Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.
Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.
Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dimas tak bisa menjawab pertanyaan menjebak dari Melia, seakan-akan memang tak ada jawaban lain lagi selain karena janji itu.
Melia tersenyum lalu perlahan duduk di ranjang.
"Aku nggak marah Kak, nggak kecewa juga kalau janji itu di ingkari, Kakak bisa nikah sama orang yang memang Kakak mau, jangan karena janji kita bikin Kakak terpaksa, pernikahan itu sekali seumur hidup Kak kata Mama, ini belum terlambat buat mikirin lebih matang dan yakin lagi" ucap Melia sembari duduk mencari letak hp nya yang sempat menyala sekilas.
Melia pun segera menelepon Josep dikarenakan ia sudah malas untuk berjalan.
"Halo Pa, lampu di kamar Lia mati. Kamar sebelah kosong kan ya?" tanya Melia setelah Josep bersuara dari panggilan telepon.
Melia terdiam sejenak lalu mematikan panggilan itu. "Kamar sebelah berantakan, jadi terpaksa tidur dengan keadaan gelap gulita gini ya" ucap Melia.
Sejak tadi, Dimas nampak nya tak bisa berkutik, ia hanya menatap pergerakan Melia yang kembali berbaring di sebelah nya.
Dalam waktu sekejap, Melia seperti bukan Melia yang biasa Dimas kenali.
"Lia tidur duluan ya, kalau gelap gini cepat ngantuk" Melia langsung memejamkan mata dan tidur tanpa menunggu tanggapan apapun dari Dimas.
Napas Melia nampak tenang dan teratur, dan dapat di terka jika Melia sudah tidur nyenyak dalam waktu cepat.
Dimas menghela napas pelan dan memiringkan badan nya menghadap Melia yang tidur dengan pulas.
"Udah ku pikirkan matang-matang dan jawaban ku masih sama, Ia" gumam Dimas lalu menyusul Melia tidur.
...****************...
Tak banyak kejadian yang terjadi belakangan ini, mereka hanya melakukan kegiatan mereka seperti biasa.
Hingga tiba waktu nya Melia dan Dimas berangkat ke Belanda.
"Sering-sering hubungin Mama ya" ucap Gina sembari memeluk sang putri yang akan menempuh pendidikan ke Belanda sekaligus mengikuti suami nya.
"Iya Ma.. Jaga Papa baik-baik ya Ma, takut dia nyari anak baru, terus Mama terasingkan" ucap Melia dengan bercanda.
Josep berkacak pinggang menatap sang putri yang membawa nama nya untuk menakut-nakuti sang istri.
"Nggak Sayang, kamu tetap anak kami satu-satunya" balas Gina lalu melirik ke arah Dimas dengan senyuman.
"Jagain Lia disana ya Dim.. Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ke kami, kami disini siap kapanpun kalau di perlukan" ucap Gina di angguki Dimas.
Melia dan Dimas pun masuk ke dalam pesawat yang akan terbang selama 17 jam lama nya.
"Semoga Lia nggak nyusahin disana ya Pa" doa Gina sembari menatap ke arah kaca yang memperlihatkan pesawat mulai bergerak.
"Kita lihat dulu aja, kita pantau dari jauh.. Bagaimana Dimas akan mengurus Melia seorang diri" balas Josep di angguki Gina yang mata nya sudah berkaca-kaca.
Gina menghela napas. "Mereka baru berangkat, aku udah kangen sama Lia" keluh Gina langsung di rangkul oleh Josep dan kedua nya berjalan keluar dari bandara.
"Tunggu kabar mereka datang dulu aja, dan itu masih lama sih" balas Josep membuat Gina menampilkan senyum tipis.
...****************...
Sesampainya di Belanda. Ternyata Dimas tak membawa Melia kembali ke rumah keluarga nya, melainkan membawa Melia ke apartemen yang akan menjadi tempat tinggal mereka.
"Aku mau ngabarin Mama Papa bentar" ucap Melia sembari menarik koper ke dalam salah satu kamar yang akan menjadi kamar nya.
Melia meminta kamar berbeda untuk nya, dan Dimas hanya menuruti. Lagipula apartemen Dimas memang luas jadi kamar nya pun tak hanya satu.
Tok tok tok
Dimas mengetuk pintu kamar Melia yang terbuka lebar hingga Melia menoleh.
"Aku beli makanan dulu di bawah, nggak lama kok" Dimas hanya ingin berpamitan. Kedua nya masih lelah, tapi ia ingat jika perut mereka belum di isi, walau makanan dan minuman di pesawat tak pernah kekurangan.
Melia mengangguk sebagai jawaban.
Dimas pun segera keluar dari apartemen nya dan mencari makan malam, mereka baru tiba di Belanda sekitar jam 1 malam.
Melia segera menelepon Gina untuk memberi kabar dan tepat sekali di Indonesia yang sudah berada di jam 7 pagi.
"Halo Ma, Lia sama Kak Dim udah sampe.. Pegel banget 17 jam cuma duduk sama bolak-balik ke wc" Melia langsung mengeluh pada Gina yang seperti nya mendengarkan sembari memasak.
"Istirahat dulu aja Li, disana masih malam kan? Tidur aja" ucap Gina mendapat deheman lelah dari Melia.
"Mama lagi masak apa? Berisik banget kedengaran nya" tanya Melia sembari merebahkan tubuh nya di ranjang empuk tanpa menyalakan lampu atau berganti pakaian.
"Iya.. Tapi nggak tau deh siapa yang bisa habisin nya nanti, biasa nya ada kamu tukang habisin makanan" jawab Gina mendapat senyum dari Melia.
Melia juga merindukan masakan Mama nya, padahal mereka baru berpisah selama 17 jam, tapi rasa nya sudah sangat lama. Apakah Melia bisa bertahan tanpa memakan makanan buatan Mama nya?
buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