Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 29: Grand Gardener
Lorong itu mendadak menjadi sangat sempit seiring dengan menderunya suara cairan ungu pekat yang menghantam dinding serat kayu purba di belakang mereka. Cairan itu bukan air, itu adalah "Limbah Eksistensi", sebuah substansi yang diciptakan untuk melarutkan segala sesuatu yang dianggap tidak berguna oleh sistem Kota Tanpa Langit.
"Reggi! Jangan sampai terkena setetes pun!" teriak Caspian sambil melompat melewati akar besar yang melintang. "Aku serius! Jika cairan itu menyentuhmu, namamu akan hilang dari buku menu toko roti, dan Elena tidak akan ingat pernah punya kakak yang suka marah-marah!"
Silas, meskipun terlihat rapuh, bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi pria seusianya. Ia melompati celah-celah jembatan serat cahaya yang mulai berkedip-kedip tidak stabil. "Cepat! Jembatan ini terhubung dengan detak jantung Menara! Jika mereka menyadari ada penyusup di Jalur Akar, mereka akan mematikan alirannya!"
Tepat saat mereka mencapai titik tengah jembatan yang melayang di atas jurang tak berdasar, jalinan cahaya di bawah kaki mereka mengeluarkan suara berderit yang menyakitkan telinga.
"WARNING, ANOMALY DETECTED. PURGE COMMENCING."
Suara robotik itu mengguncang seluruh dimensi. Seketika, separuh jembatan di depan mereka menghilang, meninggalkan lubang menganga sejauh sepuluh meter. Di bawah sana, hanya ada kegelapan abadi yang siap menelan siapa pun yang jatuh.
"Sialan!" Caspian mengerem langkahnya tepat di tepi jurang. Ia melihat ke belakang, cairan ungu itu sudah berjarak kurang dari lima meter, merayap seperti tsunami yang lapar. "Reggi, aku tidak bisa membuka portal di sini! Tekanan ruangannya terlalu tinggi!"
Silas terengah-engah, lensa mekanis di matanya berputar liar. "Kalian harus melompat! Aku akan menahan alirannya sejenak!"
"Jangan konyol, Tua!" Reggiano menghujamkan sabitnya ke lantai jembatan yang tersisa, mencoba menciptakan jangkar. "Kau bilang kau ingin melihat benih Elena tumbuh, bukan mati di selokan ini!"
"Dengar, Nak!" Silas mencengkeram bahu Reggiano, matanya yang organik berkilat dengan tekad yang mengerikan. "Aku sudah hidup terlalu lama dalam persembunyian. Jika aku mati di sini, setidaknya aku mati sebagai pengkhianat yang berhasil, bukan tikus yang ketakutan!"
Silas mulai merapal mantra dalam bahasa yang terdengar seperti suara kayu yang patah. Tangannya yang keriput mulai berubah menjadi akar-akar cokelat yang masuk ke dalam dinding lorong, mencoba membendung arus asam ungu tersebut dengan tubuhnya sendiri.
"Reggiano!" Suara Seraphine mendadak meledak di dalam kepalanya, kali ini begitu keras hingga ia merasakan sakit. "Gunakan kunci itu! Bukan yang perak... tapi esensi yang Malachai tanam di sabitmu! Kau tidak perlu melompat... kau harus MEMANGKAS jaraknya!"
Reggiano tersentak. Ia melihat sabitnya, The Reaper’s Thorn. Di tengah amarah dan rasa bersalahnya, ia lupa bahwa sabit ini bukan hanya senjata pembantai. Sabit ini adalah alat tukang kebun purba.
"Caspian! Pegang bahuku!" perintah Reggiano.
"Apa?! Kau mau kita terbang? Aku tidak punya sayap, Herbert!"
"DIAM DAN PEGANG!"
Caspian mencengkeram bahu Reggiano dengan erat. Reggiano menarik napas dalam-dalam, membiarkan energi mawar hitam dan emasnya menyatu. Ia tidak mengayunkan sabitnya ke depan, melainkan ia menusukkannya ke udara kosong di depannya.
"EXCLUSIVE ART, DIMENSIONAL PRUNING!"
Dunia di depan mereka seolah terlipat seperti kertas. Reggiano tidak melompati jurang itu, ia memotong ruang yang memisahkan mereka dengan seberang jembatan. Dalam satu kedipan mata, mereka sudah berada di daratan yang stabil di seberang jurang.
