Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impian Kecil
Setelah memastikan Alia terlelap, Tisha kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang dan terdiam lama dengan mata yang mengarah kosong ke lantai.
Perlahan ia menatap punggung tangannya. Inai yang dilukis di malam pernikahannya masih tampak cantik. Perasaannya kini jadi bercampur aduk
Sebagai perempuan, ia pernah bermimpi menikahi lelaki yang ia cintai, dengan pesta yang indah, senyuman keluarga, dan masa depan yang hangat. Tapi hidupnya memilih arah berbeda.
Ia telah menikah dengan pria yang tidak ia cintai. Pernikahan kontrak yang berakhir bukan dengan bahagia selamanya, tapi kembali menjadi seperti orang asing.
Ia tidak menyesal, setidaknya untuk Alia. Justru kasih sayang pada anak itu yang membuat ia tidak bisa menolak.
Hanya saja malam ini, ia merasa seluruh angan yang dulu pernah ia simpan rapi, hancur perlahan.
Tanpa sadar, tetes air mata jatuh mengenai lukisan inai yang berwarna merah pudar itu.
“Ini hanya satu tahun, Tisha. Semoga Alia bisa membaik,” bisiknya lirih.
Namun semakin lama ia mencoba menguatkan diri, justru semakin deras isakannya. Ada rasa sesak yang ia pendam, namun kini rasa sesak akhirnya meminta ruang untuk keluar.
Willie baru turun, ia hendak menuju kamar Alia untuk memastikan putrinya apakah sudah tertidur. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar samar-samar suara isakan halus.
Ia mengikuti sumbernya. Sampai akhirnya berdiri di depan pintu kamar Tisha. Isakan itu kini terdengar jelas, mengiris hati siapa pun yang mendengarnya.
Willie bersandar pada dinding diluar kamar Tisha. Ia menunduk, “Apa dia menyesal?” gumamnya dalam hati.
Sebuah perasaan muncul, lebih dari sekadar bersalah. Ia tahu betul, ini bukan mudah. Seorang gadis muda perawan, kini harus menjadi istri seorang duda demi seorang anak yang bukan darah dagingnya.
Dan saat kontrak berakhir nanti, ia akan dianggap janda. Pandangan orang akan berubah. Bisik-bisik akan mengikuti ke mana pun ia pergi.
Padahal kenyataannya, mereka bahkan tidak menyentuh satu sama lain. Willie mengepalkan tangan. Sebuah sesalan kini menyeruak di dadanya tanpa ampun.
“Aku memang payah…” batinnya pedih.
“Kenapa aku harus menyeret gadis itu ikut memakan malapetaka ini?”
Ia mengangkat wajah, menatap kosong pada pintu di dekatnya. Walau hanya selembar kayu yang memisahkan mereka, dunia di baliknya terasa jauh penuh derita sunyi yang tak bisa ia jangkau.
Willie berbisik kepada dirinya sendiri.
“Tisha, akan kubuat kau bahagia. Walaupun hubungan kita hanya sementara di atas kertas.”
Dua hati yang sama-sama terluka, namun mereka belum menyadari bahwa mereka sebenarnya mulai mengobati satu sama lain.
***
Keesokan paginya, setelah sarapan sederhana yang dibuat Bi Ratih, mereka mulai bersiap menjalani rutinitas masing-masing.
Tisha merapikan rambut Alia, sementara Alia sibuk memilih jepit rambut bergambar kelinci. Willie dari kejauhan memperhatikan keduanya, pemandangan itu membuat rumah terasa lebih hidup.
“Baik, ayo berangkat,” ujar Willie sembari meraih kunci mobil.
Ia berniat mengantar Tisha dan Alia ke sekolah terlebih dahulu, sebelum menuju kantornya.
Dalam hati ia sempat berharap kecil. Mungkin Tisha akan duduk di kursi depan disebelahnya. Entah mengapa ia menginginkan itu.
Willie membuka pintu dan duduk di kursi pengemudi. Ia menunggu sebentar, pintu samping penumpang tidak juga terbuka.
Sebaliknya, terdengar bunyi pintu belakang kiri dibuka. Tisha masuk ke dalam mobil dan duduk persis di belakang Willie bersama Alia.
Willie refleks melirik lewat kaca spion tengah.
Sepersekian detik wajahnya mematung. Dalam hati ia mendengus kecewa. “Dulu Vira selalu duduk di depan. Tapi Tisha.."
