Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PEDANG YANG BERBICARA
Malam di Ibukota Arrinra merambat dengan keheningan yang mencekam. Di atas menara-menara istana yang megah, bendera dengan lambang harimau emas milik Jenderal Karsa berkibar malas ditiup angin tenggara. Di dalam aula utama, suara tawa yang kasar dan denting cawan emas terdengar riuh. Jenderal Karsa sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-50, sebuah pesta pora yang menghabiskan biaya setara dengan pajak satu provinsi selama setahun.
Di luar tembok istana yang setinggi sepuluh meter, bayangan hitam bergerak secepat pikiran. Serena Arrinra berdiri di atas dahan pohon beringin tua yang menghadap ke sayap barat istana. Ia tidak lagi mengenakan jubah cokelat lusuhnya. Tubuhnya kini dibalut pakaian ninja shinobi-shozoku yang terbuat dari serat sutra khusus yang tidak memantulkan cahaya. Pedang Raijin tersampir di punggungnya, siap melepaskan amarah yang terpendam selama sepuluh tahun.
"Pesta yang sangat meriah, Karsa," bisik Serena pada angin malam. "Nikmatilah setiap tetes anggur itu, karena itu adalah yang terakhir."
Serena memejamkan matanya sejenak. Ia memanggil aliran energi statis dari udara di sekitarnya. Di ujung jemarinya, percikan listrik biru mulai menari. Ilmu Petir Langit bukan sekadar teknik bertarung; itu adalah kemampuan untuk memanipulasi elektron di sekelilingnya. Dengan satu hentakan kaki, ia melompat.
Ia tidak jatuh. Ia seolah-olah ditarik oleh daya magnet ke arah tembok istana. Kakinya menyentuh dinding batu secara vertikal, dan dengan kecepatan yang menentang gravitasi, ia berlari naik.
"Siapa itu?!" teriak seorang penjaga di atas menara pengawas.
Serena tidak memberi waktu bagi penjaga itu untuk meniup terompet peringatan. Ia mengibaskan tangannya ke udara. Zrakkk! Sebuah jarum kecil yang dialiri listrik melesat, mengenai leher penjaga itu dan membuatnya pingsan seketika dalam keadaan lumpuh total.
Serena mendarat dengan seringan bulu di balkon lantai tiga. Ia menyelinap masuk melalui ventilasi ruang pertemuan para jenderal. Di bawah sana, di sebuah meja bundar besar, tujuh jenderal pengkhianat sedang tertawa sambil menunjuk-nunjuk peta Kekaisaran Ser seluas 2.001.103 Km^2 tersebut.
"Wilayah Selatan ini terlalu banyak pemberontak," ujar Jenderal Karsa sambil menusukkan belatinya ke peta, tepat di lokasi desa tempat Serena singgah kemarin. "Bakar saja lumbung padi mereka. Biarkan mereka tahu bahwa rasa lapar adalah hukuman bagi ketidakpatuhan."
"Setuju, Panglima," sahut Jenderal Barja, seorang pria dengan mata satu yang rakus. "Dan anak-anak muda di sana bisa kita kirim ke tambang tembaga di Timur. Kita butuh lebih banyak tenaga kerja gratis untuk mendanai perluasan istana ini."
Serena mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarahnya memuncak. Ia tidak bisa lagi hanya menonton. Ia melompat turun dari langit-langit, mendarat tepat di tengah-tengah meja bundar tersebut. BRAKK! Meja jati yang kokoh itu retak menjadi dua di bawah kakinya.
Aula itu seketika hening. Para jenderal tertegun melihat sosok wanita bercadar hitam dengan mata perak yang berkilat di hadapan mereka.
"Siapa kau?! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!" raung Jenderal Karsa, hampir tersedak anggurnya.
Serena mencabut pedang Raijin perlahan. Bunyi gesekan logam dengan sarungnya terdengar seperti petir yang menggelegar di kejauhan. "Aku adalah hantu dari masa lalu yang datang untuk menagih janji setia yang kalian khianati."
