“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 4
Jantung Miranda seperti diremas, terasa sesak di dadanya.
Sepuluh tahun menikah dengan Raka tentu bukan waktu sebentar.
Pernikahan itu memang tanpa cinta, hanya karena dijodohkan.
Waktu itu Miranda berlutut tiga jam di depan rumah Kakek Sagara.
Ia memohon agar kakek dari Raka membantu biaya pengobatan.
Ayah angkatnya sedang sekarat dan membutuhkan pertolongan cepat.
Hujan tipis membasahi halaman rumah besar itu.
Lutut Miranda gemetar, tetapi ia tak beranjak sedikit pun.
Baginya, harga diri tak lebih penting dari nyawa ayahnya.
Kakek Sagara akhirnya luluh melihat keteguhan gadis itu.
Beliau bersedia membantu pengobatan dengan satu syarat berat.
Miranda harus menikah dengan Raka, cucu yang disayanginya.
Raka dan keluarganya tentu saja menolak rencana itu.
Miranda hanya lulusan SD, dianggap tidak sepadan.
Sedangkan Raka lulusan SMA dan sedang menempuh sarjana.
Namun Kakek Sagara melihat Miranda dari sudut berbeda.
Baginya Miranda anak baik yang tahu balas budi.
Beliau yakin gadis itu bisa menjaga masa depan Raka.
Kakek Sagara bahkan mengancam dengan tegas sekali.
Jika Raka menolak, warisan akan diberikan kepada pemerintah.
Ancaman itu membuat keluarga tak berani membantah lagi.
Miranda baru berusia enam belas tahun saat menikah.
Ia kehilangan masa remaja tanpa sempat memilih jalan.
Sejak kecil hidupnya memang tak pernah benar-benar mudah.
Di keluarga angkat, Miranda sering diperlakukan buruk.
Raka datang membawa secercah harapan dalam hidupnya.
Perlahan ia menyimpan mimpi akan keluarga yang hangat.
Sepuluh tahun bersama, Raka tak pernah membentaknya.
Tidak pernah ada kekerasan fisik yang ia terima.
Namun Raka juga tak pernah membelanya di depan keluarga.
Malam ini kenyataan pahit harus ditelan Miranda.
Harapan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika.
Ia menatap wajah Raka dengan dada bergetar hebat.
“Mas katakan itu bohong mas,” ucap Miranda dengan nafas tersengal.
“Itu tidak bohong miranda,” ucap Lela dengan tatapan sinis, “raka sekarang sudah jadi general manajer, mempunyai istri seperti kamu tentu saja hanya akan membuat raka malu.”
Miranda melihat Lela sekilas dengan perasaan ciut.
Tatapan tajam itu membuatnya menundukkan kepala perlahan.
Namun ia kembali menatap Raka mencari kepastian.
“Mas tolong katakan ini tidak benar mas,” suara Miranda serak dan butiran air mata jatuh.
Raka menatap Miranda menghela napas sejenak.
Wajahnya datar seolah tanpa beban sama sekali.
“Miranda kamu tahu sendiri kita menikah tidak saling cinta, sekarang aku sudah menemukan wanita yang sepadan untukku,,dan malam ini kamu aku ceraikan karena lina tidak bisa menerima poligami,” ucap Raka dengan nada dingin seolah itu adalah hal yang biasa.
Napas Miranda semakin sesak mendengar kalimat itu.
Sepuluh tahun ia berharap Raka menjadi sandarannya.
Semua pengorbanan terasa menguap tanpa arti sedikit pun.
Ia terbiasa bangun dini hari mengurus rumah.
Tidur tengah malam setelah semua pekerjaan selesai.
Tak pernah ada ucapan terima kasih untuknya.
“Mas,” lirih Miranda.
“Diamlah jangan menangis terus,,aku muak mendengarnya,” ucap Rani dengan nada ketus.
Lela dan Lusi memandang Miranda dengan hina.
Mereka merasa berhasil menyatukan Lina dan Raka.
Lina bergelar magister dianggap jauh lebih pantas.
Miranda terus terisak, badannya terasa lemas.
“Berhenti menangis miranda,” bentak Lela.
“Diam Lela,” ucap Pak Budi.
Suasana ruang tamu mendadak hening dan menekan.
Bisik-bisik yang tadi terdengar perlahan berhenti.
Semua mata tetap memandang rendah pada Miranda.
“Miranda karena kamu sudah 10 tahun melayani kamu, kami sepakat tidak akan mengusir kamu, pekerjaan kamu sangat bagus,,maka aku mengizinkan kamu masih tinggal disini sebagai pembantu, kamu akan kami gaji 300,000 sebulan dan kamu boleh makan di rumah ini,” ucap Pak Budi.
Kalimat itu terdengar seperti kemurahan hati semu.
