NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Denyut Rahasia Sang Akik

"Eh, nggak usah. Kamu nanti telat ke terminal." Murni menolaknya dengan cepat. "Sudah sampai di sini aja. Aku jalan cepat-cepat juga nyampe, kok. Ini kan cuma dua gang."

"Nggak apa-apa, sekalian lewat situ." Siman menawar lagi, ia tidak mau ada hal yang membatasi Murni lagi hanya karena Murni sudah tidak ingin bercanda lagi. Murni adalah candu untuk dirinya di saat mental Siman sudah jatuh terpuruk. Siman tak sanggup menghadapi kenyataan itu. "Nggak usah aneh-aneh gitu, Mur. Aku tahu kok ada apa di diriku yang bikin kamu sedih, aku minta maaf ya. Jangan dipikirkan itu masalah Bapak dan cincinku ini."

Murni terdiam. Ia menatap Siman lekat-lekat, ada gurat kekhawatiran yang kembali muncul. Tangannya terulur, menyentuh lengan Siman. "Kamu jangan gitu dong, Man. Kan kita sudah janji, kalau ada apa-apa kita saling cerita." Ada kesedihan yang tak tertahankan pada nadanya. Siman tidak bisa berkata apa-apa. Ada kepahitan di balik hatinya. Seolah ada benih kesedihan baru, ia merasa dia tidak bisa bersikap tulus padanya. Bagaimana bisa Murni akan terus menjadi sahabatnya, bila dirinya sendiri tidak pernah jujur di depan sahabatnya?

Akik di jari manisnya, Siman rasakan kembali berdenyut, mengirimkan semacam gelombang energi aneh ke seluruh tubuhnya. Sebuah sensasi asing yang bercampur aduk: kaget, tak percaya, namun juga... semacam petunjuk. Matanya memandang kantung koin di tangannya, lalu beralih ke akik. Terlalu banyak kebetulan dalam waktu singkat. Penemuan koin ini adalah sesuatu yang nyata. Itu bukan sekadar mimpi. Apa ia akan menceritakan soal nenek kemarin, tapi kenapa? Akankah ia jujur pada Murni bahwa dia sudah tidak waras? Tidak, ini tidak akan berhasil.

"Maaf, Mur." Siman menunduk. "Nanti, kalau aku udah nggak kerja lagi dan punya duit, aku janji aku bakal ceritain semuanya." Dia memberi sedikit janji palsu pada dirinya sendiri, untuk melihat sebuah perubahan di wajah Murni. Ia juga memendam ketidakjujuran itu. Ini adalah sesuatu yang harus ia pegang sendiri, sesuatu yang sangat pribadi. Murni, dengan semua kebaikannya, mungkin tidak akan percaya. Atau bahkan takut.

Murni menghela napas, namun seulas senyum tipis akhirnya kembali menghiasi bibirnya, walau tampak dipaksakan. "Ya sudah kalau begitu. Jangan sampai kamu ngelanggar janji ya. Apalagi di situ udah janji. Aku yakin Siman nggak bakal berubah, seperti yang mereka semua lihat di kampus atau di komplek sebelah. Kamu nggak seperti itu kan, Man?"

Pertanyaan Murni yang bernada lembut, seperti alarm bagi Siman, mengingatkan dia akan traumanya. Siman mengerti betul pertanyaan itu adalah bentuk kekhawatiran yang ia tujukan. Siman terenyuh. Dengan pelan dia menjawab, "Murni tenang saja. Aku tahu persis kenapa aku tidak diterima dan sering ditolak oleh banyak orang. Aku akan membuat janji ini, Murni." Siman berkata pelan, dan melihat bibir Murni yang seakan tersenyum kecil. Ada air mata Murni yang tidak jadi jatuh. Itu adalah jawaban tulus yang ingin Siman berikan pada Murni.

"Aku pergi duluan, ya. Hati-hati di jalan!" Murni melambaikan tangan sebelum melesat pergi. Tubuhnya yang mungil dengan cepat menghilang di balik kerumunan. Meninggalkan Siman sendirian di jalan setapak, masih dengan kantung koin di tangan, dan sebuah cincin akik biru laut yang terasa kian menghangat di jarinya.

Siman membiarkan dirinya termenung sejenak, menatap jalanan yang kini tampak biasa lagi. Kebenaran, apa pun itu, terasa seperti beban berat yang kini dipanggulnya sendirian. Satu kebohongan melahirkan kebohongan lain. Dia tidak suka kebohongan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kehangatan akiknya seperti mengiringi perasaannya. Menghadirkan semacam perlindungan bagi dirinya.

