NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Teen Angst / Mafia
Popularitas:128.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.

Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana memutuskan selamnya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Lima

Nampan di tangannya Arka sedikit bergeser, cangkir kopi bergetar pelan. Detik itu juga nalurinya ingin berbalik, menghindar, pergi sejauh mungkin dari suara yang selama bertahun-tahun ia latih untuk tidak lagi ia rindukan.

Arka sudah menarik napas untuk melangkah melewati perempuan itu. Namun langkahnya terhenti. Sepasang lengan melingkar di pinggangnya dari belakang.

Celine memeluknya tanpa ragu, tanpa jarak, seolah waktu tidak pernah mencuri apa pun dari mereka.

“Arka .…” Suaranya pecah, lebih pelan dari sebelumnya. “Maafkan aku.”

Tubuh Arka menegang seketika. Bahunya kaku. Rahangnya mengeras. Bukan karena benci, lebih karena memori yang datang seperti gelombang tanpa izin. Aroma parfumnya masih sama. Cara tangannya mengunci juga sama. Dulu, itu pelukan yang selalu ia tunggu setelah hari panjang. Sekarang terasa seperti jebakan masa lalu.

Beberapa orang di kafe menoleh, tapi Arka tidak peduli. Dengan gerakan tenang dan terkontrol, ia menurunkan nampan ke meja terdekat. Baru setelah itu, tangannya menyentuh pergelangan Celine, bukan kasar, tapi tegas, lalu melepaskan pelukan itu dari tubuhnya. Diaa berbalik.

Tatapan mereka bertemu dari jarak sangat dekat. Mata Celine sudah berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan sesuatu yang terlalu lama dipendam.

“Arka … apakah kamu masih belum memaafkan aku?” tanyanya lirih. Sendu. Tidak ada lagi nada percaya diri seperti awal tadi. “Padahal aku pergi hanya untuk mengejar cita-cita.”

Arka menatapnya datar. Terlalu datar untuk ukuran seseorang yang baru saja dipeluk mantan kekasih yang pernah hampir menjadi pusat dunianya.

“Maaf, Celine,” ucap Arka akhirnya. Suaranya rendah, stabil, nyaris terdengar santai. “Aku tidak pernah marah.”

Celine berkedip, jelas tidak menyangka jawaban itu.

“Terserah padamu saja,” lanjut Arka. “Kenapa aku harus marah? Aku justru bahagia karena ternyata kamu senang di luar negeri sana.”

Nada itu tenang tapi tajam lebih menyakitkan daripada bentakan. Dada Celine naik turun. “Kalau kamu tidak marah … kenapa nomorku diblokir?”

Sudut bibir Arka terangkat tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti senyum tipis yang mengandung sindiran halus.

“Karena di antara kita sudah tidak ada hubungan lagi.” Jawaban singkat.

“Aku tidak menganggap begitu,” balas Celine cepat, seperti takut kesempatan bicara direnggut. “Aku selalu teringat kamu. Selalu. Aku tetap mencintai kamu.” Matanya menatap lurus, penuh keyakinan lama yang dulu membuat Arka rela melakukan apa saja. “Aku masih Celine kamu, Arka.”

Sunyi beberapa detik. Suara mesin kopi mendesis di belakang mereka. Sendok beradu dengan gelas. Tapi di antara mereka berdua, udara terasa padat.

Arka menggeleng kecil.

“Seseorang yang mencintaimu karena hati,” ucapnya pelan, “tidak akan pernah pergi.”

Ekspresi Celine retak. “Aku pergi juga demi masa depan kita.”

“Aku punya banyak masa depan,” jawab Arka tanpa ragu. “Kau tidak perlu mencarinya.”

Celine membuka mulut ingin membalas tapi kata-katanya tertahan. Belum sempat menjawab seseorang memanggil namanya.

“Celine?”

Suara lain memotong. Terkejut. Tidak percaya. Mereka menoleh bersamaan.

Mama Ratna berdiri beberapa langkah dari mereka, ponsel masih di tangan. Wajahnya yang biasanya tegas kini berubah penuh keterkejutan, lalu dalam hitungan detik melembut oleh rasa rindu.

“Ya Tuhan … Celine?”

Perempuan itu langsung mendekat tanpa menunggu jawaban. Tangannya meraih bahu Celine, lalu memeluknya erat.

“Kamu benar-benar Celine? Mama sampai tidak yakin!”

Celine membalas pelukan itu, kali ini tangisnya benar-benar jatuh. “Mama Ratna .…”

Arka mundur setengah langkah. Memberi ruang. Tatapannya sulit dibaca, antara jauh dan dingin.

“Kamu kapan pulang? Kenapa tidak bilang?” Mama Ratna memegang pipi Celine, memeriksanya seperti ibu melihat anak sendiri yang lama hilang. “Kamu makin cantik. Makin kurus juga.”

Celine tertawa kecil di sela haru. “Baru seminggu, Ma. Ada urusan kerja sekalian … pulang.”

“Kamu ke rumah sakit kenapa? Sakit?” Nada khawatir langsung muncul.

“Teman kantor kecelakaan kecil. Aku jenguk,” jawab Celine.

Mama Ratna mengangguk, lalu teringat sesuatu. “Arka! Kamu sudah lihat ....”

“Sudah,” potong Arka singkat.

Ada nada final di sana. Mama Ratna melirik putranya, menangkap suhu dingin yang tidak ia komentari, setidaknya tidak sekarang.

“Kamu harus ikut Mama,” kata Mama Ratna ke Celine, menggenggam tangannya. “Revan dirawat di sini. Demam tinggi sekali tadi.”

