Menikah dengan jalur perjodohan tidak pernah terpikir oleh Idris. Hidup yang mulanya terasa damai di pesantren harus berakhir setelah ayah angkatnya datang dan meminta dirinya untuk menerima perjodohan dengan partner bisnis perusahaan.
"Dia seorang CEO. Hidupmu akan jauh lebih baik jika menikah dengannya. Kami akan anggap persetujuanmu sebagai balas budi atas jasa kami dalam membesarkanmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zulfa Laeli Ahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
✨Salam Rindu✨
Nanda pun mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dimana tempat Rama dirawat. Diusia dini pun Nanda sudah mahir mengendarai mobil karena Rama selalu mengajarinya agar terbiasa mandiri.
Pernah suatu ketika Nanda akan pergi ke sekolah tetapi ia teringat jika Alex yang biasa mengantarnya ke sekolah sedang ditugaskan keluar negeri. Maka dari itu Nanda terpaksa mengendarai mobil pribadinya menuju sekolah setelah beberapa kali latihan bersama dengan Rama.
Sejak saat itu Rama menyuruh Nanda agar berangkat sekolah tanpa harus Alex yang mengantarnya. Rama selalu mengajarkan pada Nanda agar hidup mandiri walaupun dirinya serba berkecukupan.
Rumah sakit Raja Elang...
Tak terasa akhirnya Nanda pun sampai dirumah sakit Raja Elang tempat ayahnya dirawat. Setelah memarkirkan mobilnya dilantai bawah tanah, tak lupa Nanda pun mampir sebentar di supermarket terdekat untuk membeli buah-buahan segar.
"Terima kasih atas kunjungannya nona... Sering-sering berbelanja disini..." ucap wanita cantik yang bekerja sebagai kasir sambil memberikan buah-buahan segar yang telah dikemas.
"Sama-sama..." balas Nanda disertai dengan senyuman.
Nanda pun keluar dari supermarket dengan membawa parsel berisi buah-buahan. Dengan santainya Nanda berjalan memasuki rumah sakit yang terlihat cukup ramai karena hari sudah mulai siang.
Ketika sampai dilantai 10 terlihat beberapa pria dengan baju serba hitam sedang berjaga didepan kamar yang tentunya sudah diketahui oleh Nanda.
"Selamat pagi nyonya..." ucap pria 1 yang merupakan pemimpin dari beberapa pria berbaju hitam lainnya.
"Pagi..." balas Nanda lalu berjalan masuk ke dalam kamar setelah pria 2 membukakan pintu untuknya.
Nanda pun tersenyum ketika melihat Rama yang sedang berdiri di jendela menatap keluar rumah sakit.
"Pagi ayah..." ucap Nanda sambil meletakkan parsel yang berisi buah-buahan.
"Sejak kapan kamu ada disini nak?" tanya Rama menatap Nanda yang sedang berjalan menghampirinya.
"Sejak ayah menatap keluar jendela..." jawab Nanda lalu memeluk Rama dengan erat.
"Anak ayah..." ucap Rama sambil mengelus rambut hitam Nanda dan menciumnya.
"Aku sayang ayah..." balas Nanda yang semakin mempererat pelukannya.
"Bagaimana keadaan mu nak? Kamu sehat kan?" tanya Rama yang Nanda tersenyum bahagia.
"Iya ayah aku sehat kok... Bagaimana dengan ayah? Apakah masih sakit?" jawab Nanda yang disertai dengan pertanyaan.
"Tidak nak... Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik dari hari sebelumnya..." jawab Rama yang ikut tersenyum ke arah anak sulungnya.
Nanda pun mengajak Rama agar duduk di sofa berwarna putih yang tak jauh dari jendela. Kemudian Nanda pun membuka parsel dan mengambil buah apel yang sangat disukai oleh Rama.
"Apakah ayah sudah sarapan?" tanya Nanda sambil mengupas kulit apel setelah dicuci olehnya.
"Sudah nak..." jawab Rama.
"Baiklah sekarang makan apel ini... Bukannya ayah sangat menyukai buah ini?" ucap Nanda sambil menyodorkan sepotong apel yang telah dikupas.
"Sangat menyukainya...Seperti kamu menyukai buah ini..." balas Rama sambil mengambil buah anggur berwarna ungu yang merupakan buah kesukaan Nanda.
