"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Kemenangan di pengadilan adalah berita utama di seluruh negeri. Nama Kirana dipulihkan, bukan lagi sebagai 'wanita penggoda', melainkan sebagai CEO jenius yang berhasil membongkar skema pencucian uang terbesar dekade ini. Namun, saat dunia merayakan keberaniannya, Kirana justru merasakan kesunyian yang lebih tajam dari sebelumnya.
Satu bulan telah berlalu sejak kesaksian dramatis Arka dari ranjang rumah sakit. Arka telah melewati masa kritis dan kini sedang menjalani proses pemulihan fisik di sebuah fasilitas kesehatan yang tenang.
Sore itu, matahari Jakarta tampak kemerahan, memberikan siluet panjang pada pepohonan di taman rehabilitasi. Kirana datang tanpa pemberitahuan. Ia berdiri di balik pilar, memperhatikan Arka yang sedang belajar berjalan menggunakan tongkat. Wajah pria itu tidak lagi angkuh, ada guratan rasa sakit dan ketabahan yang nyata di sana.
Arka menyadari kehadiran Kirana. Ia berhenti, napasnya sedikit terengah, lalu tersenyum tipis. "Kau datang, Kirana. Aku mengira kau sudah terlalu sibuk dengan peresmian gedung baru Nirmala-Kencana."
Kirana melangkah mendekat, namun ia menjaga jarak sejauh tiga langkah. Jarak yang sengaja ia ciptakan sebagai batas pertahanan hatinya. "Aku hanya ingin memastikan bahwa saksi kunciku sudah cukup sehat untuk tidak mati sebelum semua dokumen serah terima aset selesai."
Arka tertawa kecil, tawa yang terdengar jujur. "Masih sedingin es. Aku suka itu. Setidaknya aku tahu kau tidak berubah." Arka menatap mata Kirana dengan dalam. "Kirana, surat-surat itu sudah kutandatangani. Semuanya milikmu sekarang. Aku tidak punya apa-apa lagi selain nyawa yang kau selamatkan."
"Itu memang milikku dari awal, Arka. Kau hanya mengembalikannya," balas Kirana datar.
Arka mencoba melangkah satu kali lagi tanpa tongkat, namun ia hampir terjatuh. Refleks, Kirana maju dan menahan lengan Arka. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Kirana bisa merasakan detak jantung Arka di bawah telapak tangannya. Aroma yang sangat ia rindukan merasuk ke indranya, membuat hatinya berteriak untuk memeluk pria ini.
Namun, bayangan pengkhianatan masa lalu, pesta taruhan itu, tawa Arka di telepon, dan fitnah kejam ayahnya, kembali berputar seperti film hitam putih di kepala Kirana. Ia segera melepaskan tangan Arka dengan kasar.
"Kirana..." Arka berbisik, suaranya penuh harapan. "Berikan aku satu kesempatan. Bukan sebagai rekan bisnis. Bukan sebagai penanggung jawab dosa ayahku. Tapi sebagai pria yang mencintaimu."
Kirana membelakangi Arka. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Cinta? Arka, kau sendiri yang mengajariku bahwa cinta adalah taruhan yang bisa dimenangkan dengan manipulasi. Aku sudah belajar dengan baik. Dan sekarang, aku memenangkan taruhan itu. Kau kalah segalanya."
"Aku tidak peduli kalah harta, Kirana! Aku hanya tidak ingin kehilanganmu!" seru Arka, suaranya bergetar.
"Kau sudah kehilangan aku saat kau membiarkan harga diriku diinjak-injak di pesta itu," suara Kirana tetap tenang, meski air mata mulai menggenang di matanya yang tersembunyi. "Aku mencintaimu, Arka. Sangat mencintaimu hingga itu membuatku muak pada diriku sendiri. Tapi aku lebih mencintai diriku yang sekarang. Diriku yang tidak butuh validasi dari pria sepertimu."
Kirana berbalik, menatap Arka dengan tatapan yang sangat profesional dan kosong. "Tetaplah sehat. Aku sudah menyiapkan tunjangan pemulihan di rekening pribadimu. Anggap itu sebagai ucapan terima kasih karena kau telah jujur di pengadilan. Tapi jangan pernah mencariku lagi. Di duniaku yang baru, tidak ada tempat untuk masa lalu."
