Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGAMBIL KEMBALI
“Mas, mau ke mana tengah malam begini?”
Tanya Maira yang baru saja terbangun dari tidurnya setelah mendengar gerakan kecil dari arah sang suami.
Farid yang sudah separuh mengenakan jaket, tersentak sebentar. Tatapannya langsung berpaling ke arah Maira. “Ada urusan sebentar, Mai. Teman Mas kecelakaan." Ujarnya cepat, mencoba terdengar tenang.
“Siapa?” Tanya Maira, kali ini dengan nada lebih jelas.
Alih-alih menjawab, Farid malah melangkah mendekat dan mengecup kening istrinya singkat. “Nanti Mas kabarin kamu lagi, ya. Mas pergi dulu.” Suaranya terdengar tergesa, seolah ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan.
Maira tak menahan, tapi sorot matanya tak lepas dari gerak-gerik suaminya yanh berlalu dengan cepat dan menghilang dari pintu yang sudah tertutup.
____
Dengan mata sembab dan tubuh yang masih gemetar, Vina duduk memeluk tas kecilnya erat di bangku tunggu rumah sakit. Jaketnya masih basah terkena gerimis sisa hujan yang turun sepanjang perjalanan.
Ia baru saja tiba dari kampung. Karena kelelahan harus terus pulang-pergi dengan angkutan umum setiap hari untuk bekerja, wanita itu memutuskan untuk membawa motornya sendir dari kampung. Tapi siapa sangka, baru saja tiba dari kampung musibah langsung datang menyapanya.
Seorang pria tua tiba-tiba melintas dari arah yang tak ia lihat. Dan… bruk!—ia menabraknya tanpa sempat mengerem.
“Udah, nggak apa-apa… Yang penting kamu kan baik-baik aja, ya.” Ucap Farid yang sudah tiba dengan menepuk punggung Vina pelan mencoba untuk menenangkan.
Vina menoleh, matanya sembab, suaranya serak saat berbicara. “Makasih ya, Mas… udah mau datang. Aku… aku beneran nggak tahu harus gimana. Cuma kamu orang yang bisa aku hubungi."
Farid mengangguk, mengerti. Ia ingat benar, beberapa hari lalu mereka sempat bertukar nomor sebelum dirinya pulang ke rumah. Waktu itu ia hanya menganggapnya bentuk sopan santun. Tak menyangka, nomor itu benar-benar digunakan dalam keadaan darurat seperti ini.
Farid menghela napas. Ia tahu Vina saat ini sedang dalam kondisi paling rapuh. Dan entah kenapa, ia tak sanggup meninggalkannya begitu saja atau bahkan mengabaikannya saat tadi di telfon.
“Nanti aku bantu urus semuanya, tenang aja ya." Ujarnya kembali mencoba menenangkan.
Vina mengangguk pelan. Belum sempat ia bersuara, tiba-tiba…
“Itu dia orangnya!”
Suara lantang seorang wanita terdengar dari arah lorong UGD. Beberapa anggota keluarga pria tua yang tertabrak langsung menyerbu ke arah mereka. Seorang ibu paruh baya dan dua pria muda menatap Vina dengan amarah yang menyala-nyala.
“Kamu yang nabrak ayah saya, kan?! Kamu harus tanggung jawab!” Teriak salah satu dari mereka sambil menunjuk wajah Vina.
“Suami saya sekarang kritis! Kalau sampai terjadi apa-apa, kamu yang kami tuntut!”
Vina hanya bisa terdiam. Tubuhnya bergetar hebat, bibirnya berusaha menjelaskan, tapi tak satu kata pun keluar. Ia benar-benar takut.
Melihat itu, Farid berdiri di depannya, melindungi.
Seorang pria muda dengan wajah merah padam mendekat cepat. “Kamu harus tanggung jawab! Ayah saya sekarang di ruang operasi!”
“Saya… saya nggak sengaja…” Gumam Vina dengan suara bergetar.
“Kami minta maaf atas kejadian ini, dan saya akan tanggung semua biayanya. Tolong beri ruang untuk Vina juga. Dia masih dalam kondisi shock.”
Ucapan Farid membuat mereka saling pandang. Salah satu dari mereka kembali berkata, “Jangan cuma ngomong! Kami butuh tanggung jawab nyata!”
“Saya akan ke bagian administrasi sekarang.” Ujar Farid tegas.