"Ayah tidak pernah lupa..." ucap Nanda lalu menerima suapan buah dari Rama dan begitu sebaliknya Rama pun menerima suapan dari putri tercintanya.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahan mu dengan Idris nak?" tanya Rama yang membuat Nanda terdiam seketika.
"A-ayah...Ayah tidak perlu khawatir...Nanda sudah menyuruh orang untuk mempersiapkan pernikahannya..." jawab Nanda berbohong agar Rama tidak kecewa.
"Baguslah kalau begitu...Ayah sudah tidak sabar menanti hari pernikahan mu..." ucap Rama sembari tersenyum ke arah Nanda.
"I-iya ayah...Nanda pun sama..." ucap Nanda berbohong untuk kedua kalinya.
"Apakah kamu sudah memberitahu soal pernikahan mu pada Naya?" tanya Rama yang mengingat putri bungsunya yang sempat menjenguk beberapa hari yang lalu.
"Belum ayah...Nanda pasti akan memberitahu Naya jika waktunya sudah tepat..." jawab Nanda yang teringat dengan adiknya yang terbaring lemah dirumah sakit.
"Ayah bahagia jika kalian bisa seperti dulu lagi..." ucap Rama dengan suara yang sedikit merendah.
"Ayah...Maafkan Nanda..." ucap Nanda merasa bersalah karena pernah membentak Naya didepan Rama.
"Tidak nak...Ini semua salah ayah..." ucap Rama yang meneteskan air matanya.
"Ayah...Jangan pernah berpikir seperti itu...Nanda dan Naya sayang ayah..." ucap Nanda yang lalu memeluk Rama.
"Ayah juga sayang kalian..." balas Rama sambil menghapus air matanya yang sempat menetes.
"Naya menitipkan salam rindu untuk ayah..." ucap Nanda sambil melepas pelukannya.
"Syukurlah...Ayah selalu menerima salam rindu dari kalian berdua..." balas Rama yang merasa senang ketika mendengar perkataan dari Nanda.
Diwaktu yang sama...
"Alex kamu masih sama seperti dulu..." ucap Naya sambil menerima suapan bubur dari Alex.
"Aku tidak akan pernah berubah nona..." balas Alex dengan senyuman yang selalu terukir dibibir manisnya.
"Apa kamu tau Alex? Aku sangat bersyukur bisa bertemu orang sepertimu..." ucap Naya yang membuat Alex menghentikan gerakan menyendoknya dan memandang ke arah Naya.
"Maksud nona?" tanya Alex yang tidak tau maksud dari Naya.
"Kamu orang yang baik, perhatian dan juga ramah..." jawab Naya yang ikut tersenyum dengan bibir pucatnya.
"Terima kasih nona..." ucap Alex lalu kembali menyuapi Naya.
"Jangan panggil aku nona..." ucap Naya sambil memegang tangan putih Alex.
"Itu sudah menjadi kewajiban ku nona..." ucap Alex lalu menarik tangannya dengan perlahan.
"Panggil aku Naya jika kita sedang berdua..." ucap Naya.
"Tapi nona..." ucap Alex yang terhenti karena Naya langsung memotong ucapannya.
"Tidak ada tapi-tapian Alex...Ini adalah perintah..." ucap Naya yang membuat Alex menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Baik Naya..." balas Alex yang masih ragu ketika memanggil anak majikannya tanpa menggunakan kata nona.
Setelah menyuapi Naya dengan semangkuk bubur, Alex pun menyuruh Naya agar meminum obat dan tidur. Dengan patuhnya Naya mengikuti semua instruksi dari Alex.
Alex memandang wajah cantik wanita yang sudah mencuri hatinya 5 tahun yang lalu. Tapi Alex pun sadar jika dia tidak pantas untuk mendapatkan berlian dihadapannya saat ini.
Entah mengapa rasanya sakit jika melihat Naya yang terbaring lemah diatas ranjang dengan infus yang menempel ditangan kanannya. Dengan cepat Alex berbalik dan hendak melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Tapi tiba-tiba langkah Alex pun terhenti karena ada sesuatu yang menahannya. Alex pun berbalik dan memandang ke arah wanita yang ia cintai. Terlihat Naya yang sedang tersenyum manis ke arah Alex.
"Jangan tinggalkan aku..." ucap Naya yang mempererat genggaman tangannya pada Alex.
"Tidurlah...Aku tidak akan pergi meninggalkan mu..." ucap Alex sambil berjalan mendekat ke arah Naya.
"Terima kasih sayang..." ucap Naya dengan gamblangnya.