Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Tanam Harapan
Fajar kelabu baru saja menyentuh cakrawala di wilayah pinggiran Astinapura, membawa embun yang terasa lebih berat dan dingin daripada pendingin ruangan di High Tower. Arkananta berdiri di tepi lahan pertanian Panti Cahaya Sauh, membiarkan kaki telanjangnya tenggelam ke dalam tanah yang lembap. Tidak ada lagi sepatu kulit mahal yang memisahkan dirinya dengan bumi. Ia bisa merasakan denyut halus dari tanah Terra, sebuah getaran yang seolah mencoba mendinginkan suhu tubuhnya yang masih sisa-sisa dari luapan energi hampa semalam.
Di pergelangan tangannya, jam tangan perak yang biasanya menjadi penanda presisi waktu kini berhenti total. Jarumnya membeku, seolah menolak untuk menghitung waktu di tempat di mana nasib ditentukan oleh musim, bukan oleh bursa saham. Arkan menarik napas manual, merasakan paru-parunya yang masih terasa sedikit terbakar, namun sensasi itu perlahan memudar seiring dengan aroma tanah basah yang ia hirup.
"Tanah ini tidak akan bertanya soal lencana yang kau buang ke limbah gedung itu, Arkan," suara Ibu Fatimah memecah keheningan. Wanita tua itu datang membawa dua gelas kopi tubruk yang uapnya mengepul, beraroma pahit dan jujur.
Arkan berbalik perlahan, otot pipinya sedikit rileks saat melihat sosok yang telah membesarkan istrinya. "Ibu belum tidur?"
"Di Terra, kami bangun sebelum matahari punya kesempatan untuk menghukum kami dengan panasnya," sahut Ibu Fatimah sembari menyerahkan gelas kopi. "Minumlah. Di sini tidak ada pelayan yang akan membawakanmu air lemon dalam gelas kristal. Hanya ada kafein dan ampas yang harus kau telan sendiri."
Arkan menerima gelas itu, merasakan panasnya merambat ke telapak tangannya yang kini lecet dan kotor oleh lumpur hitam. "Kopi ini... baunya lebih hidup daripada apa pun di High Tower."
"Tentu saja. Karena kopi ini tidak mengandung basa-basi politik," Ibu Fatimah menatap ke arah lahan yang mulai terlihat jelas di bawah cahaya fajar. "Nayara sudah bangun. Ia sedang duduk di serambi, mencoba mendengarkan arah angin. Ia tahu kau sedang berdiri di sini, menatap tanah seperti orang yang sedang mencari nyawanya yang hilang."
"Saya hanya sedang mencoba memahami bagaimana sesuatu yang begitu diam bisa memberi kehidupan," gumam Arkananta. Ia menyesap kopi itu, membiarkan rasa pahitnya membilas sisa rasa getir di lidahnya akibat pendarahan gusi yang ia alami saat proses ekstraksi melalui rubanah kemarin.
"Tuan Arkan!" Bayu muncul dari arah barak penyimpanan, pakaiannya sudah berganti dengan kaos lusuh milik Mang Asep, namun langkahnya masih membawa kedisiplinan seorang asisten komando. "Saya sudah memeriksa perimeter. Tidak ada tanda-tanda pelacakan satelit. Jalur evakuasi melalui pipa pembuangan kemarin benar-benar memutus jejak kita."
Arkan mengangguk singkat. "Jangan panggil aku Tuan di sini, Bayu. Panggil aku Arkan. Di atas tanah ini, kita semua hanya debu yang sedang berusaha tidak terinjak."
"Baik, Ar... Arkan," Bayu tampak canggung, namun ia segera menyesuaikan nadanya. "Ada masalah di lumbung sisi selatan. Beberapa warga melaporkan tanaman gandum yang seharusnya siap panen mendadak layu dan menghitam. Baunya sangat menyengat, mirip belerang yang terbakar."
Rahang Arkan mengunci rapat. Ia meletakkan gelas kopinya di atas pagar kayu yang lapuk. "Sihir Kyai Hitam. Mereka tidak bisa menyentuh fisik kita di sini, jadi mereka menyerang sumber kehidupan kita."
