NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takhta yang Rapuh

Lorong rumah sakit itu sunyi, hanya menyisakan dengung rendah dari mesin pendingin udara dan suara langkah sepatu perawat yang tergesa. Almira masih duduk di kursi tunggu, gaun pengantin putihnya yang megah kini tampak mengerikan dengan noda darah kering yang berubah menjadi cokelat tua. Ia menolak untuk mengganti pakaian, menolak untuk makan, bahkan menolak untuk beranjak meski Bi Inah sudah memohon berkali-kali.

Lampu di atas ruang operasi akhirnya berubah padam. Dokter Bastian keluar dengan wajah yang menyiratkan kelelahan luar biasa. Almira segera berdiri, kakinya yang gemetar hampir tak sanggup menopang berat tubuhnya.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" suara Almira parau, nyaris hilang.

"Operasi pengangkatan serpihan kristal berhasil, Nona—maksud saya, Nyonya Eduardo. Tuan Alex beruntung, kaca itu tidak mengenai paru-parunya. Namun..." Dokter Bastian terdiam sejenak, menatap Almira dengan pandangan prihatin. "Ada benturan keras pada saraf tulang belakangnya. Untuk saat ini, Tuan Alex mengalami kelumpuhan sementara pada bagian kaki. Kita perlu melakukan observasi lebih lanjut setelah dia sadar."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Almira. Alexander Eduardo, pria yang selama ini berdiri tegak layaknya raksasa yang tak terkalahkan, kini tergeletak tak berdaya. Pria yang selalu menggunakan kekuatannya untuk mengintimidasi, kini justru kehilangan kekuatan paling dasarnya.

Dua hari kemudian, Alex dipindahkan kembali ke penthouse. Ia menolak tinggal di rumah sakit lebih lama karena paranoia akan serangan lanjutan dari pihak Elara. Namun, kepulangannya kali ini sangat berbeda. Tidak ada langkah kaki berat yang menggema, yang ada hanyalah suara halus roda kursi roda yang didorong oleh asisten pribadinya.

Wajah Alex tampak tirus. Amarah yang biasanya meledak-ledak kini berganti menjadi aura dingin yang jauh lebih mematikan. Ia duduk di ruang kerjanya, menatap keluar jendela ke arah gedung-gedung pencakar langit yang seolah sedang menertawakan kondisinya.

"Keluar kalian semua," desis Alex kepada para perawat dan pengawalnya. "Hanya Almira yang boleh tetap di sini."

Begitu pintu tertutup, keheningan yang mencekam menyelimuti mereka. Almira berdiri di dekat pintu, masih merasa asing dengan perannya sebagai istri sah dari pria yang kini duduk di kursi roda itu.

"Kau puas melihatku begini, Almira?" tanya Alex tanpa menoleh. Suaranya rendah, penuh dengan kebencian pada diri sendiri. "Sekarang aku tidak bisa mengejarmu jika kau lari. Aku tidak bisa memaksamu untuk tunduk padaku dengan kekuatan fisikku."

Almira berjalan mendekat, berhenti tepat di samping Alex. "Aku tidak pernah menginginkan ini terjadi padamu, Alex. Meskipun aku membencimu, aku tidak pernah berdoa agar kau terluka."

Alex tertawa sinis, tawa yang terdengar seperti gesekan amplas. "Bohong. Kau pasti senang melihat 'sang monster' akhirnya kehilangan taringnya. Tapi dengarlah, meski aku tidak bisa berjalan, aku masih punya cukup kekuasaan untuk menghancurkan siapa pun yang menyentuh milikku."

"Milikmu?" Almira berlutut di depan kursi roda Alex, menatap pria itu langsung ke matanya. "Hentikan arogansi ini, Alex. Kau terluka karena mencoba melindungiku dan bayi ini. Untuk sekali saja dalam hidupmu, berhentilah bersikap seolah kau adalah penguasa semesta. Kau manusia, Alex. Kau bisa berdarah, dan kau bisa hancur."

Untuk pertama kalinya, Alex tidak membalas. Ia menatap tangan Almira yang diletakkan di atas lututnya yang tak terasa apa-apa. Ada kerinduan yang mendalam di matanya, namun ia terlalu angkuh untuk mengakuinya. Ia meraih tangan Almira, mencengkeramnya dengan kekuatan yang masih tersisa di tubuh bagian atasnya.

"Jika aku tidak bisa berjalan, maka kau yang akan menjadi kakiku," ucap Alex dengan nada posesif yang baru. "Mulai besok, kau harus mulai mempelajari laporan perusahaan. Aku tidak bisa mempercayai dewan direksi. Elara sedang mencoba menggerogoti sahamku dari dalam. Kau adalah satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatiku karena nyawa ibumu ada di tanganku."

Sementara itu, di Singapura, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan fasilitas rehabilitasi tempat Nadin, ibu Almira, dirawat. Elara keluar dari mobil dengan kacamata hitam besar dan senyum yang mematikan. Ia membawa buket bunga yang indah, namun hatinya penuh dengan racun.

