Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17. "Rahasia Apa Yang Disembunyikan Oleh Pak Tirta?"
Percakapan mereka ini membuat Dokter Wira semakin penasaran tentang apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Pak Tirta. Dia tidak bisa tidak bertanya bahkan mengulik rahasia lebih jauh,"Tirta, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu begitu rahasia tentang ini? Apa yang kamu sembunyikan dari kami?"
Pak Tirta tersenyum tipis, "Wira, aku hanya ingin melindungi Shanaya dari marabahaya. Aku ingin dia memiliki masa depan yang cerah, tanpa beban rahasia yang berat..."
Dokter Wira mengangguk, "Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi aku berharap kamu tahu apa yang kamu lakukan ini justru tidak akan membantu Shanaya sama sekali..." ucapnya sembari menepuk bahu pak Tirta
Pak Tirta tersenyum tipis, "Wira, apa kau mengingat Renata. Musuh bebuyutan Shania?" ucapnya lirih
Dokter Wira mengangguk, "Renata? Yah...aku ingat dia. Dia sangat berbahaya, Tirta..."
Pak Tirta pun mengangguk, "Ya, Wira. Renata tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku khawatir dia akan mencari Shanaya, sekarang jika mengetahui bahwa dia memiliki DNA Jathayu..."
Dokter Wira mengangguk, "Kita harus waspada dan siap menghadapi apa pun yang Renata lakukan. Untuk itu kita harus bisa menjaga dan mengawasi Shanaya dari jarak jauh..."
Obrolan mereka pun semakin jauh dan banyak hal yang mereka bahas mengenai Shanaya yang memang sudah waktunya untuk mengetahui jati dirinya.
...****************...
Sementara disisi lain saat ini Shanaya bersama geng Garuda tengah asyik merayakan kemenangan balap motor mereka kemarin. Setelah puas merayakan hari kemenangannya itu mereka pun memutuskan untuk pulang.
Bintang yang sudah tiba di rumahnya itu pun mengirimkan pesan ke grup WhatsApp geng Garuda: "[Hai guys, besok ssiang kita mulai tugas kewirausahaan dirumah gue aja gimana?]"
Shanaya membalas: "[Oke, Bintang. Siap. Apa yang harus kita bawa nih?]"
Bintang menjawab: "[Cukup bawa buku dan materi yang kita bahas di kelas kemaren itu aja. Gue udah siapin makanan dan minuman banyak. Jangan lupa datang tepat waktu, ya!]"
Geng Garuda lainnya juga membalas dengan konfirmasi kehadiran:
- Ray: "[Oke, Bintang. Aku siap...]"
- Joe: "[Siap, Bintang...]"
- Felix: "[Gue bawa cemilan, ya?]
- Thalia: "[Gue siap, Bintang...]"
- Nathaniel: "[Oke, Bintang. Besok gue bakal dateng]"
Bintang tersenyum membaca pesan-pesan itu.
'Semuanya siap, akhirnya kita bisa belajar kelompok bareng!' gumamnya dalam hati
...****************...
Shanaya terbaring di tempat tidurnya, mata tertutup, dan mulai bermimpi. Dalam mimpinya, dia melihat sosok ibunya, Shania, berdiri di depannya dengan senyum lembut.
"Shanaya, anakku," ucap Shania dengan suara yang lembut
"Aku harus memberitahu kamu sesuatu yang penting padamu..." imbuhnya
Shanaya merasa hatinya berdebar, "Bunda, apa itu?" tanyanya ragu
Shania mengambil napas dalam, "Ada dua jenis Jathayu di dunia ini, Shanaya. Black Angel dan White Angel. Mereka telah bermusuhan selama ribuan tahun, dan sekarang konflik mereka semakin memanas..."
Shanaya merasa terkejut, "Apa? Kenapa mereka bermusuhan?"
Shania melanjutkan, "Black Angel ingin menggunakan kekuatan Jathayu untuk menguasai dunia, sedangkan White Angel ingin melindungi manusia dan menjaga keseimbangan alam. Kamu, Shanaya, adalah keturunan White Angel, dan kamu memiliki kekuatan untuk mengubah takdir dunia..."
Shanaya merasa hatinya dipenuhi dengan pertanyaan, "Tapi, bunda... apa yang harus aku lakukan?"
Shania tersenyum, "Aku tidak bisa memberitahu kamu, Shanaya. Kamu harus menemukan jalanmu sendiri. Tapi aku akan selalu ada untuk kamu, dalam hati dan jiwa kamu..."
Shanaya terbangun dari mimpinya, napasnya terengah-engah. Dia merasa seperti baru saja mengalami sesuatu yang nyata.
Shanaya masih mencoba memproses mimpinya yang begitu nyata. Dia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Air dingin membantu dia untuk lebih sadar, tapi pertanyaan-pertanyaan masih berputar di kepalanya.