Tiba-tiba, suara tawa anak-anak panti yang sedang mencuci muka di sumur sayup-sayup terdengar, namun tawa itu segera berganti dengan teriakan kecil. Nayara muncul di serambi, tangannya meraba tiang kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati namun penuh martabat. Kain kasa masih menutupi matanya, namun wajahnya terangkat ke arah langit.
"Arkan! Jangan biarkan mereka mendekati sumur!" seru Nayara. Suaranya tidak melengking, namun memiliki otoritas spiritual yang membuat Bayu secara insting bersiaga.
Arkan berlari kecil mendekati istrinya, menangkap tangannya yang meraba udara. "Aku di sini, Nayara. Apa yang kau rasakan?"
"Tanah ini sedang menangis, Arkan. Ada sesuatu yang busuk sedang merayap di bawah akar," bisik Nayara sembari mencengkeram lengan baju Arkan. "Bau belerang itu bukan dari api, tapi dari kebencian yang dikirimkan melalui frekuensi tanah. Mereka mencoba meracuni sumur panti."
"Bayu, amankan anak-anak panti sekarang juga! Pastikan tidak ada yang menyentuh air sumur sampai aku memberi perintah!" seru Arkan. Ia menatap ke arah lahan pertanian di mana beberapa batang gandum mulai merunduk dan menghitam, seolah disiram oleh cairan asam yang kasatmata.
"Tapi Arkan, jika air sumur tercemar, kita tidak punya cadangan untuk warga Terra di sekitar sini," sahut Ibu Fatimah dengan wajah cemas.
"Saya akan mengatasinya, Ibu. Percayalah pada saya sekali ini lagi," ucap Arkananta. Ia melepaskan tangan Nayara dengan lembut. "Nayara, aku butuh batinmu untuk menunjukkan di mana pusat aliran busuk itu."
Nayara mengangguk, ia memejamkan matanya di balik kasa. "Berjalanlah sepuluh langkah ke arah pohon kamboja tua. Di sana, getarannya paling panas. Seperti ada jarum-jarum perak yang sedang menusuk jantung bumi."
Arkan melangkah sesuai instruksi istrinya. Setiap langkahnya terasa makin berat, seolah gravitasi di titik itu meningkat berkali-kali lipat. Saat ia tiba di depan pohon kamboja, ia melihat tanah yang tadinya cokelat subur kini berubah menjadi abu-abu pucat, mengeluarkan uap tipis yang berbau busuk logam.
Dari balik semak-semak di perbatasan lahan, muncul tiga orang pria dengan jaket kulit kusam dan wajah yang penuh dengan seringai merendahkan. Mereka membawa jeriken dan pemantik api, berdiri dengan angkuh seolah-olah mereka adalah penguasa baru di wilayah itu.
"Wah, lihat ini. Bukankah ini Tuan Besar dari High Tower yang beritanya sedang heboh karena membelot?" salah satu preman, yang tampaknya suruhan Erlangga, mengejek sembari meludah ke tanah. "Sekarang kau hanya seorang petani miskin yang akan mati kelaparan karena tanahmu sudah dikutuk."
Arkan tidak menunjukkan kemarahan melalui teriakan. Ia justru berdiri tegak, membiarkan energi hampa di dalam dirinya merambat turun ke telapak kaki. "Kalian membakar lumbung kayu semalam, bukan?"
"Itu hanya peringatan kecil, Tuan. Majikan kami bilang, martabatmu tidak akan bisa tumbuh di atas tanah yang sudah busuk," sahut preman lainnya sembari menyalakan pemantik api. "Bagaimana rasanya kehilangan lencana perakmu? Apakah kau merindukan rasa dingin logam di jas mahalmu?"
"Martabatku tidak tumbuh di lencana, tapi di dalam sumsum tulangku," balas Arkananta. Suaranya rendah, menyebabkan dedaunan di pohon kamboja bergetar hebat. "Kalian punya waktu sepuluh detik untuk pergi sebelum aku menjadikan kalian bagian dari pupuk di lahan ini."