Ia menghela napas perlahan, mencoba menetralkan hatinya. Bukan salah Tisha. Tidak ada yang salah. Hanya ada ruang kosong yang tiba-tiba kembali dingin.
“Sudah siap?” tanya Willie.
“Sudah, Pak,” jawab Tisha sopan.
Mobil pun melaju perlahan keluar dari halaman rumah. Di kaca spion, ia melihat Alia tertawa kecil sambil memegang tangan Tisha.
Dalam hatinya Willie mendengus kecil. "Apa-apaan ini, kenapa aku jadi seperti sopir yang mengantar majikannya.”
Sesampainya mereka di sekolah, sebelum turun, Willie berdeham. "Nanti pulangnya saya jemput " ujarnya.
"Baik, setidaknya Alia bersama anda karena saya sepertinya harus ke kampus." balas Tisha.
"Oh Baiklah." jawab Willie.
Sebelum turun, Alia seperti biasa menyalami dan mencium tangan ayahnya. Willie tanpa sengaja refleks memberi tangannya juga pada Tisha.
Tisha memandang tangan Willie dengan bingung, dan kebingungan itu akhirnya terbaca oleh Willie.
Ia pun sadar, sebelum ia sempat menarik tangannya kembali, Tisha meraih tangan Willie dan menyalaminya dengan sopan.Sontak wajah keduanya memerah.
Tisha dan Alia kemudian turun. Alia melambaikan tangan pada ayahnya. Tisha hanya mengangguk sekilas dengan senyum ke arah Willie. Lalu Willie melajukan mobilnya kembali.
Sepanjang jalan, Willie hanya senyum-senyum sendiri mengingat momen itu. Entah mengapa, pagi itu semangatnya terasa bertambah.
***
Siangnya, ternyata Willie tak bisa menjemput mereka. Ia masih sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk karena cutinya beberapa hari lalu.
Padahal niatnya ia ingin mengajak anak dan istri barunya itu untuk makan siang diluar. Namun rencana itu terpaksa gagal.
Ia menelepon Tisha dan memberitahu bahwa sopir kantornya yang akan menjemput mereka. Dan benar saja beberapa saat kemudian, mobil Willie datang dan Tisha juga mengenali sopir itu.
Tisha tidak ikut bersama mereka. "Pak, tolong antarkan Alia saja kerumah."
Sopir itu terlihat bingung, "Tapi Pak Willie menyuruh saya untuk mengantarkan anda juga Bu."
Alia pun memaksanya ikut, akhirnya ia pun terpaksa menurut. "Baik Pak, tapi tolong antarkan Alia dulu kerumah ya."
Begitu memastikan Alia dirumah, mereka pun berangkat lagi. Tisha merasa lega, karena Willie menambah satpam untuk menjaga rumah mereka.
Pekerjaan Willie akhirnya selesai untuk hari itu. Ia merenggangkan lehernya, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
“Apa Tisha sudah pulang?” batinnya. Entah kenapa pertanyaan itu muncul begitu saja dipikirannya.
Ia meraih ponselnya, lalu mengetik cepat.
"Pulang jam berapa?". Pesan itu terkirim untuk Tisha.
Notif balasan dari Tisha, tak lama kemudian. "Sebentar lagi, ada apa ya Pak?."
Willie menatap ponselnya beberapa detik, lalu menyimpan begitu saja tanpa menanggapi lagi. Ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.
Sementara itu, Tisha memandangi layar ponselnya dengan dahi mengernyit.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Alia…? batinnya cemas.
Willie diam-diam ingin menjemput Tisha, mungkin biar sekalian pulang bersama, pikirnya. Ia sengaja tidak ingin memberitahu gadis itu, khawatir Tisha sungkan.
Di kampus, begitu dosennya selesai memberikan tinjauan terakhir pada skripsinya, Tisha membereskan barang-barangnya dan keluar kampus bersama dua temannya.
Mereka baru saja melangkah keluar dari pagar kampus. Tiba-tiba suara bariton yang sangat familiar terdengar di belakangnya.
“Tisha!”
Tubuh Tisha spontan berhenti. Ia menoleh dan terpaku, melihat pria yang memanggilnya. Willie berdiri di sisi mobilnya, lengan terlipat santai, dan raut wajah tenang namun sorot matanya langsung melembut saat melihat Tisha.
'Pak Willie.' batin Tisha.