Klara baru bangun dari koma setelah tiga tahun, anak yang dulu di kandungnya kini sudah menjadi balita yang bisa melihat hantu.
Di saat Klara ingin dekat dengan putrinya, tiba-tiba anak dari suaminya datang dan hadir di antara mereka. Membuat hubungan yang hendak dibangun menjadi sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Umay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. 5 Tahun
Lima tahun berlalu. Waktu berjalan sangat cepat hingga Klara tidak sadar bahwa anak-anaknya sudah tumbuh besar.
Sekarang dua bocah itu telah tumbuh menjadi anak yang baik, mereka juga sudah memiliki adik laki-laki yang sangat imut, Kyos memberinya nama Halim Hoshim. Berharap anak itu akan membawa kebaikan dan kebahagian untuk keluarga kecilnya.
Banyak hal yang berubah setelah lima tahun, Sean dan Reni telah memiliki anak kedua. Sean sudah lulus kuliah dan mendirikan perusahaan sendiri yang kini tengah berkembang pesat.
"Aku senang kalian memutuskan pulang," ucap Klara menyambut kedatangan Sean dan Reni serta anak mereka.
"Kami pindah sepenuhnya karena usaha Sean di sini sedang berkembang pesat," ucap Reni menoleh ke arah Sean. Pria itu sedang sibuk dengan kopernya, sementara anak-anak berlarian.
Mereka menunggu mobil, supir sedang mengambilnya sementara Klara menjemput langsung ke dalam. Kyos tidak ikut karena malas, katanya lebih baik kerja dari pada menjemput adik dan adik iparnya.
Chika dan Arsel sekolah, Halim di rumah. Klara hanya sendirian menyambut Sean dan keluarga kecilnya yang pindah total hari ini.
"Kami dengar kamu hamil lagi, Mbak?" tanya Sean.
Kehamilan ketiga ini sangat tidak direncanakan, itu semua karena kebobolan, Klara tidak menyangka akan punya empat anak.
"Iya, kakakmu top cer." Klara tersenyum lebar, seolah semuanya baik-baik saja.
Perutnya memang masih rata, mengurus tiga anak saja sudah kualahan, ditambah dia sedang hamil. Beruntung Arsel sangat dewasa dan pengertian, ia sering menjaga adik-adiknya.
"Bang Kyos sengaja punya banyak anak, katanya biar rumah rame." Sean bercerita.
Rumah keluarga Hoshim memang sangat luas, dulu hanya ditempati Sean dan Kyos, Papa lebih sering tidur di kantor sementara Mama mereka pilih cerai dan membawa Aqila ikut bersamanya.
"Sekarang aja udah rame banget," jawab Klara.
Tiga anak cukup membuat rumah besar menjadi heboh, setiap hari selalu saja ada hal yang membuat Klara pusing. Dia melihat perutnya, kalau anak di perut ini lahir, bukankah makin ramai.
Mobil yang ditunggu datang, mereka masuk ke sana. Klara menunjukkan rumah yang sudah dia renovasi, itu adalah rumah yang akan ditempati Reni dan Sean.
"Kalian suka nggak?" tanya Klara, sebagai kakak, ia yang mengurus semua keperluan Sean.
"Bagus, makasih banyak Mbak."
Tak hanya Reni, anak-anaknya juga suka desain interior serba hijau yang diurus oleh Klara. Sejak itu mereka menempati rumah, juga sering ke rumah utama keluarga Hoshim.
Usia kehamilan Klara semakin besar, ia menambah pengasuh, juga mengurangi pekerjaannya. Kyos meminta supaya Klara sering istirahat. Ini kehamilan ketiga yang banyak resiko.
Rumah besar itu tampak ramai, tiga anak kecil mengisi hari-hari rumah yang dulunya hanya ditinggali Sean dan Kyos. Rumah suram yang penghuninya jarang bertegur sapa. Kini tampak ceria dan selalu berantakan. Tapi Kyos bahagia, dia tak menyangka akan memiliki keluarga yang menantinya pulang setiap hari
Namun, saat anak-anak makin besar. Masalah juga semakin banyak. Saat Klara sudah berat berjalan karena kehamilan. Arsel dan Chika malah membuat masalah hingga dimarahi oleh Kyos.
Ada satu hal yang tidak berubah di saat semua hal berubah selama 5 tahun ini, yakni sikap dingin Kyos terhadap Arsel. Perasaan benci itu tidak luntur termakan waktu.
