NovelToon NovelToon
Pelacur Metropolitan

Pelacur Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arindarast

Pelacur mahal milik Wali Kota. Kisah Rhaelle Lussya, pelacur metropolitan yang menjual jiwa dan raganya dengan harga tertinggi kepada Arlo Pieter William, pengusaha kaya raya dan calon pejabat kota yang penuh ambisi.

Permainan berbahaya dimulai. Asmara yang menari di atas bara api.
Siapakah yang akan terbakar habis lebih dulu? Rahasia tersembunyi, dan taruhannya adalah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arindarast, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Devil’s due

Setelah perjodohan-berkedok makan siang dengan ibunya dan menghadiri Meeting kedua, sekarang jadwal terakhir Arlo, menjadi narasumber untuk majalah Der Spiegel.

Menjadi salah satu orang yang berpengaruh di dunia, interview kali ini akan mengangkat topik seputar pencalonan Arlo sebagai wali kota, serta berbagi kisah inspiratif lainnya yang berkaitan dengan ‘kepimpinan’ perusahaan besar.

Janji temu bersama jurnalis di lakukan di kediamannya, tentu saja dengan beberapa persiapan yang matang. Itulah alasan ibu Arlo kemarin datang untuk menyidak rumah anaknya. Memastikan semuanya rapi dan prima.

Arlo yang selalu mendapat laporan pergerakan Rhaell, mendapat kabar mendadak dari Dayana bahwa wanita itu dijemput Marco untuk dibawa ke rumahnya.

Semua sudah terjadi, sebelum Arlo sempat mencegah. Toh, ia juga tidak bisa menolak permintaan keponakan tersayangnya.

Bagai menari di tepi jurang, keberadaan Rhaell dalam rumah itu seperti tebing yang rapuh, yang bisa meruntuhkan segalanya.

Atlas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk tuannya. “Tahan emosi ya, Pak Arlo. Sebentar lagi jurnalis akan datang.” Peringat Atlas pada Arlo yang tampak gusar.

Dayana menyambut Arlo saat mereka sampai di ruang tamu, “selamat sore, Pak.”

Arlo berhenti sejenak, mengamati sekeliling dan hening. “Dimana mereka?” Sebuah firasat tak mengenakkan muncul di benaknya, seolah-olah ada sesuatu yang akan terjadi.

Dayanya sedikit gugup saat melihat ekspresi bosnya yang masam, tapi berhasil menjawab dengan sekali tarikan napas, “Sienna tertidur di kamarnya, dan Ibu Rhaell sedang bersama Pak Marco di kamar atas.”

Arlo menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai emosi dalam dirinya saat mendengar laporan dari Dayana. Kamar atas yang disebut ajudannya itu pasti kamar Marco.

Sayup terdengar percakapan Atlas dengan seseorang di telpon. Mengisyaratkan para jurnalis yang hampir tiba.

Dengan langkah tenang, Arlo menuju tangga rumahnya yang mewah, setiap pijakannya terasa seperti berjalan di atas bara api.

Sampai di depan pintu kamar Marco, ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. Kemudian, dengan sekali sentakan, ia membuka pintu itu.

Di hadapannya langsung tertangkap pemandangan yang membuatnya mendidih. Rhaell sedang memeluk Marco yang hanya menggunakan celana dalamnya saja. Tubuh mereka terekspos, tertawa lepas dengan botol wine di tangan Marco.

Kedua manusia itu terkejut oleh kemunculan Arlo yang tiba-tiba, hanya bisa ternganga. Dada keduanya masih terbuka, menunjukkan tubuh polos, kontras dengan wajah mereka, penuh dosa.

Tanpa berpikir panjang, Arlo menuju ke arah mereka dan menarik paksa Rhaell menjauh dari Marco.

“Arlo, tenang. Aku bisa jelaskan.” Suara Rhaell bergetar, menunjukan kepanikannya yang luar biasa.

Ia melirik Marco, yang terduduk di tempat tidur, wajahnya pucat pasi, seperti masih terjebak dalam keterkejutannya.

“Seriously, Marco? Kamu hanya diam saja?!” Bentak Rhaell mulai berontak dan menjerit.

Marco, dengan sempoyongan akibat mabuk, mencoba bangkit dari tempat tidur. Dunia berputar, pandangannya kabur, dan setiap gerakan terasa berat. Ia ingin merebut Rhaell, melindungi. Tapi sebelum tangannya menyentuh lengan Rhaell, Arlo lebih cepat.

Dengan langkah tergesa dan penuh amarah, Arlo menyeret Rhaell menuju kamarnya sendiri, di ujung lorong lantai dua. Rhaell terus melawan, mencoba melepaskan diri, tetapi cengkeraman Arlo terlalu kuat.

Begitu sampai di kamar, Arlo membanting pintu dan menguncinya, lalu mendorong Rhaell sampai tersungkur di atas kasur.

