Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 pergi ke kota kecamatan Tasikmadu
Yasir menganggukan kepala , ia segera duduk di atas kayu besar yang sudah dipotong sedemikian rupa, dan mulai menikmati makan pagi yang masih hangat .
" kalian berdua mau di belikan apa , mumpung mas mau ke kota kecamatan?"
" tidak mas , kami berdua tidak membutuhkan apapun, beli saja yang penting saja mas " kata Lestari tersenyum lembut, pipinya yang mulai terlihat gemuk sedikit memancarkan rona merah yang menggemaskan , membuat Yasir yang melihatnya ingin sekali menciumnya, tapi ia mengurungkan niatnya dan makan dengan cepat.
Tak lama kemudian, ia selesai dan bersiap untuk berangkat , tak lupa ia mencium kening dua gadis muda yang ada di depannya dan berjalan meninggalkan rumah untuk pergi ke kota kecamatan.
" hati hati mas , jangan sampai sore..!" Seru Halimah terdengar nyaring di kejauhan.
Yasir hanya menggelengkan kepalanya, tangannya melambai , menyambut seruan gadis muda yang sedang berdiri di depan pintu rumah .
Karena malam sebelumnya hujan deras , ia yakin bahwa akan ada buah buahan jatuh , tak membutuhkan waktu lama, ia sampai di perkebunan milik Belanda, di dalamnya banyak buah durian masak yang kadang ada yang jatuh , rambutan matang , serta buah buahan lainnya yang cukup banyak.
Di perkebunan Belanda itu , hanya dia seorang diri yang berani masuk, bukan untuk mencuri atau merusak kebun , ia hanya mengambil buah jatuh dan juga membersihkan ranting ranting yang jatuh dan berserakan di sekitarnya.
Oleh sebab itu, ia secara tidak langsung sudah menjadi pekerja perkebunan Belanda, dan banyak orang yang menghormati keberadaannya .
Yasir tersenyum lebar saat menemukan sepuluh buah durian dan dua kelapa tua , dengan kekuatan ototnya yang sangat kuat , sepuluh buah durian bisa di bawanya hanya dengan menggunakan pundaknya yang kokoh .
Karena pagi masih belum terlihat mentari muncul , jalan desa di sekitarnya masih begitu remang remang , kadang terlihat kadang juga bisa masuk jurang secara tidak sengaja , jadi saat membawa buah durian , ia harus ekstra hati hati saat melewati jalan desa yang cukup curam itu .
Ia mengingat bahwa jalan menuju kota kecamatan berlokasi di utara desa , dan dengan langkah kaki yang kuat , ia berjalan terus menuju utara desa .
Sampai di jalan utara, ia merasakan hangatnya mentari pagi yang mulai muncul dan pemandangan indah dengan persawahan serta perkebunan desa terlihat jelas, serta bukit kecil yang ada di timur, terlihat begitu kecil , namun ia tidak melihat rumah di atasnya.
Ia merasa tenang dan kembali berjalan menuju jalan utara , jalan utara terus naik dan menanjak , hanya kuda saja yang berani melewati jalan utara, sedangkan untuk kuda besi ( sepeda motor ) tidak berani melewati jalan utara, karena selain jalannya naik seperti bisa ke surga , juga banyak lubang yang cukup untuk satu orang dewasa masuk ke dalamnya.
Keamanan di sekitarnya juga cukup rawan , banyak berkeliaran bandit pada malam hari atau siang hari yang mendung , namun bagi Yasir bandit adalah hanya orang biasa yang nekat saja , yang tidak memiliki kesadaran serta kesabaran dalam tindak masyarakat luas .
Setelah melewati jalan utara , akan terlihat beberapa desa di sekitarnya, rumah rumah yang cukup besar akan terlihat jelas dan juga ada dua pasar tradisional yang berdiri.
Karena hari sudah terang, banyak warga yang sudah keluar dari kediamannya, saat ia melewati jalan desa desa di sekitarnya, para warga datang menghentikan perjalanannya.
" jang kamu dari mana dan mau kemana ?"
