NovelToon NovelToon
Terjebak Pernikahan

Terjebak Pernikahan

Status: tamat
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:330.7k
Nilai: 4.7
Nama Author: Momoy Dandelion

Ralina Elizabeth duduk tertegun di atas ranjang mengenakan gaun pengantinnya. Ia masih tidak percaya statusnya kini telah menjadi istri Tristan Alfred, lelaki yang seharunya menjadi kakak iparnya.

Semua gara-gara Karina, sang kakak yang kabur di hari pernikahan. Ralina terpaksa menggantikan posisi kakaknya.

"Kenapa kamu menghindar?"

Tristan mengulaskan senyuman seringai melihat Ralina yang beringsut mundur menjauhinya. Wanita muda yang seharusnya menjadi adik iparnya itu justru membuatnya bersemangat untuk menggoda. Ia merangkak maju mendekat sementara Ralina terus berusaha mundur.

"Berhenti, Kak! Aku takut ...."

Ralina merasa terpojok. Ia memasang wajah memelas agar lelaki di hadapannya berhenti mendekat.

Senyuman Tristan tampak semakin lebar. "Takut? Kenapa Takut? Aku kan sekarang suamimu," ucapnya lembut.

Ralina menggeleng. "Kak Tristan seharusnya menjadi suami Kak Karina, bukan aku!"

"Tapi mau bagaimana ... Kamu yang sudah aku nikahi, bukan kakakmu," kilah Tristan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Akting

Ralina tengah merebahkan kepalanya di atas meja perpustakaan. Ia sedikit terkejut saat ada sensasi rasa dingin memempel di pipinya. Ares datang membawakan sekaleng minuman dingin untuknya. Ia langsung terbangun.

"Kamu kenapa?" tanya Ares dengan nada bicara lirih agar tidak dimarahi petugas perpustakaan.

"Tidak apa-apa. Hanya lelah saja rasanya." Ralina membuka kaleng minuman yang Ares berikan. Ia langsung meminumnya. Rasanya sedikit membuat pikirannya lebih segar.

"Sedang banyak tugas, ya?" Ares mengusap lembut kepala wanita yang berwajah murung di sampingnya itu.

Tidak biasanya Ralina semurung dan selelah itu. Akhir-akhir ini Ralina terlihat tidak seperti biasa. Dari mulai penampilan yang berubah hingga ekspresi wajah yang tidak seceria biasanya. Ia khawatir Ralina ada masalah.

"Tidak, bukan itu ... Kamu tahu sendiri kan, kakakku akan menikah? Aku disuruh kesana kemari ikut dengannya."

Ralina memijit kepalanya yang agak pusing. Sebulanan ini ia berubah menjadi sopir pribadi kakaknya. Kemana-mana ia harus mau mengantar Karina. Padahal, ia sendiri juga harus menyisihkan waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Sebenarnya Karina tak terlalu membutuhkan dirinya. Karina bisa pergi bersama sopir dengan mobil barunya. Ralina tahu alasan utama kakaknya melakukan semua itu. Karina hanya ingin memamerkan kebahagiaannya.

Ia tahu calon suami kakaknya sangat kaya raya dan royal. Apa yang Karina inginkan dikabulkan, termasuk pesta pernikahan mewah bertema kerajaan. Ralina sama sekali tidak iri dengan apa yang kakaknya dapatnya.

Ia hanya berharap kakaknya menjadi orang yang lebih baik dan tidak menyakitinya lagi. Sejak dulu ia selalu dimarahi dan terkadang dipukuli jika membuat kakaknya kesal. Padahal ia sudah berusaha untuk patuh baik kepada kakaknya maupun orang tuanya.

"Kalau kamu kesulitan mengerjakan tugas kampus, jangan segan untuk meminta bantuanku."

Ares menggenggam tangan Ralina. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menguatkan wanita itu.

Ralina tersenyum. "Iya, terima kasih."

Ia bersyukur masih ada orang yang mau mendengar dan mendukungnya. Ares selalu baik. Meskipun pemuda itu juga memiliki permasalahannya sendiri, tapi masih peduli dengannya. Hari ini saja Ares baru selesai bekerja dan menemuinya.

Ponsel Ralina bergetar. Di layar muncul nama Karina. Ia sangat malas menerima panggilan itu. Sudah pasti Karina akan menyuruhnya lagi.

"Sebentar, telepon dari kakakku!"

Ralina membawa keluar perpustakaan ponselnya untuk menerima telepon.

"Halo,"

"Kamu dimana?"

"Masih di kampus, Kak. Ada apa?"

"Jemput aku sekarang di mall XXX!"

Ralina menghela napas. Sebelum ia menjawab, kakaknya sudah lebih dulu mematikan sambungan telepon. Ia kembali ke dalam ruang perpustakaan menjumpai Ares.