"Kau mengancam kami? Dengan tangan kosong dan istri buta itu?" preman itu tertawa, melangkah maju untuk memprovokasi.
Arkan menarik napas manual yang sangat dalam. Ia merasakan perih di tengkuknya, sebuah tanda bahwa penderitaan batin Nayara yang sedang mendeteksi racun mulai terserap ke dalam dirinya. Ia tidak memukul preman itu. Ia justru berlutut, menancapkan jemarinya ke dalam tanah yang beracun itu.
"Apa yang kau lakukan, gila?" tanya preman itu, terhenti karena melihat pembuluh darah di tangan Arkan mulai menonjol dan berwarna hitam keunguan.
"Aku sedang menarik kembali sampah yang kalian kirimkan," desis Arkananta. Wajahnya memucat, dan keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya. Ia menggunakan teknik absorbsi paksa, menarik energi busuk dari sihir Kyai Hitam masuk ke dalam tubuhnya sendiri agar tanah panti kembali murni.
Nayara di serambi mendadak sesak napas, ia memegangi ulu hatinya. "Arkan! Hentikan! Kau akan menghancurkan sarafmu sendiri!"
Arkan tidak berhenti. Ia terus menekan jemarinya ke dalam tanah. Suhu di sekitar pohon kamboja itu anjlok drastis, menyebabkan uap beku muncul di udara fajar yang lembap. Preman-preman itu mundur dengan ketakutan saat melihat tanah abu-abu di bawah tangan Arkan perlahan-lahan kembali menjadi cokelat gelap, sementara lengan Arkan gemetar hebat karena menahan beban energi negatif yang luar biasa besar.
"Pergi!" teriak Arkananta, suaranya meledak bersamaan dengan gelombang tekanan udara yang menghempaskan ketiga preman itu hingga terjungkal ke parit di luar lahan.
Para preman itu segera bangkit dan lari terbirit-birit, meninggalkan jeriken mereka tanpa berani menoleh lagi. Arkan tersungkur, napasnya tersengal-sengal, sementara darah segar mulai mengalir dari hidungnya.
"Arkan!" Nayara berlari tertatih-tatih menuju lahan, dibantu oleh Bayu yang segera menangkap tubuh Arkan sebelum wajahnya menghantam lumpur.
Arkananta terbatuk, memuntahkan cairan hitam pekat yang berbau besi ke atas tanah yang baru saja ia bersihkan dari kontaminasi sihir. Tubuhnya menggigil hebat meski fajar mulai menghangat. Setiap saraf di lengannya terasa seperti ditarik oleh kawat pijar, sebuah harga yang harus dibayar karena telah menjadikan tubuhnya sebagai wadah penampung racun metafisika.
"Jangan mendekat, Nayara... energiku masih belum stabil," bisik Arkan sembari menepis pelan tangan Bayu yang mencoba membantunya berdiri. Ia tidak ingin istrinya terpapar sisa residu busuk yang masih menempel di pori-pori kulitnya.
Nayara tetap berlutut di samping Arkan, jemarinya yang gemetar menyentuh bahu suaminya yang kotor oleh lumpur. "Anda selalu melakukan ini, Arkan. Menelan duri agar orang lain bisa berjalan di atas bunga. Berhentilah mencoba menjadi martir sendirian."
"Tanah ini harus selamat, Nayara. Jika panti kehilangan lahannya, mereka akan kehilangan alasan untuk tetap berdiri di Terra," sahut Arkananta dengan suara parau. Ia memaksakan diri untuk duduk tegak, mengatur napas manualnya hingga detak jantungnya yang liar berangsur melambat.
Ibu Fatimah datang membawa kain basah dan sebuah kotak kayu kecil berisi benih gandum yang masih utuh. Ia menatap Arkan dengan pandangan yang sulit diartikan—antara iba dan kekaguman yang dalam. "Kau sudah melakukan bagian yang paling berat, Nak. Sekarang, biarkan bumi melakukan bagiannya."
Arkan menerima kain basah itu untuk menyeka darah di hidungnya. "Apakah benih ini akan tumbuh, Ibu? Tanah ini baru saja terluka."