"Ninja sialan! Penjaga! Masuk!" teriak Jenderal Barja.
Pintu aula terbuka lebar. Tiga puluh prajurit elit berbaju zirah lengkap merangsek masuk dengan tombak terhunus.
"Bunuh dia! Bawa kepalanya kepadaku!" perintah Karsa sambil mundur ke arah kursi takhtanya.
Serena menarik napas panjang. Ia memutar pedangnya di udara. "Raijin, bicaralah!"
DHUAR!
Cahaya biru menyilaukan meledak dari bilah pedang Serena. Ia bergerak. Di mata para prajurit, Serena bukan lagi manusia, melainkan kilatan cahaya yang berpindah-pindah. Setiap kali pedangnya beradu dengan tombak, senjata lawan hancur berkeping-keping karena beban tegangan listrik yang luar biasa.
"Arghhh!" satu per satu prajurit bertumbangan. Serena tidak membunuh mereka secara brutal; ia hanya memutus saraf motorik mereka dengan sengatan listrik yang tepat sasaran di titik-titik vital bela dirinya.
"Jangan hanya diam! Gunakan busur!" teriak Jenderal Karsa dari kejauhan.
Sepuluh pemanah di balkon aula melepaskan anak panah secara bersamaan. Serena memejamkan mata, mengandalkan insting batinnya. Jurus Petir Langit: Perisai Guntur.
Ia memutar pedangnya dengan kecepatan tinggi di atas kepala. Aliran listrik membentuk pusaran magnetis yang membelokkan semua anak panah sebelum menyentuh kulitnya. Anak-anak panah itu jatuh ke lantai, hangus menghitam.
"Kalian menyebut diri kalian jenderal?" Serena bersuara di tengah kekacauan, suaranya terdengar seperti guntur yang menggema. "Kalian hanya pengecut yang bersembunyi di balik zirah dan rakyat yang kelaparan."
Jenderal Barja, yang merasa terdesak, mencabut pedang besarnya dan menyerang Serena dari belakang. "Mati kau, jalang!"
Serena tidak berbalik. Ia hanya menekuk lututnya, menghindar dengan gerakan salto ke belakang melewati kepala Barja. Saat berada di udara, ia menendang punggung Barja dengan kaki yang terbungkus energi listrik.
BOOM! Barja terlempar menghantam pilar marmer hingga pilar itu retak.
Kini tinggal Jenderal Karsa yang berdiri gemetar. Ia mencabut sebuah keris hitam yang tampak mengeluarkan asap tipis—keris hasil kutukan ilmu hitam yang ia dapatkan dari para dukun.
"Kau pikir pedang listrikmu bisa mengalahkanku?" Karsa tertawa histeris, wajahnya memerah. "Aku memiliki perlindungan dari penguasa kegelapan! Matilah kau!"
Karsa menerjang. Keris hitamnya memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Saat keris itu beradu dengan pedang Raijin, terjadi ledakan energi hitam dan biru yang luar biasa. Lantai marmer di bawah mereka hancur berkeping-keping.
"Kau bersekutu dengan setan untuk takhta ini, Karsa?" tanya Serena, menahan dorongan keris Karsa dengan pedangnya.
"Takhta ini milik siapa saja yang cukup kuat untuk mempertahankannya! Ayahmu lemah! Dia terlalu memikirkan perut rakyat sampai lupa memperkuat taringnya!"
"Ayahku bukan lemah," jawab Serena dengan nada rendah yang menakutkan. "Beliau hanya memiliki sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti: Integritas."
Serena menghentakkan kakinya ke lantai. Listrik dari tubuhnya merambat melalui lantai marmer, menjalar ke kaki Karsa.
"Aaakh! Kakiku!" Karsa kehilangan keseimbangan.
