"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mertua Dan Menantu
"Bisa ada kebetulan seperti itu? Jadi kalau kami butuh donor kami bisa saling membantu." Gumam Fransisca.
"Benar!" Hanya itulah jawaban dingin dari sang butler.
Selanjutnya mobil melaju dalam keheningan tanpa kata. Kala melakukan pemeriksaan kesehatan, seperti sudah diduga Fransisca tidak terjangkit virus HIV. Hal yang lumayan melegakan baginya.
Sedangkan sang butler berpisah jalan setelahnya. Memilih turun di rumah sakit, kembali ke kediaman dengan menaiki taksi online.
Tidak ada yang aneh, sama sekali tidak ada. Hingga kala dirinya melangkah mendekati pintu kantor beberapa karyawan terlihat, begitu ramai di lobby kantor. Sebagian besar membawa paperbag.
"Akulah nyonya bos kalian saat ini. Tapi kalian malah memberikan Hadian pada calon nyonya bos masa depan. Kan... goblok!" Batin Fransisca melangkah tanpa beban, memutuskan untuk hanya naik ke lantai dua. Guna mengamati hal yang terjadi.
Walaupun tidak lama kemudian Lita yang baru datang juga mengikutinya menuju lantai dua. Sahabatnya memang membawa kado selamat datang juga dalam sebuah paperbag.
"Kamu juga bawa?" Fransisca mengangkat sebelah alisnya. Padahal telah memperingatkan temannya agar tidak merugi.
"Ya...satu kotak besar." Jawaban antusias darinya. Sementara Fransisca hanya menatap jenuh.
"Satu kotak penuh momogi. Aku juga tidak mau rugi." Sebuah kalimat yang membuat Fransisca tidak dapat berkata-kata. Orang ini memang penuh dengan kejutan.
"Tapi kamu seperti ini, membocorkan bahwa dia adalah lulusan universitas Harvard. Ditambah dengan istri dari pak Doni. Kamu tidak takut akan dibully oleh karyawan lain?" Tanya Lita tidak mengerti.
"Memang pernah ada karyawan yang menyukaiku? Aku sudah sering membantu Doni di perusahaan. Tapi mereka semua hanya menganggap angin lalu. Kecuali divisi desain dan marketing yang mengenalku secara langsung. Saat aku datang tidak pernah ada penyambutan seperti ini. Tapi untuk orang baru mereka menyambutnya bagaikan ratu." Gumam Fransisca.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Lita penasaran.
"Menduduki jabatan CEO, kemudian merestorasi perusahaan. Menjadikan anakku dan Arkan nanti sebagai pewaris. Tapi sebelum itu para pion harus bergerak untuk menjatuhkan Johan..." Fransisca tersenyum menyeringai, semakin meningkat level permainan, maka segalanya akan semakin menarik. Bukankah mereka juga akan memberikan perlawanan yang sepadan?
Menatap ke arah mobil Doni yang berhenti di depan area kantor.
Hari pertama bekerja, tentu saja mantan wanita pendamping kasino ini harus tampil cetar membahana. Turun dari mobil, tampil ala wanita karier profesional. Menggunakan setelan hitam putih. Anting-anting dengan merek Chanel, tas merek Gucci melekat padanya, ditambah jam tangan merek rolex.
Sungguh penyamaran yang indah dari wanita pendamping penjudi kasino. Menjadi wanita karier mandiri.
"Wow..." Fransisca tersenyum.
"Wow?" Lita mengangkat sebelah alisnya."Jika dia benar-benar hebat, lebih baik aku berpihak padanya. Lulusan terbaik universitas Harvard, pasti---"
"Bukan terbaik...No! No! No! Tapi terbalik. Dia bukan lulusan universitas Harvard sama sekali. Semuanya hanya palsu, untuk meminta uang kuliah lebih pada ayahku. Menurutmu bagaimana kapasitas otak orang ini?" Tanya Fransisca.
"Entahlah...gaya elite, tapi kalau hanya zonk---" Kalimat Lita disela.
"Benar! Zonk! Atas perintah ayahku aku selalu memberikan contekan padanya. Dia adalah sampah hidup yang berjalan." Lagi-lagi Fransisca menghela napas.
Dan benar saja kala Mira masuk.
"Selamat datang nyonya Mira!" Semua orang menyambut dirinya.
Hal yang membuat Mira tersenyum penuh kepuasaan. Inilah yang pantas didapatkannya sebagai istri bos.
"Nyonya Mira, saya Roki direktur bagian desain. Ini hadiah selamat datang dari saya. Hanya sekedarnya, semoga kedatangan nyonya Mira dapat memajukan perusahaan ini."