Rhaell mendesis, tubuhnya masih terasa panas akibat perlawanan tadi. Ia menatap Arlo dengan mata penuh amarah dan kebencian, siap melontarkan makian.

Namun, sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya, Arlo sudah membungkamnya. Ciuman Arlo bukan ciuman lembut penuh kasih sayang, melainkan ciuman yang penuh dominasi, sebuah pernyataan kekuatan dan kepemilikan. Bibir Arlo menekan bibir Rhaell dengan keras, menghentikan segala protes dan amarah yang hendak diungkapkan.

Rhaell memberontak, mencoba mendorong Arlo, tetapi kekuatan Arlo jauh lebih besar. Tangan Arlo menahan kedua pergelangan tangan Rhaell di atas kepalanya, menahan setiap gerakan perlawanan. Ciuman itu semakin dalam, mencampur adukkan rasa marah, kecewa, dan sesuatu yang menyerupai gairah liar.

Arlo melepaskan ciuman itu sesaat, napasnya memburu. Tatapannya tajam, menembus jiwa Rhaell. “Diam,” desisnya, suaranya serak, tetapi penuh otoritas. “Aku tidak mau mendengar sepatah kata pun darimu.”

Napas Arlo masih memburu, dadanya bergemuruh. “Tunggu di sini sampai semua wartawan itu terbunuh, karenamu!” suaranya dingin, keras, ada getaran emosi yang tak terkendali di baliknya.

“Dasar keluarga gila! Persetan denganmu! Iblis!” Sumpah serapah akhirnya terucap dari bibir manis Rhaell.

Arlo terpaku sesaat setelah membanting pintu, suara teriakan Rhaell masih bergema di telinganya.

“Kalian yang membawaku kesini tapi lagi-lagi hanya aku yang tersiksa!” Rhaell terus mengeluarkan seluruh emosinya, dia tidak suka memendam apapun dan keluarga Arlo cukup mengguncang kewarasannya.

Rhaell terduduk di atas kasur, napasnya tersengal-sengal. Ia merasa diperlakukan tidak adil, dipaksa masuk ke dalam situasi yang tidak ia inginkan. Membuatnya terjebak, seperti boneka yang dimainkan, tanpa suara dan pilihan.

Ia menatap pintu yang baru saja dibanting Arlo. Kata-kata Arlo “sampai semua wartawan itu terbunuh, karenamu!” Terngiang di telinganya.

Ancaman itu, meskipun mungkin hanya luapan emosi, tetap saja membuatnya takut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Arlo akan kembali? Apakah ia akan dihukum? Atau dibiarkan sendirian di dalam kamar ini?

Rhaell merasa dingin, tubuhnya hanya tertutup lingeri tipis saat Arlo menyeretnya. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju lemari pakaian Arlo.

Lemari itu besar, berisi pakaian-pakaian rapi yang tertata dengan sempurna. Ia membuka laci demi laci, mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya.

Matanya menangkap sebuah kaos putih polos, ia meraihnya. Tercium aroma maskulin yang samar dari kain tersebut. Aroma Arlo. Aroma yang bisa membuatnya tenang, tetapi sekarang justru memicu gelombang emosi yang mendalam.

Rhaell mengenakan kaos kebesaran itu, panjangnya bahkan mencapai pertengahan paha, menciptakan kesan yang aneh dan sedikit lucu di tengah situasi yang serius ini.

Menatap dirinya sendiri dalam pantulan cermin. Rambutnya sedikit berantakan, wajah memerah, dan mata berkaca-kaca. Rhaell terlihat seperti anak kecil yang tersesat, terjebak dalam situasi yang jauh di luar kemampuannya. Ia menghela napas, mencoba untuk menenangkan diri dan berpikir jernih untuk mencari jalan keluar.

Sampai sesaat, terdengar suara mobil dari balik jendela balkon kamar Arlo. Rhaell mendekat dan mengintip ke bawah.

Pandangannya langsung menagkap beberapa orang mengenakan rompi wartawan dengan logo dari majalah terkenal, menenteng kamera yang tampak mahal.

Seketika, semua menjadi jelas. Kemurkaan Arlo sebab Rhaell dan Marco dengan bodohnya, menggali kuburan untuk mereka sendiri.

...****************...

Canda tawa dan obrolan siswa memenuhi ruang kelas, bercampur dengan suara kursi yang bergeser dan langkah kaki yang terburu-buru menuju kantin.

Edgar sendiri memilih untuk tetap duduk di bangkunya, meletakkan buku teks di atas meja. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku, jari-jari tangannya sedikit ragu saat mengetik nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.

Sekali lagi, suara operator itu mengalun, “Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.” Edgar terdiam, menatap layar ponselnya yang gelap gulita setelah panggilan terputus.

Belum sempat ia memikirkan langkah selanjutnya, segerombolan teman-teman sudah berkerumun di mejanya. Suara riuh mereka sedikit membuyarkan pikirannya yang kalut.