"Kakakmu, ya?" tebak Ares.

Ralina mengangguk malas. "Aku harus pergi sekarang untuk menjemputnya." Ia membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Ares bangkit dari duduknya. Ia meraih tangan Ralina dan menggandengnya. "Jangan cemberut begitu, semangat, Ralina!" ucapnya.

Ares menemani Ralina berjalan sampai di parkiran. Sebelum gadis itu pergi, ia memeluknya dan mengusap kepalanya.

"Hati-hati di jalan!" pesannya.

Ralina mengangguk. "Maaf, waktuku jadi berkurang untuk bersamamu."

Ares mengulaskan senyum. "Tidak apa-apa. Kita bisa jalan berdua lain kali."

"Kamu senangkan saja dulu kakakmu. Nanti kalau dia sudah menikah, kamu juga tidak akan diganggu lagi."

Ralina tertawa kecil. "Aku juga berharap seperti itu."

Ia masuk ke dalam mobil dan menjalankannya meninggalkan parkiran kampus. Ares masih berdiri di sana saat mobilnya sudah melaju. Sampai ia tidak bisa melihat Ares lagi lewat kaca spionnya.

Ralina fokus memperhatikan jalan. Namun, pikirannya tetap tidak bisa fokus. Karena kakaknya, hubungannya dengan Ares seakan menjadi lebih jauh. Ia jarang bisa bertemu dengan Ares. Apalagi Ares harus bekerja.

Setibanya di depan mall XXX, ia melihat kakaknya sedang berkumpul bersama teman-temannya. Keberadaan Friska dan Zia mengingatkannya pada kejadian di klab malam tiga tahun yang lalu. Ia tidak bisa melupakan mereka yang sudah membuatnya mabuk dan hampir dibawa oleh lelaki bejat bernama Aiden.

"Aku pergi sekarang, ya ...."

Karina berpamitan dengan teman-temannya dan masuk ke dalam mobil Ralina.

"Eh, kamu sungguhan dijemput Ralina. Adikmu jadi semakin manis ya, sekarang. Ralina apa kabar?" tanya Friska.

Ralina memaksakan tersenyum. "Baik, Kak."

"Ralina, kapan-kapan ikut main bersama kita, ya! Kamu kan sudah dewasa sekarang," sambung Zia.

"Sudah, sudah ... Jangan mengajak adikku mengobrol! Nanti aku bisa telat dan dimarahi Tristan!" omel Karina.

"Iya, iya ... Mentang-mentang yang mau menikah dengan pria tampan dan mapan ...," sindir Friska.

"Ralina, jalankan mobilnya!" pinta Karina.

"Bye semua!"

Ia melambaikan tangan seraya menaikkan kembali kaca jendela mobil.

"Kita mau kemana, Kak?" tanya Ralina sembari fokus pada kemudinya.

Karina menyandarkan punggung dengan santai di kursinya sembari memainkan ponsel.

"Butik Annelise. Tristan sudah menungguku di sana."

"Kenapa Kakak tidak meminta Kak Tristan saja yang menjemput?"

"Kamu gila? Tristan tidak suka melihatku bergaul dengan mereka. Mobilku juga sedikit mengalami kerusakan dan masih di bengkel," jawab Karina santai sambil tetap fokus pada ponselnya.

"Mobil Kakak rusak lagi?" Ralina benar-benar heran kepada kakaknya yang selalu merusakkan mobilnya. Padahal, mobil yag digunakan itu masih baru.

"Hanya sedikit lecet dan spionnya patah. Awas kamu jangan laporan kepada Tristan!"

"Pokoknya kamu berakting saja menjadi seorang adik yang baik, punya hubungan akrab dengan kakakmu. Jangan jelek-jelekkan aku di hadapan Tristan!" kata Karina mengingatkan.

"Iya. Iya ... Mana mungkin aku menjelek-jelekkan Kakak."

Ralina berharap setelah menikah nanti kakaknya benar-benar bisa berubah. Kasihan Tristan yang dibohongi dengan kelakuan kakaknya di belakang. Meskipun sikapnya sudah jauh lebih baik padanya, Karina memang masih belum berubah sepenuhnya.

Sesampainya di butik, Karina lebih dulu turun meninggalkan Ralina yang memarkirkan mobilnya. Ralina jadi malas untuk turun dari sana. Ingin ia pergi saja karena di dalam juga sudah ada Tristan. Seharusnya mereka pulang bersama.

Dengan malas, ia keluar dari mobil dan menyusul Karina masuk ke dalam.

"Selamat Siang, ada yang bisa kami bantu? Anda ingin mencari gaun pengantin?"

Ralina tertegun saat seorang staf butik menyambut kehadirannya dan langsung memberikan pertanyaan itu. Ia melirik ke sekeliling, Karina tidak terlihat di mana-mana.

