NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24:

Sinar matahari sore itu terasa hangat, namun tidak bagi Vian. Sejak bel pulang sekolah berbunyi, jantungnya berdegup tidak keruan. Pesan dari ibunya semalam terus terngiang seperti kaset rusak. “Mama sedang sakit parah.” Logikanya mengatakan ini mungkin hanya drama, tapi nuraninya sebagai anak masih menyisakan celah kecil untuk rasa iba.

Vian berdiri di pinggir taman yang letaknya hanya dua blok dari sekolahnya. Ia sengaja meminta Safira untuk tidak menjemputnya tepat waktu dengan alasan ada kerja kelompok di perpustakaan. Kebohongan pertama yang ia katakan pada kakaknya itu terasa seperti duri di tenggorokan.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali berhenti di depan taman. Bukan mobil mewah Raga Maheswara yang mencolok, melainkan sebuah mobil sewaan dengan kaca gelap. Pintu terbuka, dan Ratih turun dengan langkah gontai. Wajahnya pucat—entah karena bedak yang berlebihan atau memang kurang tidur—dan ia mengenakan syal tebal di lehernya.

"Vian..." panggil Ratih dengan suara serak.

"Ma," Vian mendekat, namun ia tetap menjaga jarak. "Mama beneran sakit? Kenapa nggak ke rumah sakit saja?"

Ratih mendekat dan tiba-tiba memeluk Vian dengan erat, terisak di bahu putranya. "Bagaimana Mama bisa sembuh kalau pikiran Mama hancur, Vian? Papa-mu terus memarahi Mama, kakak-kakakmu tidak mau bicara pada Mama. Dan kamu... satu-satunya anak kandung Mama, malah pergi."

Vian merasa kaku. "Ma, Safira nggak jahat. Dia cuma mau keadilan. Kenapa Mama nggak minta maaf saja dan balikin uang yayasan itu?"

Isakan Ratih berhenti seketika. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Vian dengan tatapan yang sulit diartikan. "Minta maaf? Kamu tidak tahu apa-apa, Vian. Safira itu ingin menghancurkan kita! Dia ingin menguasai harta Papa-mu sendirian. Dan sekarang dia menggunakan kamu sebagai sandera agar Papa tidak berani melawannya."

"Itu nggak bener, Ma! Kak Fira yang biayain aku sekarang, dia yang kasih aku ketenangan!" bantah Vian.

"Ketenangan?" Ratih tertawa sinis, suaranya kembali tajam. "Dengar, Vian. Mama ke sini bukan untuk berdebat. Ikut Mama pulang sekarang. Papa sudah menyiapkan pengacara untuk mencabut hak asuh Safira atas kamu. Kamu harus bilang ke pengadilan kalau Safira memaksamu ikut dengannya."

Vian melangkah mundur, matanya membelalak. "Enggak. Aku nggak mau. Aku mau tinggal sama Kak Fira."

"Vian! Jangan keras kepala!" Ratih mencoba meraih lengan Vian dengan kasar. "Kamu itu anakku! Kamu milikku!"

Tepat saat ketegangan memuncak, sebuah suara dingin membelah udara taman yang sepi itu.

"Dia bukan milik siapa-siapa, Ratih. Dia adalah manusia yang punya hak untuk memilih."

Ratih tersentak dan menoleh. Di sana, tidak jauh dari mereka, Safira berdiri dengan tangan bersedekap. Ia tidak sendirian. Abian berdiri di sampingnya dengan wajah yang benar-benar tidak bersahabat, sementara dua pria berbadan tegap tampak berjaga di belakang mereka.

"Kak Fira..." bisik Vian, wajahnya pucat karena malu dan takut.

Safira berjalan mendekat, matanya menatap Vian dengan sorot kecewa yang mendalam, namun tetap lembut. "Vian, Kakak sudah bilang, kan? Kejujuran adalah satu-satunya pelindung kita. Kenapa kamu harus berbohong soal kerja kelompok?"

"Aku... aku cuma mau pastiin kalau Mama nggak apa-apa, Kak. Maaf," Vian menunduk dalam, air mata mulai menggenang di matanya.

Safira kemudian beralih menatap Ratih. Tatapannya berubah menjadi setajam silet. "Sakit parah, Ratih? Kamu terlihat cukup kuat untuk melakukan penculikan di siang bolong."

"Aku tidak menculiknya! Dia anakku!" teriak Ratih histeris. "Kamu yang sudah mencuci otaknya, Safira! Kamu anak pembawa sial yang ingin merusak keluargaku!"

"Keluargamu sudah rusak dari dalam karena keserakahanmu sendiri," balas Safira tenang. "Dengar, aku sudah menduga kamu akan menggunakan taktik murahan ini. Karena itu aku memasang pelacak di ponsel Vian demi keselamatannya. Dan syukurlah aku melakukannya."

Abian melangkah maju, membuat Ratih mundur ketakutan. "Nyonya Ratih, tindakan Anda mencoba membawa pergi Vian tanpa izin—mengingat adanya sengketa hak asuh yang sedang berjalan—bisa dianggap sebagai percobaan penculikan. Apakah Anda ingin menambah daftar tuntutan hukum Anda?"

