Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Malam di kompleks perumahan elit Belgravia biasanya sunyi, hanya dihiasi suara angin yang berdesir di antara deretan pohon oak yang tertata rapi. Namun, di balik salah satu gerbang besi raksasa dengan penjagaan ketat biomatrik, sebuah basement luas telah disulap menjadi arena yang jauh dari kesan mewah.
Cahaya lampu neon redup berkedip-kedip, menerangi uap panas yang menguap dari tubuh-tubuh yang sedang beradu fisik. Di tengah ruangan, sebuah ring tinju tanpa tali formal berdiri kokoh. Suara hantaman sarung tinju yang bertemu dengan kulit terdengar berirama, berat, dan tanpa ampun.
Rex Hernandez tidak lagi terlihat seperti cucu pemilik sekolah yang rapi dengan kemeja Oxford yang disetrika kaku. Malam ini, ia hanya mengenakan celana pendek hitam. Tubuhnya yang atletis basah oleh keringat, otot-paha dan dadanya menegang setiap kali ia melancarkan pukulan.
Dan di sanalah kejutan terbesarnya. Di balik citra disiplin yang ia bangun di sekolah, punggung Rex dihiasi oleh tato besar bergambar malaikat maut yang sedang memegang timbangan keadilan—sebuah karya seni tinta hitam yang rumit dan gelap, merambat hingga ke pangkal lehernya. Sementara itu, Lucas Leiva, lawan tandingnya malam ini, justru terlihat lebih "bersih" meskipun penampilannya di jalanan sering dianggap begajulan. Lucas hanya memiliki beberapa tato kecil di pergelangan tangan dan sebuah kontras yang ironis dari apa yang dilihat orang awam.
Bugh!
Satu pukulan telak dari Rex mengenai pelindung kepala Lucas, membuat sang Raja Pesta itu mundur beberapa langkah sambil tertawa parau.
"Cukup, cukup! Kau sedang melampiaskan amarah atau sedang latihan, Rex?" Lucas melepas sarung tinjunya, napasnya memburu. Ia mengambil botol air mineral dan mengguyur kepalanya.
Rex tidak menjawab. Ia berjalan ke sudut ring, menyambar handuk putih dan mengusap wajahnya yang kusam oleh peluh. Matanya masih menyimpan kilatan dingin yang sama dengan yang ia tunjukkan pada Zendaya di lampu merah tadi pagi.
"Apa gadis pagi tadi yang kau benci itu yang membuatmu sekacau ini, Rex?" tanya Lucas tiba-tiba. Ia menyandarkan punggungnya pada tiang ring, menatap sahabatnya dengan senyum miring yang provokatif.
Rex mengangguk singkat, gerakannya kaku. "Dia wanita yang angkuh dan sombong. Dia pikir dunia ini adalah taman bermain pribadinya hanya karena nama Manafe-Batistuta."
Lucas terkekeh, suara tawanya menggema di ruangan basement yang luas itu. "Ini pertama kalinya aku melihatmu sangat membenci seorang wanita, Rex. Biasanya kau hanya menganggap mereka angin lalu. Alistair bahkan bertaruh kau tidak punya syaraf ketertarikan pada lawan jenis." Lucas menjeda sebentar, matanya menyipit. "Apa benar itu benci? Atau kau hanya kesal karena dia satu-satunya orang yang tidak bisa kau kendalikan dengan aturan sekolahmu?"
Rex menoleh tajam. "Aku ingin kau menghancurkannya, Lucas."
Suasana mendadak hening. Permintaan itu tidak terdengar seperti candaan. Rex melangkah mendekati Lucas, aura otoritasnya merembes keluar meski ia hanya bertelanjang dada.
"Aturan kakekku masih terikat erat di leherku," desis Rex, suaranya rendah dan penuh penekanan. "Aku tidak bisa menyentuhnya secara terang-terangan tanpa merusak reputasi yayasan. Tapi kau... kau punya kebebasan yang tidak kumiliki. Masuklah ke dunianya, hancurkan benteng keangkuhannya sampai dia tidak punya tempat lagi untuk berdiri di London ini."