Namun, Silas tertinggal di sana. Tubuhnya sudah setengah tertutup oleh akar-akar yang ia ciptakan, menahan tsunami asam ungu yang kini menghantam punggungnya. Kulit Silas mulai berasap, perlahan-lahan larut dalam cairan penghapus ingatan itu.
"SILAS!" Reggiano mencoba kembali, namun pintu baja di ujung jalur itu mulai tertutup secara otomatis.
"PERGILAH, NAK ELENA!" teriak Silas, suaranya mulai menghilang. "Cari Menara Gading di pusat... jangan percaya pada Timbangan... Percayalah pada... Bunganya!"
BOOM!
Arus asam itu meledak, menelan Silas sepenuhnya. Pintu baja tertutup rapat dengan dentuman keras, mengunci Reggiano dan Caspian di koridor luar Menara Arbitrase yang sunyi dan steril.
Hening sejenak. Reggiano menatap pintu baja itu dengan napas yang memburu. Tangannya yang memegang sabit masih bergetar. Silas, pria yang mengenal ibunya, baru saja memberikan nyawanya agar mereka bisa melangkah lebih jauh.
"Dia... dia benar-benar melakukannya," gumam Caspian, suaranya tidak lagi mengandung nada konyol. Ia merapikan jasnya yang kini compang-camping, wajahnya terlihat sangat muram. "Reggi, orang tua itu... dia baru saja dihapus dari sejarah. Tidak ada yang akan ingat namanya sekarang. Hanya kita."
Reggiano berdiri tegak, matanya menatap lurus ke arah koridor yang menuju pusat kekuasaan Grand Gardener. Aura di sekelilingnya bukan lagi sekadar amarah, melainkan kesedihan yang telah mengkristal menjadi tekad yang dingin.
"Dia tidak akan dihapus," ucap Reggiano. "Selama aku masih bernapas, Silas adalah alasan mengapa pintu ini terbuka. Caspian, simpan air matamu. Kita punya menara yang harus diruntuhkan."
Caspian menghela napas panjang, lalu mencoba memaksakan sebuah senyum tipis. "Baiklah, Bos. Tapi kalau nanti kita menang, aku ingin patung Silas diletakkan di depan tokomu. Dan aku ingin patungnya sedang memegang croissant."
Tiba-tiba, koridor yang tadinya steril itu mulai berubah. Dinding-dindingnya berubah menjadi layar transparan yang menunjukkan berbagai dimensi yang sedang dipantau oleh para Arbiters. Dan di salah satu layar terbesar, Reggiano melihat pemandangan yang membuat jantungnya berhenti berdetak.
Di sana, di dalam toko roti Flower’s Patisserie, Seraphine sedang berlutut di lantai. Elena berdiri di tengah ruangan, namun tubuhnya mulai mengeluarkan cahaya putih yang begitu terang hingga menembus dinding toko. Kalung jimat yang dibuat Seraphine mulai retak, tidak mampu menahan tarikan gravitasi dari Menara Arbitrase yang kini sedang "memanggil" benihnya kembali.
"Reggiano..." suara Seraphine terdengar sangat lemah, penuh dengan keputusasaan. "Waktunya... hampir habis... Mereka mulai melakukan sinkronisasi paksa... Elena... dia mulai menghilang..."
"SERAPHINE! JANGAN LEPASKAN DIA!" teriak Reggiano ke arah layar, namun layar itu tidak memberikan respon.
Sesosok makhluk tinggi mengenakan jubah putih bersih dengan wajah tanpa fitur melayang di ujung koridor. Itu adalah High Arbiter Zadkiel, Sang Penjaga Timbangan.
"Panggilan telah dimulai, Eksekutor," ucap Zadkiel, suaranya tenang seperti permukaan danau yang mati. "Benih itu akan kembali ke asalnya. Kau telah menunda yang tak terelakkan. Sekarang, serahkan sabitmu, dan kami akan membiarkanmu melihat proses 'Replanting' ini dengan tenang."
Reggiano tidak membalas dengan kata-kata. Sabitnya meledak dengan api merah yang begitu besar hingga membakar layar-layar pemantau di sekitarnya.
"Caspian," panggil Reggiano pelan. "Buka jalur tercepat. Aku tidak peduli jika kau harus membakar seluruh energi dimensimu. Kita akan sampai di puncak menara itu sekarang juga."