Amanda, dengan senyum cerahnya yang khas, mendekati Edgar. Rambutnya yang sebahu tergerai, menunjukkan sisi femininnya yang lembut. “Gar, masih di sini aja? Ayo ke kantin.” Suaranya terdengar riang.

Edgar tersenyum, sebuah senyum yang penuh keramahan. “Ayo,” jawabnya, tenang.

Di tengah jalan menuju pintu kelas, Amanda bertanya, suaranya sedikit lebih pelan, “Kamu nunggu telpon dari siapa sih, Gar? Serius banget tadi mukanya.”

Edgar mengangguk, “Iya, sedikit. Kakakku nggak bales pesanku, aku telepon juga nggak diangkat.” Ia mengerutkan dahi sedikit, menunjukkan sedikit kekhawatiran, namun tetap berusaha terlihat santai. “Dia biasanya nggak kayak gini,” tambahnya, suaranya sedikit lebih rendah.

Amanda memperhatikan ekspresi Edgar dengan seksama. Ia bisa merasakan kecemasan yang tersembunyi di balik sikap tenang Edgar. Lalu ia mencoba meraih tangan Edgar sebentar, memberikan isyarat dukungan yang lembut. “Tenang aja, mungkin dia lagi sibuk. Nanti juga dibales kok,” ujarnya, suaranya penuh empati.

Edgar tersenyum tipis, menghargai dukungan dari Amanda. Ia merasa sedikit lebih tenang setelah berbagi sedikit kekhawatirannya. Mereka melanjutkan langkah menuju kantin.

Begitu sampai, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah pertengkaran kecil, atau mungkin lebih tepatnya, pembulli-an, sedang terjadi di sudut kantin. Edgar dan Amanda berhenti sejenak, memperhatikan situasi tersebut.

Di tengah keramaian, Edgar melihat seorang siswi bertubuh agak gempal sedang dikepung oleh geng cewek paling hits di sekolah, kelompok yang dikenal karena kecantikan dan popularitasnya.

“Semangkok cukup, Khal? Harusnya se-ember nggak sih?” Suara-suara mengejek dan menertawakan, terdengar jelas. Siswi gempal yang dipanggil Khal itu menunduk dan berusaha tidak memperdulikan.

Hingga akhirnya sekelompok siswa laki-laki mendekat, dipimpin oleh Nakula, vokalis band Northern•sky yang paling dipuja oleh satu sekolah.

Nakula duduk di sebelah siswi itu, menciptakan penghalang bagi para pembully. Nakula menatap Khal dengan tatapan penuh kagum, senyum lembut terukir di wajahnya.

Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, namun kehadirannya sudah cukup membuat para pembully terdiam, merasa malu dan perlahan menjauh. Meninggalkan siswi gempal itu sendirian bersama Nakula dan teman-temannya.

Pemandangan yang mebuat Edgar dan Amanda tersenyum lega. Suasana tegang di sudut kantin perlahan mereda, sampai tiba-tiba ponsel Edgar bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Rhaell.

“Halo? Cia di mana?”

Suara dari seberang terdengar ramah, namun sedikit ragu. “Halo, ini aku Marco. Rhaell dalam bahaya.”

Bersambung…

1
Grace
aku baca ini sambil makan 2 bungkus indomie, /Smile/
auralintang___-
marco, lu bisa minggir dlu gx? INI AREA ARLO DAN CIA OMEJII ngapa elu ngikut" sih ah elah ah elaaaah🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️
Galih
seru batt gilak
Mrlyn
jgn2 Cia udh diincer mau dijadiin ibunya Sienna 😅🤌🏻
Mrlyn
lanjutannya jgn lama2 ya thoorrr
Mrlyn
kira2 kenapa ya Arlo sedih 🤔
Mrlyn
Wangi manis 🌼🌼🌼🌼🌼 bayi mongmong bayi😌🫶🏻
Mrlyn
Tuh kan kepincut juga 🤣🤣🤣
Mrlyn
❤️❤️❤️❤️❤️
Mrlyn
Kasian Cia🤧 tp gpp nanti juga ada hikmahnya. sabar ya nduk
Mrlyn
wkwkwk makanya jgn macem2 sama Miss Lily🤣🔥
Mrlyn
makin menarik alurnya 😍🔥
Mrlyn
waduh udh mulai main apa🙈 awas loh kebakaran😌
Mrlyn
Nah ngejob begini aja Cia, kali ketemu jodoh 🙈
Mrlyn
Panjangin lagi babnya thorrrrrr, lagi asik baca tau2 abis🤧
Mrlyn
nungguin Arlo sama Cia interaksi lagi😍🔥
Mrlyn
Awas Lo Arlo ditandain Cia tr kepincut lagi🤣
Elok Senja
up dunk thorr....pliiisss 🤗🙏🥰
Elok Senja
ada typo kecil,
tu kan mo arah ke ❤❤ gituu 😅🤗
Elok Senja
jadi tertarik dg merek parfum nya Thor 🤣🤣😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!