. Nala tahu bahwa aku sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.
“Yahhh,,,.. Aku baik baik saja. Tak masalah sudah makanan tiap hari juga lo masih aja khawatir, lagian gue gak akan pingsan disini juga kali.” aku memutar bola mataku malas menjawabnya.
“ Permisi, gue mau lewat???” celetuk seseorang dari belakang, tanpa terasa aku telah berhenti di tengah jalan yang ada di lorong kelas bawah.
“ ehmm, maaf. ” tak enak hati aku menjawabnya sambil menyingkir dari jalan menyeret Nala untuk segera pergi karena dia mendengar suara yang sangat dikenalnya.
“ La, ngapain berhenti di sini, yok jalan lagi!!!” ajaknya saat aku tiba-tiba berhenti dan menoleh kebelakang melihat punggung seorang itu yang mulai menjauh.
Dia datang di saat yang tidak tepat, dan sekarang lebih baik aku tenggelam kerawa rawa saja dari pada di tatap dengan mereka seperti ingin menelanku hidup hidup. Penasaran kan siapa yang datang, dia Sang pangeran yang di idam idam kan oleh mereka yaitu Al, sosok kakak kelas yang dingin dan tertutup, sejak setahun belakangan ini dekat denganku.
Dulu aku tak sedikitpun mengenalnya, biarpun para penggemarnya selalu berteriak pagi pagi saat dia jalan di lorong sekolah ini. Sampai akhirnya dia datang menawarkan pertolongan padaku.
Aku masih ingat hari itu. Hujan turun dengan begitu deras aku pernah berdiri di tepi jembatan yang amat tinggi. Awal niatnya aku hanyalah ingin menenangkan diri, tapi aku mulai mempunyai pikiran yang nekat, aku ingin melompat pada di jembatan itu.
Waktu itu, aku gagal masuk sekolah impianku. Aku berpikir bahwa nilai itu sudah tak penting, tiada hadiah dan pujian dari Sang rajalah yang membuatku bodoh amat akan nilaiku.
Hingga, hari itu tiba saat aku mengalami penyesalan. Aku di tolak menjadi salah satu murid di sekolah yang amat bergengsi itu, di sana adalah sekolah yang aku idam idamkan sekolah yang amat berkualitas tinggi. Kini pun semua menertawakanku dengan nilai seperti itu, dulu mereka yang berbaik hati denganku kini semakin membuliku. Tinggal loncat pun aku akan terjun bebas hari itu, tapi dialah orang yang menggagalkan itu semua, Al berteriak dari belakangku.
“ Berrrheenttiiii, jangan kamu bergerak” aku menoleh dan menatapnya dengan tajam.
“ Untuk apa kamu menghentikan ku, hidupku kini tiada arti, semua berubah, aku kehilangan semuanya” aku berteriak kembali kepadanya, menolehkan kepalaku melihatnya.
“ Jangan jadi orang bodoh yang menyia nyiakan masa hidupnya hanya karena masalah yang kamu hadapi, kamu adalah satu orang bodoh yang pernah aku temui” teriaknya lagi sambil was was jika aku melompat detik itu juga.
“ Atas dasar apa kamu mengatakan itu, yah aku adalah orang yang amat bodoh, menyia nyiakan segalanya” dengan kesal aku menyahutinya.
“ Sekarang coba kamu turun dari situ!" Dia mendekat ke arah ku "Pikirkan apa kemungkinannya jika kamu nekat melompat dari sana? Apakah kamu akan langsung mati meninggalkan keluargamu atau kamu akan terbawah arus, terluka dan di temukan orang asing di desa sebrang sana” dia mencoba memberikan pemikirannya padaku.
“ ayo kita berbicara dengan tenang jangan kamu berdiri di situ, nanti kamu akan jatuh tanpa kamu inginkan". Dia berulang mencoba negoisasi denganku.
Seakan apa yang dia bilang adalah kenyataan, kakiku tergelincir dari pijakanku, mungkin karena hujan yang sekarang mengguyur kami berdua di kegelapan malam. Aku di tariknya sebelum aku mulai jatuh ke bawah jembatan dan terseret arus sungai yang deras di bawah.
“ tolong aku!” teriakku memohon padanya. Dengan susah payah dia membantuku naik dari sana. Sangatlah sulit aku bertahan dengan posisi seperti itu, tanganku yang mulai sakit, aku ingin menyerah tapi dia yang tak kukenal rela mengulurkan tangan menolongku hingga aku bisa naik keatas.
“ jangan sekali kali kamu mencoba seperti itu lagi. Jangan mempermainkan nyawamu, tuhan dengan sukarela memberikanmu nyawa sampai saat ini dan ini yang kamu balaskan. Semua orang punya sesal masing masing, cobalah kendalikan dirimu.” dia berkata dengan wajah datarnya.
“ maaf, aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku sakit.” Jawabku dengan menunduk merasa salah dengan perbuatanku.
“ aku akan melakukan hal hal bodoh saat emosiku tidak stabil” terangku padanya dengan ekspresi wajah merasa bersalah.
"Aku bukan orang gila,” kataku lirih.
“Aku hanya menderita penyakit mental. Trauma masa lalu.” Tutur ku karena sepertinya dia berfikir aku gila.
“ aku menderita penyakit itu saat kami sekeluarga mengalami kecelakaan, Ayahku koma berhari hari, kondisiku baik baik saja hanya luka kecil dan mama tangannya yang harus di gips.
"Siang itu, saat aku pulang dari sekolah aku amat terburuh buruh ingin menjenguknya. Tapi, sesampaiku dirumah aku melihat hal yang tak ku inginkan. Kejadian kecelakaan itu cukup membekas dalam ingatan, ayah yang merelakan dirinya terluka guna melindungiku dari hantaman keras harus mengalami hal seperti itu, dan parahnya harapanku untuk dia sembuh sirna dengan siang itu, aku menyalakan diriku sendiri hingga aku seperti ini. Yah,,, dan sekarang aku mengingat itu kembali” aku menceritakan kejadian pedih masa lalu dengan air mata yang ikut luruh di setiap kata yang aku ucap.
“ itu bukan kesalahanmu, cepat atau lambat kamu harus bisa menerimanya, Alga Mahensa Putra namaku, panggil saja Al" Dia menjulurkan tanganya kepadaku mengajakku berkenalan.
“ Ila, cukup panggil itu saja, maaf pertemuan pertama yang buruk” aku menjabat tanganya sambil memberi tahu namaku. Aku menatapnya, dia terlihat tampan tapi wajahnya terlalu dingin.
“ tidak usah dipikirkan sekarang ikut aku akan ku antar kamu pulang” dia genggam tangan ku. Membuat hatiku berdesir dan aku di buat ling lung sesaat. Tapi wajah itu tetap tanpa ekspresi.
“ Heh,.. kok ngelamun, ayok jalan udah bel tu.!” Ajak Nala sekali lagi saat
aku asyik ngelamunin tentang awal pertemuanku dengannya menjadi begini, aku sadar dari lamunanku.
“ Ayo, kita jalan sekarang” aku menjawab sambil melangkah di ikutinya dari belakang.
Sekarang aku tak memikirkan apa kata mereka yang kuinginkan sekarang cepat pergi dari sini. Karena kenyamanan ku berdiri di tengah tengah mereka dengan seorang Al hanyalah mimpi bagiku. Pandangan mereka yang menilai ku seakan menjadi penentu.
Aku berjalan menjauh, meninggalkan lorong itu dan juga perasaan yang tak pernah berani aku akui.
****
To be continued!!!