#Action #Adventure # Misteri #Superpower #Apocalypse
Tak ada alasan untuk bertahan. Tak ada yang menunggunya. Tapi meski keinginan untuk mengakhiri segalanya selalu datang, sesuatu—atau seseorang—seolah menahannya.
Sebuah suara dari masa lalu yang tak bisa ia ingat selalu muncul dalam benaknya. Samar, terputus-putus, seperti bisikan dari seseorang yang hampir tak bernyawa.
"Kau... harus... hidup..."
Siapa yang berbicara? Kenapa Raika merasa suara itu begitu penting?
Yang lebih mengerikan bukan hanya suara itu. Tapi kehampaan yang mengikutinya—masa lalu yang menghilang, meninggalkan bayangan tanpa bentuk. Dan di dunia yang hancur ini, satu pertanyaan terus menghantuinya:
Apa yang sebenarnya telah ia lupakan?
---
Kata per bab : konsisten 1000 (Remake)
+16 : Mohon kebijakan pembaca.
Up: 2 hari sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahril saepul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Perubahan signifikan (Remake)
Segelintir pasir mengguyur daratan tanpa ada satupun gedung. Wanters berkeliaran bebas dengan suara-suara khas, mencari mahkluk bernyawa untuk menjadi makanannya. Yuya, Raika, dan Alice kini berada di dalam goa di atas bukit. Mereka menunggu Akuya, sambil mengistirahatkan tubuh.
Cahaya dari pedang yang di tancapkan Yuya menyinari goa, meski agak redup. Yuya mengobati Alice dengan obat seadaanya di dalam tas, kondisinya masih tak sadarkan diri. Raika terfokus pada sniper yang sedang ia perbaiki, kemudian melirik ke arah Yuya.
Sebelum sampai di tempat ini. Yuya menjelaskan kepada Raika tujuan dan alasan mengapa ia bergabung dengan Akuya. Ia memberitahu mengenai kedua orang tuanya yang terbunuh, serta kehilangan satu-satunya keluarganya yaitu, Yuriko. Meski Raika tidak memahami sepenuhnya, tapi ia mengerti hanya dengan melihat dari ekspresinya. Rasa kesepian, hilang arah, ke hampaan, sama seperti yang ia rasakan.
Raika memasang komponen terakhir, setelahnya ia berdiri berjalan menuju mulut goa. Kini pandangannya jelas tidak begitu terhalang pasir, menatap para Wanters di luasnya tempat. Ia menyentuh rambut panjangnya yang diterpa angin, sebelum teralihkan oleh Yuya yang menghampiri.
"Apa kau tidak lelah?" tanya Yuya memfokuskan pandangan ke depan.
"Aku tidak bisa beristirahat sekarang, entah kenapa," balas Raika melemaskan keningnya. "Bukankah ini pemandangan yang bagus? Bagaimana menurutmu?"
Yuya melirik Raika sekejap, dan mengalihkannya kembali ke depan. "Entah lah. Mungkin sekarang, iya ... Banyak yang mengatakan, dunia ini jauh lebih indah saat tidak adanya Wanters di zaman itu."
"Apa kau mempercayainya?" Raika bertanya kembali sambil mengingat perkataan serupa terucap dari seseorang yang ia lupakan.
"Ya. Sebab, aku mengharapkannya," balas Yuya langsung. "Apa jadinya jika dunia ini tanpa Wanters, tanah akan jauh lebih subur, tidak ada lagi Arcis, teknologi akan semakin berkembang, dan, perdamaian akan selalu terjadi."
Raika tertegun, sedikit mengingat kata-kata yang diucapkan Yuya terasa tidak asing. Mungkin hanya sebuah kebetulan. Sejujurnya, aku hanya takut untuk beristirahat. Tidak ku sangka, kau juga memiliki masa lalu yang kelam---Batin, sambil melirikkan mata pada Yuya tanpa menoleh.
"Begitu," sahut Raika singkat, sambil menarik udara memasuki hidung, kemudian dihembuskan perlahan. "Aku juga tidak mengerti tentang diriku sendiri. Siapa aku? Di mana aku berasal? Sungguh, aku tidak mengetahuinya ... Menurutmu, apakah aku masih seorang manusia?"
Yuya menatap Raika sambil merilekskan hatinya. "Terkadang kita juga bertanya seperti itu. Setelah merenggut banyaknya nyawa, apakah kita berpikir; layak menjadi manusia. Tapi menurutku, dirimu tetaplah dirimu. Itu tidak akan mengubah fakta."
Raika terfokus pada Yuya, kemudian tertawa kecil. "Terserah kau saja. Oh, maaf, seharunya aku memanggilmu Yuya, karena umur mu jauh lebih tua."
Terukir senyuman kecil di wajah Yuya. Ia tidak menyangka masih bisa tersenyum dengan ikhlas setelah lama tenggelam dalam kehampaan semenjak adiknya tiada. Yuya berkata, "Kau bebas memanggilku dengan apapun. Lagi pula kita adalah rekan."
"Tiiidak. Menurut Papa sebelum kami bergabung dengan kelompok, aku harus menghor ..." Raika tidak melanjutkan perkataannya, matanya bergetar dengan senyuman di wajahnya berubah menjadi kebingungan---Papa? Siapa? ... Kelompok?---Batin, sambil memegangi kepalanya menghadap tanah.