Kirana berjalan pergi. Ia tidak menoleh sedikit pun, meskipun ia mendengar suara tongkat Arka yang jatuh ke tanah dan suara pria itu memanggil namanya dengan penuh keputusasaan.
Dua minggu kemudian, Kirana berdiri di kantor barunya di lantai 50 Nirmala Tower. Pemandangan Jakarta yang gemerlap ada di bawah kakinya. Ia mengenakan setelan kerja berwarna hitam yang sangat tajam, rambutnya dipotong lebih pendek, memberikan kesan wanita yang tak tersentuh.
Maya masuk membawa tumpukan dokumen. "Ibu, jadwal pertemuan dengan investor Singapura sudah siap. Dan ada paket bunga lagi dari... Anda pasti sudah tahu siapa orangnya."
Kirana melihat ke arah sudut ruangan. Di sana ada buket bunga lily putih besar dengan kartu yang hanya bertuliskan. "*Aku akan selalu menunggumu di setiap matahari terbenam*. - A".
"Buang bunganya," perintah Kirana singkat. "Dan Maya, pastikan semua bunga yang dikirim ke kantor atas nama Arka Mahendra langsung dialihkan ke panti asuhan. Jangan sampai masuk ke ruanganku lagi."
"Baik, Ibu."
Maya keluar, meninggalkan Kirana sendirian. Kirana duduk di kursinya, membuka laptop, dan mulai bekerja. Ia menenggelamkan dirinya dalam angka, grafik, dan strategi ekspansi. Ia menjalani kehidupannya dengan sempurna. Ia makan di restoran terbaik, menghadiri gala-gala bergengsi, dan dihormati sebagai pengusaha wanita paling berpengaruh.
Secara lahiriah, ia memiliki segalanya. Namun, setiap kali malam tiba dan ia kembali ke apartemennya yang mewah namun sunyi, Kirana akan duduk di balkon, menatap arah rumah sakit tempat Arka pernah dirawat.
Ia akan mengeluarkan ponselnya, membuka folder foto yang terkunci, dan menatap foto Arka yang sedang tersenyum saat mereka di Bali. Ia mencium layar ponsel itu dengan air mata yang mengalir deras, meratapi cinta yang masih membara namun tak akan pernah ia biarkan menang.
~~
Kehidupan Kirana berjalan seperti mesin yang diminyaki dengan baik. Hingga suatu hari, sebuah undangan dari Asosiasi Pengusaha Muda tiba. Ada pengusaha baru yang sedang naik daun, seseorang yang mengambil alih perusahaan konstruksi kecil yang hampir bangkrut dan mengubahnya menjadi raksasa hanya dalam hitungan bulan.
Di acara gala tersebut, Kirana masuk dengan keanggunan seorang ratu. Ia berbincang dengan para menteri dan kolega. Tiba-tiba, suasana riuh.
"Inilah pemimpin baru Phoenix Construction," suara pembawa acara menggema.
Seorang pria masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat pas. Ia tidak lagi menggunakan tongkat. Langkahnya tegap, wajahnya bersih, dan matanya memancarkan ketenangan yang baru.
Arka Mahendra.
Arka tidak mendekati Kirana. Ia justru berdiri di seberang ruangan, dikelilingi oleh para investor yang dulu membuangnya. Ia sedang membuktikan kata-kata Kirana - 'bangkit dari abu sendiri'.
Kirana terpaku. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa sesak napas. Arka melihatnya dari jauh, lalu hanya memberikan anggukan kecil yang sangat profesional, sama persis dengan anggukan yang diberikan Kirana di taman rehabilitasi dulu.
Arka tidak lagi mengejarnya dengan bunga atau kata-kata manis. Arka kini bertarung di arena yang sama dengan Kirana.
"Permainan dimulai kembali, Ratu," gumam Kirana pada dirinya sendiri, sambil mengangkat gelas sampanyenya ke arah Arka.
Di balik senyum profesionalnya, Kirana tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia mencintai Arka, dan Arka mencintainya, namun mereka kini adalah dua penguasa di dua kerajaan yang berbeda, dipisahkan oleh luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan, namun terlalu indah untuk dilupakan.
...----------------...
**Next Episode**....