NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Detak Jantung di Ujung Pisau

Cahaya biru dari layar hologram memantul di kornea mata Kayra, menciptakan bayangan teknis yang rumit di wajahnya yang letih. Sudah tiga hari ia mengurung diri di laboratorium bawah tanah Isla de Sombra. Di depannya, struktur batang otak Profesor Elena terpampang dalam pemindaian 3D yang sangat detail.

"Ini bukan sekadar kerusakan saraf," bisik Kayra pada kesunyian ruangan. "Ini adalah labirin."

Sebuah langkah kaki yang mantap namun halus memecah konsentrasinya. Kayra tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma kayu cendana yang bercampur dengan wangi maskulin yang tajam sudah cukup memberi tahu keberadaan Harry Marcello.

"Kau belum tidur, Kayra," suara Harry terdengar rendah di belakangnya. "Atau kau sedang mencoba masuk ke dalam layar itu?"

Kayra menghela napas, menyandarkan punggungnya ke meja kerja. "Harry, aku menemukan sesuatu. Serum Luca bukan hanya merusak, tapi meninggalkan semacam deposit kimiawi di sekitar medulla oblongata. Jika aku membedahnya dengan cara biasa, sistem sarafnya akan meledak karena syok. Aku butuh ketenangan yang absolut."

Harry melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Ia sudah tidak mengenakan perban di luar pakaiannya, setelan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku memperlihatkan otot lengannya yang kuat. Ia menatap layar hologram itu sejenak, lalu beralih menatap Kayra dengan intensitas yang sanggup meluluhkan logika.

"Kau punya tangan paling stabil yang pernah kulihat," ujar Harry lembut. Ia meraih tangan kanan Kayra, membelai telapak tangannya dengan ibu jarinya yang kasar. Sentuhan itu mengirimkan gelombang listrik yang aneh ke sekujur tubuh Kayra. "Gunakan stabilitas itu."

Kayra mencoba menarik tangannya, namun Harry menahannya. "Kau berjanji akan membantuku menemukan orang yang menghancurkan karierku," Kayra mengalihkan pembicaraan, meski jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang hanya beberapa inci.

"Aku tidak pernah melupakan janjiku," Harry menarik Kayra lebih dekat, hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia merunduk, napasnya yang hangat menerpa pipi Kayra. "Aku sudah mulai menggali di rumah sakit lamamu. Ada satu nama yang terus muncul. Direktur Aris. Kau mengenalnya?"

Darah Kayra seolah membeku. "Direktur Aris? Dia ... dia orang yang memberiku beasiswa. Dia menganggapku seperti anaknya sendiri."

Harry tersenyum tipis, sebuah seringai yang tampak hampir kasihan. "Di duniaku, pengkhianatan paling tajam selalu datang dari orang yang kita anggap sebagai pelindung. Selamatkan Elena, dan kita akan mendapatkan bukti yang cukup untuk menjatuhkannya."

Kayra memejamkan mata sejenak, menahan sesak di dadanya. Jika benar Direktur Aris adalah dalangnya, maka dunianya memang benar-benar sudah hancur sejak lama.

Merasakan kegalauan Kayra, Harry melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Kayra, menarik wanita itu ke dalam pelukan yang protektif namun lembut.

"Jangan hancur sekarang, Kayra Valeska," bisik Harry di dekat telinganya. "Gunakan kemarahanmu untuk menyelamatkan mentormu. Setelah itu, biarkan aku yang menangani sisanya."

Untuk sesaat, Kayra membiarkan dirinya bersandar pada dada bidang Harry. Ia bisa mendengar detak jantung Harry yang mantap, jantung yang ia jahit sendiri. Ada rasa aman yang janggal di pelukan pria berbahaya ini, seolah-olah di tengah badai yang menghancurkan hidupnya, Harry adalah satu-satunya karang yang tetap berdiri.

"Besok pagi," bisik Kayra parau. "Aku akan memulai operasinya."

Hari operasi tiba. Ruang bedah Isla de Sombra diselimuti suasana tegang yang sunyi. Kayra berdiri di bawah lampu operasi raksasa, mengenakan gaun bedah hijau steril. Di depannya, Profesor Elena terbaring tak berdaya.

Di balik dinding kaca ruang observasi, Harry berdiri tegak, memperhatikannya. Kayra sempat melirik ke arah pria itu. Pria itu mengangguk pelan, sebuah isyarat dukungan yang memberikan Kayra kekuatan tambahan.

