Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 31
SEBUAH RAHASIA
Eliza hampir berlari menuruni tangga, gaunnya berkibar tertinggal beberapa detik di belakang langkahnya sendiri. Dadanya terasa sempit, seperti ada tangan tak kasatmata yang meremas paru-parunya dari dalam.
Wajah-wajah di foto itu terus berputar di kepalanya—Esperance, Luis, gadis pirang, pria tua dengan sorot mata setajam Nathaniel, dan anak-anak yang tersenyum di tengah tragedi yang belum ia pahami.
Semua terasa salah. Terlalu rapi. Terlalu terhubung.
“Nyonya Eliza!” suara Cili kembali memanggil, terengah.
Mendengar itu, Soraya ikut menghampiri Eliza namun dia hanya berdiri sejajar bersama Cili dari ambang pintu. “Ada apa dengannya? Apa Luis memukulinya?” tanya Soraya cemas.
“Aku tidak tahu Nyonya, tapi mungkin karena hal lain.” Kata Cili yang seolah memberi kode. Namun dia tak langsung mengatakan tentang foto di ruangan terlarang itu.
Eliza tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat, membuka pintu utama dengan tangan gemetar, lalu melangkah keluar tanpa menoleh.
Langit Birmingham terlihat cerah. Awan putih menekan dunia seperti langit-langit penjara.
Lou sudah berdiri di samping mobil, wajahnya yang biasanya santai kini berubah waspada saat melihat ekspresi Eliza. “Apa dia menyakiti Anda?” tanyanya cepat, tangannya refleks membuka pintu belakang.
Eliza masuk tanpa sepatah kata, sampai ia benar-benar duduk di dalam mobil. “Tidak… secara fisik,” jawabnya pelan setelah beberapa detik.
Lou menutup pintu, lalu masuk ke kursi pengemudi. Mesin mobil menyala, meninggalkan gerbang Holloway yang perlahan menutup di belakang mereka seperti rahang raksasa yang enggan melepaskan mangsanya.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
“Nyonya Eliza,” Lou akhirnya bicara, suaranya lebih rendah. “Tuan Vale menunggu Anda.”
“Aku tahu.”
“Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan?”
Eliza membuka genggaman tangannya. Kertas perceraian itu masih ada di sana, sedikit kusut oleh keringatnya sendiri. “Ya.”
Lou melirik sekilas lewat spion. “Anda baik-baik saja?”
Eliza tersenyum tipis, pahit. “Ya.”
Jantungnya berdegup kencang, dia masih ingat foto itu, dan kini sorot matanya menatap ke arah Lou yang fokus menyetir mobil.
“Sudah berapa lama kau bekerja dengan tuan Vale?” tanya Eliza sebagai pembukaan.
“Sepuluh tahun lebih.”
Wanita itu kembali diam, mencoba menenangkan dirinya. “Apa... tuan Vale...” Rasanya seperti tercekat, Eliza berpaling ke sisi kanan dengan wajah bingung dan ragu.
Lou melihatnya lewat pantulan spion, dia hanya menatap datar saat Eliza tidak melanjutkan ucapannya tadi dan memilih diam. -‘Aku akan coba bertanya sendiri pada Vale.’ Batin Eliza yang bersandar pasrah.
Sementara di mansion Holloway, Luis yang masih berdiri menatap ke jendela ruangan nya, hati dan pikirannya tidak bisa tenang. Emosi masih meluap usai perbincangan dengan Elisabeth.
Langkah kaki baru saja melenggang masuk, Luis yang masih berdiri, dia hanya melirik sekilas saat menyadari akan kedatangan seseorang di ruangannya.
“Luis...”
“Apa dia sudah pergi?”
Esperance terdiam, seraya menarik napas dalam-dalam. “Ya.”
Hening beberapa detik, sebelum Esperance berjalan ke arah meja. “Apa yang terjadi? Aku melihat... Veronica, apa aku tidak salah melihat?”
Luis menyeringai kecil, lalu menoleh ke ibunya yang nampak penasaran dan bingung.
“Tidak. Kau tidak salah melihat. Dia kembali!” kata Luis yang cukup mengejutkan Esperance.
Wanita tua itu terdiam seolah dia mencoba menahan sesuatu di dadanya. “Lalu Eliza? Apa yang dia lakukan huh?”
“Sesuatu yang sejak dulu dimulai. Dan di masa kini, sesuatu itu akan diakhiri!”
“Apa maksudmu?” tanya heran Esperance.
Luis kembali menatap ke jendela, tanpa ekspresi. “Eliza ada di pihak Vale. Pria itu... Dia satu-satunya yang harus ku singkirkan. Benar begitu, Ibu?”