" saya dari desa Selatan Plarangan, mau ke kota kecamatan, maaf mengganggu ketenangan desa.." kata Yasir tersenyum.
" ohh desa Plarangan... nama ujang siapa ?"
" saya Yasir , !"
Mendengar nama itu, para warga langsung heboh , dan mereka dengan singkat langsung melarikan diri begitu saja .
" ehh kenapa dengan mereka?" Ia melihat rumah rumah desa kembali sepi dan berjalan seperti biasa, meninggalkan tanda tanya besar dihatinya.
Akhirnya ia sadar bahwa dirinya adalah seorang paling galak dan ganas dari tiga desa yang berada di kecamatan Tasikmadu, reputasinya sebagai jagoan desa Plarangan di segani dan di takuti oleh warga biasa yang ada di seluruh desa di kecamatan Tasikmadu.
" ternyata gagah juga waktu itu , tapi kenapa bisa mati... " gumamnya mengernyitkan dahi, matanya melihat bahwa ada tiga orang dewasa yang sedang berdiri di tepi jalan.
Sampai di dekatnya ,ia bertanya dengan nada penasaran.
" assalamualaikum... mang ?"
Ketiganya menoleh dan mata mereka saling pandang satu sama lain.
" waalaikum salam...ada apa jang ?"
" sedang nunggu apa mang ?"
" ini jang sedang menunggu tumpangan lewat !" Ucap salah satu pria memberanikan diri menjawab.
" apakah mau ke kota kecamatan Tasikmadu?"
" iya jang , .."
Yasir mengangguk , matanya menoleh ke belakang dan ternyata ada kereta kuda yang cukup untuk tiga orang dewasa di dalamnya.
" kalau begitu saya akan duluan .." kata Yasir berjalan kembali dengan membawa durian di pundaknya.
Ketiga orang yang ada di tepi jalan menghela nafas lega, mata mereka bertiga terlihat ketakutan saat memandang ke arah kepergian pemuda yang membawa sepuluh buah durian kuning itu .
" mang Islan , sungguh aura seorang raja ganas..!"...
" ya ,kalau saja kita menyinggungnya, tidak tahu di mana kita dikuburkan "
" tapi tampaknya dia berbeda dari yang dulu ,sekarang tampak tenang dan juga kalem "
" hish sudah jangan bicarakan dia lagi , mungkin dia sedang dalam suasana hati yang baik, kalau tidak, kita bertiga tidak akan bisa pergi ke kota kecamatan Tasikmadu sekarang " ucap yang lainnya menghentikan gosip yang panas .
Yasir yang sudah melewati desa dan mulai memasuki kota tidak tahu bahwa dirinya dalam perbincangan seru tiga orang yang di jumpai sebelumnya.
Dengan beban di pundak , tubuhnya berkeringat segar, terutama wajahnya yang cukup tampan bersinar di terpa sinar matahari yang sudah berada sejajar dengan wajahnya .
Sampai di kota Tasikmadu, ia hanya bisa tersenyum kecut , dan teringat perkataan Halimah saat subuh pagi tadi .
Matanya melihat bahwa ada beberapa orang Belanda berlari pagi , mulai dari pria dewasa hingga anak anak , berolahraga pagi di jalan raya yang sudah tertata rapi itu, walaupun belum di aspal , tapi penggunaan batu gamping dan semen telah ada dan diaplikasikan ke jalanan utama kota kecamatan Tasikmadu.
Karena tujuannya membeli kebutuhan pakaian dan juga pangan ,ia berjalan menuju pasar kota yang sangat besar , menurut ingatan pemilik tubuh sebelumnya, ia memiliki beberapa pekerjaan di pasar kota itu dan biasanya akan menginap atau makan gratis di pasar itu dengan imbalan beberapa gulden dan juga koin sen .
Sampai di pasar kota yang cukup modern untuk ukuran tahun 1939 , ia masuk dan berjalan menuju bagian pakaian yang cukup banyak .
Matanya melihat ke arah beberapa pakaian biasa dan juga gaun wanita khas Eropa zaman klasik .
" ya itu sangat bagus bila kedua istriku.. memakainya.." gumamnya tersenyum penuh arti.