"Skalpel," perintah Kayra.

Operasi mikro-neuro itu dimulai. Kayra bekerja dengan mikroskop bedah tercanggih. Setiap gerakan tangannya adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ia harus menyingkirkan deposit kimiawi itu satu per satu dengan laser presisi.

Dua jam berlalu. Keringat mulai membasahi dahi Kayra. Seorang perawat mesin segera menyekanya tanpa suara.

"Tekanan darah menurun," lapor sistem AI medis. "Aktivitas otak meningkat secara tidak stabil."

Kayra menegang. "Dia sedang berjuang. Berikan dosis minimal dopamine."

Tiba-tiba, monitor berbunyi nyaring.

Bip-bip-bip!

Arteri kecil di dekat batang otak mulai pecah. Darah menutupi bidang pandang mikroskop.

"Sial!" umpat Kayra pelan. Tangannya mulai gemetar kecil. "Suction! Aku tidak bisa melihatnya!"

Di balik kaca, Harry menyadari perubahan atmosfer itu. Ia tidak tinggal diam. Melalui interkom, suaranya masuk ke telinga Kayra dengan sangat tenang.

"Kayra, dengarkan aku," suara Harry yang dalam dan otoriter menembus kepanikan Kayra. "Bernapaslah. Kau adalah ahli bedah terbaik yang pernah ada. Kau memegang jantungku di tengah baku tembak hutan Elara. Karang di bawah sana pun tidak bisa menggoyahkan tanganmu. Fokus."

Kayra menarik napas panjang, menutup matanya selama dua detik, lalu membukanya kembali. Suara Harry seolah menjadi jangkar bagi kesadarannya. Ia menstabilkan tangannya, menemukan sumber kebocoran, dan melakukan klem secepat kilat.

"Pendarahan berhenti," lapor Kayra, suaranya kembali dingin dan profesional.

Operasi berlanjut selama lima jam berikutnya. Saat Kayra melakukan jahitan terakhir pada lapisan dura, ia merasa seolah seluruh tenaganya telah terkuras. Ia melangkah keluar dari ruang operasi, melepaskan masker bedahnya, dan mendapati Harry sudah menunggunya di lorong steril.

"Bagaimana?" tanya Harry pendek.

Kayra menyandarkan tubuhnya di dinding, menatap Harry dengan mata yang lelah namun bersinar. "Operasinya sukses. Sarafnya sudah bersih. Sekarang, kita hanya perlu menunggu dia terbangun."

Harry melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Tanpa peringatan, ia merangkup wajah Kayra dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap lembut bekas masker di pipi Kayra.

"Kau luar biasa," gumam Harry.

Tiba-tiba, Harry menunduk dan mengecup kening Kayra. Kecupan itu lama, hangat, dan penuh dengan rasa terima kasih yang tidak terucapkan. Kayra tidak menolak. Ia justru memejamkan mata, menikmati momen singkat di mana ia merasa tidak perlu menjadi kuat sendirian.

"Istirahatlah," ujar Harry sambil melepaskan tangannya perlahan. "Enzo akan mengantarmu ke kamar. Aku akan menjaga Elena."

Kayra mengangguk lemah. Namun, saat ia berbalik untuk pergi, Harry menahan lengannya.

"Kayra," panggilnya. Kayra menoleh. "Luca baru saja mengirim pesan. Dia tahu kita ada di kepulauan ini. Tapi jangan takut. Selama kau di pulau ini, kau berada di tempat paling aman di bumi."

Kayra menatap Harry, lalu tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus yang ia berikan pada pria itu. "Aku tidak takut, Harry. Aku punya pelindung yang sanggup membakar dunia, bukan?"

Harry terkekeh pelan. "Benar."

Kayra melangkah pergi, namun pikirannya kini beralih pada Direktur Aris. Jika benar orang itu dalangnya, maka ia tidak hanya butuh perlindungan Harry, ia butuh Harry untuk melakukan apa yang pria itu kuasai dengan baik, pembalasan dendam.

Malam itu, saat Kayra tertidur lelap karena kelelahan, di ruang pemulihan, jemari Profesor Elena bergerak sedikit. Dan di ruang kerja Harry, pria itu sedang menatap foto Direktur Aris di layar monitornya dengan tatapan maut.

"Waktunya membayar, Aris," gumam Harry dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!