"Kamu ...."
"Maaf, Pa. Aku salah." Arsel menunduk.
Hari ini, Kyos menghukum Arsel karena berkelahi dengan teman-temannya. Padahal Arsel berkelahi bukan tanpa alasan, bocah kelas 5 SD itu hanya ingin melindungi adiknya dari ejekan anak-anak nakal.
Kemampuan Chika yang dapat melihat hantu menjadikannya dijauhi teman-teman di sekolah. Bagaimana tidak, Chika sering tiba-tiba memejamkan mata dan ketakutan ketika sedang mengobrol. Ketika ditanya dia menjawab apa adanya, bahwa ada hantu berwajah hancur tengah mendekat. Tentu saja semua teman-temannya menjadi ketakutan dan lebih memilih menjauhi Chika.
Kyos pernah membawa Chika ke Pak Tendi lagi, tapi beliau bilang kemampuan yang turun temurun susah dihilangkan. Kyos bingung karena di keluarganya tidak ada yang bisa melihat hantu.
"Maaf aku baru jujur, sebenarnya nenekku punya kemampuan yang sama seperti Chika."
Klara akhirnya mengaku, dia menunduk dan merasa bersalah. Kyos mengembuskan napas berat, ia tidak bisa menyalahkan Klara.
Kemampuan yang membuat keseharian Chika terganggu itu membuat Arsel merasa harus melindungi adiknya.
"Angkat tanganmu!" perintah Kyos pada Arsel yang duduk berlutut dihadapannya. Hukuman cambuk di kaki sudah ia berikan pada bocah itu selama setengah jam.
Arsel menuruti perintah Kyos dengan ketakutan.
"Kamu di sekolah mau belajar atau menjadi berandalan, hah?" tanya Kyos dengan nada tinggi.
"Be ... Belajar, Pa." Arsel masih ketakutan.
Klara hanya bisa melihat kejadian itu dengan berat hati, dia tidak bisa menentang aturan Kyos. Karena hal itu bisa menjatuhkan harga diri Kyos sebagai seorang ayah.
"Tapi buktinya apa, di sekolah bukannya belajar malah berkelahi. Pintar juga tidak, nggak ada yang bisa dibanggain dari kamu! Harusnya dari dulu saya kirim kamu ke panti asuhan, anak dari wanita iblis sepertimu memang tidak pantas berada dalam keluarga ini!" tandas Kyos yang menurut Klara sudah kelewat batas.
Mendengar kata-kata tajam dari Kyos membuat Arsel menangis, dia berusaha menahan rasa sakit di hatinya. Sementara Chika tidak bisa diam saja melihat Arsel diperlakukan seperti itu.
"Pa, Kak Arsel nggak salah. Dia cuma belain aku." Chika mencoba membela Arsel.
Mendengar ucapan kasar Kyos tadi, membuat hati Klara ikut merasakan sakit seperti yang dirasakan Arsel. Dia maju dan menggandeng tangan putranya itu.
"Kamu sudah sangat keterlaluan Mas, kamu sebenernya tahu kalau tindakan Arsel benar. Tapi kenapa kamu masih cari alasan untuk menghukum dia? Bagaimana pun juga dia anak kamu." Baru kali ini Klara sangat kecewa dengan Kyos.
"Klara ... bukan seperti itu--" Kyos mencoba menjelaskan tindakannya. Dia hanya tidak mau Arsel menjadi anak nakal.
Walaupun di sudut hati Kyos ia tidak rela Arsel menjadi anaknya, pasalnya anak pertama laki-laki yang akan mewarisi perusahaan. Dia tidak mau anak Laria menjadi pewaris.
"Anak-anak, ayo Mama belikan es krim di luar." Klara tak memperdulikan ucapan Kyos yang belum selesai, ia menggandeng tangan kedua anaknya serta menyuruh pengasuh yang menggendong Halim ikut keluar rumah juga.
Kyos mendesah berat, dia tidak tahu setan apa yang menguasainya sampai berkata sekasar itu pada Arsel. Tapi kali ini Kyos benar-benar menyesal melihat Klara dan Chika tampak kecewa.
"Setelah mereka pulang, aku harus minta maaf."
Kyos duduk di sofa, ia minta diambilkan minum. Masih jam segini, biasanya Klara memang mengajak anak-anak bersantai di taman. Sore nanti mereka pulang.
nyimak aah