Serena menggunakan kesempatan itu. Ia memutar tubuhnya, memberikan tendangan berputar ke dada Karsa, lalu dengan gerakan cepat, ia menaruh ujung pedang Raijin tepat di leher Karsa.
"Ampun... ampun..." Karsa menjatuhkan keris hitamnya. Wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi, penuh keringat dingin. "Aku akan memberimu emas... aku akan memberimu wilayah... apa saja! Tolong jangan bunuh aku!"
"Emasmu adalah darah rakyat," ucap Serena dingin. "Dan wilayah ini bukan milikmu untuk kau berikan."
Tiba-tiba, pintu aula samping terbuka. Seorang menteri tua berlari masuk dengan wajah panik. "Jenderal! Rakyat di luar tembok... mereka melihat cahaya dari aula ini! Mereka mulai menjebol gerbang!"
Serena melirik ke arah jendela besar aula. Di kejauhan, ia melihat ribuan obor menyala di jalanan Arrinra. Rakyat yang selama ini tertekan mulai berani bergerak setelah melihat "pertunjukan cahaya" di istana.
"Paman Bram benar," gumam Serena. "Harapan adalah senjata yang paling mematikan."
Serena kembali menatap Karsa. "Aku tidak akan membunuhmu malam ini, Karsa. Itu terlalu mudah bagimu. Kau akan diadili oleh orang-orang yang kau injak-injak."
Serena kemudian berdiri di atas balkon istana, menghadap ke arah ribuan rakyat yang berkerumun di bawah. Ia melepas cadar hitamnya. Cahaya petir yang masih menari di pedangnya menyinari wajahnya yang tegas namun cantik.
"Rakyat Arrinra!" suaranya menggelegar, dibantu oleh energi internalnya sehingga terdengar hingga ke ujung alun-alun. "Sepuluh tahun aku menghilang untuk belajar cara melindungi kalian! Hari ini, kegelapan telah berakhir! Aku adalah Serena Arrinra, putri dari kaisar kalian yang sah, dan aku telah kembali!"
Keheningan sesaat menyelimuti seluruh ibukota. Kemudian, sebuah teriakan pecah dari kejauhan, diikuti oleh ribuan lainnya.
"HIDUP PUTRI SERENA! HIDUP ARRINRA!"
Malam itu, Ibukota Arrinra tidak berdarah karena pembantaian rakyat, melainkan karena pembersihan para penghianat. Serena memerintahkan para prajurit yang masih memiliki nurani untuk menangkap ketujuh jenderal tersebut.
Di sudut aula, Serena menyandarkan pedangnya. Napasnya terengah. Ia telah memenangkan pertempuran pertama, namun ia tahu, memimpin kekaisaran seluas dua juta kilometer persegi tidak akan semudah mengayunkan pedang.
"Ini baru permulaan," bisik Serena.
Tiba-tiba, seorang pengawal muda mendekatinya. "Putri... ada seorang pemuda di gerbang bawah. Dia membawa persediaan makanan dan air untuk para pengunjuk rasa. Dia bersikeras ingin memastikan bahwa istana sudah aman. Namanya... Anton."
Serena mengernyitkan dahi. Nama itu terasa asing, namun entah kenapa hatinya bergetar sedikit. "Anton? Biarkan dia membantu medis di luar. Aku harus fokus pada transisi pemerintahan malam ini."
Serena tidak tahu, bahwa pemuda yang disebut namanya itu adalah orang yang nantinya akan meruntuhkan tembok dingin di hatinya, jauh lebih efektif daripada pedang apa pun yang pernah ia hadapi.
Malam yang panjang itu diakhiri dengan pembersihan istana. Serena duduk di kursi takhta ayahnya, bukan dengan kesombongan, melainkan dengan beban tanggung jawab yang berat. Ia menatap ke luar jendela, ke arah pegunungan yang jauh, dan berjanji bahwa fajar yang akan terbit besok adalah fajar yang berbeda bagi Kekaisaran Ser.