"Sa...saya Jeki direktur bagian keuangan. Ini untuk---"
Orang-orang berkerumun berebut untuk memberikan kado selamat datang. Benar-benar kebodohan yang hakiki. Mungkin itulah yang ada dalam pikiran Fransisca saat ini.
Sedangkan Mira, hampir semua hadiah ini bernilai puluhan juta. Dirinya benar-benar dihormati, berbeda dengan Fransisca. Menatap ke arah Fransisca yang berada di lantai dua, tersenyum mengejek.
Seolah-olah berkata."Aku dapat semua ini, kamu dapat apa?" Padahal tidak mengatakan apapun, tapi dari raut wajah dan senyuman mengejeknya ini semua tergambar.
"So... stupid..." Gumam Fransisca, memilih melangkah kembali ke ruangan tempatnya bekerja. Sedangkan Mira menghela napas, segalanya ada dalam kendalinya.
Hanya tinggal menyerahkan tugas pada bawahan apa susahnya. Mungkin itulah yang ada dalam anggapan seorang Mira.
***
Tapi.
Terkadang segalanya sama sekali tidak semudah yang ada dalam anggapannya. Dirinya ditempatkan di departemen marketing. Berada lansung di bawah pengawasan Sela. Mungkin Johan ingin menguji menantunya? Entahlah.
"Sudah kamu balas e-mail dari Mrs.Celine?" Tanya Sela pada Mira.
"Sudah! Tapi belum ada jawaban." Itulah yang dikatakan oleh Mira, memainkan handphonenya.
"Biasanya Mrs.Celine membalasnya dengan cepat. Balasan apa yang kamu kirimkan padanya?" Tanya Sela, menatap ke arah komputer milik Mira.
Wanita yang membulatkan matanya. Satu persatu, tidak! Hampir semua grammar salah. Ditambah dengan kalimat dan kata-kata tidak seharusnya."Kamu tidak menggunakan grammar?" Bentaknya.
"Bicara dengan orang asing tidak memerlukan grammar. Semakin santai bicara dengan mereka maka akan semakin mudah akrab. Orang yang hanya taunya tinggal di perusahaan sepertimu tau apa?" Ejek Mira pada atasannya.
Baik! Kemarahan Sela ada di level satu saat ini. Dirinya tidak boleh lupa bahwa wanita ini mengandung cucunya. Sialnya kenapa Doni harus jatuh cinta pada orang ini!?
"Tapi ini e-mail resmi! Kamu tidak pernah diajarkan kalau e-mail resmi berbeda dengan pesan yang harus kamu kirimkan pada teman?" Tanya Sela, menyetabilkan emosinya.
Ternyata memang benar! Fransisca adalah pilihan terbaik. Lulusan UI tapi punya pemikiran tajam, bakat dan etika.
Apa jangan-jangan orang ini (Mira) hanya punya selangkangan!? Ingin rasanya dirinya mengumpat. Tapi sama sekali tidak boleh dilakukan olehnya.
"Apa salahnya!? Aku lulusan luar negeri percaya saja padaku, ini tidak akan menyinggung Mrs. Celine malah membuatnya menjadi semakin akrab! Nenek tua memang pemikirannya kaku. Tidak fleksibel." Mira yang tidak mengetahui orang ini adalah selingkuhan ayah mertuanya mengumpat sembarangan. Menganggap semua orang di perusahaan ini adalah bawahan yang dapat diperlakukan bagaimana pun.
"Tapi sampai sekarang, hari hampir sore tidak ada balasan! Kalau Mrs. Celine yang merupakan orang asli inggris tersinggung dan mengalihkan kerja sama permanen. Kamu bisa bertanggung jawab!?" Bentak Sela pada akhirnya. Gila! Dalam waktu singkat kemarahannya sampai di level 9. Sungguh luar biasa menantunya satu ini.
Mira menghela napas, melangkah santai ke arah salah satu staf marketing."Kamu kirimkan e-mail ulang pada Mrs. Celine. Lalu kamu, belikan aku Americano." Ucapnya pada dua orang staff marketing yang duduk bersebelahan.
"Sela...sabar Sela....sabar..." Gumam Sela.
"Masalah selesai, sudah pengalaman kerja puluhan tahun tapi bisa sebodoh ini." Sindir Mira kembali duduk santai membuka media sosial.
mau marah,tapi....sudah lama berlalu
Johan, walaupun dan bagaimana pun itu juga adalah anaknya
apa, tidak ada rasa yg tertinggal 🥹🥹
anggep aja nay.
setiap tetesan air yg turun
adalah waktu dia sedang menyapa dan berusaha memeluk kita🥹