NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:253.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. DSSD

Hari ini, Kaivan merasa lebih baik. Meskipun penglihatannya masih kabur, ia merasa ada perubahan kecil. Sejak pagi, ia merahasiakan kondisinya kepada Airin, berusaha agar istrinya tidak khawatir lebih dari yang sudah ada.

Airin, yang penuh perhatian, memutuskan untuk membawa Kaivan ke kota. Ia berharap perjalanan ini bisa sedikit mengalihkan perhatian suaminya dari perasaan kesulitan yang terus mengganggu mereka.

Beberapa menit setelah Airin dan Kaivan meninggalkan desa itu, Supar berdiri di depan Wongso, wajahnya tampak cemas. "Juragan, tadi saya melihat Airin keluar desa bersama suaminya, naik ojek," lapornya dengan suara pelan.

Wongso, yang sedang duduk di teras rumahnya, langsung bangkit berdiri. "Kenapa kau baru bilang sekarang?!" bentaknya dengan nada penuh amarah.

Supar menunduk, mencoba menjelaskan. "Saya bingung harus bagaimana, Juragan. Saya tak punya kendaraan untuk menyusul mereka. Jadi, saya mencari tahu dari warga dan akhirnya tahu mereka naik bus menuju kota."

Wongso mendengus kesal, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Dasar tidak berguna! Cepat kumpulkan anak buahku sekarang juga!" perintahnya dengan suara tegas.

Supar mengangguk cepat, wajahnya semakin tertunduk. "Baik, Juragan," jawabnya sebelum berbalik untuk melaksanakan perintah. Namun, saat langkahnya menjauh, ia mendengar Wongso bergumam pelan tapi penuh dendam.

"Pria buta itu... aku akan menghajarnya saat dia kembali nanti."

Supar berhenti sejenak, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tak berani menoleh, tapi hatinya bergolak. "Kenapa Juragan begitu kejam? Kenapa bersikeras menginginkan Airin? Apa yang harus aku lakukan?" pikirnya dalam hati, sebelum melangkah pergi dengan berat.

***

Setelah menempuh hampir tiga jam perjalanan, akhirnya Kaivan dan Airin tiba di kota, Kaivan dengan lembut memintanya, "Airin, bawa aku ke toko jam tangan terbesar di sini."

Airin hanya mengangguk dan membawanya tanpa banyak bertanya, meski dalam hati ia bertanya-tanya kenapa Kaivan begitu ingin ke sana.

Mereka memasuki toko jam tangan yang mewah, dan pelayan toko dengan ekspresi datar melihat mereka berdua.

"Kak, kami ingin menjual jam tangan," ucap Airin seraya berdiri di depan etalase.

Mendengar perkataan Airin, ekspresi pelayan itu berubah. Ada tatapan meremehkan yang tak bisa disembunyikan.

“Maaf, tapi hanya jam tangan berkelas yang bisa kami terima di sini," kata pelayan itu dengan nada tidak ramah. Ia melirik Kaivan yang tampak buta dan Airin yang sederhana. "Mungkin kalian lebih baik mencari tempat lain."

Kaivan terdiam sejenak, wajahnya sedikit mengerut menahan amarah. Dengan suara yang tetap tenang namun penuh tekanan, ia mendengus kesal. "Beritahu pemilik toko ini," katanya dengan nada yang sedikit lebih tinggi, "Saya ingin menjual jam tangan DSSD (Deepsea Sea-Dweller) saya."

Pelayan itu mengangkat alis, tak percaya, lalu tertawa kecil. DSSD? Kamu pasti bercanda. Jam tangan seperti itu tidak mungkin milik orang seperti kalian," katanya, meremehkan.

Sedangkan Airin nampak mengernyitkan keningnya, ia merasa tak pernah mendengar merek jam tangan yang disebutkan Kaivan.

Namun, Kaivan yang masih bisa melihat samar mulai menatap pelayan itu dengan tatapan tajam yang cukup untuk membuat siapa pun merasa tidak nyaman. Dengan suara yang dingin, ia berkata, "Panggil pemilik toko. Saya ingin bicara dengannya."

Airin yang berdiri di samping Kaivan menatap pria itu dengan mata yang sedikit terbelalak, terkejut dengan perubahan sikap suaminya. Ia merasa jantungnya berdebar cepat. Ia tahu, meskipun Kaivan hanya bisa melihat sedikit, ekspresinya yang dingin dan sikap tegasnya cukup untuk membuat siapa saja merasa terintimidasi. Rasa hormat dan ketegasan yang terkandung dalam suara Kaivan mengalahkan ketidakpastian yang ia rasakan sebelumnya.

Pelayan lain dan semua orang yang ada di tempat itu menoleh ke arah Kaivan, merasakan aura intimidasi yang menguar kuat dari pria itu.

Pelayan itu, yang semula meremehkan mereka, terdiam sejenak, merasa tidak enak. Matanya melirik sekilas ke arah Kaivan dan Airin yang masih berdiri dengan wajah penuh ketegasan. Setelah beberapa detik, ia memutar tubuhnya dan pergi untuk memanggil pemilik toko.