Apa artinya semua ini? Apa yang dimaksud ibunya dengan Black Angel dan White Angel? Dan apa kekuatan yang dia miliki?
Shanaya mengambil napas dalam dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia bangkit dari tidurnya untuk mengambil segelas air putih agar perasaannya lebih tenang.
Shanaya dan Zaneta saling berhadapan di koridor kampus, mata mereka saling menatap dengan kilatan penuh kebencian. Sudah lama mereka bermusuhan, dan Shanaya tidak tahu apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi.
"Loe pikir loe lebih baik dari gue, Shanaya?" Zaneta memecahkan keheningan dengan suaranya yang keras
"Loe pikir loe bisa ngambil perhatian dari semua orang hah?" ucapnya sarkas
Shanaya menggelengkan kepala, "Gue gak pengen ribut sama loe, Zaneta..." jawabnya tegas
Zaneta tertawa, "Gak usah munafik deh loe jadi orang Shan..." ucapnya
Shanaya merasa marah, tapi ia mencoba untuk tidak menanggapi. Ia tahu bahwa Zaneta hanya ingin memancingnya.
"Gue gak tahu apa yang ngebuat loe begitu benci sama gue, Zaneta," Shanaya berkata dengan tenang. "Tapi gue pengen kita bisa akur..."
Zaneta menggelengkan kepala, "Loe gak akan pernah bisa ngerti gue, Shanaya. Gue akan selalu ngebenci loe, dan akan selalu menang..."
Shanaya menghela napas, "Gue gak pengen bermusuhan sama loe, Zaneta. Tapi kalo itu yang loe mau, gue gak bisa berbuat apa-apa..."
Zaneta tersenyum sinis, "Loe gak bisa berbuat apa-apa? Kita lihat aja nanti Shan, gue bakal kalahin loe!" ucapnya penuh ancaman
Thalia melangkah maju, mata coklatnya yang tajam menatap Zaneta dengan tegas.
"Zaneta, cukup," ucapnya dengan suara yang dingin dan tetap tenang
"Gak perlu loe ngejek Shanaya kayak gitu..."
Zaneta mengalihkan pandangannya ke Thalia, senyum sinisnya masih terukir di wajahnya.
"Oh wow, Thalia. Jadi loe dateng untuk ngebela si Shanaya ini?" ucapnya dengan nada mengejek
Thalia tidak terpengaruh dengan nada bicara Zaneta.
"Gue gak ngebela Shanaya..." ucapnya dengan suara yang lantang
"Gue ngebela karena apa yang loe lakuin gak adil. Shanaya gak pernah berbuat salah ke loe..."
Zaneta tertawa, "Gak adil? Ha! Loe gak tahu apa-apa tentang gue dan Shanaya. Ini gak ada hubungannya sama keadilan..."
Thalia melangkah lebih dekat ke Zaneta, matanya tidak lepas dari wajah Zaneta.
"Gue gak peduli apa yang terjadi di antara loe dan Shanaya," ucapnya dengan suara yang tegas
"Tapi gue gak akan ngebiarin loe nyakiti Shanaya. Dia teman gue..."
Shanaya terkejut dengan pembelaan Thalia. Ia tidak menyangka Thalia akan membelanya seperti itu. Ia merasa sedikit tersentuh, tapi juga sedikit tak enak hati karena Thalia harus membelanya.
"Thalia, gak perlu..." ucapnya lembut
Tapi Thalia tidak peduli. Ia terus menatap Zaneta dengan mata yang tajam.
"Zaneta, gue peringati loe. Jangan pernah nyakiti Shanaya lagi. Kalo gak, loe bakal berurusan sama gue..."
Setelah konfrontasi dengan Zaneta, Thalia dan Shanaya berjalan menuju ruang kelas Sastra A1. Mereka berdua duduk di bangku depan, siap untuk memulai mata kuliah Sastra dalam dunia seni yang diajarkan oleh Bu Kartika.
Bu Kartika, seorang dosen sastra yang cantik dan berwibawa, memasuki ruang kelas dengan senyum yang hangat.
"Selamat pagi, anak-anak! Hari ini kita akan membahas tentang simbolisme dalam seni. Saya berharap kalian semua sudah membaca materi yang telah saya berikan sebelumnya..."
Shanaya dan Thalia saling menatap, keduanya sudah siap untuk memulai diskusi. Bu Kartika mulai menjelaskan tentang simbolisme dalam seni, dan bagaimana seniman menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan pesan-pesan yang lebih dalam.