Ratih gemetar. Ia menoleh ke arah mobilnya, berharap ada bantuan, namun ia tahu ia kalah jumlah.

"Vian, masuk ke mobil Kakak," perintah Safira lembut namun mutlak.

Vian tidak membantah lagi. Ia berlari menuju mobil Safira tanpa menoleh ke belakang. Rasa hormatnya pada ibunya benar-benar hancur hari ini. Ia baru sadar bahwa ibunya tidak benar-benar merindukannya; ibunya hanya membutuhkannya sebagai alat tukar.

Setelah Vian masuk ke mobil, Safira mendekat ke telinga Ratih, berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh wanita itu.

"Jangan pernah sentuh Vian lagi. Jika kamu mendekatinya satu inci saja, aku akan memastikan video aslimu saat mentransfer dana yayasan ke rekening pribadimu tersebar di semua stasiun berita nasional malam ini juga. Pilihannya ada di tanganmu: diam dan nikmati sisa hari-harimu di penjara dengan tenang, atau hancur berkeping-keping sekarang juga."

Wajah Ratih kehilangan seluruh warnanya. Ia terjatuh terduduk di aspal taman saat mobil Safira dan Abian melaju pergi.

Di dalam mobil, suasana sangat sunyi. Vian hanya menatap ke luar jendela dengan bahu yang bergetar. Safira tidak memarahinya. Ia tahu adiknya sedang mengalami pergolakan batin yang hebat.

Sesampainya di apartemen, Safira mengajak Vian duduk di balkon.

"Kak... kenapa Kakak nggak marah sama aku?" tanya Vian parau.

Safira menghela napas, menatap langit malam Jakarta. "Karena Kakak tahu rasanya merindukan kasih sayang seorang Ibu, Vian. Kakak nggak bisa marah karena kamu punya hati yang baik. Tapi kamu harus belajar, bahwa tidak semua orang yang memiliki hubungan darah denganmu memiliki niat baik untukmu."

Vian menangis terisak, ia memeluk kakaknya. "Maafin aku, Kak. Aku nggak akan bohong lagi. Aku benci mereka. Aku benci rumah itu."

"Jangan membenci, Vian. Kebencian hanya akan membuatmu sama seperti mereka. Cukup jadikan ini pelajaran agar kamu lebih kuat," ucap Safira sambil mengusap punggung adiknya.

Sementara itu, di kediaman Maheswara, Raka dan Bima sedang berkemas. Mereka tidak membawa banyak barang, hanya keperluan penting saja.

"Kalian benar-benar mau pergi?" suara Raga terdengar dari ambang pintu kamar Raka. Pria itu tampak hancur melihat kedua putra mahkotanya bersiap meninggalkan rumah.

"Kami tidak bisa tinggal di sini, Pa," ucap Raka sambil menutup kopernya. "Setiap sudut rumah ini mengingatkan kami pada ketidakadilan yang kami biarkan terjadi pada Safira. Kami akan tinggal di apartemen dekat kantor."

"Tapi perusahaan..."

"Kami akan tetap bekerja secara profesional, Pa," sela Bima. "Tapi kami bukan lagi anak-anak yang bisa Papa atur untuk duduk manis di meja makan bareng wanita itu. Besok pagi, kami sendiri yang akan menyerahkan bukti-bukti tambahan ke tim audit. Papa sebaiknya bersiap."

Raka dan Bima berjalan melewati ayah mereka tanpa menoleh. Di ruang tengah, mereka berpapasan dengan Maya yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah pucat.

"Kak... kalian mau ke mana?" tanya Maya ketakutan.

Bima berhenti sejenak, menatap adik tirinya itu dengan tatapan kosong. "Selamat tinggal, Maya. Nikmatilah rumah besar ini. Karena sebentar lagi, kamu mungkin akan menjadi satu-satunya orang yang tersisa di sini."

Si kembar melangkah keluar, meninggalkan rumah mewah itu dalam kegelapan yang semakin pekat. Malam itu, keluarga Maheswara benar-benar terpecah menjadi kepingan yang mustahil untuk disatukan kembali.

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kalea rizuky
keren novelnya
shanairatih
ga sabar nunggu lanjutanny😍
Cty Badria
up y byk Dan panjang ceritany 💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wahyuningsih
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
semoga UAS nya lancar dan hasilnya memuaskan ya 🙏🙏🙏
MataPanda?_
semangat trus kak.. 💪
Lala Kusumah
syukurlah Fira akhirnya keluar dari rumah Maheswara 👍👍👍💪💪😍😍😍
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
penyesalan pasti datng terlambat
Wahyuningsih
gas thor 💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
makasih updatenya, kalau bisa double atau crazy up ya 🙏🙏🙏
Yusrina Ina
author up nya tidak cukup ni 🤭🤭🤭 tambah lagi ya 🙏🙏🙏. terima kasih semangat 💪💪💪 lagi up nya.
MataPanda?_
bagus kak MC y gk neko"ceritanya bagus semangat trus kak 😄
Lala Kusumah
Safira emang hebaaaaaatt baik hati dan tidak sombong 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!