Setelah pelayan itu agak jauh, Airin menatap Kaivan. "Kak Ivan…" kata Airin dengan nada khawatir, "Kenapa kamu harus begitu?"

Kaivan hanya tersenyum tipis, meskipun masih terkesan dingin. "Kadang kita harus bertindak untuk mendapatkan apa yang seharusnya kita terima."

Pelayan toko berjalan cepat menuju pintu belakang toko, tempat pemilik toko biasa berada. Begitu tiba di ruang pemilik, ia mengetuk pintu dengan gugup.

"Masuk," suara tegas dari dalam memecah keheningan.

Pelayan itu membuka pintu dan masuk, menutupnya dengan hati-hati. Pemilik toko, seorang pria paruh baya yang tampak elegan, sedang duduk di belakang meja besar dengan segelas kopi di sampingnya. Ia menatap pelayan itu dengan tatapan tajam.

"Kenapa kamu masuk tergesa-gesa seperti itu? Ada masalah?" tanya pemilik toko, suaranya penuh kewaspadaan.

Pelayan itu mengeluarkan napas pelan, merasa cemas. "Pak, ada pasangan yang datang. Mereka ingin menjual jam tangan di sini... tapi, saya merasa ragu. Mereka... tidak seperti pelanggan biasa," ujarnya, matanya tidak bisa lepas dari pikirannya yang kacau.

Pemilik toko menaruh gelas kopi dan menatap pelayan itu serius. "Pasangan? Apa yang membuatmu merasa ragu? Jam tangan seperti apa yang mereka bawa?"

Pelayan itu mengangkat bahu. "Itu... katanya mereka ingin menjual jam tangan DSSD, Pak. Namun, mereka... mereka tampaknya bukan orang yang datang dengan niat membeli atau menjual barang mewah. Pria itu... dia buta. Dan wanita di sampingnya tampaknya mengurus semuanya untuknya. Saya takut jika mereka hanya mencari tempat untuk menjual barang dengan harga rendah."

Pemilik toko terdiam sesaat, mendengarkan dengan seksama. Lalu, ia tersenyum tipis dan mengangguk. "Bawa mereka ke sini. Jangan terlalu terburu-buru menilai berdasarkan penampilan mereka. Kita tidak tahu apa yang mereka miliki sampai kita melihatnya." Dalam hati pemilik toko itu bergumam, "Tidak semua orang mengetahui kode DSSD (Deepsea Sea-Dweller) karena istilah ini lebih umum digunakan oleh kolektor dan penggemar jam tangan. Jam tangan dengan kode ini dikenal sebagai jam tangan yang dirancang khusus untuk penyelaman."

Pelayan itu terkejut mendengar keputusan itu. Ia tahu pemilik toko sangat selektif dan hanya menginginkan barang-barang berkualitas tinggi, namun ia juga tahu jika ada sesuatu yang bisa mengubah penilaiannya. "Baik, Pak. Saya akan memanggil mereka," katanya, merasa sedikit lega.

Pelayan itu kembali ke ruang depan toko dan melihat Kaivan dan Airin masih berdiri di sana, tidak terganggu oleh tatapan pelayan lainnya dan orang-orang di sekitar mereka yang masih tercengang. Pelayan itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menjaga sikap profesional.

"Maaf jika kami agak terburu-buru tadi," kata pelayan itu dengan nada lebih sopan. "Tuan pemilik ingin bertemu dengan Anda. Silakan ikut saya."

Kaivan mendengus pelan, meskipun masih merasa kesal dengan perlakuan awal dari pelayan, namun ia mengangguk dan mengikuti pelayan itu, dengan Airin berjalan di sampingnya, tetap setia menemani.

Mereka dibawa ke ruang belakang, di mana pemilik toko menunggu dengan sikap tenang. Ketika Kaivan memasuki ruangan itu, ia bisa merasakan perubahan suasana. Pemilik toko itu mengulurkan tangan dengan senyuman yang jauh lebih ramah dibandingkan pelayan sebelumnya.

"Selamat datang. Saya dengar Anda ingin menjual jam tangan Anda? Saya tertarik untuk melihat lebih lanjut," kata pemilik toko dengan sikap yang jauh lebih terbuka.

Kaivan mengeluarkan jam tangan dari saku celananya, lalu dengan suara tenang berkata, "Betul, saya ingin menjual jam tangan DSSD ini. Saya harap Anda bisa menilai dengan adil."

Pemilik toko menatap Kaivan sejenak, membaca ekspresi wajahnya yang tenang meskipun matanya tak dapat melihat sepenuhnya. Ia merasakan ketegasan dalam suara Kaivan, yang tampaknya tak tergoyahkan oleh pandangan sinis sebelumnya.

"Baiklah, mari kita lihat. Jangan khawatir, saya akan menilai jam tangan ini dengan tepat," ujar pemilik toko, sebelum ia meminta pelayan untuk mengambil jam tangan tersebut dan memeriksanya lebih lanjut.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!