Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 16
"Mengapa Pak Kenan berkata seperti itu? apa dia tidak menginginkan bayinya selamat?" batin Anita mendekat pada box bayi dan menyuruh suster itu segera membawa bayi Arumi ke ruangan bayi.
"Katakan dokter, apa istriku selamat!" pekik Kenan seperti orang yang tidak waras Anita melihat jika Kenan sangat takut kehilangan Arumi.
"Tenang, Tuan Kenan. Istri anda baik-baik saja dia adalah wanita yang kuat proses lahiran secara normal awalnya kami ragu, tetapi istri anda selalu meyakinkan kami dan syukurlah kedua nya selamat," jelas dokter.
Kenan bisa bernapas lega ia ingin melihat istrinya, tetapi tidak diperbolehkan karena Arumi akan dipindahkan dulu ke ruang rawat.
"Syukurlah pak semuanya selamat, apa bapak sudah mengabari keluarga tentang berita bahagia ini?" tanya Anita.
Mendengar itu Kenan baru tersadar jika ia belum mengabari siapapun. Kenan meminta Anita untuk tetap berada di rumah sakit karena ia akan pulang sebentar untuk sekedar ganti baju dan akan membawakan makanan untuk nya.
Namun, sebelum Kenan pergi ia menyempatkan untuk ke ruangan bayi ia ingin melihat putrinya yang tadi sempat ia abaikan.
Di balik kaca ia menatap putri nya yang sangat cantik sangat mirip dengan wajahnya tidak ada bedanya mungkin karena semasa hamil Arumi sangat membenci nya membuat putri nya begitu mirip ayahnya.
"Putri Ayah," lirih Kenan meneteskan air matanya tapi kali ini air mata bahagia bukan kesedihan.
***
ughhh
Lenguhan terdengar lirih dari seorang wanita yang mencoba membuka kedua matanya karena tersorot sinar matahari. Ia mencoba bangun dengan memegangi kepalanya yang masih sangat pusing.
"Sudah pagi ya,"
Kedua matanya mengerjap berusaha melihat sekitar dan sesekali ia menguap seraya meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.
Setelah ia bisa melihat dengan jelas ia mulai panik lalu meraba-raba tubuhnya dan menyadari satu hal jika baju yang ia kenakan semalam telah berganti menjadi piyama tidur.
"Si ... Siapa yang mengganti bajuku," gumam Helen ia pun berdiri melihat sekitar dan sekali lagi ia juga tersadar jika itu bukanlah kamarnya.
"Ini kamar siapa?" lirih Helen.
"Kamar kita,"
Suara bariton yang berada di belakangnya membuat dirinya berbalik, matanya terbelalak melihat seorang pria berada di kamar itu berdua saja ia reflek menutupi piyamanya sedikit takut padahal pria itu tidak asing baginya.
"Kau kenapa, hmm," tanya Narendra memeluk erat tubuh Helen menatap wajah bantalnya tapi bagi Naren Helen masih saja terlihat sangat cantik.
"Lepaskan aku kenapa kau membawaku kesini," Helen sedikit memberontak tapi Naren malah mempererat pelukannya.
"Lalu apa aku harus membiarkan mu di jalan dalam keadaan mabuk begitu? Lagipula memangnya kenapa aku membawa calon istri ku ke rumah kita dan juga semalam kita sudah ..."
Ucapan Naren terhenti saat Helen menutup mulutnya dengan telapak tangan, tetapi malah Naren tersenyum melihat wajah Helen yang seolah malu.
"Benarkah, semalam kita melakukannya," Narendra mengangguk.
Helen marah ia memukuli dada bidang Narendra meluapkan kemarahannya seraya menangis terisak sedangkan Narendra pria itu tetap diam masih memegangi tubuh mungil wanita itu.
Dirasa sudah mereda Naren justru memeluk Helen yang masih menangis dengan sangat lembut seperti tidak punya rasa bersalah.
Naren melepaskan pelukannya ia membawa Helen duduk di sofa dekat jendela kaca yang sangat besar. Dengan sangat lembut Naren mengusap air matanya membenarkan rambut Helen yang sedikit berantakan.
"Tidak ... Aku tidak serendah itu melakukan nya tanpa ada pernikahan," terang Narendra.
"Tadi katamu ... Kita sudah," ucapannya terpotong Narendra mengecup bibir manis Helen tapi kali ini wanita itu diam.