Lucas terdiam sejenak, lalu ia tertawa kering, sebuah tawa yang terdengar masam. Ia mengangkat tangan kanannya, menatap telapak tangannya sendiri seolah-olah ada kuman yang merayap di sana.
"Kau memintaku mendekatinya?" Lucas menggelengkan kepala. "Rex, kau tahu kondisiku. Aku bahkan ingin mual saat berada di sekitarnya tadi pagi. Aura gadis itu... terlalu kuat. Bagaimana mungkin aku bisa menghancurkannya jika menyentuh bayangannya saja membuat perutku bergejolak?"
Lucas teringat momen di lampu merah tadi. Saat Zendaya menghampiri mobil mereka, Lucas merasakan sensasi aneh. Bukan sekadar rasa jijik yang biasa ia rasakan pada wanita, tapi sebuah tekanan atmosfer yang membuatnya sesak. Ia harus mengerahkan seluruh energinya agar tidak terlihat lemah di depan gadis itu.
"Dia berbeda, Lucas. Itulah alasannya kau yang harus melakukannya," sergah Rex. "Dia punya sisi lain. Tadi pagi, dia membantu seorang nenek menyeberang dengan wajah yang... sangat tidak sinkron dengan kelakuannya di sekolah. Dia manipulatif. Dia menggunakan kebaikan palsu untuk menutupi sifat busuknya. Aku ingin kau menguliti topeng itu."
Lucas mendesah, ia melompat turun dari ring dan mengambil kemeja flanelnya. "Kau terlalu terobsesi pada gadis itu, brother. Hati-hati, garis antara benci dan obsesi itu sangat tipis. Kau ingin aku menghancurkannya, tapi bagaimana jika kau sendiri yang berakhir hancur karena memperhatikannya terlalu dekat?"
Rex tidak menjawab. Ia kembali memukul samsak gantung di sudut ruangan dengan kekuatan penuh. Suara hantaman itu seolah menjadi jawaban atas gejolak di hatinya.
Bagi Rex, Zendaya adalah sebuah kegagalan dalam sistem yang ia bangun. Gadis itu adalah pengingat bahwa di luar sana ada kekuatan yang tidak bisa ia tundukkan hanya dengan nilai akademik atau disiplin. Dan tato malaikat maut di punggungnya seolah menjadi saksi bisu bahwa Rex siap melakukan apa saja—bahkan menggunakan sahabat terbaiknya sebagai senjata—untuk memastikan sang Ratu Manafe itu jatuh dari singgasananya.
"Aku tidak akan hancur, Lucas," ucap Rex pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri saat Lucas sudah berjalan menuju tangga keluar. "Aku hanya sedang mengembalikan keseimbangan yang dia rusak."
Namun, di dalam kegelapan basement itu, Rex tidak menyadari bahwa bibirnya sedikit bergetar saat menyebut nama Zendaya. Kebencian memang memberikan kekuatan, namun kebencian yang terlalu dalam seringkali menjadi awal dari keruntuhan sang pembenci itu sendiri.
Malam itu, di markas rahasia mereka, sebuah kesepakatan gelap telah dibuat. Lucas Leiva, sang Raja Pesta yang tak tersentuh, akan menjadi ujung tombak Rex untuk menjatuhkan Zendaya. Mereka tidak tahu bahwa di saat yang sama, Zendaya sedang berada di kamarnya, menatap foto Lucas Leiva di layar komputernya dengan tatapan yang penuh dengan rencana balasan yang tak kalah mematikan.
Permainan sesungguhnya baru saja dimulai, dan di London yang dingin ini, tidak ada tempat bagi mereka yang ragu untuk melepaskan serangan pertama.
...----------------...
Lukas Leiva
Rex Hernandez