Pulang ke rumah dengan langkah gamang, Siman menemukan Bapaknya tengah asyik dengan sebuah ember cat. "Bapak kenapa lagi ini?" tanyanya heran.

“Ini loh, Man. Tetangga sebelah punya cat sisa, terus Bapak dikasih. Daripada nganggur,” Bapaknya menyahut sambil tertawa kecil, seperti bocah yang baru mendapat mainan baru. "Sekalian lumayan buat nutupin dinding-dinding yang sudah bolong. Atau biar warna rumah ini jadi lebih cerah."

Siman tak membalas, otaknya hanya bisa melihat kebahagiaan di wajah ayahnya yang tampak sumringah. Dalam hati Siman masih memikirkan penjelasan Murni soal uang ini adalah keberuntungan. Memang benar. Bapaknya yang kuli bangunan, tiba-tiba mendapatkan sebuah rejeki nomplok. Apalagi dengan kondisi rumahnya yang sedang tidak ada perbaikan. Apalagi Siman kemarin menemukan uang secara 'kebetulan' di depan sebuah batu yang kerap kali Siman injak setiap hari. Dan cincin ini. Cincin yang didapatkan secara cuma-cuma dari seorang Nenek misterius. Apa ada sebuah korelasi aneh yang begitu masuk akal dengan benda-benda ini?

Ia menyelinap ke dalam kamar. Meletakkan kantung koin itu di bawah bantal, tak ingin orang tuanya tahu jumlahnya yang fantastis, setidaknya menurut standarnya. Siman mengambil segelas air, mencuci mukanya di dapur seadanya, dan menarik napas dalam-dalam. "Ini pasti cuma kebetulan," bisiknya, mencoba meyakinkan diri. Namun akiknya kembali berdenyut. Lagi dan lagi, sebuah 'kebetulan' baru muncul, sebuah kejadian positif tak terduga yang seakan menyindir keraguan Siman. Rumah akan dicat. Ada harapan baru bagi Siman. Lalu apa? Apakah dia akan kembali keliling menjajakan gorengan di sebuah pasar kaget? Tentu saja tidak, uang ini masih banyak sekali.

Tetapi nasihat Murni selalu menempel di kepala Siman: Kalau sudah habis dagangannya, nanti pulang ya? Jangan nyari kesibukan lain.

Bagaimanapun, Siman harus mencari kerja. Hari itu harus kerja. Itu adalah janji pada dirinya sendiri dan pada Bapak serta Ibunya, meski kantungnya sudah 'tebal'. Apalagi hari itu tidak ada gorengan yang ia bawa.

Ia pun memantapkan niat. Bengkel langganan yang selalu ia lewati setiap hari saat ingin bekerja, sering kali butuh tambahan kuli angkut atau tenaga ringan lainnya. Bengkel "Roda Sakti", sebuah nama yang menurut Siman agak konyol, namun selalu ramai diisi kendaraan-kendaraan. Siman kerap hanya melirik bengkel itu, kadang memimpikan untuk dapat gaji tetap seperti yang lain. Kini ia tak ragu. Setelah menggenggam akik itu, ia merasa ada sebuah kekuatan dari dalamnya. Semangatnya meluap-luap. Ini pasti sebuah kekuatan yang bisa ia manfaatkan.

Dengan langkah lebih ringan dan rasa percaya diri yang tidak biasa, Siman berangkat. Matahari sudah cukup tinggi saat ia tiba di depan Roda Sakti. Aroma oli bekas, karet ban, dan bensin menguar di udara. Beberapa kuli bengkel berbadan kekar tampak sibuk membongkar mesin motor atau menambal ban, dengan peluh membasahi tubuh mereka.

Ia memegang erat akik biru laut di jarinya. Sensasinya kembali, rasa hangat, seperti denyutan pelan. Seolah akik itu berkata, 'Ayo, ini adalah saatnya'.

Siman mengamati sekeliling. Teringat ucapan outline itu, untuk berinteraksi lebih kepada Bosnya saja, ia pun bertanya kepada seorang pria yang tengah duduk di depan meja dengan laptop jadul di hadapannya. Pria itu memakai kaus kutang putih, rambutnya cepak, badannya tegap. Di depannya bertuliskan "PAK JITOMO, KEPALA BENGKEL".

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!