Jujur saja baru kali ini ada pria yang sangat perhatian padanya, begitu sayang tapi mengapa hatinya malah berlabuh pada pria yang sama sekali tidak mencintai nya membuat ia tidak bisa berpikir jernih dan melakukan hal buruk terhadap wanita yang selalu dekat dengan Kenan.
Ada kecanggungan pada Helen karena Narendra selalu menatapnya,"Aku mau pulang, mama sama papa pasti mencari ku," gugup Helen.
"Jangan," sambung Narendra.
"Kenapa?" bingung Helen.
Narendra beranjak dari duduknya ia mengambil laptop nya di meja dekat rak yang berisi dokumen lalu duduk kembali perlahan membuka laptop tersebut.
Betapa terkejutnya Helen melihat vidio dirinya yang melabrak Arumi tersebar luas dan juga komentar jahat orang-orang terhadapnya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" panik Helen.
"Untuk sementara kau di sini saja aku akan melihat keadaan di luar pastinya Kenan tidak akan tinggal diam dia akan membawa kasus ini ke polisi dan bahkan dia juga akan melaporkan mu, Helen," ujar Narendra.
Tubuh Helen lemas kali ini ia tidak bisa berbuat apa-apa tidak seperti dulu semua orang takut padanya, tetapi kini ia salah pilih lawan karena kali ini wanita yang ingin ia singkirkan adalah wanita yang paling dicintai Kenan dan pastinya pria itu akan membelanya habis-habisan.
"Jangan khawatir ada aku di sini, Helen," ucap Narendra menggenggam erat tangan Helen tapi wanita itu hanya menatap sendu pria yang dulu ia tolak tapi kini Narendra lah yang bersedia menjadi pelindung nya.
***
"Pi, lihat cucuku sangat cantik bukan siapa dulu Oma nya," puji Tiara pada diri sendiri membuat Arsyad mendelik dan seperti biasa pria itu hanya mengiyakan perkataan istrinya.
Semua orang sangat bahagia di ruang rawat VIP keluarga Dirgantara menyambut cucu pertama mereka dengan sangat antusias.
Arumi hanya menatap melas pada bayi yang sedang mereka gendong dirinya masih belum percaya jika kini ia sudah menjadi seorang ibu dari pria yang tidak ia inginkan sebelumnya.
"Jangan melamun, kau habis melahirkan jangan banyak pikiran," ucap Kenan yang kini sedang memotong buah untuk Arumi.
Setelah siap Kenan ingin menyuapi buah itu pada Arumi, tetapi tangan cantik nya malah menahannya,"Aku sudah melahirkan anak mu sekarang penuhi keinginan ku untuk bercerai,"
Perkataan Arumi sungguh menyayat hati Kenan yang sudah tidak tahan itupun menggenggam erat buah yang berada ditangannya hingga hancur.
"Jangan merasa tersakiti seperti itu, kau bahkan telah banyak menyakiti orang wanita yang melabrak ku kau khianati dan malah menikahi ku dasar kau pria brengsek!"
Prank
Semua orang di ruangan itu terkejut ketika melihat Kenan membanting piring membuat bayi itu menangis. khusunya Anita ia menatap Arumi yang sangat membenci Kenan.
Kenan menghampiri ibunya lalu ia mengambil bayinya keluar dari ruangan membawanya ke ruangan bayi tanpa box dorong.
Tiara menghampiri Arumi perlahan ia mencoba bicara,"Arumi ... Boleh mami bicara sebentar," ucap Tiara sangat pelan.
Arsyad dan yang lainnya pergi dan menunggu di luar. Sekilas Anita menatap Arumi yang tidak sama sekali melihat dirinya.
Hening, Tiara memandangi wajah sedih menantunya itu tidak dapat dipungkiri jika Arumi masih belum menerima kepergian suaminya terbukti ia masih membenci Kenan atas apa yang telah terjadi.
"Menangis lah, tidak apa-apa mami tau apa yang sedang kau rasakan saat ini. Mami tidak membela Kenan dan juga tidak membenci apa yang kau lakukan pada Kenan jika itu membuat mu merasa lega lakukanlah, Arumi," ujar Tiara.
"Ma ... Maaf nyonya,hiks,"
Tangisan Arumi pecah Tiara langsung memeluknya guna menenangkan menantunya yang mana tubuhnya gemetar menahan sesak yang tidak sanggup ia tahan sendiri. Air mata nya terus mengalir membasahi dada orang yang memeluk nya.
"Sampai kapan kau akan membenci ku, Arumi apakah aku harus menyerahkan diri baru kau akan puas dan mau memaafkan ku," batin Kenan yang melihat dari kejauhan.
*
*
Bersambung.