"Raika?" Yuya tampak heran melihat Raika yang seperti dalam masalah. "Apa kau baik-baik saj---"
"Maaf, aku akan istirahat sekarang," sela Raika, bergegas memasuki goa tanpa berpaling padanya.
Yuya memegangi tangan gadis itu. "Tunggu." Membuat Raika menoleh, dengan keringat memenuhi wajahnya yang gemetar dan merah, seperti mengalami terouma.
Dengan air menggenang di sela matanya, Raika berkata, "Lepaskan.. ku mohon," suaranya lirih.
Yuya melepaskan genggamannya, bingung. Ia menatapnya berjalan lesu, sambil mengingat-ingat yang baru saja mereka bicarakan. Maaf, apa aku telah membuka luka masa lalunya? Jika di pikir kembali, Raika memang sendirian, dan sebelumnya dia berkata ... Ayahnya?---Batin Yuya, sambil menatap bulan biru yang terselimuti awan hitam.
Dua jam berlalu begitu saja tanpa adanya obrolan hangat.
Raika berbaring hanya beralaskan batu di tempat yang terpisah dengan Yuya dan Alice. Pandangannya kosong menatap langit-langit, berusaha mengingat dan mengatakan nama yang baru saja keluar dari mulutnya, tapi semua itu tidak bisa keluar, seolah menolaknya meski telah di paksa.
Tangannya mengacak-acak rambut, kemudian memiringkan tubuhnya, menatap krikil kecil di depan mata. Dalam sekilas. Dua sosok yang mencekik salah satunya muncul dalam benaknya, seketika membuat Raika terduduk.
Setelah beberapa saat terdiam, ia merapihkan rambutnya kemudian berdiri. Mungkin yang ku butuhkan hanya berjalan-jalan---Batin, melangkah keluar, melihat Alice yang masih terbaring serta Yuya, yang memejamkan mata sambil bersandar pada dinding goa.
Raika melanjutkannya keluar dari mulut goa menuju arah perhutanan. Pikirannya sekali-kali terfokus pada pertanyaan berulang yang terus muncul, siapa dirinya, dan apa yang ia lupakan, meski telah mengalihkan pada pemandangan sekitar, semua itu seolah sia-sia.
Berkali-kali ia mencoba menenangkan diri dengan teknik pernapasan. Namun, langkahnya malah berhenti pada satu titik. Degup jantungnya terpacu cepat, disusul rasa sakit yang menggeliat di dalam perut. Raika tersungkur, kemudian batuk memercikan darah. Kenapa?---Batin, teringat Arcis Vicuris yang ia telan.
Lokasinya dengan goa cukup jauh, dan ia tidak tau apakah Yuya mengetahuinya. Rasa sakit semakin menggelegar seolah urat-urat ingin keluar dari tubuh. Sialnya lagi, terdapat aura Wanters tidak jauh dari lokasinya berada, dan kini mahkluk itu menatapnya di balik pohon.
Wanters tingkat 2, guratan merah di seluruh tubuhnya berkedip. Kemudian, bergerak dengan cepat sambil melolong, tanpa mempedulikan pepohonan yang menghadang.
{Bertahan... Hiduplah... Raika...}
Makhluk itu telah berada di hadapan Raika, mendorongnya menancapkan kuku-kuku tajam membenturkannya pada pohon, kuat. Rasa sakit sudah tak tertahankan, memuncratkan darah dari mulut. Kuku tajam menembus perut Raika, membuat pohon tersebut tumbang secara perlahan.
Penglihatan Raika kabur, menyisakan hitam yang perlahan menyelimuti segalanya. Namun aneh, tangannya masih bisa digerakan. Dalam keraguan, ia memegangi kedua tanduk makhluk itu, tak peduli apa yang akan terjadi, ia terus mendorongnya. Walaupun tidak melihatnya, entah apa yang sebenarnya terjadi, Raika merasa dapat mengimbanginya.
Teriakan Wanters menjadi bukti, bahwa ia masih hidup. Raika terus mendorongnya sambil berteriak. Penglihatannya secara perlahan kembali, menyadari cahaya biru yang masih samar. Tanduk ke tiga yang menancap di bawah leher bagian dada, mulai terangkat.
Rasa sakit berangsur-angsur menghilang tergantikan energi yang kian meluap. Hingga, Raika penglihatan Raika pulih. Tubuhku... Kenapa?---Batin, melirik ke arah kuku tajam Wanters yang masih menancap di perut. Kemudian ia melirik ke arah tangannya sendiri yang di penuhi guratan bergaris biru menyala selayaknya Wanters, serta energi yang meluap-luap.
Raika mengangkat dan mengepalkan satu tangan kanannya, kemudian ia hantamkan pada kepala mahkluk itu. Seketika kepalanya menukik, bertepatan dengan berhentinya teriakan; Wanters itu, meledak, seperti balon, memuncratkan darah hijau ke segala arah.
Kini, Raika menapak dengan tanah, kedua kuku yang menembusnya perlahan hilang menjadi abu, meninggalkannya dengan tubuh di penuhi garis biru yang mengeluarkan sedikit asap, dan bekas pukulan terukir pada tanah.
End bab 15
Ai yang gw pakai Bapuk 😵 kira-kira ilustrasinya mirip seperti ini, tapi agak beda.