Suara Luis dingin dan berhasil membuat Esperance tertegun saat pria itu mengatakannya seolah meminta persetujuannya. Ya, tepat seperti di masa lalu.
Esperance hanya diam tak bisa menjawabnya. Namun dia juga kesal karena Eliza berada di pihak Vale, bagaimana bisa?
“Luis... Menurutku, kita bisa hentikan semua ini tanpa... Melibatkan banyak orang atau— ”
“Atau apa?”
Pria itu berbalik badan, menatap lekat ibunya yang nampak bingung dan tegang. “Atau apa, Ibu?”
Esperance tak bisa menjawabnya selain diam.
Hingga Luis berjalan lebih dekat. “Semuanya sudah kau kumpulkan didalam sini, dan di sini... Aku hanya merasakan mati rasa. Kita sudah pernah membahas nya.” Ujar Luis yang kini membuat air mata Esperance tertahan seolah semua dosa karena dirinya.
Luis menyeringai devil. Mendekat ke wajah ibunya. “Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan semuanya sampai tuntas. Duduklah dan lihat saja hasilnya.” Ucap Luis yang langsung melenggang pergi.
Tentu, Esperance langsung pecah tangis namun tak bersuara ketika dia menahan mulutnya dan terduduk dengan kepala pusing. “Luis... Astaga... Apa yang sudah kulakukan? Apa yang, dosa...”
Wanita itu tak bisa berkata-kata dan mengusap wajahnya kasar. “Ini sudah terjadi... Kau ikuti saja, Esperance.... Dia putramu, dia... Yang berjuang untuk dendam mu.”
Ia meneguk segelas beer, menyentuh kedua pipinya berulang kali, lalu pergi dari ruangan itu dirasa dirinya sudah lebih tenang.
.
.
.
“Ya, tentu. Aku tidak berbohong, sumpah demi anak ku yang masih kecil.” Ujar Cili yang kini tengah bergosip bersama pelayan lain termasuk sang kepala pelayan, Feracus yang ikut terkejut mendengarnya.
“Hanya ada aku dan nyonya Elizabeth di sana. Dan sekarang aku tahu alasan kenapa kita dilarang masuk ke ruangan terlarang itu.”
“Kau yang benar. Jika menyebar gosip salah dma terdengar oleh nyonya Esperance— ”
“Ini benar... Tuan Luis mempunyai banyak keluarga dan salah satunya wanita yang datang kemarin, berambut pirang.” kata Cili sembari membuka lebar matanya dan wajahnya yang kini berwarna hijau karena masker wajah.
Pelayan lain yang mendengarnya antara percaya atau tidak. Namun mereka penasaran.
“Kau serius? Kau terlihat sangat serius.” kata Feracus yang hanya dibalas anggukan yakin oleh Cili.
“Tapi bukankah kita dan yang lainnya dilarang ke sana. Lalu kenapa nyonya Elizabeth berani?” tanya heran pelayan wanita yang lain.
“Mungkin nyonya Eliza rindu dengan pukulan tuan Luis!!” balas Cili yang membuat semuanya terkejut namun menahan senyum. “Hanya bercanda.” lanjutnya.
“Dengar Cili, sebaiknya kau simpan rahasia mu itu. Aku tidak ingin ikut campur jika kau terseret. Awas saja jika kau menyeret ku juga ya. Aku mau tidur dulu!” kata Feracus yang memilih pergi.
Cili hanya mencibirkan bibirnya dan melengos.
...***...
Di kediaman Vale. Eliza duduk diam, menunggu sembari menatap ke perapian yang menyala, sehingga ruangan dan suhu badannya menjadi lebih hangat.
Ia bahkan tak mendengar langkah kaki, saking fokusnya Eliza ke dalam pikirannya sendiri.
“Menungguku?”
Sontak ia berdiri, kaget menatap ke Nathaniel Vale yang kini sudah tiba.
“I-iya. Aku sudah bicara dengannya, Luis setuju tapi dia memberikan ini.” Ujar Eliza yang menyerahkan lembaran kertas dari Luis.
Vale menerimanya, membacanya dengan saksama.
Sementara Eliza terus memandang wajah pria di depannya saat ini. “Apa itu bisa?”
“Hm. Aku akan mengurus sisanya.” Kata Vale yang kembali melipat kertas itu dan meletakkannya di atas meja bundar kecil, lalu kembali menatap Eliza.
“Dia menyakiti mu?” tanya nya benar-benar lembut dan jauh beda seperti Luis.
Eliza sekilas menyentuh lehernya yang terluka akibat sundutan rokok dari Luis. “Em.. Tidak ada!” jawabnya seraya tersenyum kecil.