Caspian menyeringai gila, matanya berpendar perak intens. "Kau dengar itu, Malaikat Putih? Temanku sedang buru-buru. Dan percayalah, kau tidak mau menghalangi jalan orang yang sedang terlambat pulang ke rumahnya!"
Pertempuran di Menara Arbitrase Dimulai.
Reggiano kini harus menghadapi High Arbiter Zadkiel di koridor menuju puncak menara, sementara di bumi, kondisi Elena semakin kritis.
Reggiano sudah bersiap untuk menerjang, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol, dan api merah pada sabitnya sudah menjilat-jilat udara steril koridor itu. Namun, sebelum sang Eksekutor sempat melesat, sebuah tangan dengan jas biru yang sobek menahan dadanya.
Caspian melangkah maju dengan santai, mengabaikan gravitasi berat yang dipancarkan oleh High Arbiter Zadkiel. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan koin perak andalannya, dan mulai memutarnya di sela-sela jari dengan kelincahan yang menyebalkan.
"Tunggu dulu, Yang Mulia Malaikat Tanpa Wajah," ucap Caspian dengan nada yang sangat ringan, seolah-olah ia sedang memesan kopi di pagi hari yang cerah. "Reggi, kawan, simpan dulu mainan besarmu itu. Orang ini terlihat seperti tipe yang suka membaca aturan pakai sebelum menyalakan pemanggang roti. Benar kan, Zadkiel?"
Zadkiel tetap melayang diam, suaranya bergema dingin. "Keberadaan kalian adalah anomali. Waktu untuk bernegosiasi sudah lewat sejak kalian menginjakkan kaki di Jalur Akar."
"Ah, kuno sekali! 'Waktu sudah lewat', 'Keseimbangan harus dijaga'... apa kalian semua di sini mendapatkan naskah yang sama dari Grand Gardener?" Caspian memutar bola matanya. "Dengar, aku ini Baron Cillian dari Kepulauan Azure, oke, oke, itu bohong, tapi aku adalah Caspian Roosevelt, dan aku benci pertarungan fisik yang berkeringat. Bagaimana kalau kita selesaikan ini dengan cara yang lebih... beradab? Sebuah taruhan dimensi."
Reggiano menoleh dengan tajam. "Caspian, jangan sekarang. Elena sedang, "
"Aku tahu, Reggi! Percayalah padaku sekali ini," potong Caspian, suaranya mendadak serius sesaat sebelum kembali ke mode konyolnya. Ia menoleh kembali pada Zadkiel.
"Begini, Zadkiel. Kau adalah Penjaga Timbangan. Kau sangat terobsesi pada probabilitas dan keadilan universal, kan? Di tanganku ada satu koin perak. Koin ini ditempa di jantung bintang yang meledak di dimensi ketujuh."
Caspian mengangkat koin itu tinggi-tinggi. "Kita lakukan satu lemparan. Jika hasilnya 'Mata Bintang', kau harus membiarkan kami lewat tanpa syarat, memberikan jalur akses tercepat ke puncak menara, dan mungkin... memberiku diskon untuk sewa apartemen di sini jika aku memutuskan untuk pensiun. Jika hasilnya 'Gerhana', kau boleh mengambil jiwaku dan Reggiano, lalu menjadikannya pupuk untuk kebun gila kalian itu. Bagaimana? Satu banding satu. Adil, kan?"
Zadkiel terdiam sejenak. Cahaya di jubahnya berdenyut, tanda bahwa ia sedang menghitung probabilitas. "Koin itu... ia tidak memiliki berat di dunia ini. Hasilnya murni berdasarkan kehendak nasib. Namun, probabilitas kalian menang melawanku dalam ruang ini adalah 0,00001%."
"Nah! Itulah yang kusebut tantangan!" seru Caspian gembira. "Jadi, apakah sang Penjaga Timbangan yang agung ini terlalu takut kalah dari seorang pelayan toko roti yang tampan?"
"Aku menerima," suara Zadkiel memberat. "Namun, lemparan ini akan dilakukan di bawah pengaruh Field of Absolute Truth. Tidak ada kecurangan dimensi yang diperbolehkan."
"Deal! Reggi, pegang sabitmu, ini akan menjadi sangat seru," bisik Caspian.