Ia berhasil menyuap salah satu staf keamanan di sana untuk masuk tanpa terdeteksi oleh sistem pengawasan Alex. Elara melangkah masuk ke kamar Nadin, menatap wanita tua yang tampak lemah itu dengan jijik.

"Nyonya Nadin, senang melihat Anda masih bernapas," sapa Elara dengan nada manis yang palsu.

Nadin tersentak, mencoba mengenali siapa wanita cantik di depannya. "Siapa Anda?"

"Saya adalah masa depan menantu Anda yang malang," Elara duduk di pinggir ranjang, sengaja menekan seprai hingga Nadin merasa terancam. "Atau setidaknya, saya adalah orang yang akan memastikan Anda tidak akan pernah melihat cucu Anda jika Almira tidak berhenti mencoba menjadi Nyonya Eduardo yang sebenarnya."

Nadin gemetar. "Apa yang kau inginkan? Alexander sudah membiayai semuanya..."

"Alexander sedang tidak berdaya sekarang, Nyonya. Dia lumpuh, dan sebentar lagi dia akan miskin jika dewan direksi melakukan mosi tidak percaya," Elara mengeluarkan sebuah foto dari tasnya—foto pernikahan berdarah di gereja kemarin. "Lihatlah, putrimu membawa sial bagi keluarga Eduardo. Jika kau ingin Almira selamat, kau harus ikut denganku sekarang. Aku akan membawamu ke tempat di mana Alex tidak bisa menggunakanmu untuk mengancam Almira lagi."

Elara tidak berencana menolong Nadin. Ia berencana menculiknya, menjadikannya sandera terakhir untuk memaksa Almira menandatangani surat cerai dan pengakuan bahwa janin yang dikandungnya bukanlah darah Eduardo.

Kembali ke Jakarta, Almira mulai terjepit dalam kerumitan dunia bisnis Alex. Sepanjang malam, ia duduk di samping ranjang Alex yang kini dilengkapi peralatan medis, membacakan laporan keuangan dan profil pemegang saham.

Alex mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan instruksi tajam tentang siapa yang harus diwaspadai. Namun, di tengah pembicaraan serius itu, seringkali mata Alex tertuju pada perut Almira yang kini mulai menonjol di balik piyamanya.

"Anak itu... apakah dia menendang?" tanya Alex tiba-tiba, memotong pembicaraan tentang merger perusahaan.

Almira tertegun, lalu meletakkan laporannya. "Belum terlalu kuat, tapi terkadang aku bisa merasakannya."

"Boleh aku... merasakannya?" tanya Alex dengan nada yang hampir terdengar seperti permohonan, sesuatu yang sangat langka bagi seorang Alexander Eduardo.

Almira ragu sejenak, namun akhirnya ia mendekat dan membimbing tangan Alex ke perutnya. Begitu kulit tangan Alex yang hangat bersentuhan dengan kain tipis yang menutupi perut Almira, sebuah getaran halus terasa.

Mata Alex berkaca-kaca. Di tengah kelumpuhannya, di tengah pengkhianatan Elara, dan di tengah kebencian Almira padanya, nyawa kecil ini adalah satu-satunya hal yang terasa nyata dan murni.

"Aku akan melindunginya, Almira. Bahkan jika aku harus membakar dunia ini, aku tidak akan membiarkan nasibnya berakhir seperti sejarah ayahku," bisik Alex.

Momen lembut itu hancur ketika ponsel Alex berdering. Sebuah notifikasi darurat dari sistem keamanan di Singapura muncul di layar.

"Tuan! Protokol keamanan di kamar Nyonya Nadin dilanggar! Seseorang telah memindahkan beliau keluar dari fasilitas tanpa izin resmi!" suara pengawal di seberang telepon terdengar panik.

Wajah Alex seketika berubah menjadi pucat, lalu mengeras seperti batu. Ia menatap Almira yang masih berdiri di depannya dengan wajah penuh tanda tanya.

"Ada apa, Alex?" tanya Almira, firasat buruk mulai merayap di hatinya.

Alex tidak langsung menjawab. Ia mengepalkan tangannya hingga gemetar. Elara telah melampaui batas. Wanita itu tidak hanya menyerang hartanya, tapi kini menyerang jantung dari kelemahan Almira—satu-satunya alasan mengapa Almira mau tetap berada di sisinya.

"Elara mengambil ibumu, Almira," ucap Alex dengan suara yang bergetar karena kemarahan yang tertahan.

Almira berteriak, hampir jatuh jika Alex tidak segera menangkap tangannya. "APA?! Bagaimana mungkin?! Kau bilang tempat itu aman!"

"Tenanglah! Aku akan mencarinya!"

"Tenang?! Kau lumpuh, Alex! Kau tidak bisa melakukan apa-apa!" teriak Almira dalam histeria.

Kata-kata itu menghantam Alex lebih keras daripada lampu kristal di gereja. Ia menatap kakinya yang tak bergerak, lalu menatap Almira yang menangis tersedu-sedu. Penderitaan batin mereka mencapai level baru yang sangat destruktif. Kebencian, cinta, dan keputusasaan kini bercampur menjadi satu dalam ruangan mewah yang kini terasa seperti sel isolasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!