Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Nama
Suara rintik hujan yang menghantam jendela kaca besar di ruang tamu kediaman keluarga Bramantyo terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran. Di dalam ruangan itu, udara terasa berat, seolah oksigen telah dihisap keluar oleh ketegangan yang menggantung di antara empat orang yang ada di sana.
Aira Kirana duduk di sofa beludru yang warnanya sudah mulai pudar. Ia melipat tangannya di dada, mencoba menahan getaran di jemarinya yang dingin.
Di seberangnya, Bramantyo, sang ayah, tampak seperti pria yang telah kehilangan jiwanya. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan. Ia terus-menerus menyesap kopi hitam yang sudah dingin, matanya tidak berani menatap langsung ke arah putri keduanya itu.
Di sampingnya, Ibu—Ratna—sibuk memoles kuku dengan gerakan gelisah, sebuah upaya sia-sia untuk mempertahankan martabatnya yang sudah hancur bersama tumpukan utang judi dan kegagalan investasi.
"Aira," suara Bramantyo akhirnya memecah keheningan.
Suaranya serak, penuh dengan beban yang sengaja ia timpakan ke pundak anaknya.
"Kau tahu kondisi kita. Perusahaan sudah di ambang pailit. Rumah ini... rumah yang kau tempati sejak kecil ini, akan disita dalam waktu empat puluh delapan jam."
Aira tidak bergeming. Ia sudah mendengar pidato ini selama tiga bulan terakhir.
"Lalu? Apa hubungannya denganku, Yah? Bukankah Aina yang selalu Ayah persiapkan untuk menjadi 'penyelamat' keluarga dengan koneksi sosialitanya?"
Mendengar nama saudarinya disebut, Aira melirik ke sudut ruangan. Aina, saudari kembarnya yang identik namun memiliki sifat yang bertolak belakang, sedang berdiri di dekat jendela.
Aina mengenakan gaun sutra mahal, kontras dengan Aira yang hanya memakai kaos polos dan celana jins. Aina tampak sedih, tapi Aira bisa melihat binar kepuasan yang tersembunyi di balik matanya yang sembab.
"Ini bukan tentang Aina," sahut Ratna dengan nada tajam yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Pihak yang ingin membantu kita... dia tidak menginginkan Aina. Dia secara spesifik meminta dirimu, Aira."
Aira mengerutkan kening. "Menginginkanku? Siapa? Dan dalam kapasitas apa?"
Bramantyo meletakkan cangkirnya dengan denting yang keras.
"Aristhide Malik. Dia pengusaha sukses yang baru saja mengakuisisi sebagian besar utang Ayah. Dia menawarkan kesepakatan. Utang kita dianggap lunas, dan rumah ini tetap milik kita, asalkan... asalkan kau bersedia tinggal bersamanya sebagai... jaminan."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aira. Kalimat itu menggantung di udara seperti vonis mati. "Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
"Melayaninya?" Aira berdiri, suaranya naik satu oktav. "Kalian benar-benar gila. Aku bukan barang dagangan! Aku punya kehidupan, aku punya impian!"
"Impianmu tidak akan membayar tagihan listrik rumah ini, Aira!" balas Bramantyo, kini ia juga berdiri dan menatap Aira dengan amarah yang dipicu oleh rasa malu. "Selama ini kau hanya menjadi beban. Kau tidak pernah membantu bisnis keluarga seperti yang dilakukan Aina. Kau selalu sibuk dengan buku-buku dan lukisanmu yang tidak berguna itu. Sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidupmu, jadilah anak yang berguna!"
Aira menatap ayahnya dengan rasa tidak percaya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang membara. Ia menoleh ke arah Aina.
"Dan kau? Kau diam saja melihat saudari kembar mu dijual seperti ternak?"
Aina berjalan mendekat, memasang wajah prihatin yang paling palsu yang pernah dilihat Aira.
Ia menyentuh bahu Aira dengan lembut, namun Aira segera menepisnya.
"Aira, tolong mengertilah. Ini demi kebaikan kita semua. Pak Aristhide sangat berkuasa. Jika kita menolaknya, Ayah bisa masuk penjara. Apa kau mau melihat Ayah tua kita mendekam di sel yang dingin?"
"Ayah yang membiarkan dirinya jatuh ke lubang itu, Aina! Kenapa aku yang harus menanggungnya?"
"Karena kau yang terpilih!" bentak ibunya lagi.