"Tanah Terra punya ingatan yang kuat, Arkan. Ia tahu siapa yang memberinya racun dan siapa yang memberikan keringat," jawab Ibu Fatimah sembari berlutut di sisi lain. "Nayara, bantu suamimu menanam benih pertama. Di sini, harapan tidak tumbuh dari instruksi, tapi dari sentuhan tangan yang tulus."
Arkan meraih tangan Nayara, membimbing jemari istrinya untuk menyentuh lubang-lubang kecil yang ia gali di tanah cokelat yang kini kembali subur. Mereka bekerja dalam kesunyian yang khidmat, hanya ditemani suara gesekan daun kamboja dan kepakan sayap burung gereja yang mulai mencari makan.
"Rasakan teksturnya, Nayara. Dingin, namun menyimpan api kehidupan," ucap Arkan lembut.
"Aku merasakannya, Arkan. Tanah ini terasa... berterima kasih," bisik Nayara sembari meletakkan butiran benih gandum ke dalam liang bumi.
Bayu berdiri beberapa meter di belakang mereka, berjaga-jaga dengan tatapan waspada ke arah perbatasan. "Tuan—maksud saya, Arkan. Para preman itu pasti akan melapor pada Erlangga. Mereka tahu kita lemah secara logistik sekarang. Mereka tidak akan berhenti hanya pada sabotase lahan."
Arkan bangkit berdiri, menyeka lumpur di lututnya. Wajahnya yang pucat kini berganti dengan ketegasan seorang Komandan yang telah menemukan medan tempurnya yang baru. "Biarkan mereka datang, Bayu. Di High Tower, mereka punya sistem dan hukum. Tapi di sini, di Terra, hukum ditentukan oleh siapa yang paling mampu bertahan dengan akar yang dalam."
"Apa rencana kita selanjutnya? Kita tidak mungkin hanya bertani sementara mereka menyiapkan pasukan hukum untuk mencabut hak veto Nyonya Nayara," tanya Bayu.
"Kita akan membangun benteng kedaulatan dari sini," tegas Arkananta. Ia menunjuk ke arah barisan warga panti yang mulai keluar membawa cangkul dan arit. "Kita akan membuktikan pada dewan keluarga bahwa kekuasaan Empire Group tidak berarti apa-apa jika rakyat tidak lagi bergantung pada sistem mereka. Kita akan memulai kedaulatan pangan mandiri. Jika mereka memutus arus logistik, kita akan menciptakan arus kita sendiri."
Nayara berdiri di samping Arkan, memegang sapu tangan melati miliknya yang kini ia ikat di pergelangan tangan Arkan sebagai pengikat janji. "Dan saya akan menjadi mata Anda di wilayah gelap ini, Arkan. Meskipun mata fisik saya belum pulih, saya bisa merasakan setiap pergerakan niat busuk yang mendekat ke arah panti ini."
Matahari akhirnya menyembul sepenuhnya, menyinari lahan panti yang kini dipenuhi oleh orang-orang yang mulai bekerja dengan harapan baru. Tidak ada lagi bayang-bayang High Tower yang angkuh di sini; yang ada hanyalah barisan manusia yang siap bertarung untuk martabat mereka di atas tanah yang jujur.
Arkananta menatap telapak tangannya yang lecet. Rasa sakitnya masih ada, namun ia merasa lebih utuh daripada saat ia mengenakan jas hitam dan lencana perak. Ia tahu, benih yang ia tanam pagi ini bukan sekadar gandum, melainkan awal dari sebuah revolusi martabat yang akan meruntuhkan menara kaca di pusat kota itu.
"Mari kita selesaikan bagian selatan, Bayu," ajak Arkan sembari meraih kembali cangkulnya. "Sebelum matahari terlalu tinggi, kita harus memastikan harapan ini sudah terkubur cukup dalam agar tidak bisa dicuri oleh siapa pun."
Di kejauhan, kepulan debu dari kendaraan patroli kota mulai terlihat di garis cakrawala, namun Arkan tidak lagi merasa terdesak. Ia telah menginjakkan kakinya di tanah yang benar, dan malam ini, ia akan tidur dengan napas yang lebih lega daripada sebelumnya.