"Kami memiliki koleksi terbaru di tahun ini. Ada juga koleksi model gaun pengantin yang paling banyak menjadi favorit."

"Kalau Anda berminat, saya bisa menemani untuk melihat-lihat koleksi kami."

"Ah. Itu ...."

"Gaun pengantin di sini bisa disewa, kami juga menerima permintaan untuk membuat desain khusus atau merombak gaun yang sudah jadi."

Staf tersebut sangat aktif menjelaskan sampai Ralina tidak ada kesempatan untuk menjelaskan maksud kedatangannya.

"Dia datang bersamaku."

Suara seorang lelaki dari arah samping membuat staf tersebut diam. Tristan berjalan mendekat mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan hiasan bunga di dada kirinya. Lelaki itu terlihat sangat tampan seperti seorang model. Bahkan Ralina juga ikut terkagum-kagum, penampilan Tristan berbeda dengan biasanya. Potongan rambutnya juga berubah.

1
WHATEA SALA
Ehhaa.....plong banget,seperti batu besar yang menghimpit hati dan kepala ini terangkat😁😁
WHATEA SALA
Nafsu aja di gedein,klu akal kalah sama nafsu ya kayak tristan ini😩😩😩
WHATEA SALA
Ares terlalu percaya diri,dengan terus mendekati Ralina,biarlah semua ada balasan nya,seperti Tristan..Ares...dan keluarga Ralina
WHATEA SALA
Huuu...bisa nya cuma ngamuk,itu karma mu,iya bener ..sayang istri,cinta istri,semua di berikan untuk istri tapi sayang..gak pernah jaga perasaan istri,gak pernah jaga martabat istri..istri di anggap hewan, di mana tempat istri harus melayani birahi nya.
maaf...klu bisa Ralina jangan sama siapa2,biar dia hidup sendiri bersama anak nya
WHATEA SALA
Sama anak orang peduli banget...gak tau istri nya lagi hamil
WHATEA SALA
Bayi dah lahir cepat tes DNA,semua terlihat dungu..menyebalkan
WHATEA SALA
Syukurin si Tristan...klu cinta jangan kasar dan katakan klu cinta,punya istri kok di anggap kayak hewan,di mana tempat istri selalu melayani bi**** nya
WHATEA SALA
Masak gak ke baca klu Tristsn begitu cinta nya sama Ralina,dari ATM tanpa limit kode brangkas di beri....au ahhh gelap
WHATEA SALA
Ralina coba egois dikit untuk dirimu,jangan terlalu baik untuk orang lain,kesan nya jadi NAIF
WHATEA SALA
Ralina sepertinya tidak mau belajar untuk kebaikan diri sendiri😩😩😩capek..
WHATEA SALA
Huuu....pada keras kepala,terutama si ares,bebal banget jadi orang...dia gak tau aja,setiap kedekatan nya dengan Ralina,akan menjadi siksaan bagi Ralina,cukup pikirin keluarga mu aja ares yang masih butuh batuanmu.heran banget sama ares dan ralin sama2 peraih beasiswa tapi kok..??!! apa karna belum lulus jadi sarjana ya...🤔🤔🤔🤔
WHATEA SALA
Wahh...sang pahlawan gak sadar akan tindakan nya berdampak pada penyiksaan terhadap Ralina,aku kasihan sama Ralin...tapi yaa nama aja cerita😁😁
WHATEA SALA
Ealah...ketemu lagi sama ares,entar sampai rumah di hajar lagi sama Tristan terus masih gak ngerti kenapa Tristan jadi kasar,wahh bisa2 Ralina jadi gila...tolong selametin Ralina thor😩😩
WHATEA SALA
Klu Ares ini seperti toge,di mana2 ada..ada di soto..ada pecel lontong dan sebagainya😁😁
WHATEA SALA
Saat dir sendirii di injak2 hanya diam membisu,tapi begitu ares di injak2 orang,datang bak pahlawan..sekarang trima akibatnya.menjadi pintar untuk orang lain tapi menjadi bodoh untuk diri sendiri,itulah Ralina...keras sama orang yang tulus,trs tulus sama orang jahat.
WHATEA SALA
Dapat beasiswa karna pintar,tapi tidak dengan Ralina maka nya di cabut😁
WHATEA SALA
Oalah....Ralina emang gak pernah belajar dari yang sudah2,enek juga liatnya lama lama,sombong..amat karna banyak uang hasil dari jual diri🤣🤣🤣dasar gak punya malu
WHATEA SALA
Ini pasti kerjaan Tristan😁
WHATEA SALA
Larina kan bukan boneka ya..apa gak bisa bilang "tidak" gitu kok gak ada keinginan untuk diri sendiri,jadi letak dia pintar dan cerdas nya di mana,maaf cuma komen
Nazia wafa abqura
bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!