Caspian mulai melemparkan koin itu ke udara. Ting! Suara dentingan perak itu bergema di seluruh koridor, namun saat koin itu berputar di udara, waktu seolah melambat secara ekstrem.
"Sambil menunggu koin ini jatuh," Caspian mulai berceloteh, berjalan mengitari Zadkiel seolah mereka sedang berjalan-jalan di taman. "Kau tahu, Zadkiel, hidup kalian di sini sangat membosankan. Kalian menghabiskan ribuan tahun hanya untuk menjaga 'keseimbangan'. Tapi apa gunanya seimbang jika tidak ada rasa? Seperti roti tanpa garam. Atau seperti Reggiano kalau tidak ada aku, dia cuma pria galak yang suka memotong kayu. Sangat datar."
Zadkiel tidak bergerak, matanya (jika ia punya) terpaku pada koin yang masih berputar.
"Kalian menyebut diri kalian Arbiters, tapi kalian sebenarnya hanya asisten rumah tangga untuk Grand Gardener yang terlalu obsesif pada kerapihan taman," lanjut Caspian, kini ia berdiri di belakang Zadkiel. "Kalian takut pada 'kebebasan' Elena karena kebebasan itu tidak bisa dimasukkan ke dalam tabel Excel kalian. Kalian takut pada hal-hal yang tidak bisa kalian prediksi, seperti... mengapa aku masih saja bicara padahal koinnya sudah hampir jatuh?"
Koin itu mulai turun. Kecepatan waktu kembali normal.
"Oh, satu hal lagi!" Caspian berseru tepat saat koin itu mendarat di punggung telapak tangannya. "Aku lupa bilang, koin ini tidak punya sisi 'Gerhana'."
Caspian membuka tangannya. Cahaya perak meledak dari telapak tangannya, menyilaukan seluruh koridor.
"APA?!" suara Zadkiel berubah menjadi distorsi kemarahan.
Di telapak tangan Caspian, koin itu tidak menunjukkan gambar apa pun. Sebaliknya, koin itu terbelah menjadi dua bagian yang identik, dan keduanya menunjukkan gambar 'Mata Bintang'.
"Ups," Caspian menyeringai licik. "Keseimbangan adalah tentang dua sisi yang sama, bukan? Jadi aku membuat kedua sisinya sama. Secara teknis, probabilitasnya sekarang menjadi 100% untukku. Dan menurut hukum Arbitrase-mu sendiri, hasil taruhan yang sudah disepakati adalah mutlak."
Zadkian bergetar hebat. Jalinan jubah putihnya mulai koyak karena ia terpaksa mematuhi hukum probabilitas yang telah "diikat" oleh taruhan tersebut. Kekuatan dimensi yang menahan jalan Reggiano mendadak runtuh.
"Kau... kau mencurangi kehendak nasib!" geram Zadkiel.
"Aku tidak mencurangi nasib, Kawan. Aku hanya memberikan nasib sedikit... dorongan gaya bebas," sahut Caspian. Ia menoleh ke arah Reggiano dan mengedipkan mata. "Reggi! Pintunya terbuka! Cepat lari sebelum dia sadar bahwa aku juga mencuri kunci cadangan di saku jubahnya saat aku berjalan di belakangnya tadi!"
Reggiano tidak membuang waktu. Ia melesat melewati Zadkiel yang masih mematung karena paradoks hukumnya sendiri.
"Caspian, kau benar-benar gila," gumam Reggiano sambil menarik lengan Caspian untuk ikut berlari menuju lift dimensi di ujung koridor.
"Gila itu relatif, Herbert! Yang penting kita menang!" Caspian berteriak sambil tertawa lepas.
"Reggiano!" Suara Seraphine kembali terdengar, kali ini dengan nada lega yang luar biasa. "Tekanan pada Elena mendadak berkurang! Apa yang kalian lakukan? Seolah-olah gravitasi menara itu baru saja bergeser!"
"Caspian baru saja menipu dewa, Seraphine," jawab Reggiano singkat saat mereka melompat masuk ke dalam lift yang meluncur dengan kecepatan cahaya menuju puncak tertinggi menara.
"Tunggu kami. Kami hampir sampai."
Tipu daya Caspian berhasil memberikan celah yang mereka butuhkan. Kini, lift tersebut membawa mereka langsung ke singgasana tertinggi di Kota Tanpa Langit.