"Simbolisme dalam seni dapat berupa objek, warna, atau bahkan bentuk yang memiliki makna yang lebih dalam daripada apa yang terlihat secara literal," jelas Bu Kartika
"Contohnya, burung merpati dapat melambangkan perdamaian, sementara ular dapat melambangkan kebencian atau ketakutan..."
Shanaya dan Thalia mendengarkan dengan saksama, keduanya tertarik dengan topik yang dibahas. Mereka berdua mulai berdiskusi tentang simbolisme dalam seni, dan bagaimana mereka dapat mengaplikasikannya dalam karya-karya mereka sendiri.
Tiba-tiba, Zaneta yang duduk di belakang mereka berbicara dengan nada yang sedikit keras.
"Saya tidak setuju dengan pendapat Bu Kartika. Simbolisme dalam seni itu subjektif dan tidak ada makna yang pasti..."
Bu Kartika menatap Zaneta dengan senyum yang hangat.
"Zaneta, pendapatmu sangat menarik. Namun, simbolisme dalam seni memang dapat subjektif, tapi ada juga makna-makna yang umum diterima oleh masyarakat. Apakah kamu ingin membahas lebih lanjut tentang hal ini?"
Zaneta berdiri dari tempat duduknya, matanya menantang Bu Kartika. "Saya tidak setuju dengan pendapat Bu Kartika. Simbolisme dalam seni itu subjektif dan tidak ada makna yang pasti. Artinya bisa berbeda-beda tergantung pada perspektif orang yang melihatnya..."
Bu Kartika mengangguk, "Saya paham pendapatmu, Zaneta. Namun, simbolisme dalam seni juga dapat memiliki makna yang umum diterima oleh masyarakat. Contohnya, warna merah dapat melambangkan cinta atau keberanian di banyak budaya. Apakah kamu tidak setuju dengan hal itu?"
Shanaya dan Thalia saling menatap, keduanya penasaran dengan bagaimana Zaneta akan menjawab.
Zaneta tersenyum penuh percaya diri, "Saya tidak setuju. Warna merah juga dapat melambangkan kemarahan atau bahaya di beberapa konteks. Jadi, bagaimana kita bisa menentukan mana yang benar?"
Bu Kartika tersenyum, "Itulah keindahan dari simbolisme dalam seni, Zaneta. Makna dapat berbeda-beda, tapi itu juga yang membuat seni menjadi kaya dan menarik. Shanaya, apa pendapatmu tentang hal ini?"
Shanaya merasa dipanggil, "Saya setuju dengan Bu Kartika. Simbolisme dalam seni dapat subjektif, tapi ada juga makna-makna yang umum diterima oleh masyarakat. Dan itu juga yang membuat seni menjadi menarik, karena kita dapat memiliki interpretasi yang berbeda-beda..."
Bu Kartika mengangguk, "Saya setuju dengan Shanaya. Simbolisme dalam seni memang dapat memiliki banyak lapisan makna, dan itu yang membuat seni menjadi kaya dan menarik. Thalia, apa pendapatmu tentang hal ini?"
Thalia tersenyum, "Saya setuju dengan Shanaya dan Bu Kartika. Simbolisme dalam seni dapat subjektif, tapi ada juga makna-makna yang umum diterima oleh masyarakat. Dan itu juga yang membuat seni menjadi menarik, karena kita dapat memiliki interpretasi yang berbeda-beda..."
Zaneta masih terlihat tidak puas, "Tapi bagaimana kita bisa yakin bahwa interpretasi kita benar?"
Bu Kartika tersenyum, "Itulah keindahan dari seni, Zaneta. Tidak ada jawaban yang benar atau salah. Yang penting adalah kita dapat memahami dan menghargai karya seni tersebut dengan cara kita sendiri..."
Kelas pun akhirnya diakhiri oleh bu Kartika, Zaneta menggumpulkan barang-barangnya dengan gerakan yang kasar, masih terlihat tidak puas dengan jawaban Bu Kartika. Shanaya dan Thalia saling menatap, keduanya tahu bahwa Zaneta masih merasa kesal.
"Hey, Zaneta, jangan kesal gitu," ucap Thalia menggoda vilain nya sendiri
Zaneta hanya menggeleng, "Gue gak kesal, gue cuma gak setuju dengan pendapat kalian..."
Bu Kartika menghampiri mereka, "Zaneta, saya tahu kamu masih memiliki pertanyaan. Jangan ragu untuk datang ke kantor saya jika kamu ingin membahas lebih lanjut tentang simbolisme dalam seni..."
Zaneta mengangguk singkat, tapi Shanaya bisa melihat bahwa gadis itu masih tidak puas. Kelas sudah diakhiri, dan mahasiswa mulai meninggalkan ruang kelas. Shanaya, Thalia, Zaneta dan semua mahasiswa mahasiswi lainnya berjalan keluar bersama, suasana sedikit tegang.
Bersambung...