Bagi Miranda, ucapan itu lebih tajam dari hinaan.
Selama ini pun mereka memang menganggapnya pembantu.
Miranda selalu diam karena masih menyimpan harapan.
Ia yakin suatu hari keluarga Raka akan menerimanya.
Setiap salatnya dipenuhi doa untuk perubahan nasib.
Namun malam ini doanya seolah berbalik arah.
Jawaban yang datang justru kata cerai menyakitkan.
“Saya tidak mau pak,” ucap Pak Budi.
Pak Budi terkejut karena baru kali dibantah.
Wajahnya memerah menahan rasa tersinggung mendalam.
“Miranda,” geram Pak Budi, “kamu itu jadi orang harus tau diri, kamu itu tidak di akui oleh keluarga angkat kamu, sebenarnya kamu hidup sebatang kara, kalau kamu tidak bekerja disni dan tinggal disini dimana lagi kamu akan tinggal.”
“Bapak,” ucap Rani kesal, “kalau miranda memang sudah tidak mau tinggal lebih baik dia pergi saja pak,,ibu sudah sabar selama ini menahan malu mendengar gunjingan dari para tetangga yang menyangkan raka menikahi gadis tidak berpendidikan seperti dia.”
Pak Budi tampak tidak senang dengan pendapat istrinya.
Ia masih menyimpan sisa rasa kasihan pada Miranda.
“Bagaimana miranda, apakah kamu mau menjadi pembantu di rumah ini,” tanya Pak Budi.
Miranda tak menjawab, hanya menggeleng pelan.
Gerakan kecil itu sudah cukup sebagai penolakan tegas.
“Dasar kurang ajar,” ucap Lela, “sudah miskin, bodoh sekarang sombong lagi, kalau kamu tidak mau menjadi pembantu maka kamu harus pergi sekarang.”
Miranda menatap Raka dengan sisa harapan terakhir.
Raka dengan pelan berkata pada Miranda, “maaf miranda kita memang tidak setara, jika kamu memang tidak mau menjadi pembantu maka kamu harus pergi dari sini, terimakasih selama ini sudah mengurus baik dengan baik.”
Ucapan itu begitu sopan tetapi sangat menyakitkan.
Seolah sepuluh tahun hidupnya hanya tugas pelayan.
“Ngapain kamu memuji miranda mas nanti besar kepala dia mas,” ucap Lusi kesal dan sudah tidak sopan sama miranda dengan memanggil nama bisanya menggunakan kata mba atau kaka;
Miranda kembali menatap Raka tanpa berkedip.
“Jangan menatap raka terus miranda,” hardik Ibu Rani, “sekarang cepat kemasi seluruh baju kamu sekarang, aku tidak mau kamu ada disini sekarang.”
Miranda masih diam terpaku di tempatnya berdiri.
Kemarahannya Bu Rani meledak tak terkendali lagi.
“Miranda!!!!” suaranya melengking, “cepat kemasi seluruh barang kamu.”
Tubuh Miranda bergetar lalu bangkit perlahan.
Ia masuk ke kamar yang sepuluh tahun ditempatinya.
Langkahnya berat seperti menyeret seluruh luka.
Dengan tangan gemetar ia memasukkan pakaian ke koper.
Satu per satu dilipat tanpa semangat sedikit pun.
Air mata menetes di atas kain yang pernah dicucinya.
KTP dan ijazah SD ia masukkan paling pertama.
Hanya itu identitas yang ia miliki di dunia.
Tak ada tabungan atau perhiasan yang bisa dibawa.
Setiap lebaran Raka memberinya baju baru.
Hadiah kecil itu dulu membuatnya merasa dicintai.
Ia bertahan hanya karena tanda perhatian semu.
Namun malam ini semua keyakinan itu hancur.
Cinta yang ia kira ada ternyata hanya ilusi.
“Miranda cepat!!!” teriakan Ibu Rani terdengar dari ruang tengah.
Miranda mempercepat gerak memasukkan pakaian terakhir.
Koper tua itu terasa berat bukan karena isinya.
Melainkan karena kenangan yang harus ditinggalkan.
Ia keluar kamar dengan tubuh masih gemetar.
Rasa sedih bercampur bingung memenuhi kepala.
Ke mana ia harus pergi di malam yang asing.
Tak mungkin lagi tinggal di rumah mantan suami.
Statusnya sebagai istri telah dicabut malam ini.
Perannya sebagai pembantu pun ia tolak tegas.
Selama ini ia bertahan demi meluluhkan hati mereka.
Ia rela diperlakukan rendah demi sebutir harapan.
Kini harapan itu sudah benar-benar mati.
Menjadi pembantu dengan label mantan istri menyakitkan.
Miranda lebih memilih pergi daripada terus menderita.
gemes bgt baca ceeitanya