NovelToon NovelToon
Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Penyelamat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.

​Daftar Karakter Utama:

​Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.

​Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).

​Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).

​Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror Kamajaya Sungsang: Jejak Nista di Sekar Wangi part 3

Langkah Satya Wanara terhenti tepat di depan mulut gua yang seolah-olah menjadi gerbang menuju neraka. Udara di sekitarnya tidak lagi hanya berbau busuk, melainkan terasa pekat dengan energi negatif yang menyesakkan dada. Di atas mulut gua, akar-akar beringin tua menggantung seperti rambut raksasa yang menangiskan cairan merah kental.

​"Gusti Allah, tempat ini benar-benar perlu disapu bersih," gumam Satya. Ia melepaskan ikatan kain mori yang membungkus pusakanya.

​Sring!

​Toya Emas Angin Langit menampakkan wujudnya. Batang toya yang berwarna kuning keemasan itu memancarkan cahaya murni yang langsung mengusir kegelapan di sekitarnya. Satya melangkah masuk dengan tenang. Di dalam, ia disambut oleh Ki Sabrang Bolong yang berdiri di samping singgasana batu tempat Eyang Kala Drubiksa duduk.

​"Kau benar-benar berani datang, Arya Gading," suara Kala Drubiksa menggelegar, membuat stalaktit di langit-langit gua berjatuhan. "Aku tahu sejarahmu. Aku tahu lukamu. Tapi di sini, akulah hukumnya!"

​Ki Sabrang Bolong, yang kini telah pulih berkat bantuan sihir gurunya, menerjang dengan Keris Kyai Kala Peteng. Keris itu memancarkan kilat hitam yang menyambar-nyambar.

​"Bocah! Kali ini kau akan mati!" teriak Ki Sabrang.

​Satya hanya tersenyum simpul. Ia memutar Toya Emasnya dengan satu tangan. Gerakannya begitu cepat hingga menciptakan pusaran angin yang kuat.

​"Jurus Bayu Pamungkas!"

​Satya menghantamkan ujung Toya ke tanah. Ledakan energi murni terpancar keluar. Ki Sabrang yang sedang menerjang kaget saat keris hitamnya tiba-tiba bergetar hebat lalu hancur berkeping-keping menjadi debu. Tubuh dukun cabul itu terpental menghantam dinding gua hingga tak sadarkan diri.

​Eyang Kala Drubiksa meraung melihat muridnya tumbang. Raksasa siluman itu bangkit, tubuhnya membesar hingga kepalanya menyentuh langit-langit gua. Kuku-kukunya memanjang seperti pedang.

​"Kau sombong karena senjata itu, manusia!" raung sang siluman. Ia melancarkan pukulan yang mampu meruntuhkan gunung.

​Satya melompat ringan, menghindari pukulan itu. Ia mendarat di atas lengan raksasa sang siluman dan berlari cepat menuju kepalanya. "Bukan senjatanya yang sakti, Eyang... tapi kebenaran yang dibawanya!"

​Saat berada di udara, Satya memegang Toya Emas dengan kedua tangannya. Cahaya keemasan membumbung tinggi hingga menembus atap gua, menyinari seluruh Hutan Larangan.

​"Toya Emas Angin Langit: Pemutus Rantai Kegelapan!"

​Satya menghantamkan toya tersebut tepat ke dahi sang siluman. Terjadi ledakan cahaya putih yang luar biasa terang. Suara jeritan gaib terdengar memekakkan telinga saat tubuh Eyang Kala Drubiksa perlahan-lahan menguap terbakar oleh energi murni. Kegelapan yang menyelimuti hutan itu selama puluhan tahun pun sirna seketika.

​Beberapa saat kemudian, Satya berjalan keluar dari gua yang kini telah runtuh. Hutan Larangan tidak lagi terasa pengap; cahaya matahari pagi mulai menembus celah-celah pepohonan, menyinari embun yang kini bening kembali.

​Di batas hutan, warga Desa Sekar Wangi bersama Pak Lurah dan Ratih Gayatri telah menunggu dengan cemas. Melihat Satya muncul dengan senyum nakalnya, sorak-sorai pecah.

​"Apakah sudah selesai, Kang Mas?" tanya Ratih dengan mata berbinar lega.

​Satya menggaruk kepalanya, "Sudah, Nyai. Eyang silumannya sudah pulang karena takut saya ajak makan ubi bakar. Ki Sabrang juga sudah saya 'ikat' di dalam, silakan warga menyerahkannya ke prajurit kadipaten."

​Satya kemudian berbalik menatap matahari yang kian tinggi. Meski Tumenggung Gajah Pradoto telah mendekam di penjara Majapahit dan musuh-musuh besarnya telah sirna, ia tahu dunia masih luas.

​"Pak Lurah, Ratih... tugas saya di sini selesai. Langkah kaki ini masih ingin melihat keindahan bumi Tuhan yang lain," ucap Satya sambil membungkuk hormat.

​Ratih nampak sedih, namun ia tahu Satya bukan pria yang bisa dikurung dalam satu desa. "Ke mana tujuan Kang Mas selanjutnya?"

​Satya menyampirkan Toya Emas yang telah kembali terbungkus mori ke punggungnya. Ia melirik ke arah Timur, menuju lereng Gunung Lawu yang misterius.

​"Mencari kedamaian, Nyai. Dan mungkin... mencari warung nasi jagung yang lebih enak dari buatanmu, walau saya ragu ada yang bisa menandinginya," canda Satya sambil mulai berjalan menjauh.

​Sambil bersiul ringan, Sang Pendekar Toya Emas melangkah pergi, meninggalkan Desa Sekar Wangi yang kini kembali harum. Namanya akan menjadi legenda baru yang diceritakan dari mulut ke mulut—seorang pendekar slengean yang membawa cahaya di balik bayangan.

​Di tengah lebatnya hutan yang mulai dilewati Satya, tiba-tiba ia menghentikan langkah. Perasaannya yang tajam merasakan sesuatu yang janggal di sekitarnya. Dari kejauhan, di atas dahan pohon tertinggi, seorang pria Cina dengan pakaian pendekar Hanfu khas Tiongkok kuno berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah Satya. Tubuhnya seolah menyatu dengan dedaunan, hampir tak terlihat.

​Pria itu tersenyum tipis, bergumam pelan dalam bahasa asing yang tak dipahami Satya, "Arya Gading... dunia ini memang sempit."

​Satya merasakan tatapan itu. Ia menoleh cepat ke atas pohon tempat pria itu berdiri. Namun, saat matanya mencapai dahan tersebut, pria itu sudah tidak ada. Kosong. Seolah-olah sosok itu menghilang ditelan angin.

​Alis Satya bertaut. Ia memutar pandangannya, mencari-cari keberadaan sosok misterius itu. "Perasaan... seperti ada yang mengawasiku," gumamnya pelan, tangannya tanpa sadar meraba bungkusan Toya Emas di punggungnya. Perjalanannya ternyata belum berakhir. Ini baru permulaan.

1
anggita
wah ada anggota Wali Songo juga😊.
anggita
oke lah👌👍
anggita
ikut dukung like👍iklan👆👆, buat author novel fantasi timur lokal. semoga lancar sukses novelnya.
anggita
nama teknik jurusnya unik😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!