Wajah Celine langsung berubah. “Revan? Dia kenapa?”

“Drop. Untung cepat dibawa,” jawab Mama Ratna. “Ayo, temani Mama ke kamarnya. Dia pasti senang lihat kamu.”

Arka mengangkat nampan lagi. “Ma, aku bawa ini ke atas dulu.”

Mama Ratna hanya mengangguk sebagai jawaban. Mereka berjalan ke lift bersama, tapi dalam diam yang berbeda-beda maknanya.

Celine beberapa kali melirik Arka dari samping. Arka menatap lurus ke depan. Dulu ia akan menggenggam tangan Celine di ruang sempit seperti ini. Sekarang, jarak satu jengkal terasa selebar jurang.

Pintu kamar rawat inap anak terbuka pelan. Lampu kuning hangat menyambut. Suara air infus yang turun berdetak lembut. Aroma obat tipis bercampur wangi sabun bayi.

Revan terbaring di ranjang, pipinya masih sedikit merah, rambutnya lembap keringat. Selang infus menempel di tangan kecilnya dengan plester bergambar dinosaurus.

Bi Marni yang duduk di sofa kecil langsung berdiri. “Ibu ....”

Langkahnya berhenti saat melihat siapa yang datang bersama Mama Ratna. Matanya melebar. “Non Celine …?”

Celine tersenyum lembut. “Bi Marni …”

“Ya ampun …” Bi Marni tampak tak percaya dengan penglihatannya, "Cantik sekali.”

Arka masuk paling akhir. Menaruh nampan di meja samping, lalu otomatis mendekat ke ranjang, refleks protektif yang tidak bisa ia sembunyikan. Gerakan itu tidak luput dari mata Celine.

“Revan …,” panggil Mama Ratna pelan.

Kelopak mata bocah itu bergerak. Ia menggeliat kecil. Lalu perlahan membuka mata, masih berat oleh obat dan lelah.

“Nek ...,'" panggil Revan pelan.

“Iya, sayang. Nenek di sini.”

Revan memandang sekeliling, seperti mencari seseorang. Pandangannya berhenti pada Arka, lalu sedikit lega. Tapi hanya sedikit.

“Nek …” ulangnya pelan. “Kemana Mbak Alana?”

Ruangan mendadak sunyi. Tak terdengar suara siapapun. Tangan Arka yang tadi hendak merapikan selimut berhenti di udara. Rahangnya menegang tipis.

Mama Ratna tidak langsung menjawab. Bi Marni menunduk. Celine mengerutkan dahi. Nama itu asing baginya, tapi cara Revan mengucapkannya tidak terdengar biasa. Ada kebutuhan. Ada kehilangan.

“Dia … lagi tidak di rumah,” jawab Mama Ratna hati-hati.

Revan terlihat kecewa. Bibirnya turun. “Aku mau Mbak Alana .…”

“Nanti,” potong Arka lembut tapi tegas. “Sekarang kamu fokus sembuh dulu.”

Revan menoleh ke arah suara itu. “Om jangan biarin Mbak Alana pergi lagi .…”

Ada gumam putus-putus setelahnya. Obat membuatnya kembali mengantuk. Matanya kembali terpejam.

Celine memperhatikan semuanya. Detail kecil. Nada suara. Ketegangan yang tidak diucapkan. Dia mendekat satu langkah ke Mama Ratna, suaranya diturunkan.

“Ma … siapa Alana itu?" tanya Celine.

1
Eka ELissa
semngat Lana smoga lancar ya .. lahiran nya..sehat smua ibu dan bayinya....🤰🤰🤰🤲🤲
Eka ELissa
Bu Sri klie Mak bukan Revan...😄😄😄
Me mbaca
kalau Revan panggilnya daddy, kalau pak Rafael berarti Bu Sri yang Manggil kan ya mama?
Teh Euis Tea
mudah2an lancar ya alana lahirannya
Ida Nur Hidayati
semoga lancar persalinannya Alana semangat 💪💪
ElHi
lebih dari itu jg gpp kok Rafael....hehehe..gada yg ngelarang 🤣
Kasih Bonda
next Thor semangat
Cristella Tella
lnjut lgi donk thor
Patrick Khan
Alana yg lairan q yg dag dig dug baca kyk maraton😖😖git ya klo kontraksi pas lairan.. q jd bayangin😖😖
astr.id_est 🌻
lanjutt mam...😍😍😍
dyah EkaPratiwi
semangat alana
Radya Arynda
Mama reni up lagi dong
Semangaaat Alana,,semogah selamatdan sehat kalian ber dua,,,,setelah ITU balas Dendam Sama Arka,,,,,gimana sakit nya di pangil om sama anak sendiri....
Ilfa Yarni
lebih dr ucapan trima kasih ga pa pa jg gantian ya ank arka km yg dampingi dulu anakmu arka yg dampingi pas mau lahir jadi impas dong
Ikaaa1605
Semangatttt Alana
Titi Liana
suka
Ayu Ayuningtiyas
nanti anaknya laki" dan mirip sama arka ,biar arka menyesal krn sdh meragukan anaknya sendiri. 😄
Ari Atik
semoga rafael bisa melindungi alana...
enyah saja kau arka
😡
Ari Atik
arka goblok gk mau jujur sama mamanya😡 .....
Ilfa Yarni
waduh Alana usah mau melahirkan ayo Alana kn bisa semangat ya sebentar lg Alana yunior bakal hadir dan revan punya adek
astr.id_est 🌻
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!