Dalam diam, Vina menunduk. Tangannya menggenggam ujung jaketnya sendiri, berusaha menenangkan gejolak dalam dada yang entah kenapa justru semakin kuat.
Antara terharu… dan berdebar dengan sikap gentle yang ditunjukkan oleh Farid.
•
•
Maira duduk dengan tenang di kursi kulit cokelat tua. Di depannya, seorang customer service sedang menunjukkan layar komputer pada laptop kecil yang disodorkan.
“Ini mutasi dua bulan terakhir, Bu Maira.”
Maira tak langsung menjawab. Ia membaca pelan, satu demi satu hingga dua angka besar membuat matanya berhenti berkedip:
Transfer ke [RS Graha Sentosa] – Rp 45.000.000
Transfer ke [ANA PRATAMA] – Rp 100.000.000
Tubuhnya menegang, tapi wajahnya tetap dingin. Hanya ujung bibir yang perlahan mengerut.
“Rumah sakit… tadi malam." Gumamnya dalam hati yang mulai menahan emosi karena Farid mentransfer tanpa adanya pemberitahuan maupun permintaan izin darinya.
Padahal selama ini, ia begitu percaya pada suaminya. Karena itulah ia mempercayakan akses m-banking rekening bersama sepenuhnya pada Farid, sementara ia sendiri hanya memegang kartu ATM dan buku tabungan.
“Ada yang bisa kami bantu lagi, Bu?” Tanya petugas bank dengan sopan.
Maira menghela napas pelan, lalu menegakkan badan. Ekspresinya berubah menjadi tenang, tapi matanya tegas.
“Saya ingin memindahkan seluruh saldo di rekening ini ke rekening pribadi saya. Sekarang juga.”
Petugas itu sedikit ragu, “Rekening ini atas nama bersama, Bu. Biasanya kami butuh—”
“Rekening ini memang atas nama dua orang, tapi sistemnya joint and OR, bukan joint and AND, kan?” Ujar Maira memotong.
Petugas itu menunduk cepat ke data. “Benar, Bu. Rekening ini memungkinkan salah satu pemilik untuk melakukan transaksi sendiri.”
“Kalau begitu, saya minta bantuannya untuk mentransfer semua saldo—sampai nol rupiah—ke rekening pribadi saya. Ini nomornya." Segera ia pun menyerahkan kertas kecil bertuliskan nomor rekeningnya sendiri yang baru saja ia ambil dari tasnya.
Petugas sedikit terdiam, lalu mengangguk.
“Baik, Bu. Untuk jumlah saldo sebesar tiga ratus tiga puluh lima juta rupiah, proses pemindahannya tidak dapat dilakukan langsung di meja customer service. Maka dari itu, Ibu akan kami arahkan ke teller utama khusus transaksi besar.”
Maira mengangguk. Ia berdiri, mengucapkan terima kasih, dan melangkah mantap. Langkah kakinya tegas, wajahnya tenang namun pikirannya penuh dengan benturan emosi.
Tiga ratus tiga puluh lima juta. Itu berarti, dari total lima ratus juta yang ada di rekening bersama mereka sebelumnya, sudah terpakai seratus empat puluh lima juta—tanpa sepatah kata pun permintaan izin dari Farid yang disampaikan padanya.
Ia menghela napas panjang, namun tidak gemetar. Justru matanya semakin tajam.
“Padahal aku hanya minta izin memakai tabungan bersama, untuk proyek usaha kita berdua. Tapi dia malah menolak. Dengan alasan itu restoranku, bukan milik bersama.” Batinnya.
Lalu semalam? Farid justru bisa dengan mudahnya mentransfer 45 juta ke rumah sakit untuk seseorang yang bahkan Maira tak kenal.
Dan sebelumnya 100 juta ke Ana—iparnya sendiri, tanpa sepatah kata pun seolah-olah uang itu hanya milik Farid bukan milik bersama
“Selama ini aku yang paling banyak transfer ke rekening ini. Jadi kalau ada yang harus mengambil kembali, ya aku.” Batinnya mantap, setelah meyakinkan dirinya jika ia melakukan hal yang benar.
Setelah semuanya selesai, Maira masuk ke dalam mobilnya dan duduk diam. Kepalanya bersandar ke jok dengan mata memejam.
Terlalu banyak masalah yang ia hadapi dalam beberapa bulan terakhir. Dan kini orang yang ia harapkan bisa menjadi penenang, justru menambah masalah dengan kebohongan dan keputusan sepihaknya.