"Kontraknya sudah ditandatangani. Besok pagi, asisten Pak Aristhide akan datang menjemputmu. Jika kau mencoba melarikan diri, jangan harap kau masih punya keluarga saat kau kembali."
Aira terdiam.
Keheningan kali ini jauh lebih mematikan. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang penuh dengan barang-barang mewah hasil utang. Ia melihat tiga orang di depannya—orang-orang yang memiliki hubungan darah dengannya, namun terasa lebih asing daripada orang asing di jalanan.
Sejak kecil, Aira selalu dianaktirikan. Aina mendapatkan gaun baru, Aira mendapatkan baju bekas. Aina mendapatkan pendidikan terbaik, Aira harus berjuang sendiri. Dan sekarang, puncaknya, ia dikomodifikasi.
"Berapa?" tanya Aira singkat, suaranya kini dingin dan datar, tanpa emosi sama sekali.
Bramantyo ragu sejenak.
"Lima puluh miliar rupiah. Itu nilai utang yang diputihkan." Aira tertawa.
Tawanya terdengar hambar dan menyeramkan di ruangan yang sunyi itu.
"Lima puluh miliar. Harga yang cukup murah untuk seorang manusia. Baik. Aku akan pergi. Aku akan pergi ke neraka yang kalian siapkan."
Ia melangkah menuju tangga, namun berhenti sejenak sebelum menanjak. Ia menoleh ke arah mereka satu per satu.
"Tapi ingat ini. Mulai detik ini, aku bukan lagi bagian dari keluarga ini. Saat aku melangkah keluar dari pintu rumah ini besok pagi, aku tidak punya ayah, tidak punya ibu, dan tidak punya saudara. Kalian telah mendapatkan uang kalian. Dan sebagai gantinya, kalian kehilangan aku selamanya."
Ratna ingin membalas, tapi Bramantyo menahan tangannya.
Aina hanya menunduk, menyembunyikan senyum kemenangan di balik rambut panjangnya yang tertata rapi.
Aira masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan merosot ke lantai. Ia tidak menangis. Matanya kering, namun hatinya terasa seperti dicabik-cabik.
Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit malam yang gelap tanpa bintang. Di sana, di suatu tempat di pusat kota, seorang pria bernama Aristhide Malik sedang menunggunya.
Pria yang telah membelinya seolah-olah dia adalah sebidang tanah atau saham perusahaan.
Aira mengepalkan tangannya. Jika dunia ingin bermain kasar dengannya, maka ia akan belajar cara membalas. Ia tidak akan menjadi korban yang pasrah. Jika ia harus masuk ke dalam gua singa, ia akan memastikan bahwa dialah yang akan keluar dengan membawa kepala singa itu.
Malam itu, Aira tidak tidur. Ia menghabiskan waktu dengan mengemas barang-barangnya yang paling berharga—yang jumlahnya sangat sedikit. Sebuah foto kecil neneknya (satu-satunya orang yang pernah mencintainya dengan tulus), sebuah buku sketsa, dan beberapa helai pakaian sederhana.
Ia tidak menyentuh satu pun barang pemberian orang tuanya.
Saat fajar mulai menyingsing, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan pagar rumah.
Aira berdiri, mengambil tasnya, dan menatap cermin untuk terakhir kalinya. Wajah di cermin itu tampak sama dengan Aina, tapi matanya... mata itu kini mengandung api yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh siapa pun.
Langkah kakinya menuruni tangga terdengar mantap. Di ruang tamu, orang tuanya dan Aina sudah menunggu, seolah ingin memastikan bahwa "barang dagangan" mereka benar-benar diambil oleh pembelinya.
Tanpa sepatah kata pun, tanpa pelukan, bahkan tanpa kontak mata, Aira berjalan melewati mereka.
Pintu depan terbuka. Udara pagi yang dingin menyambutnya. Seorang pria dengan setelan jas hitam berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.
"Nona Aira Kirana?" tanya pria itu sopan.
"Ya," jawab Aira singkat.
"Silakan masuk. Tuan Malik sudah menunggu."
Aira masuk ke dalam mobil. Saat pintu tertutup dengan bunyi 'klik' yang mantap, ia tahu bahwa babak pertama kehidupannya telah selesai.
Mobil itu mulai bergerak meninggalkan rumah besar yang kini terasa seperti kuburan. Di balik kaca jendela yang gelap, Aira menatap ke depan. Perjalanan menuju ketidaktahuan baru saja dimulai, dan dia siap untuk menghadapinya.