Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Setelah meninggalkan Riana dengan segala kekacauan emosinya, Nafiza kembali menghampiri Riri dengan senyum ramahnya seolah tak terjadi apa-apa..
"Riri, maaf ya menunggu lama. Kita udahan aja ya kelilingnya, kita langsung balik ke ruang CEO aja," kmujar Nafiza lembut tanpa ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Gak Papa Bu Nafiza, tak perlu minta maaf. Oh, Ok," balas Riri sedikit penasaran dengan istri bosnya itu yang tiba-tiba ingin kembli ke ruangan.
Nafiza melangkah beriringan dengan Riri menuju ruangan sang suami, begitu sampe di depan pintu CEO Riri langsung pamit ke mejanya. Nafiza mengetuk pintu pelan lalu mengucap salam. "Assalamualaikum!" ucapnya dengan memasang wajah cerianya, ia melangkah tenang sambil berusaha menyembunyikan rasa kesalnya.
"Waalaikumsalam! Masuk," jawab Zayn lembut ia tahu itu suara sang istri.
Zayn duduk di kursi kerjanya sambil berusaha fokus pada laptop di hadapannya. Ia pura-pura tidak tahu apa-apa, meskipun sebenarnya ia sudah melihat semua yang terjadi melalui CCTV.
Sedangkan David sudah keluar setelah melihat rekaman CCTV bersama Zayn, ia tak ingin menganggu momen suami istri itu.
"Udah lihat-lihatnya? Kok cepat banget, Sayang?" tanya Zayn tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop, namun senyum kecil tersungging di bibirnya. Ia ingin menggoda istrinya.
Nafiza menghampiri Zayn dengan wajah sedikit kesal. "Udah, Mas!" jawabnya singkat.
Zayn mengangkat wajahnya, menatap Nafiza dengan tatapan menggoda. "Hmm! Sayang, sini deh."
"Ada apa, Mas?" tanya Nafiza, meskipun ia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan suaminya.
"Ada deh, makanya sini lebih dekat. Mas mau bisikin," balas Zayn, mengisyaratkan Nafiza untuk segera mendekat.
"Apaan sih, Mas! Tinggal bilang aja kan, nggak ada orang lain juga di sini," gerutu Nafiza, meskipun ia sudah melangkah mendekat.
"Nggak bisa, Sayang. Ini rahasia," bisik Zayn dengan nada menggoda.
Begitu Nafiza cukup dekat, Zayn dengan tiba-tiba menarik pinggang Nafiza hingga Nafiza jatuh ke atas pangkuannya.
"Mas! Apa yang Mas lakuin!" protes Nafiza terkejut, berusaha melepaskan diri.
Zayn memeluk pinggang Nafiza erat, menenggelamkan wajahnya di leher istrinya. "Mas cuma mau bilang, Mas sangat sayang sama istri Mas yang cantik ini," bisik Zayn dengan nada lembut dan penuh cinta.
"Apaan sih, Mas! Udah ah, ini kantor. Nanti jika tiba-tiba ada yang masuk, lihat kita kayak gini bagaimana?" Nafiza masih berusaha melepaskan diri, meskipun ia tidak benar-benar ingin melakukannya.
Zayn mengangkat wajahnya, menatap Nafiza dengan tatapan yang penuh arti. "Nggak akan ada yang berani masuk tanpa izin, Sayang."
"Tapi, Mas ..." belum sempat Nafiza menyelesaikan ucapannya, Zayn sudah lebih dulu mengecup bibir Nafiza sekilas, meskipun terhalang cadar.
Nafiza membulatkan matanya, terkejut dengan tindakan Zayn yang tiba-tiba. "Mas ..."
Zayn tersenyum menggoda. "Sayang, Mas kangen," bisiknya di telinga Nafiza, membuat bulu kuduk Nafiza seketika meremang.
"Mas, jangan lebay deh! Nanti kalau ada yang lihat gimana?" Nafiza berusaha menutupi wajahnya yang memerah, meskipun cadar sudah menyembunyikannya dengan sempurna. Jantungnya berdebar kencang, merasakan sensasi aneh yang selalu muncul setiap kali Zayn mendekat.
Zayn terkekeh pelan, semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Nafiza. "Nggak ada yang berani lihat, Sayang. Lagian mereka semua juga tahu, kamu itu milik Mas." Ia menatapnya dengan tatapan penuh cinta. "Mas bangga sama kamu, Sayang. Kamu hebat banget tadi di ruang rapat. Mas nggak nyangka, istri Mas yang cantik ini ternyata juga pintar dan berani."
Nafiza tersipu malu mendengar pujian Zayn. "Ah, Mas bisa aja. Naf cuma berusaha membantu semampu Naf," jawabnya merendah.
"Nggak, Sayang. Kamu lebih dari sekadar membantu. Kamu sudah menyelamatkan perusahaan ini. Kamu sudah membuktikan pada semua orang, bahwa istri seorang CEO juga bisa memberikan kontribusi yang berarti," ujar Zayn tulus, mengelus pipi Nafiza dengan lembut di balik cadarnya.
Nafiza terdiam, hatinya menghangat mendengar ucapan Zayn. Ia merasa dihargai dan dicintai sepenuhnya oleh suaminya. Ia bersyukur karena telah dipertemukan dengan pria yang begitu luar biasa.
Zayn mendekatkan wajahnya, menatap Nafiza dengan tatapan yang semakin intens. "Boleh Mas minta sesuatu?" bisiknya dengan nada menggoda.
"Minta apa, Mas?" tanya Nafiza dengan nada gugup. Ia sudah bisa menebak apa yang akan diminta suaminya.
Zayn tersenyum nakal. "Mas pengen ...," Zayn menunjuk bibir ke arah bibir Nafiza. "Boleh?" bisiknya tepat di telinga Nafiza, membuat Nafiza meremang.
Nafiza terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Ia tahu, ia tidak bisa menolak permintaan suaminya.
"Tapi ini di kantor, Mas," bisik Nafiza pelan, berusaha mengingatkan Zayn.
"Nggak apa-apa, Sayang. Nggak ada yang lihat," balas Zayn dengan nada membujuk, semakin mendekatkan wajahnya pada Nafiza.
Nafiza akhirnya mengangguk pelan, menyerah pada godaan suaminya. "Ya udah, tapi sebentar aja ya," bisiknya lirih.
Zayn tersenyum puas mendengar persetujuan Nafiza. Tanpa membuang waktu Ia dengan lembut membuka cadar yang menutupi wajah Nafiza, memamerkan wajah cantik istrinya yang merona. Ia menatap wajah Nafiza dengan tatapan penuh cinta, mengagumi setiap lekuk wajahnya yang terpahat sempurna.
"Mas sayang banget sama kamu, Sayang," bisik Zayn tulus, lalu mencium bibir Nafiza dengan lembut.
Awalnya, ciuman itu hanya berupa kecupan ringan. Namun, semakin lama ciuman itu semakin dalam dan penuh tuntutan. Nafiza membalas ciuman Zayn dengan penuh cinta, melupakan rasa kesalnya terhadap Riana.
Bersambung ...
farhan semoga tdk ada kebahagiaan buat mu. gedek banget laki tukang selingkuh dan wanita pelakor. hhh.
menjijikan